
Tik... Tok... Suara jam dinding, yang memecah keheningan di dalam ruangan. Neta berusaha keras menahan suara cacing di perut dia, kan bisa malu, kalau suara cacing bergema dan itu di hadapan seorang pria. Di kira cacingan entar.
"Kalau bapak tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, saya mau ke kelas sekarang."Ucap Neta yang bergegas ingin keluar, tapi Neta ingat satu hal, kalau dia belum di kasih hukuman.
Neta berbalik badan dan menatap Aditya yang berdiri di hadapan Neta.
"Ehemmm... Jadi pak gini, hukumannya nanti aja yah. Pas pulang sekolah, saya hari ini ada praktik di kelas." Bohong Neta yang mencari-cari alsan, agar Aditya percaya.
Aditya berjalan kearah Neta, dan semakin dekat mereka. Neta sendiri dia bingung harus melakukan apa, dia terlina dengan ketampanan Aditya.
Aditya menggapai tangan Neta, dan memperhatikan bekas yang ada di pergelangan tangan. Sangat jelas dan itu biru. Aditya sendiri bingung, apa yang sedang dia lakukan.
"Kau duduk sebentar." Ucapnya yang kini menonton Neta, untuk duduk. Neta pun menuruti kata Aditya, Neta sendiri bingung kenapa dia langsung menuruti ucapan Aditya tanpa menolak.
Aditya langsung mencari barang, dan mengobrak-abrik isi lemari. Benda yang dia cari ternyata ada di samping badannya.
Benda yang dia cari ternyata Kertas HVS dan PULPEN. Neta sempat terkejut dia kira Aditya mencari kotak P3K, ternyata malah kebalikannya.
"Kamu tanda tangan di sini!!" Menunjuk di kertas yang baru saja dia ambil.
"Di sini?" Tanya Neta yang masih kebingungan, buat apa tanda tangan di kertas kosong.
"Iya di situ." Jawabnya.
Neta segera tanda tangan, dari pada, dia banyak tanya. Dan berdiam diri di dalam ruangan bersama guru anehnya.
"Kau tidak ingin tau, kenapa saya menyuruh kamu tanda tangan di kertas kosong itu?" Tanya Aditya, karena merasa heran sama murid yang satu ini. Biasanya dia tidak mudah, menuruti apa kata Aditya.
"Saya anggap, bapak adalah fans saya. Makanya saya tidak perlu bertanya, lagian bapak tidak mungkin macam-macam sama saya kan?" Menatap Aditya dengan kesal.
__ADS_1
"Sialan, gue kira dia ingin mengobati tangan gue. Sempat "gr" gue, ih malah cari kertas HVS dan PULPEN . Gak punya hati apa?" Batin Neta yang menatap Aditya dengan tatapan kesel.
"Dia kira dirinya artis apa? Untung kamu anak murid saya. kalau bukan udah aku urus kamu." Batin Aditya yang juga sama menatap Neta.
Neta segera mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Karena sudah selesai saya pamit dulu." Ucap Neta, Yang bergegas ingin keluar, tapi berhasil di cegat oleh Aditya.
"Apa lagi sih pak?" Tiba-tiba Aditya menarik tangan Neta, sampai Neta tak segaja mencium kening Aditya.
Neta mengedipkan matanya beberapa kali, lalu segera bangun dan melap bibirnya, dengan tangannya secara kasar.
Aditya masih terpaku, dia tidak tau situasinya saat ini. Ada atmosfer aneh dalam ruangannya Sekarang.
"Apa kau gila?" Teriak Neta yang sudah kehabisan kesabaran.
"Duduk lah aku ingin mengobati tangan mu." Ucap Aditya yang pura-pura tidak terjadi apa pun.
Aditya langsung mengambil kotak P3K, dan dia menepuk-nepuk kursi, agar Neta mau duduk di sampingnya.
Neta segera menurutinya, dari pada, dia di tahan terus di sini. Dan itu tidak akan kelar, sampai kemauan Aditya di penuhi.
Aditya sangat telaten, membaluti tangan Neta dengan perban. Neta berusaha tidak mencuri pandang, saat Aditya mengobatinya, tapi bagi Neta sangat di sayangkan. Kalau tidak Mengambil kesempatan seperti saat ini, melihat wajah Aditya dari dekat, meskipun ini bukan yang pertama kalinya.Tapi kalau tidak begitu, bagi Neta sama saja Membuang makanan yang masih tersisa banyak, kan sayang. Pikir Neta.
Bulu mata yang Lantik, hidung mancung. Dan.... Bibir... mata Neta Melotot, tanpa dia ungkiri bibir gurunya sangat sexy. Neta berusaha menepis pandangannya dari guru killer. Kalau Aditya tau, Neta bisa mati kutu menahan rasa malu.
"Apa yang engkau pikirkan Neta, jangan bodoh. Jangan sampai kau tergoda dengan dia, ingat dia adalah guru mu, Meskipun umurnya tidak jauh dari umur mu. Tapi itu di tempat asal mu dulu, bukan di sini. Ternyata cowok tampan adalah musuh besar bagi kaum hawa yang sering mengidolakan mereka." Neta menganggukkan kepalanya, apa yang dia pikirkan itu adalah fakta.
"Apa yang sedang gadis ini pikirkan, sedari tadi dia bersikap aneh, apakah dia tidak tau? Sifat dia seperti ini sangat menggemaskan." Aditya hanya menggeleng kepalanya, merasa lucu melihat kelakuan Neta seperti anak kecil. Apa lagi, saat Neta menggembungkan pipinya. Itu sangat lucu bagi Aditya.
__ADS_1
Setelah selesai membaluti tangan Neta, segera Neta keluar dari ruangan. Dan meninggalkan Aditya tanpa berbicara sepatah kata pun, bagi Neta, bersama dengan pria itu. Hanya akan membuat Neta hilang akal saja.
BRUKKK... Neta menutup pintu sangat keras, dia merasa malu, apa yang barusan terjadi tadi.
Neta berjalan menulusuri lorongan, sambil memandangi lengan yang di perban dan tersenyum girang.
"Apa dia pergi begitu saja, tanpa bilang terima kasih padaku? Yah.... meskipun aku tau, tangan dia itu aku yang melukainya, tapikan harusnya dia bilang makasih kek. Zaman sekarang, anak muda gak tau etika itu. Apa?" Gumam Aditya menatap pintu dengan tersenyum.
Tok... Tok...
"Ya masuk" Ucap seorang wanita di dalam.
"Mati gue, Kenapa harus ibu Siska yang ngajar. Bisa kena semprot gue."
"Permisi Bu, Maaf saya tadi abis mengobati luka saya dan keruangan pak Aditya." Ucap Neta menjelaskan, Neta tidak berbohong, emang benar Neta keruang Aditya dan mengobati lukanya. Tapi yang mengobatinya pak Aditya bukan dokter di sekolah ini.
"Yah silahkan duduk kemeja kamu."
Ibu Siska awalnya ingin menghukum Neta, tapi, mendengar penjelasan Neta. Tanpa di buat-buat nya, jadi ibu Siska urungkan niatnya dan tidak jadi memarahi Neta dan menghukumnya.
Neta segera duduk di kursinya, sambil tersenyum, ke arah ke dua sahabatnya. Menandakan kalau Neta tidak di hukum oleh pak Aditya.
"Tangan kamu kenapa bisa di perban?" Bisik Viola yang penasaran.
"Pak Aditya menggenggam tangan aku terlalu keras, jadi berbekas, tapi tidak terlalu parah." Neta menulis jawaban di buku dan menyerahkan ke Viola.
"Terus kenapa kamu lama sekali? untung Bu Siska baru datang." Bisik lagi Viola, dia terlalu males merobek buku dan dan menulisnya. Meskipun sekarang mereka lagi menulis juga.
"Pantesan dia membiarkan gue lulus begitu saja, tanpa memberi petuah dan wejangannya. Kalau dia sendiri saja baru masuk." Batin Neta menatap papan tulis yang penuh rumus matematika.
__ADS_1
ADITYA, Maaf Aditya saya ganti dengan ini