KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
131. Camer


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, malam hari kembali. Viona sudah berada di Menssionnya sedang makan malam bersama dengan keluarganya.


"Tadi pagi Momy ke mana? Kok Bibi bilang Momy menghilang di pasar!" tanya Rian di sela-sela makannya.


Momy Jeny mendengar pertanyaan dari sang Anak segera menjawab. "Mana ada menghilang, tadi itu, habis dari toilet Momy mampir di toko baju, mungkin saat mereka mencari, Momy berada di ruang ganti" jawabnya berbohong, karena dia sudah sepakat dengan Viona untuk merahasiakannya.


Rian mengangguk, dan percaya begitu saja tanpa menaruh curiga, karena dia juga sudah mengecek CCTV, apa yang dia lihat sesuai dengan apa yang dikatakan Momynya. Dia tidak tau saja, jika rekaman CCTV itu sudah di edit sebaik mungkin oleh Viona.


Ya saat pagi itu, Viona sengaja mengajak keluarganya berolahraga bersama untuk mengulur waktu, setelah mendapat kabar dari Anak buahnya barulah dia berhenti. Dan kejadian saat itu mereka berada di kantor, Tanpa Anak buah Tuan King tau, karena mereka semua sudah kembali ke markas.


Di pagi hari, semua sudah bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas masing-masing. Tapi Viona malah kembali ke kamarnya setelah sarapan bersama. Entah kenapa hari itu dia sangat malas untuk ke mana-mana.


Baru ingin memjamkan matanya, ponselnya berdering. Dia langsung menerima panggilan tanpa melihat nama orang yang menelponnya.


"Halo! Siapa?" sapanya dengan suara kantuknya.


"Halo! Li ini aku, kamu sakit?" tanyanya langsung to the poin.


Mendengar suara dari lawan bicaranya Viona langsung melihat ponselnya, dia tersenyum yang mana membuat matanya kembali terbuka lebar.


"Eh Kak, aku tidak sakit kok, cuman sedikit kelelahan saja" balasnya.


"Syukurlah, aku mengkhawatirkanmu karena sudah dua hari tidak ke Restoran jadi aku menelpon sepagi ini."


Viona merasa sangat senang karena Leo mengkhawatirkannya. "Hmm, aku baik-baik saja Kak!"


"Ya sudah, kamu istirahat saja! Maaf sudah mengganggu"


"Hmm, baik Kak. Sampai jumpa!" balasnya dan langsung mengakhiri panggilannya karena tiba-tiba dia merasa gugup.


Saat itu Leo juga baru tiba di ruangannya, dia mendapat kabar dari Thea jika Viona tidak masuk kerja lagi. Yang berarti sudah dua hari mereka tidak bertemu dan tidak saling tukar kabar.

__ADS_1


Karena merasa sedikit khawatir, dan takut jika sudah terjadi apa-apa Leo merogoh ponselnya dan memberanikan untuk menelpon Viona.


Dia terenyum melihat panggilan sudah tidak terhubung lagi. Dia segera mengerjakan pekerjaannya dengan tenang, karena sudah mendapat kabar dari Viona jika dia baik-baik saja.


...----------------...


Di tempat lain Ray menjalankan aktivitasnya seperti biasanya, dia tidak ingin larut dalam kesedihan, walaupun hatinya masih belum bisa move on. Dia memaksakan dirinya bekerja dan mencari kesibukan agar tidak memikirkan persaannya. Tapi itu semua malah membuat tubuhnya drop.


"Tian! Bagaimana? Apa Ray baik-baik saja?" tanya Momy Lidya setelah melihat Tian keluar dari kamarnya.


"Huff, dia baik-baik saja Mom, tapi kayaknya akhir-akhir ini dia ada masalah sampai memaksakan dirinya untuk terus bekerja."


"Ya, Momy juga merasakan hal yang sama, sudah sekitar seminggu sikapnya kembali lagi kayak dulu."


"Momy jangan khawatir! Nanti aku tanyakan jika dia sudah sehat. Dan untuk obatnya aku sudah simpan di atas meja,"


"Ya Nak, makasih dan maaf sudah merepotkanmu!"


Momy Lidya hanya mengangguk, dan mempersilahkan Tian untuk kembali ke Rumah Sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Setelah kepergian Tian, Momy Lidya masuk ke dalam kamar Ray untuk mengecek kembali kondisinya. Ya saat sudah waktunya sarapan tadi, Ray tak kunjung turun, makanya Momy Lidya naik ke kamar untuk memanggilnya, tapi dia mendapatkan Ray yang masih tidur dalam kondisi tidak baik-baik saja. Makanya dia segera menelpon Tian, dan menyuruh Tuan Bastian untuk ke Perusahaan memimpin rapat.


...----------------...


Kembali di posisi Viona, saat ini dia berada di dalam ruang dimensinya. Dia memandangi air terjun sambil menghirup udara segar.


"Haah, sangat menenangkan, sendainya aku bisa bawa seseorang masuk dengan bebas pasti sangat seru, tapi aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana jika bertanya di mana aku bisa mendapatkan cincin ini."


Setelah puas memandangi air terjun, Viona beranjak dan menuju di bawah pohon. Dia tersenyum lebar saat melihat banyak koin yang berserakan. Koin emas itu dia jual sampai di berbagai negara. Jika di dalam kota itu saja, mereka akan curiga dan pasti akan menanyakan dari mana asal koin itu. Meskipun sampai saat ini belum ada pembeli yang bertanya seperti itu.


Setelah mengutip semua koin Viona ke luar dari dimensinya, karena dia merasakan kehadiran sang Momy yang sedang menuju kamarnya.

__ADS_1


Dan benar saja, setelah dia menyimpan Koin-koin itu suara ketukan pintu terdengar, Viona segera membukanya.


Benar dugaannya Momy Jenylah yang mengetuk pintu. "Ada apa Mom?" tanyanya dan mempersilahkan Momynya masuk.


"Momy cuman ingin mengecekmu Nak, tadi Momy menelponmu tapi kamu tidak mengangkatnya,"


"Oh itu Mom, aku baru saja keluar dari kamar mandi. Emang kenapa Momy menelpon?"


Momy Jeny terdiam sejenak lalu berkata "Emm, Momy masih penasaran Nak soal yang kemarin, dari mana kamu bertemu dengannya dan tau jika dialah orang dibalik semua masalah yang ada."


Viona sudah bisa menebak, jika Momynya sangatlah penasaran "Mom, bukannya aku tidak ingin menjelaskannya. Tapi ada seseorang yang berhak dan lebih pantas menceritakan semuanya"


"Seseorang! Siapa dia Nak? Apa Momy mengenalnya?" tanya Momy Jeny benar-benar penasaran.


Viona mengangguk membenarkannya. "Ya Momy mengenal orang itu, tapi sekarang belum waktunya momy tau, aku akan mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan Momy dengan yang lainnya untuk bertemu dengan orang itu.


"Baiklah Nak, Momy akan bersabar dan menunggu waktu itu" balasnya lalu pamit untuk turun ke bawah.


Viona menghela nafas legah, dia masih belum siap melihat reaksi sang Momy jika dia tau semua hal itu dari pamannya. "Huuff, semoga nanti mereka bisa memakluminya"


Viona membaringkan badanya sambil membuka layar ponselnya. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Momynya.


Dia membuka aplikas hijau, dia sangat senang mendapat pesan dari Leo, jika dia ingin datang untuk menemuinya. Tapi Viona malah membalasnya untuk bertemu di luar setelah Leo pulang kerja.


"Hee tumben lu Kak, ada ingin apa yang menerpamu? Biasanya cuman datang kalau aku lagi sakit, ahh biarlah nanti aku tanyakan" gumamnya bahagia.


"Em tapi kenapa Ray tidak pernah ada kabar semenjak aku meminta maaf ke padanya? Aku sungguh merasa bersalah, tapi mau di apalagi? Aku benar-benar tidak bisa membalas perasaannya. Apa aku telpon saja? Ah tidak, aku tidak boleh mengaggunya"


...----------------...


Di ruang kerja Leo, dia juga merasa senang setelah membaca balasan dari Viona yang malah ingin bertemu dengannya di luar. Padahal kalau datang di Menssion dia juga bisa bertemu dengan Camernya.

__ADS_1


__ADS_2