KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*BERCERAILAH*


__ADS_3

Meta sudah tidak kuat menahan penderitaan yang dia alami, keluarga, cinta semuanya tidak berjalan mulus. “Kenapa Tuhan Semua harus terjadi padaku kenapa?” Teriak Meta menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamar.


“Nona muda, buka pintunya nona!” Teriak kepala pelayan, dia sangat mengerti perasaan Meta saat ini. “Benar nona, nona mohon buka pintunya,” teriak para pelayan yang mulai khawatir.


“Tinggalkan aku!!”


“Pergi kalian semua!!”


“Pergi!!”


Teriak meta dalam isak tangisan dia. “Buat apa kalian peduli, sedangkan kedua orang tua ku sendiri masa bodoh,” semua pelayan yang berada di balik pintu, terdiam semua. Tidak ada yang berani menjawab perkataan Meta. “Aku rasa nyonya, dan tuan benar-benar kelewatan sekarang,”


Sedangkan di luar sana, Sinta dan Alifin masih berdebat tanpa mengetahui kondisi meta sekarang. “Aku capek mas, lebih baik kita bercerai saja,” teriak Sinta sudah tidak sanggup lagi mempertahankan keutuhan keluarga.


Prankk...


Pot bunga pecah, di tendang Alifin yang tidak jauh dari samping badanya, Meta mendengar teriakkan Sinta mendekatkan kupingnya di balik pintu. “Kalau itu mau kamu, oke, tapi meta ikut denganku,” Meta menutup mulutnya, sekarang hatinya makin hancur, mendengar kata perceraian.


“Hah, Neta, viola,” mulut meta bergetar, dia bingung harus bagaimana sekarang, kalau Kakek dan nenek tau, kemungkinan hanya akan menambah beban.


“Tidak bisa, aku yang melahirkan dia, aku yang merawat dia selama ini. Sedangkan kamu apa heh? Di mana kamu saat aku melahirkan dia, ke mana? Kamu hanya bersama wanita simpanan itu.”


“Bahkan kamu tidak tau kalau aku melahirkan, suami macam apa kamu?”


Alifin diam, dia tidak bisa mengungkirinya, kalau dia waktu itu tidak ada di samping Sintia saat melahirkan. Melainkan dia malah berlibur dengan wanita simpanannya itu.

__ADS_1


“Saat aku hamil Meta, aku pikir kamu akan bahagia dan mulai mencintai aku. Tapi aku salah, malah kamu mengambil kesempatan itu, dan pergi bersenang-senang dengan wanita lain, istri mana yang tidak sakit hati, liat suaminya selingkuh,” Alfin diam seribu bahasa, dia tidak bisa berkata-kata lagi.


“aku capek hidup dengan kamu, bukannya bahagia malah sebaliknya aku menderita, pokoknya aku minta cerai, Sekarang juga!!” memukul-mukul dada Alifin, Alifin menyadari selama ini hanya bisa menyakiti Sintia saja. “Maafkan aku, hiks...” mendekap tubuh Sintia, seolah-olah dia tidak akan mau melepaskan lagi.


Sintia menangis tersedu-sedu. “Aku mau cerai!! Hiks... Hiks... Biarkan Meta bersama aku, hiks.. hiks...” mendorong tubuh Alifin sampai pelukannya terlepas, kaki Sintia lemes sampai dia duduk di lantai, sambil memohon ke Alifin.


Alifin berjongkok dan ingin memeluk tubuh Sintia, tapi Sintia menolak dengan keras. “Beri aku kesempatan kali ini saja, aku janji akan memperbaiki semuanya,” Alifin berusaha membujuk Sintia, Sintia menggeleng kepalanya. “Sudah terlambat mas, hatiku terlanjur hancur,” memegang dada kirinya.


“Selama ini aku telah bersabar dengan kamu mas, saat aku mengandung meta, aku melihat kamu sedang bercumbu dengan Wanita itu di hotel. Kamu pikir aku tidak tau itu? aku pikir dengan kedatangan meta kamu akan berubah mas... Tapi, kamu malah semakin parah, kamu terang-terangan selingkuh di hadapanku di depan umum, itu membuat aku malu mas sebagai nyonya rumah ini. Aku selalu berpikir apa aku sebagai istri nama kamu saja?” Menghapus air matanya.


Alifin tidak bisa lagi menahan air matanya, baru Kali ini Alifin menyadari betapa pentingnya Sintia dalam hidupnya. “Tidak Sintia, tidak. Aku mohon beri aku kesempatan lagi, oke?”


Sintia menarik nafasnya. “Melihat kamu selingkuh 19 tahun ini sudah cukup membuat aku terluka mas, pot yang pecah mungkin bisa di satukan lagi, tapi tidak sebagus seperti baru, meskipun kamu bisa menyatukan mereka, apa bekas itu akan hilang?” Alfin menggelengkan kepalanya.


19 tahun lalu saat Sintia mengandung.


“Itu... Itu..” Pelayan itu gugup, dia tidak tau harus berkata apa, takut nyonya Sintia stress, apa lagi sekarang dia masih hamil muda. Tidak boleh kelelahan apa lagi banyak pikiran bisa-bisa hal buruk terjadi.


“Pulang apa tidak, kenapa kamu malah gugup seperti itu?” ucap Sintia, firasat dia mulai tidak enak melihat para pelayan ketakutan, Sintia menatap pintu rumah dengan rasa curiga, jangan sampai apa yang dia pikirkan itu malah jadi kenyataan.


Sintia langsung membuka pintu rumah lebar-lebar, Sintia langsung mematung apa yang dia lihat saat ini. “Ya Allah kuatkan hambamu ini,” batin Sintia, semua pelayan ketakutan, takut nyonya mereka Kenapa-kenapa.


Alifin yang sedang asik berciuman penuh nafsu dengan telanjang dada, tidak menyadari kedatangan Sintia. Sedangkan wanita itu duduk di pangkuan Alifin dengan pakaian yang sangat seksi.


“Emmmhhh,” menggoyangkan pinggulnya, Alifin meremas pahanya dan menjamak seluruh tubuh wanita itu. “Ah,” saat Alifin menyentuh dadanya dan meremas sangat keras.

__ADS_1


Sintia hanya tersenyum kecut, sambil mengelus perutnya, saat itulah perasaan Sintia terhadap Alifin hilang bersama air matanya yang keluar.


Alifin yang menyadari kedatangan Sintia pulang, langsung menghentikan kegiatannya dan tersenyum ke arah Sintia. “Kau pulang?” tanya Alifin Sintia masih diam.


Wanita simpanan itu membalikkan badannya tapi masih duduk di pangkuan Alifin. “Istri kamu sayang?” Menatap Sintia dan berhenti di perut Sintia yang menonjol, Alifin hanya tersenyum menjawab pertanyaan wanita itu.


“Mas, aku sudah tidak tahan lagi, kita lanjutkan di kamar kamu saja yah, aku tidak ingin ada orang ketiga di sini,” Menatap Sintia dengan senyuman sinis.


Sintia mengepal tangannya dan tangan satunya Mengelus perut menonjolnya itu. “Nyonya,” Panggil pelayan itu dengan nada cemas.


Alifin langsung menggendong ala bridal style, baru satu langkah dia maju tiba-tiba. “Kalau kamu satu langkah lagi maju, aku jamin setelah ini kamu akan kehilangan segalanya, dan surat cerai sudah berada di tangan orang tua kamu,” Ancam Sintia menatap kedua pasangan itu, Alifin terdiam sesaat.


“Mas?” wanita itu menatap Alifin dengan tidak suka.


“Coba saja kalau kamu berani maju satu langkah lagi, semuanya akan hilang. Kita lihat nanti apakah wanita ini akan mau hidup susah dengan kamu, apa tidak?” Sintia langsung melewati mereka berdua.


Tiba-tiba Sintia menghentikan langkahnya dan berbalik badan. “Ah!!” Tersenyum ke arah Alifin. “Bukankah orang ketiga itu kamu, ja*ang,” Tatapan Sintia sangat dingin, dia langsung melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar, sambil menangis.


______________ _____________


BRUKKK...


Meta berlari menghampiri Sintia dan langsung memeluk tubuh maminya itu. “Bercerailah kalian berdua,” ucap meta, dia baru tau, kalau selama ini maminya menderita hidup bersama papinya. Dia pikir maminya tidak memperdulikan dia, ternyata pikiran Meta salah, maminya tidak sejahat yang dia pikirkan.


“Apa yang kamu pikirkan Meta?” Ucap Alifin berdiri dia tidak percaya kalau anaknya mendukung perceraian orang tuanya.

__ADS_1


“Aku bilang bercerai lah!! Aku mohon bebaskan mami pih, percuma papi mempertahankan tapi mami tidak bahagia, buat apa pih, buat apa?” memeluk kaki Alifin, Sintia sontak kaget ternyata Meta mendukung keputusan itu, dia pikir Meta akan membencinya dan ikut dengan Alifin ayah tercinta dia.


Alifin terdiam, Alifin sangat menyesali perbuatannya itu, dia malah kehilangan keluarganya saat Alifin ingin memperbaiki semuanya, dia terlambat menyadari semuanya.


__ADS_2