
Tok tok tok
Leo mengetuk pintu ruang rawat Viona, dia sedikit heran melihat pintunya terbuka setengah, dia ingin menengok, tapi seseorang keluar dari ruangan itu.
"Emm Sus, saya ingin menjenguk pasien yang ada di dalam" ucap Leo ke pada perawat.
Sang perawat, menatap Leo. Dia sangat bingung kenapa Viona dikelilingi banyak lelaki tampan, dan hampir setiap hari mereka datang menjenguknya. "Oh nona Viona? Tapi maaf, dia baru saja keluar. Dia sudah pulang diantar oleh keluarganya!"
Ya, Ke esokan harinya, setelah pulang kerja Leo segera menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Viona, kali ini dia membawa sebuah buket bunga lili.
Dia harus pergi untuk mengganti yang kemarin. Ternyata Ibunya kecopetan saat pulang dari pasar, dia sempat mengejar, tapi dia tersandung dan terjatuh sampai kakinya terluka terkena batu krikil. Ibunya menangis bukan karena kesakitan, tapi menangisi uangnya yang telah dicopet, untung dia hanya membawa uang untuk belanja hari itu, dan untung juga dia sudah berbelanja.
"Hmm begitu ya Sus? Ah syukurlah, berarti dia sudah lebik baik sekarang. Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih."
Dia tidak tau saja jika Viona yang memaksa minta pulang, padahal dia masih harus dirawat beberapa hari lagi. "Iya silahkan, ehh tapi Tuan bisa menjenguknya di rumah" ucap Suster sambil nyengir, karena sudah ikut campur.
Leo hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berbalik pergi, dia memikirkan ucapan Suster itu, "Apa aku harus ke Menssionnya? Hmm ya sudah aku ke sana saja."
...----------------...
Di Menssion Viona terlihat sangat ramai. Karena ada Keluarga Duke yang datang bertamu, mereka langsung tancap gas setelah mendengar ke pulangan Viona termasuk Ray.
Dan semua orang di Menssion sangat senang dan bahagia mendengar nonanya sudah pulang. Dan untuk Viona saat ini berada di kamarnya.
"Ah segarnya, akhirnya aku bisa minum ini juga" ucapnya setelah menghabisi jus sebotol kecil. Apalagi kalau bukan jus buah ajaibnya.
Selang beberapa menit, dia bergegas ke kamar mandi. Kerena efeknya sudah keluar, apalagi kalau bukan bau tidak sedap dari badannya, semua penyakit keluar melalui pori-porinya.
"Ini yang aku ingkan!" melihat pantulannya di cermin, setelah dia selesai mandi. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, dan merasakan badannya sudah bugar kembali seperti sediakala.
"Luka di jidat ini sengaja, jangan sampai mereka bertanya-tanya ke mana perginya lukaku, aku sangat malas menjelaskannya," gumamnya sambil memegang jidatnya yang masih ada perban kecil.
__ADS_1
Viona ingin masuk ke ruang dimensinya, sudah lama dia tidak berkunjung. Tak lupa dia mengeluarkan seorang Mutan yang mirip dengannya untuk menggantikan posisinya, Viona hanya menyuruhnya untuk tidur, dan jangan bangun jika ada yang membangunkannya.
"Waahhh suasana yang sangat sejuk" ucapnya setelah berada di ruang dimensi, sambil merentangkan tangannya menghirup udara segar tepat di depan air terjun.
Di ruang tamu, setelah berbincang. Keluarga Duke pamit pulang. Pas keluar gerbang mereka berpapasan dengan Leo. Ray tidak melihatnya karena sedang menunduk membalas pesan dari Riki. Momy Lidya tidak bisa mengenalinya, karena Leo menggunakan jaket, helm dan masker. Karena dia belum pernah melihat Leo menggunakan motor.
Tiba depan pintu utama, Leo baru sempat menoleh, dia juga tidak bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil, "Kayaknya barusan ada tamu! Tapi syukurlah mereka sudah pulang,"
"Leo!" panggil seseorang dari arah pintu.
Leo beranjak dan membuka helmnya. Dia terenyum, melihat orang yang menyapanya. Yang tak lain adalah Rian. Dia langsung keluar saat Bang Gondrong memberitahunya.
"Eh brow, akhirnya kamu datang juga! Sini masuk!" ucap Rian sambil bertos dengan Leo menggunakan tinju.
"Ah iya nih aku baru sempat datang, tadi aku ke Rumah Sakit ternyata sudah pulang" balas Leo sambil mengikuti Rian menuju Ruang Tamu, di mana keluarganya masih berkumpul di situ.
"Iya dia menangis minta pulang! Jadi kami hanya bisa menurut," ucap Rian bercanda.
"Sore Nak! Ayo silahkan duduk Nak Leo!" balas Momy Jeny.
"Lama tidak bertemu Nak! Oh iya Dady mau ucapkan terima kasih karena sudah membantu Viona saat itu"
Leo duduk di samping Rian, "Eh iya Om, cuman kebetulan aku di sana dan melihatnya" dia masih memanggil Om, dia merasa canggung jika memanggilnya Dady.
"Ya sudah, kamu datang mau jenguk Viona kan? Kamu langsung ke kamarnya saja! Rian antar Leo ke atas Nak!" sahut Momy Jeny.
"Ayo Leo, ikut aku!" balas Rian lalu beranjak.
"Iya tante, aku ke atas dulu, mau jengukin Viona" sahut Leo dan juga beranjak dari duduknya.
Momy Lidya hanya mengangguk mempersilahkan, "Dad, kok Momy rasa pernah melihat anak itu ya!" tanyanya pada sang suami setelah Leo hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Tuan Jack mengangguk, dia setuju apa yang dikatakan sang Istri. "Iya Mom, Dady juga, apalagi jika dia tersenyum. Entah mirip dengan siapa."
Raka dan Tomi sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri. Sekalian istirahat, karena sedikit kelelahan pulang dari kerja.
Tiba di kamar Viona, Rian sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Dia membuka pintu dan masuk terlebih dahulu untuk mengecek.
Dia tersenyum melihat Viona yang ternyata sedang tidur, "Pantesan tidak ada yang nyahut, ternyata lagi molor" ucapnya lalu keluar kembali.
"Kamu masuk saja, tapi dia lagi tidur. Nanti dia akan bangun setelah mendengar suaramu!"
"Eh jangan, biarkan dia tidur! Nanti dia malah marah jika aku mengganggunya" balas Leo cepat.
"Tidak apa, dia itu sudah tidur seharian. Istirahat tidak semestinya tidur melulu. Masuk sana! Aku akan turun ke bawah!"
"Jangan tingggalkan aku sendiri Bang! tidak enak sama yang lainnya." balas Leo sambil menggelengkan kepalanya, dia takut orang tua Viona menganggap dirinya tidak sopan, sudah lancang masuk ke kamar Viona saat orangnya sedang tidur.
"Kamu tenang saja! Itu akan mejadi urusanku, aku percaya ke padamu, Ok?" Rian tetap memaksa Leo untuk masuk, karena dia juga tau jika Viona selalu menunggu dirinya datang.
"Huff baiklah, tapi pintunya tidak usah di tutup rapat ya?" dia masih tetap merasa tidak enak.
"Hmm, terserah kamulah, aku pergi by!" balas Rian dan turun ke bawah menggunakan lift.
Leo membuka pintu perlahan, dia sudah bisa melihat Viona tertidur dengan nyenyak. Dia menyimpan buket bunganya di atas nakas. Tentu dia tidak berani membangunkannya.
"Li aku datang, aku sangat bahagia melihatmu baik-baik saja. Kamu cepat pulih kembali, agar aku bisa meminta maaf, dan menebus semua kesalahanku."
Leo duduk di samping Viona, di pinggir kasur. "Lagi tidur saja tetap cantik!" pujinya sambil merapikan rabut Viona.
"Aku tidak bisa lama, aku tidak enak sama yang lainnya karena aku berada di kamarmu saat tidur. Cempat sembuh!" lalu dia beranjak dan keluar dari kamar Viona.
Seketika Viona membuka matanya, setelah pintu tertutup dengan rapat. Ternyata dia hanya pura-pura tidur, dan saat ini bukan lagi seorang Mutan. Saat dia baru saja keluar dari ruang dimensi seseorang mengetuk pintunya, dengan cepat dia kembali menggantikan posisi si Mutan.
__ADS_1
Semua tak akan ada artinya jika hanya sebatas kata-kata belaka. Semua tak akan ada hasilnya jika hanya sebatas memendam rasa. Dan kesedihan datang karena kamu terlalu banyak memendam rasa yang seharusnya bisa kamu ungkapkan. Sampai kapan gengsi dalam dirimu mau kamu turuti selalu?