
Leo sedang menunggu antrian di salah satu Restoran yang menyediakan menu makanan untuk orang-orang dalam masa pemulihan. Dia ingin membelikan Viona bubur untuk makan siangnya.
Sambil menunggu pesanannya datang, dia memainkan ponselnya dan membuka aplikasi hijau. Dia melihat status Raka yang baru beberapa menit yang lalu, foto Viona dengan caption GWS Adikku Sayang.
Terlihat Viona yang sedang makan yang disuapi oleh seseorang. Meskipun hanya tampak belakangnya, dia masih bisa tau siapa lelaki itu.
Pesanannya datang, "Percuma aku membawanya, dia sudah makan!" ucapnya sambil memakan sekotak bubur, daripada dibuang kan jadi mubazir.
Setelah buburnya habis, Leo pergi ke toko buah, untuk membeli sebagai pengganti buburnya. Buah, bisa dimakan kapan saja, dan bisa tahan beberapa hari.
Ya setelah Thea memberitahunya, jika Viona sudah sadar dari kemarin, dia bergegas pergi, untuk menjenguk Viona sekalian meminta maaf.
...----------------...
Di Rumah Sakit, Viona sudah mengabiskan makanannya yang disuapi oleh Ray. Ya, lelaki yang ada di foto itu adalah Ray, dia datang bersama Raka setelah mereka Rapat di Perusahaan Duke.
"Makasih Ray, sudah merepotkanmu. Padahal aku bisa makan sendiri, bukan tanganku yang terluka."
"Hmm tidak masalah, pokoknya aku akan selalu datang. Dan jika ingin makan sendiri, maka cepatlah sembuh!"
"Aku sudah sembuh, tinggal bekasnya saja" sahut Viona.
Leo menarik kedua telinga Viona dengan pelan. "Jangan nakal, yang namanya sembuh berarti bekasnya juga sudah menghilang. Lihat tu kepala masih ada perbannya."
"Heheh iya Ray, jangan marah! Kan cuman bercanda" balasnya sambil memegang perbannya di kepalanya.
Tok tok tok
Perbincangan keduanya berhenti mendengar ketukan pintu, Raka yang duduk di ruang tamu segera beranjak dan membukanya, dia tersenyum melihat siapa yang datang.
"Bibi datang? Sama siapa?" tanya Raka.
Bi Yun bergeser, nampaklah Nora yang sedang bersembunyi di belakangnya. "Dia menangis minta ikut, jadi mau bagaimana lagi"
"Heheh Kakaaak!" sahut Nora sambil unjuk gigi. "Aku mau jenguk Kak Viona" lanjutnya.
"Ya sudah Bi, ayo masuk. Kak Viona juga merindukanmu, pasti dia sangat senang kamu datang."
Merekapun masuk, Bi Yun langsung ke dapur menyimpan paper bag dan sekaranjang buah yang dia bawa.
"Huhuhu Kak jangan sakit lagi!" ucap Nora yang sudah duduk di atas brangkar Viona.
"Heheh iya Dek, sini peluk Kakak!" sahut Viona sambil merentangkan tangannya agar Nora lebih dekat dan bisa memeluknya.
__ADS_1
Nora hanya memeluknya sebentar, takutnya dia menyentuh luka Viona, "Kak! Makanya jangan nakal lagi, kan jadi sakit"
Viona membeo, lalu berkata. " Kakak nakal kenapa Dek?"
"Dady bilang, Kak Viona nakal, jadi kepalanya terbentur. Lain kali Kak Viona tidak boleh nakal lagi ya?"
Ray dan Raka menahan tawa mendengar Nora menasehati Viona, Raka memberi dua jempol ke pada Adiknya.
"Dan Momy juga bilang, kalau jadi Anak nakal, nanti tidak ada yang suka loh Kak. Apa Kak Viona mau tidak ada yang suka?"
Viona bingung harus jawab apa, "Heheh iya Adikku yang imut, Kakak janji tidak nakal lagi. Ok?" balasnya sambil mencubit pipi Nora.
Raka juga bingung melihat Adiknya yang makin hari, makin pintar membuat orang setres. "Dek aku sama Ray balik ke kantor dulu ya? Ada Bibi juga, nanti Rian pasti akan ke mari.''
Raka memilih pergi, dia tidak ingin mendengar celotehan Nora lagi, karena mereka juga sepakat datangnya bergantian, jadi Rian akan datang bersama Tomi.
"Hmm iya Kak, kalian hati-hati" balas Viona sambil merapikan rambut Nora yang berantakan, seperti habis dijambak.
Setelah berpamitan ke pada Viona dan Bi Yun, keduanyapun keluar dan balik ke kantor.
"Dek! Kenapa rambutmu berantakan seperti ini?" tanya Viona yang sudah menyisir ulang rambut Nora.
"Gara-gara Kak Leo!" balasnya tanpa menoleh, karena dia sedang bermain game menggunakan ponsel Viona.
Sebelum Nora menjawab, Bi Yun muncul dengan piring yang berisi buah yang sudah dipotong-potong kecil, agar lebih mudah untuk Viona makan. "Kami tadi ketemu Nak Leo di depan."
~Flasback On
Setelah tiba di Rumah Sakit dengan sekeranjang buah, Leo segera masuk dan pergi mencari ruang rawat Viona setelah dia menanyakannya ke pada Resepsionis.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya, sebelum mengetuk pintu ponselnya berdering, penjaga menelponnya. Dia segera mengangakatnya takut terjadi apa-apa lagi. Dan benar saja, penjaga memberitahunya, jika Ibunya pulang dari pasar naik ojek sambil menangis dengan Kaki sedikit terluka.
"Kak Leo!"
Leo menoleh dan tersenyum melihat sosok anak kecil yang sangat imut, yang tak lain adalah Nora, "Hei Nora apa kabar?" sapanya sambil mengacak rambut nora.
"Aku kabar baik Kak. Kak Leo juga mau menjeguk Kak Viona?"
"Oh kalau begitu ayo kita masuk sama-sama" sela Bi Yun mengajak Leo.
"Emm bagaimana ya Bi? Tadi aku sudah mau masuk, tapi barusan aku dapat telpon jika Ibu tiba-tiba sakit di rumah!" kilahnya.
"Astaga, kalau begitu cepat pulang Nak! kamu bisa datang kembali lagi ke sini untuk menjenguk Nak Viona. Ibumu saat ini membutuhkanmu."
__ADS_1
"Baiklah Bi, emm aku cuman bawa ini Bi. Oh iya sampaikan maaf dan salamku ke padanya" ujarnya sembari menyodorkan buah tangannya.
"Hmm, pulanglah Nak! Nak Viona pasti mengerti" balas Bi Yun.
Leo mengangguk, dan sebelum pergi dia kembali mengacak rambut Nora. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan Viona. Tapi apa boleh buat, dia juga mengkhawatirkan Ibunya.
~Flasbak Off
Viona hanya terdiam, mendengar penjelasan Bi Yun, sambil memakan buah yang di bawakan Leo untuknya. Dia tidak marah, cuman dia masih kecewa dengan sikap Leo sebelumnya.
Tok tok tok
Lagi-lagi suara ketukan pintu terdengar. Bi Yun beranjak untuk membuka pintu. Tampaklah dua orang lelaki tampan.
"Eh Nak Rian! Nak Tomi, ayo masuk!" sahut Bi Yun mempersilahkan keduanya.
"Makasih Bi. Apa Viona sudah tidur Bi?" tanya Rian sambil berjalan masuk. dan membuka tirai pembatas.
Bi Yun tidak perlu menjawab, karena Rian sudah melihatnya langsung, di mana Viona sedang memakan buah, dan sesekali menyuapi Nora.
"Kak, sudah datang? katanya nanti sore?" tanya Viona setelah menghabiskan buah yang ada di mulutnya.
"Kerjaan Kakak sudah selesai, jadi bisalah santai sedikit" balasnya tersenyum sumringah. "Ehh Adik Kakak yang super imut ini di sini juga ternyata" lanjutnya sambil mencium pipi Nora.
Nora tak berkutik, dia masih fokus dengan gamenya. Tapi seketika dia berkata, "Iya Kak, aku lagi jagain Kak Viona, supaya dia tidak nakal lagi."
Rian menatap Viona meminta penjelasan, tapi Viona malah menggeleng. Jadi dia bertanya kembali ke Nora. "Emang Kak Viona nakal ya Dek?"
"Kak Rian lihat tu di kepalanya! Itu karena Kak Viona nakal" jawabnya sambil menunjuk perban di kepala Viona.
Rian sudah paham, dasar ya bocil buat orang bingung saja. "Oh ya ya, kamu benar Dek, Kak Viona memang harus di jaga agar dia tidak nakal lagi."
"Iya, Kak Rian tenang saja, aku akan menjaga Kak Viona" sahutnya.
Rian tidak lagi menjawab, dia kembali mencium pipi Nora yang sebelahnya lagi. "Dek! Leo tidak pernah datang menjengukmu?"
Viona hanya menggeleng, entah kenapa hatinya selalu sakit saat nama Leo disebut. "Tapi tadi katanya dia datang, hanya sampai di depan dan bertemu dengan Bibi. Soalnya Ibunya juga tiba-tiba sakit."
"Huff, entah apa yang di pikirannya, dia tidak berani untuk melihatmu, apalagi saat kamu masih di ruang ICU. Tapi Kakak berhasil membuatnya luluh, dan akhirnya dia masuk juga."
"Lah kapan Kak Leo masuk Kak? Kata Kak Raka dia cuman duduk di depan ruangan sampai tertidur di kursi."
"Oh Bang Raka memang tidak tahu, karena hari itu Leo bersamaku, dan aku memintanya masuk untuk melihatmu. Dan kamu tau Dek? Setelah dia keluar, dan Dokter masuk lalu memberi kabar jika kamu sudah sadar."
__ADS_1
"Hmm, jadi yang aku lihat itu adalah Kak Leo, aku memang sempat mendengar suaranya, tapi tidak jelas. Entah apa yang dia bisikkan"