
Setelah sarapan bersama Viona mengajak orang tuanya ke ruangan kerja, dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, sampai pamanya sendiri nekat menculik keponakannya sendiri. Dia menundah untuk menjeguk Mira karena hujan takkunjung redah, itu akan berbahaya mengemudi di tengah hutan.
"Momy harap, setelah mendengar cerita ini kamu tidak kecewa dengan kami!" ucapnya pada Viona dengan raut wajah sedih.
"Ya Nak, dan sebelumnya kami semua memintaaf, karena masalah ini kamu tidak dapat merasakan kasih sayang dari orang tua."
"Tidak kok Mom, saya akan memaklumi apapun alasannya, maka dari itu tetaplah tinggal di sini untuk membayar kasih sayangku yang tidak pernah aku rasakan dari Momy dan Dady.
Keduanya memeluk Vioana, betapa sakitnya saat mendengar Viona meminta kasih sayang, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa terulang kembali, hanya bisa memulainya dari awal.
~Flasback On
Jack saat itu baru saja pulang dari rumah sakit mengantar Jeny untuk pemeriksaan kehamilannya yang kedua, dan sudah berjalan sembilan bulan. Yang berarti tinggal menghitung hari sang baby akan lounching.
Setelah mengantar sang Istri masuk ke dalam kamar dan beristirahat, Jack pamit dan kembali lagi ke kantor untuk mengatasi semua masalah yang terjadi, tiba-tiba semua data penting Perusahaan di bobol yang seketika membuat Perusahaan di ambang ke bangkrutan.
Ceklek
Seseorang masuk di kamar Jeny tanpa permisi dan masuk begitu saja. Jeny yang saat itu sedang tidur langsung bangun, dan melihat orang itu yang tak lain adalah Bora sang Kakak.
"Kenapa Kakak datang?" tanyanya to the poin, dan merasa sedikit takut. Karena dia tau sang Kakak memiliki pekerjaan gelap.
"Apalagi ha? Jika bukan meminta Perusahaan itu. Apa kamu tidak lihat sekerang, Perusahaanmu hampir bangkrut di tangan suamimu yang sok jago itu."
"Tidak Kak! Kenapa Kak Bora selalu meminta hakku? Bukankah kita sama-sama memiliki warisan, kenapa tidak mengurus milik Kakak saja."
"Hei Jeny, Perusahaan itu akan gulung tikar jika kamu yang memegangnya. Biarkan aku saja yang menjalankannya, kamu tenang saja dengan hasilnya kamu akan mendapat lebih banyak dariku."
"Jangan serakah Kak, itu Perusahaan milikku. Mau bangkrut atau gulung tikar itu akan menjadi tanggung jawabku."
"Kenapa kamu makin keras kepala? Apa kamu sudah di hasut oleh suami itu ha? Aku tidak mau tau cepat tanda tangan ini!" pintahnya sambil menyodorkan beberapa lembaran kertas, yang jika di tanda tangani oleh Jeny maka Perusahaan itu sudah beralih nama.
__ADS_1
"Tidak Kak, kenapa Kak Bora ingin menguasai semua yang aku miliki? Emang kemana semua yang Kakak punya? Apa sudah Kakak jual dan uangya Kakak pakai berjudi dan main laj*ng di luar sana?"
"Itu bukan urusanmu, sekarang tanda tangan. Jika tidak aku akan membuatmu menyesal selamanya!" gertaknya sambil memperlihatkan sebuah belati.
Deg
Jeny mematung dan badannya bergetar, seketika dia memeluk perutnya yang buncit itu, dia sangat takut jika sang Kakak melukai anaknya masih ada dalam kandungan.
"Kak! Kenapa kamu berubah jadi jahat seperti ini, siapa yang mengajakmu untuk bergabung di dunia gelap itu? Aku mohon jangan sakiti aku dan bayiku!"
"Kamu tidak usah banyak tanya, jika kamu ingin bayimu selamat cepat tanda tangan berkas itu sebelum belati ini menusuk perutmu. Kamu tinggal pilih perusahaan atau anakmu?"
"Baa baik Kak, aku akan menandatanganinya. tapi jauhkan belati itu!" mohonya ketakutan.
"Kamu tenang saja, belati ini tidak akan melukai jika kamu jadi Adik yang penurut!" balasnya yang masih setia memegang belati itu.
Jeny mengambil berkas itu dengan tangan bergetar, dia sudah memegang sebuah pulpen bersiap untuk bertanda tangan. Dia sangat takut jika apa yang dilakukannya adalah kesalahan yang akan membuatnya kesusahan di masa depan.
Jeny sudah mulai mencoret kertas itu, tapi sebelum selesai mencoret dia di kejutkan oleh suara pecahan yang membuatnya menjatuhkan pulpen ke lantai.
Tiba depan rumah dia melihat mobil Bora sang Kakak ipar, dia sudah bisa menebak jika dia datang untuk meminta pengalihan Perusahaan yang di miliki sang Isrtri.
Dia masuk berjalan dengan pelan, mengendap-ngendap sampai di depan kamarnya, dia mendengar semua obrolan keduanya, dia terkejut saat Bora mengancam akan melukai sang Anak.
Dia mencari cara, agar bisa menggagalkan aksi keduanya. Dia melihat sebuah guci keramik, mengambilnya dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat sang Istri sudah menandatangani berkas itu dan.
Braaaaaaak, praaaaaaaang.
Guci itu dia pukulkan di kepala Bora sampai pecah dan jatuh kelantai. Darah mengalir begitu deras, merembes di wajahnya, sebelum dia tidak sadarkan diri, dia berbalik melihat siapa yang berani memukulnya.
"Kalian semua akan mati di tangannku, tidak akan ku biarkan kalian hidup bahagia. Ingat itu, dan tunggu pembalasanku." setelah berkata seperti itu dia jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?" tanya Jack.
Jeny langsung memeluk sang suami, dia menangis karena masih merasa takut. "Terima kasih sudah datang menyalamatkan kami!"
Setelah kejadian itu hidup Jeny dan jack, tidak pernah lagi tenang, setiap hari mereka akan selalu mendapat teror, siapa lagi kalau bukan Bora pelakunya.
Karena sudah tidak tahan keduanya meninggalkan rumah untuk menginap di hotel, tapi mereka malah di kejar-kejar oleh anak buah si Bora, mereka sempat baku tembak yang hampir mengenai Jeny.
Sebelum tiba di hotel, Jeny merasakan perutnya sakit, dia mengalami kontraksi. Dia mengusap perutnya dan merintih kesakitan. Tiba-tiba dia merasakan basah di bagian pahanya dan dia sudah pecah ketuban.
Jack makin panik, belum lagi anak buah si Bora masih mengejarnya, masih berusaha melajukan mobilnya dan menghindari tembakan, tiba di rumah sakit dia segera memanggil Dokter untuk membantunya. Dia melihat anak buah Bora juga ikut berhenti di depan rumah sakit itu. Dia tidak bisa lagi menyewa pengawal atau bodyguard karena Perusahaan tiba-tiba mendapat masalah, dan sisa uang yang mereka miliki hanya tersisa untuk sebulan saja. Dia sudah mengabiskan uangnya untuk membayar ganti rugi ke pada para pemegang saham.
Persalinan berjalan lancar, Jeny melahirkan seorang anak bayi perempuan, "Apa mereka masih mengajar kita?" tanyanya pada suami.
"Ya, dan mereka sangat banyak, semuanya berkeliaran di rumah sakit ini!"
"Jadi apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau anakku terluka, kita harus bisa pergi dari sini sekarang juga."
"Tidak Sayang, kamu baru saja melakukan persalianan. Tunggu sampai besok pagi saja!"
"Tapi bagaimana jika menemukan kita dan melakukan sesuatu ke pada anak kita, dia baru lahir, aku tidak rela jika dia terluka."
Jack juga bingung, harus berbuat apa, tiba-tiba otaknya menjadi dangkal, dia berjalan dan mengintip di balik tirai, terlihat di bawah sana ada banyak anggota si Bora yang berjaga.
Orang lain tidak memperdulikannya, karena hanya mengira mereka datang untuk berkunjung atau menjeguk keluarga mereka yang di rawat di Rumah Sakit itu.
"Sayang bagaimana jika kita titipkan anak kita ke pada orang lain, dan setalah keadaan membaik baru kita mengambilnya kembali"
"Apa kamu yakin sayang? Tapi sama siapa kita menitipkannya. Jangan sampai malah dia yang mendapat masalah."
"Cari orang yang ada di sekitar rumah sakit ini saja. Jangan sampai mereka lihat saat kita menitipkan Raina kepadanya."
__ADS_1
"Katakan ke padanya jika kita akan mengirim biaya dan upah untuk perbulannya."
"Baiklah sayang, tapi tidak sekarang, kita tunggu besok pagi saja, ini sudah malam kamu beristirahat saja!"