
"Hiks hiks, apa yang terjadi Nak? Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya sang Momy.
"Apa ini alasannya, kalian berdua tidak bisa di hubungi?" Tuan Jack juga bertanya. Tapi dia tidak marah, karena pasti ada sebab semua itu, makanya dia bertanya sebelum memarahi sang Anak.
Ya, akhirnya orang tua Rian tiba juga di negara itu, mencoba menghubungi kembali dan kali hanya bisa menghungi Tomi. Tomi memberi alamat Rumah Sakit itu agar mereka menyusul ke situ, mau bagaimanapun mereka berhak tau kondisi Rian.
Viona! Dia masih belum siap untuk bertemu, dia meminta waktu selama Rian belum sehat, dia tidak ingin bertemu, dan juga meminta untuk tidak mengatakannya kelau mereka sudah menemukan Viona dan sudah berjumpa dengannya.
Dia segera meninggalkan Rumah sakit dan pulang ke Menssionnya, setelah Tomi mengatakan jika orang tuanya sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Tapi dia heran melihat pesan yang di kirimkan Raka, jika dia pulang terlebih dahulu, dan juga Leo mengirim pesan yang sama. Kenapa tidak mengajak dirinya untuk pulang bersama, itulah yang Viona herankan.
Rian dan Tomi sebenarnya heran atas permintaan Viona, tapi melihat Viona memintanya dengan serius dan memohon keduanya mengiyakan sampai waktunya tiba.
"Mom jangan menangis lagi! Aku baik-baik saja. Dan ini semua terjadi saat aku dalam pencarian Adikku, aku di kroyok dan di begal oleh sekelompok orang" jawabnya mengarang.
Tuan Jack tau jika anaknya berbohog, tapi membiarkannya saja, jangan sampai Rian berkata jujur malah membuat sang Istri tambah khawatir dan tidak berhenti menangis.
"Itulah Nak, Dady menyuruhmu untuk pergi bersama dengan para pengawal, tapi kamu sangat keras kepala, lihat kan? Tidak ada yang membantumu jika Tomi tidak berada di sampingmu."
"Maafkan Aku Tuan! Saat itu aku tidak bersama Rian" sela Tomi merasa bersalah. Karena memang dia tidak ada samping Rian saat penyelamatan itu.
"Kalian berdua yang bersalah, tapi lupakanlah! Dan syukur kalian masih bernafas" ucap Tuan Jack menyindir, karena melihat luka Rian yang lumayan parah.
"Hmm, ya sudah istirahat lah Nak! Untuk sekarang ini hentikan saja pencariannya, sampai kamu benar-benar pulih." sela Momy Jeny.
...----------------...
Hari telah berlalu begitu cepat, keadaan Rian sudah membaik, dia sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, dan selama seminggu itu dia selalu mengirim pesan ke pada Viona untuk bertukar kabar.
Orang tuanya juga tinggal di Apertemen bersama, terpaksa Tomi yang mengalah untuk tidur di sofa depan TV karena hanya ada dua kamar. Bukannya tidak ingin menginap di hotel atau semacamnya, tapi Rian yang memintanya untuk tinggal bersama.
Viona juga sudah memulai aktivitasnya seperti biasa, datang ke Restoran untuk bekerja. Luka di tangannya sudah mengering, dan hanya memakan buah yang level rendah jadi tidak langsung sembuh total.
Tapi hatinya merasa ada yang janggal, selama seminggu ini dia memperhatikan Raka sedikit berubah, lebih banyak diam tidak seperti biasanya, dan tidak pernah ikut bergabung jika keluarganya sedang berkumpul.
__ADS_1
"Li kamu kenapa hmm?" tanya Leo yang duduk di depan Viona sedang membaca sebuah berkas. "Aku perhatian dari tadi, kamu banyak melamun, coba cerita ada apa?"
"Emm, itu Kak Raka sekarang banyak diam! Kenapa ya, apa terjadi sesuatu? Atau aku punya salah denganya? Tapi apa? perasaan semuanya baik-baik saja."
"Mungkin masalah waktu di Rumah Sakit itu! Apa dia tidak menanyakan sesuatu" kata Leo dalam hatinya.
Viona mendengar itu langsung berpikir, dan mengingat masalah apa yang terjadi waktu di Rumah Sakit, dan apa mungkin masalah itu yang membuatnya pergi tanpa mengajak dirinya, tapi dia belum menemukan masalah apa yang terjadi.
Leo ingin bertanya, tapi takutnya dia terlalu ikut campur urusan keluarga Viona. "Li apa Bang Raka tidak bertanya atau menanyakan sesuatu?"
"Tidak Kak, dia hanya akan berbicara dan bertanya jika masalah pekerjaan!" jawab Viona sedih karena merasa diabaikan oleh Raka.
Leo yang tidak suka Viona bersedih terpaksa menceritakan yang menurutnya penyebab Raka berubah.
"Li apa kamu masih ingat? Waktu aku sama Bang Raka pergi makan di kantin Rumah Sakit?"
"Ya, apa terjadi sesuatu di kantin?" tanya Viona balik.
"Tidak, tapi saat kami balik ke ruang rawat Rian, tidak sengaja mendengar obrolan kalian, jika kamu dan dia saudara kandung. Raka langsung pergi saat itu, dan aku menyusulnya dan tanya kenapa dia pergi? Dia jawab untuk apa? Aku mungkin tidak di butuhkan lagi."
Dan tidak habis pikir dengan pikirin Raka yang tidak membutuhkannya lagi, dia segara beranjak dan pergi ke Perusahaan untuk menjelaskannya.
"Kak Leo! Terima kasih sudah memberitahuku, sekarang aku harus pergi untuk menemui Kak Raka!" pamitnya.
"Hmm, ya kamu segera menjelaskannya, tapi kamu haru tersenyum dulu baru pergi!" pinta Leo bercanda agar Viona tidak terlalu memikirkannya.
Viona menggeleng dan menatap Leo, sempat-sempatnya dia bercanda di saat kondisi seperti itu. Tapi dia menurut dan tersenyum manis, jalan mendekat dan memeluk Leo.
"Aku pergi!" ucapnya setelah membuat jantung Leo berdebar, dan berjalan keluar meninggalkan ruangan sambil tersenyum.
"Astaga jantungku!"
...----------------...
__ADS_1
"Jadi sampai mana pencarian kalian? Apa belum ada hasil sama sekali?" tanya Tuan Jack ke pada Rian dan Tomi.
Keduanya saling tatap dan berpikir apa yang harus mereka katakan. "Emm ada Dad, tapi bukti itu tidak bersama kami" jawab Rian bersalasan.
Tomi harus mengikuti alur yang di buat Rian, jangan sampai Tuan Jack curiga. "Emm ya Tuan Jack, orang yang memegang bukti itu saat ini sedang di luar kota, besok dia baru balik"
"Aku akan mengajak Dady dan Momy untuk bertemu dengannya!" timpal Rian.
"Hmm baiklah, Dady akan ikut, Dady ingin lihat bukti apa yang kalian dapatkan,"
...----------------...
Ceklek, Viona membuka pintu ruang kerja Raka, dan masuk begitu saja, terlihat Raka sedang duduk membelakanginya, menatap dari jendela bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
Mendengar seseorang masuk ke ruangannya Raka segera berbalik, dan sedikit terkejut melihat Viona yang tiba-tiba datang.
Viona jalan mendekat dan brukk, dia memeluk Raka dan berkata, "Aku sudah tau Kak, maaf jika aku belum menceritakannnya, jangan mengabaikanku seperti ini! aku tidak suka."
"Huff, aku yang minta maaf Dek, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya belajar untuk tidak selalu bersamamu!"
"Apa maksudnya Kak?" tanya Viona dan melepas pelukannya.
"Kan sebentar lagi tidak tinggal bersama, jadi aku belajar untuk memulainya! Kamu akan berkumpul dengan keluargamu yang sesungguhnya!"
"Tidak, Kak Raka akan tetap tinggal bersamaku, menjadi Kakakku selamanya, aku bukan kacang yang lupa kulit."
"Mana bisa begitu Dek! pasti kamu tidak membutuhkanku lagi jadi untuk apa?"
"Kenapa Kak Raka berkata seperti itu? Apa Kak Raka sudah tidak menyangiku lagi?"
"Bukan begitu Dek, aku akan selalu menyangimu. Tapi mana mungkin aku tinggal bersamamu jika kamu sudah menemukan orang tuamu?"
"Kenapa? Aku akan memperkenalkan Kak Raka ke pada mereka sebagai Kakakku yang sudah menyangiku, menjagaku, dan juga membantuku selama ini."
__ADS_1
"Tapi,,!"
Bruuk, Viona kembali memeluk Raka, dan berkata. "Tidak ada tapi-tapian, Kak Raka dan Nora akan tetap menjadi keluargaku sampai kapanpun itu. Jadi Kak Raka bersiaplah kita akan bertemu mereka besok malam di Menssion!"