
"Begitulah Nak ceritanya! Sampai berhari-hari Ibu menunggu berita kehilangan Anak, tapi tak kunjung ada. Ibu juga tidak membawamu ke kantor polisi, karena kami tidak ada bukti jika kami hanya menemukanmu, Ayahmu takut kami malah jadi tersangka. Karena kami juga sudah terlanjur menyangimu, jadi Ibu memutuskan untuk mengangkatmu sebagai anak Angkat!" Ibu Nur Mengakhiri ceritanya dan melihat ekspresi Leo yang sulit diartikan.
"Kamu tidak marahkan Nak? Atau kecewa sama Ibu dengan Ayahmu?"
Leo berpindah ke samping Ibunya, dia memeluk sang Ibu dengan sayang. "Untuk apa aku marah Bu? Seharusnya aku berterima kasih sebesar-besarnya, karena sudah menemukan dan membawaku pulang waktu itu. Jika tidak, mungkin aku sudah tidak ada lagi Bu."
Ibu Nur membalas pelukan Anaknya. Betapa dia sangat takut jika Leo pergi meninggalkannya, tapi dia juga tidak boleh egois, Leo berhak tau yang sebenarnya.
"Sekarang kamu sudah dewasa Nak! Carilah mereka!" pintah Bu Nur setelah melepasakan pelukannya.
"Besok kita bahas lagi Bu. Ibu sekarang istirahat ya? Sudah larut malam" ujar Leo yang tidak ingin membahasnya lagi.
"Baiklah Nak, Ibu harap kamu jangan terlalu memikirkannya" ucap Ibu Nur sembari beranjak dan menuju kamarnya.
Leo juga masuk ke dalam
Kamarnya, menenangkan hati dan pikirannya. Dia ingin marah, tapi ke pada Siapa? Apa dia harus marah ke pada dirinya sendiri? Karena sudah di lahirkan ke dunia ini tapi tak di inginkan. Atau marah ke pada orang tuanya yang sudah membuangnya.
"Kenapa kalian membuatku? Jika tidak menginginkanku. Kalian sangat keterlaluan, sampai membuangku ke dalam hutan. Untuk apa aku juga mencari kalian? Jika kalian saja tidak ingin melihatku" gumamnya yang sudah berpikiran negatif.
Semalaman Leo tidak bisa tidur, tentu dia masih memikirkan kenyataan yang sangat menghantamnya, sakit tapi tak berdarah. Itulah yang dia rasakan. Sampai pagi menjelang matanya baru tertutup.
...----------------...
Pagi-pagi Viona sudah berada di Paviliun Melati, dia menemui anak buahnya yang sudah berhasil menangkap si Bora, dia melihat wajah mereka terdapat luka ringan, yang menandakan jika mereka sempat bertarung sebelum melumpuhkan si Bora.
Kemarin dia tidak sempat untuk menemui si Bora, makanya dia ada di situ, karena ruang penjara bawah tanah berada di bawah bangunan Paviliun.
Viona hanya akan memberikan mereka bonus tambahan, tak perlu sampai memakan buah ajaib itu, karena hanya luka kecil, itu hal wajar yang di alami seorang petarung.
Viona meminta salah satu dari mereka untuk menemaninya turun ke bawah penjara. Melewati lorong yang lumayan panjang, dengan penerangan yang minim. Ada banyak ruang bawah si situ, dan si Bora berada di tengah-tengah.
Sesampainya, Viona melihat si Bora masih terbaring dengan memeluk dirinya sendiri tanpa alas ataupun selimut, mukanya juga terlihat banyak lebam.
Praaanngg,, Suara nyaring menggema di ruang yang pengap itu saat Viona memukul jeruji besi menggunakan tongkat besi.
__ADS_1
Bora terlonjak kaget, dia langsung berdiri, dan menstabilkan kesadarannya. "Kurang ajar, jadi kau yang menyuruh mereka untuk menangkapku?" dia langsung marah saat melihat Viona duduk di kursi dengan santai.
"Selamat pagi Paman Bora" ucap Viona dengan jelas, "Masih pagi sudah mara-marah, nanti cepat tua loh! Upss sory, saya lupa kalau kau memang sudah tua, dan akan menua di dalam penjara ini, hahahahah" sapanya dengan mengejek.
"Dasar Anak kurang ajar! Lepasin saya jika kau ingin melawanku!"ucap Bora emosi.
"Kenapa kau masih marah-marah paman? Padahal kau harus bahagia, karena kau adalah penghuni pertama di tempat ini, dari sekian lamanya tempat ini kosong hahahah" Lagi-lagi Viona tertawa.
Praaaangg,, Bora menendang pintu besi itu berharap patah. "Keluarin saya wanita jal*ng! Kau tidak ada urusan denganku, kau hanya orang asing yang salalu ikut campur! Dan saya bukan pamanmu!"
Seperti biasa, Viona paling tidak suka jika mendengar kata kramat seperti itu, dia langsung berdiri dan mencekik leher Bora melalui sela jeruji.
"Jaga mulutmu itu, jika kau masih ingin menghirup udara!" ujar Viona menghempaskan si Bora ke lantai.
Uhuk uhuk, Bora terbatuk dan menghirup udara sebanyak banyaknya, mukanya sampai memerah karena Viona mencekiknya denga kuat.
"Aa-pa yang sebenarnya kau inginkan denganku? Saya tidak pernah menyinggungmu sampai kau selalu ikut campur dan menangkapku!"
"Ya, sebelumnya saya tidak punya masalah denganmu paman, tapi kau adalah biang masalah dalam keluargaku."
"Hahahah ternyata bukan umurmu saja yang sudah tua paman, tapi otakmu juga sudah full memory sampai kau tidak mengenali keponakanmu lagi."
Bora makin bingung, setaunya dia hanya memiliki dua orang keponakan, "Jangan mengaku-ngaku, saya hanya memiliki dua keponakan."
"Tepat sekali, akulah salah satu darinya. Apa paman tak pernah melihatku sebelumnya? Atau kau sudah melupakanku? Keponakanmu, yang hidup di kediama Wijaya dengan penuh penyiksaan." jelasnya.
Deg
Bora kaget, tentu dia tau karena selama ini dia memantau keluarga itu, tapi bodohnya dia tak pernah ingin melihat wajah keponakannya saat sang anak buah menunjukkan setiap foto yang dia dapat, yang dia inginkan hanyalah mendengar penderitaan sang keponakan.
"Viona!" gumamnya pelan.
"Apa kau sudah mengingatku paman? Atau kita perlu berkenalan kembali? Bukannya selama ini kau mencariku setelah saya pergi dari kediaman Wijaya? Dan kau juga mencariku untuk mempertanggung jawabkan, masalah pada anak buahmu yang idiot? Kau sangat keliru sampai mencari dua orang, padahal orang yang sama."
Makin terkejut, pantasan dia sangat sulit mencari dua wanita itu, ternyata itu adalah orang yang sama, yang tak lain keponkannya sendiri. Dia tak menyangka jika keponakannya tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan juga pemberani setelah dia keluar dari kediaman Wijaya, pasti telah terjadi sesuatu. Karena sebelumnya Viona hanya wanita lemah yang tidak bisa apa-apa. Dia hanya akan menangis dan memohon ampun jika dapat siksaan. Tapi sekarang, berbanding terbalik."
__ADS_1
"Siapa kau ha?" kau bukan Viona keponakanku. Kau memang bisa membohongi yang lainnya tapi tidak denganku!"
Viona sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum kecil. Ternyata si Bora sangat mengenali sikap sang keponakan yang culun itu.
"Tentu aku bukan Viona keponakanmu! Dia sudah tiada karena ulah kalin semua" ucap Vioba dalam hati.
"Wah, wah, kenapa kau menuduhku seperti itu paman? Jika aku bukan Viona, lalu aku siapa? Kembarannya? Kan tidak mungkin! Setiap orang bisa saja berubah, kapanpun itu."
Bora masih sangat sulit untuk percaya, pasti sudah terjadi sesuatu pada diri Viona, memang setiap orang bisa berubah tapi tidak secepat itu juga.
"Oh jadi kau ingin membalaskan dendammu? Dan juga membalaskan apa yang telah saya saya lakukan ke pada keluargamu? Silahkan dengan senang hati."
"Sayang sekali, saya harus menanyakan ke pada mereka, baiknya kamu di bunuh dengan cara apa! Dicincang atau dipenggal menggunakan belati" Viona sedikit curiga dengan si Bora, melihat sikap tenangnya.
"Tanyakan, dan lakukan apa yang mereka inginkan!" pintahnya.
Viona dibuat bingung oleh sikap tenang si Bora. Dia harus berhati-hati karena pamannya itu sangat licik, jangan sampai dia sudah merencanakan sesuatu.
...----------------...
"Momy datang Nak! Bagaimana kabarmu di sana? Momy harap kamu tenang di alam sana." ucap Momy Lidya sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Nico Franxlan Duke.
Keluarga Duke berada di pemakaman umum di mana sang Anak dan juga kedua orang tua Tomi di makamkan. Pagi-pagi mereka berangkat bersama, juga dengan Tian yang kebetulan dia baru balik dari luar negri mengikuti seminar.
"Ibu, Ayah! Aku sangat merindukan kalian! Kalian yang tenang di sana! Aku baik-baik saja di sini. Terima kasih sudah melahirkanku, dan memberiku kesempatan untuk melihat dunia, aku tumbuh dengan baik, aku dirawat dan diberi kasih sayang, aku dibimbing dan dibinah sampai dewasa oleh Momy Lidya dan Juga Dady Bastian. Sampai aku berhasil mendapatkan gelar apa yang kalian inginkan, menjadi seorang Dokter untuk menyembuhkan banyak orang" curhat Tian di pusara kedua orang tuanya.
Setelah semua mengirim doa, mereka kembali ke mobil. Tapi Momy Lidya masih ingin berada di situ, dia masih sangat merindukan almarhum.
"Nak! Momy bertemu dengan seseorang, dia sangat mirip denganmu saat di tersenyum. Mungkin jika kamu masih hidup, pasti kamu sudah dewasa sepertinya. Momy pulang dulu Nak! Momy akan selalu datang mengunjungimu" mencium batu nisan sebelum dia beranjak.
Mereka akhirnya pulang, setelah Momy Lidya sudah puas melepaskan kerinduannya. Tapi mereka mampir di Restoran Viona untuk sarapan, karena pagi tadi tidak sempat, hanya makan roti dan minum susu, itu hanya cemilan bagi mereka. Karena sudah terbiasa makan nasi di saat pagi.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di Restoran dan melihat suasana lumayan ramai. Ray memesan ruangan privat, karena mata sang Momy masih terlihat merah dan juga sedikit bengkak.
Masing-masing memilih menu kesukaan, dan makan dengan lahap, terlihat Momy Lidya memesan Nasi goreng seafood. Di sela makannya dia pamit ke toilet.
__ADS_1
Saat keluar Momy Lidya melihat Viona, sedang melayani pelanggan. Dia tersenyum saat Viona juga melihatnya, tidak ingin mengganggu pekerjaannya Viona dia melanjutkan tujuannya.