KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*HOAX*


__ADS_3

Sudah beberapa hari Aditya tidak melihat Neta dan dua sahabatnya dan itu membuat perasaan dia kalut, dia sudah mencari keberadaan Neta dan juga memerintahkan anak buah Aditya mencari alasan Neta tidak masuk. Tapi tidak ada hasilnya sama sekali.


“Pelajaran hari ini kita akhiri sampai di sini saja.” Ucap Aditya menutup bukunya dan langsung keluar dari dalam kelas, tidak memperdulikan tatapan anak-anak yang bingung dengan sikap guru tampannya ini.


“Apa pak Aditya lagi putus cinta yah?” Tanya salah satu siswi kepada teman sebangkunya. “Entahlah,” jawabnya yang fokus dengan buku-buku di hadapannya ini.


Di rumah sakit keadaan Neta sangat membaik, padahal 3 hari sudah cukup bagi Neta berada di rumah sakit ini. Tapi paksaan mama Rika membuat Neta tak bisa menolaknya sama sekali. “Astaga,” Neta mengacak rambutnya karena frustasi tidak bisa jalan-jalan dan itu membuat dia jengkel setengah mati.


“Bagaimana keadaan meta sekarang ini?” gumam Neta, dia tidak tau perasaan apa ini, jelas-jelas dia tidak bisa berhenti memikirkan Meta. Sekuat apa pun dia menghilangkan semua tentang Meta tapi tetap tidak bisa, hati dan pikirannya berkata lain.


“Kau terlihat tidak baik Net, apa ada yang kamu pikirkan?” tanya Viola yang baru datang dan melihat wajah Neta yang gusar sambil memakan buah apel.


“Aku memikirkan Meta apa dia baik-baik saja.”


Jelasnya dan tersenyum, viola memutar bola matanya dengan sangat malas apa lagi kalau ada yang menyebut nama meta Semakin mood dia jelek. “Bagaimana pun dia adalah sahabat kita vi,” lanjutnya dan menggenggam tangan Viola, viola menghela nafasnya dan tersenyum. Dia berpikir kenapa dia tidak bisa seperti Neta yang begitu mudah memaafkan Meta, padahal selama ini meta sudah menyakitinya dan hampir 2 kali membuat Neta kehilangan nyawanya.


“Aku rasa kamu bodoh Neta,” ketus viola dan Neta hanya menanggapinya dengan tertawa.


***** ***** ***** *****


“Bunda, Bunda mau ke mana, kok tergesa-gesa begitu?” Tanya Aditya yang penasaran dengan bunda Gina, belum lagi bunda Gina berpakaian rapi begitu.

__ADS_1


“Rumah sakit,” Jawab Gina tanpa peduli reaksi Aditya yang semakin bingung. “Siapa yang sakit Bun?” Tanyanya lagi sambil mengikuti langkah bunda Gina yang tergesa-gesa itu. Gina menatap Aditya dari bawah sampai atas lalu dia tersenyum. “Kau ikut bunda ke sana, karena calon istri kamu berada di sana.” Sahut Gina tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil dan menarik Aditya masuk ke dalam.


“Calon?” Batin Aditya, Aditya masih diam terpaku dan menuruti perkataan Gina, dia masih belum paham apa yang di maksud bundanya.


CEKLEKKK..


Papa Dimas langsung masuk dan duduk di depan tanpa tau kalau istri dan anaknya berada di belakang. “Pak antar saya ke rumah sakit, menantu saya ada di sana.” Perintah papah Dimas yang sibuk dengan layar HP.


“Ih papah apa-apaan sih, bunda masuk duluan jadi bunda dulu yang di anter.”


Gina menatap suaminya dengan wajah cemberut dia bahkan tidak peduli dengan tatapan Dimas yang tidak mau mengalah. “Kapan bunda masuk ?” tanya papah Dimas. “Yang jelas sebelum papah masuk!”


“Bunda gak minta izin sama papah keluar loh, bunda tau apa artinya itu kan?” ucap Dimas dengan nada dingin, Gina tersenyum kikuk gara-gara tergesa-gesa dia lupa minta izin sama Dimas. “Pah, Bunda boleh keluar gak?” tersenyum centil.


“Ih gak bisa gitu dong pah, kita ke rumah sakit bunda dulu lah. Lagian kita harus bertemu dengan calon mantu bunda.” Protes Gina, Dimas mengernyitkan alisnya. “Sejak kapan bunda punya calon kandidat mantu?”


“RAHASIA, jadi ke rumah sakit bunda dulu. Titik!”


“Gak bisa, papah duluan!”


“Kalau papah gak mau ngalah sama bunda, mulai malam ini sampai pernikahan Aditya papah tidur di kamar tamu, bunda OGAH tidur sama papah.” Ancam Gina, Dimas terdiam sejenak memutar otak agar dia duluan yang ke rumah sakit. Sedangkan Aditya berusaha menahan tawa mendengar ancaman bundanya.

__ADS_1


“OKE, tuh juga bunda gak akan dapat jatah dari papah. Emang tahan bunda pisah dari papah?” tersenyum licik, Gina wajahnya mulai berubah dia ingin menangis, Dimas yang melihat istrinya langsung merasa bersalah. Tapi dia juga tidak ingin mengalah untuk saat ini.


“Bunda, ke rumah sakit papa dulu yah, menantu papah ada di sana.”


Aditya mengerutkan keningnya. “Menantu lagi?” tanya Adita kepada orang tuanya, aditya kira menantu yang mereka maksud adalah orang yang Sama. “Kalian pikir aku piala apa yang di pajang terus di kasih ke sembarang orang gitu aja. Iya?”


“Heleh, kalau kamu piala pasti udah dari dulu laku, buktinya sampai sekarang kamu jomblo tuh. Waktu kecil Banyak ibu-ibu yang suka sama kamu, tapi pas udah besar ngeselin yah. Coba tersenyum dikit,”


Papah Dimas setuju apa kata bunda Gina, Aditya menghela nafas Sambil tertawa yang di paksakan. “Iyalah, mana mungkin aku doyan sama ibu-ibu, orang yang tergila-gila aja gadis semua.” Gina yang mendengar jawaban Aditya, menjewer telinganya dengan sangat keras. “A....a...aduh ampun Bun, ampun!!” menyatukan kedua tangannya.


“Kamu ini yah, kalau mereka doyan sama kamu sampai gila buktinya kenapa kamu gak ada pasangan, hoax doang.”


“Asem,” ketus Aditya gak ingin berdebat dengan bunda, yang ada dia semakin kesal dengan perkataan bunda Gina.


“Pak ke rumah sakit Euginus,” Perintah Dimas dan Gina barengan. “Papah ke sana?!” tanya Gina dengan nada tidak percaya. “Bunda ke sana?” Gina mengangguk, sang sopir akhirnya bisa bernafas lega, dia bingung harus mengikuti perintah siapa, kalau mengikuti perintah Gina, takut di pecat, kalau ikutin Perintah Dimas takutnya gak di gajih.


Di rumah sakit, Neta memohon kepada Viola agar membawa dia ke kamar Meta, tapi dengan keras kepalanya viola dia bahkan tidak memperdulikan rengekan Neta. “Viola please?!” Memelas, sebenarnya viola gak tega tapi dia lakukan ini buat jaga-jaga saja. “Tidak!!” sarkas viola yang sibuk dengan layar Hpnya.


“Astaga, bagaimana gue bisa bertemu Meta yah, go....go... Mikir Neta, giliran begini otak Lo gak fungsi yah Neta,” Batin Neta menatap tajam ke arah Viola, yang tidak menghiraukan tatapan dingin dari Neta.


“Viola kamu gak penasaran gimana kabarnya Meta?”

__ADS_1


Viola menatap sebentar lalu kembali fokus lagi ke layar ponselnya. “Biasa aja tuh,” jawab Viola dengan ketus, bohong kalau dia gak khawatir dengan Meta. Tapi mau bagaimana pun dia terlanjur sakit hati dengan perbuatan meta ke Neta.


__ADS_2