
Setelah makan, Leo mengajak Ibunya nongkrong di pinggir pantai. Keduanya duduk di atas pasir dan memandang lautan lepas dengan suara deruan ombak. Meskipun Leo sudah mengetauhui kebenarannya, dia terlihat tetap santai, tidak melakukan tindakan untuk mencari keluarga kandungnya. Mungkin juga dia bingung harus memulainya dari mana.
"Leo, apa kamu menyukai Nak Viona?" tanya Ibu Nur setelah lama berdiam.
Leo sedikit terkejut, dia menoleh menatap Ibunya, tapi kemudian menatap ke depan lagi. "Kenapa Ibu bertanya seperti itu?" malah bertanya balik.
"Kerena Ibu bisa melihatnya Nak, Ibu bertanya untuk memastikannya. Tapi kamu tidak usah menjawabnya lagi, karena dengan kamu bertanya seperti itu, sudah menandakan bahwa tebakan Ibu benar."
"Maafkan aku Bu! Aku tidak tau kapan perasaan ini tumbuh, awalnya aku hanya menyanginya seperti saudara, tapi lama kelamaan aku merasakan sesuatu yang berbeda yang tidak pernah aku alami sebelumnya."
"Pernah sih aku menyukai gadis cantik waktu masih SMA dulu, aku tidak tau apakah itu bisa disebut cinta atau bukan. Karena aku hanya bisa melihatnya dari jauh, dan aku merasa bahagia jika melihatnya tersenyum. Berbeda dengan perasaanku yang sekarang, jantungku berdebar saat berada di sampingnya" lanjut Leo dalam hatinya.
"Cintamu tidak salah Nak, karena cinta bisa tumbuh kapan saja, tidak memiliki waktu untuk mengaturnya. Tapi apa kamu bisa menahan perasaanmu Nak? Ibu tau, kamu pasti tidak berani mengatakannya."
"Aku tidak ingin mengatakannya Bu. Takutnya dia marah atau kecewa. Biarkan aku memendamnya."
"Lebih baik kamu lupakan perasaanmu Nak. Nak Viona gadis yang baik dan juga cantik, pasti banyak lelaki yang mengajarnya. Terutama pria yang bersamanya di Restoran tadi."
"Iya Bu aku juga tau hal itu. Aku sudah pernah mencobanya Bu tapi sangat sulit, apalagi aku sering bertemu."
"Huuff, memang sangat susah yang namanya melupakan. Tapi kamu harus memulainya kembali Nak, karena Nak Viona dengan kita sangat berbeda dari segi manapun itu."
"Iya Bu aku mengerti, aku akan coba untuk melupakan perasaanku." ucap Leo tapi hatinya terasa sakit setelah berkata seperti itu.
"Bertemanlah seperti sebelumnya, jangan menggunakan perasaan. Dan jangan pernah berharap terlalu jauh!"
Lagi-lagi masalah status, kenapa jika si miskin jatuh cinta dengan si kaya apa itu dilarang?"Tidak. Cuman mereka merasa insecure, jika tiba-tiba bersanding dengan orang kaya. Belum lagi harus tutup telinga untuk tidak mendengar gosip negatif orang lain.
...----------------...
Viona berada di padang rumput hijau yang luas, terlihat dia menggunakan dress putih selutut sambil bermain ayunan.
"Wah tempat yang sangat indah dan juga udara yang sejuk. Sangat cocok untuk menangkan pikiran yang lagi banyak masalah, yang tak kunjung berhenti datang silih berganti.
Tiba-tiba Viona melihat seorang wanita yang menggunakan dress putih panjang sekaki. Tapi dia tidak bisa melihat jelas wajahnya.
"Kamu pasti sangat bahagia Nak, sudah bertemu dengan keluargamu" ucapnya.
Viona sangat merindukan suara itu, "Ibu! Kenapa aku tidak bisa melihat wajahmu? Aku sangat merindukanmu Bu" tanya Viona beranjak dari ayunan.
"Ibu juga sangat merindukanmu, Ibu tidak bisa lama berada di sini. Cari kebenarannya! Karena apa yang terlihat, belum tentu itu yang terjadi"
__ADS_1
"Ibuuuuu, Buuuuu jangan pergi! aku masih merindukanmu" ucap Viona sambil berlari mengejar cahaya putih yang makin lama makin menghilang.
Hos hos
"Hah, ternyata aku cuman mimpi. Tumben Ibu datang dalam mimpiku lagi. Padahal belum lama aku dan lainnya datang berkunjung ke makam. Ibu terlihat berusaha menyampaikan sesuatu, tapi apa?" Viona kembali berusaha mengingat mimpinya.
"Cari kebenarannya! Karena apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi. Astaga apa maksud dari ucapanmu Bu? Kebenaran apalagi yang harus aku cari? Bukankah semuanya sudah terungkap?"
Tidak ingin terlalu memikirkan, Viona beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama dia sudah keluar kembali lalu menggunakan pakain kerjanya. Turun ke bawah ikut bergabung, sarapan dengan yang lainnya.
"Dek! Jangan lupa entar siang kita makan bareng ya? Kali ini Kakak yang akan menentukan tempatnya" ucap Rian disela suapanya.
"Hmm ok, Kak Rian tinggal serlok. Nanti aku menyusul" balas Viona setelah mengakhiri sarapannya.
Semua selesai sarapan dan berangkat bekerja, "Nora! Kalau Kakak yang mengantarmu ke sekolah mau nggak?" tanya Rian.
"Emm boleh saja Kak, tapi sampai sekolah, Kak Rian tidak usah turun dari mobil!" pintahnya sambil melirik Raka.
"Loh kenapa? Kakakkan juga pengen lihat sekelahmu!"
"Ya pokoknya tidak boleh, lihat sekolahnya dari dalam mobil saja Ok?"
Ya, sampai sekarang teman-teman Nora sering menunggunya di depan pintu gerbang hanya untuk melihat Raka. Makanya dia meminta Rian untuk tetap di mobil, pasti teman-temannya akan menyerbunya banyak pertanyaan. Bukan hanya itu. Kakak kelasnyapun sama. Karena sekolahnya sudah satu lokasi sama TK, SD, SMP dan SMA tapi beda bangunan.
Semuanya berangkat menggunakan mobil masing-masing, kecuali Tomi yang masih setia menjadi buntutnya Rian. Tidak apalah dia ikut mengantar Nora ke sekolah, siapa tau bisa lihat yang muda-muda.
Sesampainya di depan pintu gerbang, dia menurut tidak turun dari mobil, tapi Rian malah menurunkan kaca mobilnya. Dia sangat penasaran kenapa Nora melarangnya, dia terkejut, kerena tiba-tiba banyak yang datang mengerumuni Nora, dan juga menatapnya, Rian hanya melambaikan tangan ke pada Nora yang sudah manyun-manyun. pasti dia akan diserbu banyak pertanyaan oleh Kakak kelasnya.
"Nora siapa yang mengantarmu? kemana Bang Raka?"
"Ahhh mereka sangat tampan!"
"Nora kamu harus kenalin mereka dengan kami!"
"Kenapa Nora memiliki banyak Kakak yang tampan!"
"Rian kamu jadi artis dadakan, fansmu bocil-bocil semua hahaha. kalau yang ABG itu pasti fansku, karena dia terus menatapku sampai tak berkedip.
"Ck, jangan terlalu narsis!" ucap Rian sambil menjalankan kembali mobilnya menuju Perusahaan.
"lihat saja entar. Nora akan ngambek sampai seminggu, tidak ingin berbicara denganmu!"
__ADS_1
"Hee anak kecil mah sangat gampang untuk membujuknya. Dia tidak akan marah sampai dua puluh empat jam."
...----------------...
Viona masuk ke ruang kerjanya, hanya ada Thea yang duduk di tempatnya sendiri. "Pagi Thea! Kak Leo belum datang?"
"Pagi nona! sudah kok, mungkin lagi ada di ruangannya. Apa nona ada perlu dengannya?"
"Hm tidak, aku cuman tanya. Oh iya bagaimana penjualan koin emas? Apa sudah terjual semua?"
"Sudah nona, uang dari hasil penjualannya mereka bayar melalui via transfer. Tidak ada yang memberiku cash."
"Oh baiklah, besok kamu pergi cairkan setengahnya!"
"Baik nona! Besok pagi saya ke Bank!" balas Thea beranjak dari duduknya membuka pintu setelah terdengar ketukan.
"Nona ada yang ingin bertemu!" lapornya setelah seseorang itu membisikkan sesuatu.
"Em suruh dia masuk!" Viona melihat ke arah pintu yang ternyata salah satu karyawannya. "Silahkan duduk! Ada perlu apa mencariku? Ada masalah?" tebak Viona yang hanya melihat mata karyawannya.
Dia seorang wanita, mungkin dia lebih tua dari Viona. Sedikit gugup dan juga takut setelah Viona menanyakan tujuannya.
"Em itu Bos,,!"
"Jangan panggil aku seperti itu Mbak Tika!" Viona menyelah ucapan Tika, merasa geli dipanggil seperti itu. Setiap seragam para karyawan atau pegawai memiliki name tag agar lebih mudah.
"Em nona?"
"Ya itu lebih baik! jadi ada apa?" ulangnya.
"Maaf jika saya sudah mengganggu waktu nona! Saya ingin bertemu untuk minta tolong" jawabnya masih takut.
"Minta tolong? Aku akan membantumu sebisaku. Jadi apa masalahmu?"
"Saya ingin meminjam uang nona! Adik saya beberapa hari yang lalu mengalami kecelakaan, seseorang menabraknya dan tidak bertanggung jawab."
"Tabrak lari?" suara Viona terdengar menahan emosi. "Lanjutkan!"
"Iya nona! Dan Adik saya berada di rumah sakit. Kata Dokter dia harus dioprasi di bagian kepala. Saya tidak ada dana, Pihak Rumah Sakit baru akan bertindak setelah melunasi Administrasinya."
"Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang!"
__ADS_1