
"Rian kamu harus kirimkan rekaman CCTV itu kepada Dady mu! Tanyakan, apa dia wanita itu? Ya meskipun sudah jelas kalau Tuan Jack terlihat benar-benar memberikan bayi itu kepadanya."
"Ya kamu benar Tom, tidak ada salahnya bertanya kembali kepada Dady, supaya lebih jelas lagi." balasnya dan mengrimkan sebuah file yang sudah dia salin.
"Tapi Rian, setelah dia keluar dari ruangan perawatan, dia tidak terlihat menggendong seorang bayi lagi! Apa yang dia lakukan di ruangan itu?"
"Tom kamu perhatikan baik-baik kembali rekamannya! Di ruangan itu terlihat lagi dua orang wanita yang keluar setelah beberapa menit kepergiannya, dan aku sangat yakin, di dalam tas yang ada di pangkuan wanita yang duduk di atas kursi roda itu adalah seorang bayi!"
"Appaa! Berarti wanita itu menitipkannya kepada wanita yang ada di kursi roda itu?" tanyanya sudah mengerti alur.
"Ya, dua hari sebelumnya dia baru saja melahirkan dengan cara oprasi sesar. Dokter tadi mengatakan kalau bayi wanita itu sudah meninggal di dalam kandungan!"
"Jadi kita cari yang mana?" tanya Tomi yang memijit pelipisnya merasa sedikit pusing. Karena masalah itu makin rumit saja.
"Kita harus cari keduanya, tapi utamakan wanita yang bertemu dengan Dady!" jawab Rian sambil menyandarkan bokongnya di sandaran sofa.
Rian mengambil ponselnya yang bergetar, ada balasan pesan dari Dady nya, bahwa wanita yang ada di rekaman itu adalah wanita yang harus mereka cari.
...----------------...
"Ray bagaimana kabar adikmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nyonya Lidya.
"Momy tidak usah khawatir! Meskipun dia jauh aku tetap memantaunya, ada banyak pengawal bersamanya!" balansnya.
"Ya Nak, tapi kenapa Rara mengambil job di luar kota? Kenapa tidak di dalam kota saja!" sahutnya. "Momy punya banyak kenalan di bidang itu, tapi dia tidak ingin mendengar sedikitpun."
"Momy! Rara bukannya tidak ingin mendengar, dia sedang mencari pengalaman di luar sana. Pasti dia akan kembali dengan sendirinya, dia orangnya cepat bosan."
"Momy tau Nak, Momy cuman takut kejadian itu terulang lagi. Di mana adik lelakimu pergi meninggalkan kita selamanya" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Ray terdiam, dia tau bagaimana kegelisahan yang dirasakan Momy nya. Tapi waktu tidak bisa terulang kembali. Dia punya adik lelaki tapi sudah meninggal karena kecelakaan di saat usianya masi satu tahun. Makanya Nyonya Lidya sangat mengkhawatirkan Rara yang jauh dari dari jangkauannya.
"Momy jangan sedih lagi! Pasti dia sudah bahagia di alam sana. Momy harus tersenyum lagi ok? Dan untuk Rara pasti dia akan baik-baik saja."
"Huff, maaf Momy cuman merindukannya!" sahutnya sambil mengusap air matanya yang sudah menetes.
Ray mendekat dan memeluk Momy nya, memberikan ketenangan dan semangat agar tidak larut dalam kesedihan. Jika ada yang bertanya, apakah Ray juga merasa sedih. Tentu, dialah orang yang paling bersemangat saat mengetahui dirinya akan mempunyai seorang adik laki-laki. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dari situlah sikapnya mulai berubah.
...----------------...
Jangan pernah lelah dengan mimpi, jika tidak terpenuhi. Ketakutan akan kegagalan seharusnya tidak menghalangimu dari jalan kepercayaan diri. Berlarilah ketika kamu bisa, berjalan jika harus, merangkak jika perlu, jangan pernah menyerah."
Malam tiba, Viona dan yang lainnya sudah berada di Menssion. Mareka pulang setelah jam makan siang dan tiba sebelum menjelang malam.
Viona berbaring sambil memikirkan apa yang harus di lakukannya. "Huff aku harus mulai dari mana untuk mencari kalian! Mira? Mana mau dia buka mulut, sampai matipun dia akan tetap diam!"
"Bibi! Pasti dia tau sesuatu. Dia pernah bilang kepadaku kalau dia bekerja dengan Ibu laras sebelum Ibu menikah. Tapi, kenapa Bibi tidak pernah menceritakan sesuatu?" gumamnya.
...----------------...
"Bibi!" panggil Viona saat di turun ke dapur. Dia sengaja menunggu kedaan sepi, semua para maid sudah bersantai karena tugas mereka sudah beres. Dan Raka sudah berangkat ke kantor.
"Eh Nak Vio, akhirnya kamu bangun juga Nak! Kalau kamu masih lelah tidak usah ke Restoran, mending istirahat saja dulu!" kata Bi Yun dengan pengertiannya.
"Iya Bi. Aku izin libur hari ini" ucap Viona, dia bukan lelah tapi ada urusan lain. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Bibi!" lanjutnya setelah duduk.
"Sesuatu! Kayaknya serius nih. Ya sudah Nak kamu sarapan dulu baru tanyakan!" balas Bi Yun sambil menyodorkan sepiring nasi goreng.
"Hmm, apa Bibi sudah sarapan?" tanya Viona setelah suapan pertamanya.
__ADS_1
"Sudah, tadi sama Nak Raka dan juga Nora" jawabnya sembari memotong buah semangka untuk pencuci mulut Viona.
Beberapa menit berlalu, tidak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraannya dengan Bi Yun, Viona mengajaknya masuk di ruang kerja, tidak lupa dia membawa buah semangka yang sudah di sediakan di wadah.
Bi Yun sudah menebak, ada suatu hal yang penting, karena bicaranya harus di dalam ruangan yang kedap suara. Jika tidak penting pasti Viona sudah bartanya saat di dapur tadi.
"Ada apa Nak? Bibi rasa kamu ingin menayankan sesuatu yang sedikit privasi ya?" Bi Yun bertanya karena sudah penasaran dan dia merasa sedikit deg-degkan.
"Ya Bi, bisa di bilang begitu. Dan maaf sebelumnya jika pertanyaanku sedikit menyinggung Bibi!" balas Viona.
"Tanyakanlah Nak, Bibi akan menjawab sebisanya" sahutnya dengan wajah serius. Bi Yun memikirkan pertanyaan yang akan di tanyakan Viona.
"Apa Bibi tau kalau mendiang Ibu Laras bukan Ibu kandungku?" tanya Viona sambil menatap Bib Yun ingin melihat reaksinya.
Deg
Pikirannya tidak meleset, pertanyaan itulah yang ada di benaknya tadi, dia sedikit terkejut tapi ekspresinya sama saja sebelum Viona bertanya.
"Huff akhirnya kamu bartanya juga tentang itu, bagaimana cara bibi menjelaskan!" ucapanya dalam hati.
Viona yang mendengar hal itu, makin yakin kalau Bi Yun tau semuanya. Tapi kenapa? Kenapa tidak pernah menceritakannya. Dia tidak ingin memaksa, dia tetap menunggu jawaban dari Bi Yun yang sudah beberapa menit terdiam.
"Maafkan Bibi Nak. Kamu pasti marah sama Bibi jika kamu sudah mengetahui semuanya. Pasti kamu sudah beranggapankan kalau Bibi orang yang jahat karena tidak menceritakannya kepadamu sejak dulu."
Viona terdiam, dia tidak ingin memotong ucapan Bi Yun, dia akan menjadi pendengar setia dan akan bertanya setelah penjelasan Bi Yun selesai.
"Ya Ibu Laras dan Pak Doni bukan orang tua kandung Nak Vio" jelasnya sambil menatap Viona. "Anak Ibu laras sudah meninggal sebelum di keluarkan. Dan Pak Doni tidak tau, karena saat itu dia dalam perlanan pulang dari luar kota. Tapi Bibi tidak tau untuk sekarang ini, apa di sudah mengetahuinya atau belum.
Badan Viona mematung, dia tetap merasa terkejut dan syok, saat mendengar jawaban Bi Yun, padahal dia sudah tau kalau jawaban itulah yang akan keluar.
__ADS_1
~Flasback On