KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*KHAWATIR*


__ADS_3

Semua keluarga shock berat apa yang terjadi dan siapa orang yang telah menyelamatkan Neta, Mereka ingin membalas budi. Tapi orang itu hanya meletakkan Neta di depan pagar rumah dan langsung pergi tanpa ada bukti dan sebagainya.


“Tuan apakah tidak masalah kalau kita membiarkan nona itu di sana?” Tanya sopir itu dengan nada cemas, apa lagi melihat kondisi Neta yang mengenaskan.


“Tidak apa-apa,” Jawab tuannya tapi matanya terus melihat ke kaca spion mobil.


“Kita pergi sekarang,” Perintahnya kepada sopir itu, dan dengan terpaksa sopir itu menurut apa kata tuannya itu.


Neta sempat koma selama 3 hari. “Neta bangunlah,” Ucap seseorang dari jembatan penghubung, di sana di penuhi bunga-bunga yang sangat cantik di tambah aliran air yang jernih di bawah jembatan itu. Wanita itu menggunakan pakaian serba putih selutut, dengan rambut yang terurai sebahu.


“Hemm, di mana aku?” Neta bangun dan melihat di sekelilingnya , Neta melihat seseorang yang berada di jembatan. Orang itu pas berdiam diri di garis merah itu. Dia berjalan ke arah wanita itu yang wajahnya sangat mirip dengannya. “Kamu... Kamu, siapa? Kenapa aku merasa tidak asing dengan kamu?” menunjuk wanita itu, wanita itu tersenyum dia menyentuh tangan Neta dan menggenggamnya dengan sangat kuat.


Neta ingin melewati garis merah itu, tapi wanita itu menghentikan langkah Neta dengan menahannya dan menggelengkan kepala. “Diam di sana,” Ucapnya menatap Neta.


“Aku titip keluargaku, jaga mereka baik-baik, sayangi mereka sebagaimana kamu menyayangi diri kamu sendiri. Untuk itu aku serahkan semuanya padamu, masalah apa pun itu, karena sekarang itu adalah hidup kamu. Bukan hidupku lagi,” Wanita itu menarik nafas nya dan melanjutkan ucapannya lagi.


“Aku memberi kamu Kesempatan kedua untuk hidup lagi, jelas ini kehendak Tuhan, tapi kamu hidup di jaman aku di mana itu 10 tahun yang akan datang,” ucapnya tersenyum, Neta masih tidak paham apa yang di katakan wanita muda di hadapannya ini.


“Kamu harus hidup dan lindungi keluarga ku serta orang yang aku sayangi,” Ucapnya memeluk Neta, setelah itu dia pergi bersama dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

__ADS_1


Neta menyilangkan kedua tangan di wajahnya agar tidak terkena cahaya itu, dan setelah Neta menurunkan tangannya, Cahya dan orang itu hilang dalam sekejap. “Ke mana dia?” gumam Neta, tiba-tiba nafas Neta sesak semua terlihat gelap dan sangat menakutkan.


“Tolonggg!!” Teriak Neta, viola yang tadi ketiduran langsung bangun dan segera menghampiri Neta. “Kamu tidak apa-apa Net?” Tanya viola dengan nada khawatir tapi Neta diam saja, dan dia kembali tidak sadarkan diri.


Viola yang ketakutan langsung memanggil dokter, dan dengan sigap dokter dan suster datang. Apa lagi ini adalah anak pemilik rumah sakit ini, kalau sampai kenapa-kenapa bisa di copot gelar dokter mereka dan lebih berbahaya kalau mereka berhadapan dengan kedua Kaka Neta.


Kedua Kaka Neta lebih kejam dari pada seorang pembunuh bayaran.


Neta dalam keadaan kritis detak jantung Neta melemah, dokter dengan segara menggunakan alat pengejut jantung (Defibrilator) berulang kali mereka menggunakan alat itu, sampai memompa dengan tangan dan kembali menggunakan alat defibrilator itu lagi.


Titttt... Titttt... Tit......


“Bagaimana dok?” Tanya Seno yang khawatir. “Detak jantungnya sudah kembali normal, tapi dia belum sadarkan diri, kita lihat dulu perkembangannya kalau sampai dia tidak sadar berarti dia koma dan itu sangat buruk.” Ucap dokter itu dengan nada hati-hati, kaki Seno langsung lunglai dia berasa tidak menginjakkan kaki di bumi lagi.


“Apa saya boleh masuk ke dalam?” Dokter itu menganggukkan kepalanya pertanda Seno boleh masuk. “Tapi jangan terlalu lama,” Ujar dokter itu, dia merasa bersyukur kalau Neta bisa di Selamatkan tapi tidak tau nanti dia sadar apa tidak.


“Tapi dok, kenapa Neta bisa seperti itu?” Tanya viola terheran-heran, tadi Neta baik-baik saja Sebelum dia ke ruangan Meta. “Saya juga kurang tau, padahal dia tidak ada riwayat penyakit jantung, luka di paha dia juga tidak terbuka. Tapi kenapa bisa begini,” Ujar dokter itu yang merasa heran.


“Baiklah kalian boleh pergi,” Seno langsung masuk ke dalam melihat kondisi adiknya saat ini.

__ADS_1


****** ****** ****** ******


Aditya duduk dengan gelisah, di kursi kebesarannya yaitu di perusahaan dia. Setelah jam dia selesai mengajar dia langsung kembali ke kantornya, karena dia lihat Neta dan teman-temannya belum juga ada kabar dan masuk sekolah.


“Ke mana dia, kenapa tidak ada kabar sama sekali? Kenapa aku terus memikirkan dia. Apakah dia baik-baik saja, ke mana dia, sedang apa. Semua rasa penasaran ini menyesakkan dada,” Batin Aditya, menumpang dagu dengan kedua tangannya, padahal Sekarang dia lagi ada meeting. Harusnya dia fokus dengan presentasi dari klien.


Semua orang menatap heran Aditya, baru pertama kali dan bahkan ini tidak pernah terjadi sama sekali. Seorang pengusaha muda dan yang paling tidak suka bekerja, sekarang ini dia tidak fokus dengan meeting Sekarang. “Sialan,” Gumam Aditya, orang yang sedang presentasi langsung menghentikan kegiatannya, kakinya gemetaran wajahnya pucat seperti orang mati. Dia takut, takut kalau kerja sama mereka tidak lancar.


“Habislah sudah, bisa di pecat nih,” Batinnya sambil menyeka keringat yang berada di keningnya dengan sapu tangan.


Aditya menatap orang-orang yang juga menatapnya, dia langsung tersadar kalau dirinya sedang berada di ruang meeting bukan di ruangan dia sendiri. “Ehemm, meeting kali ini kita lanjutkan besok saja.” Ucapnya Merapikan dasi, lalu berdiri dan keluar dari ruang meeting.


Semua orang langsung berdiri dan memberi hormat saat Aditya keluar dari ruangan, semua orang langsung menghela nafas dengan sangat lega. “Syukurlah, saya rasanya tercekik berada di ruangan ini,” Ucap bapak yang umurnya sama dengan pak Bagas.


“Pak Reza apa saya melakukan kesalahan?” Tanyanya dengan wajah yang takut.


Reza menghentikan langkahnya, dia bahkan bingung dengan keadaan Aditya Sekarang. “Tidak kau melakukannya dengan sangat bagus, tapi emang suasana hatinya tidak membaik, kita lakukan itu nanti saja, nanti saya kabarin kalian semuanya.” Jawab Reza dan di angguki Semua orang, setelah itu Reza keluar dari ruangan itu, setelah dia memberi hormat. Reza berjalan cepat mengejar Aditya yang lumayan jauh.


“Ada apa dengan dia?” Gumam Reza yang bertanya-tanya baru kali ini dia melihat Aditya seperti orang linglung, yang tidak tau apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Aditya tidak memperdulikan orang-orang yang memberi hormat dia terus menatap ke depan, pikirannya kacau Sangat kacau. Dia tidak tau kenapa, tapi ada emosi yang ingin dia luapkan saat ini. “Ada apa dengan aku?” Batin Aditya


__ADS_2