KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*KEPRIBADIAN META*


__ADS_3

Setelah lama dan sudah malam juga meta kembali ke dalam kamarnya, tidak terasa jam sudah menunjukkan 20.30 malam, mata meta tidak bisa terpejam dan itu membuat dia kesel. Meta bulak balik tidak karuan, dia merasa kalau Neta dan viola tau sesuatu tentang dirinya. “Aku harus membunuh dia, iya harus!!” Gumam Meta menggigit kuku di jarinya dengan pupil mata berwarna merah. Dia bergegas keluar dari kamarnya dan menuju kamar Neta.


Tidak ada seorang penjaga di luar sana dan itu pun Meta tidak curiga sama sekali. Meta melihat Neta hanya sendirian di dalam kamar, tidak ada siapa pun yang menemani Neta, Viola bahkan tidak terlihat sama sekali. Meta lihat Neta tertidur Sangat pulas, meta membuka pintu kamar Neta dengan sangat pelan agar Neta tidak bangun.


Dia membawa bantal yang selalu dia dekap dengan sangat erat, dia berjalan mendekat ke arah Neta dengan berjinjit. “Neta maaf, tapi aku rasa kamu tidak pantas hidup bahagia dengan orang di sekitar kamu,” Gumam meta dia ingin menekan bantal ke wajah Neta agar Neta kehilangan oksigen.


“Apa yang kamu lakukan Berliana? Dia adalah sahabat kamu sendiri, dia sudah menyelamatkan kamu,” Ucap Meta pada dirinya sendiri, lalu dia berbalik badan dan ingin keluar dari kamar Neta.


“Apa Lo gila, Lo harus membunuh dia, iya harus membunuh dia sekarang juga.”


Meta berbalik badan dan menyeringai. “Gak, gak kamu gak bisa melakukannya, dia sahabat aku dan juga sahabat kamu Berliana,” Meta menggelengkan kepalanya dia terus menampar dirinya beberapa kali, agar dia bisa menguasai dirinya kembali.


“Kalau Lo gak bisa membunuh dia, biar gue yang membunuhnya Meta.”


Meta memegang bantal dengan sangat kuat, dia berjalan dan semakin dekat. “Gak dia adalah sahabat aku, jangan pernah kamu menyakiti dia, sudah cukup kamu melalukan banyak kejahatan, aku muak Berliana. Enyah kamu!!” teriak meta dengan berjongkok dia menutup ke dua telinganya dan memejamkan ke dua matanya, berharap dia bisa menguasai dirinya sendiri bukan Berliana.


Neta meneteskan air matanya, beruntung ruangan sedang gelap jadi meta tidak terlalu Jelas, kalau sebenarnya Neta pura-pura tidur saat ini.


“Lo harus bunuh dia Meta, agar Lo bisa mendapatkan apa yang gue inginkan,”


“Kalau begitu biarkan aku yang menguasai diri kamu!!”teriak berlian dia berhasil penuh mengendalikan pikiran meta dan berbuat semaunya.

__ADS_1


“Meta?!” Neta menatap meta dengan heran sedari tadi dia merasa meta seperti orang yang berbeda. Neta duduk sambil menatap Meta, dan menekan tombol agar lampunya menyala.


Meta tersenyum dan matanya menatap Neta dengan sangat tajam. “Kamu kenapa Meta?” tanya Neta ingin meraih tangan Meta. Tapi meta malah menepis tangan Neta dan tidak menghiraukan Neta, dia malah mencekik leher Neta dengan sangat kencang, Neta meronta-ronta dan berusaha menepis tangan meta yang mencekik lehernya sangat kuat.


Neta menatap mata Meta yang berbeda, pupil mata meta yang Neta kenal berwarna hitam, kenapa Meta yang ada di hadapannya ini berwarna merah pekat. “Si...si...apa kamu?!” Tanya Neta dengan suara yang terbata-bata.


Viola yang Melihat semua kejadian itu segera keluar dari persembunyiannya. Dia terkejut melihat Meta mencekik Neta. Viola ingin membantu tapi Neta memberi kode kepada Viola untuk bersembunyi, Neta takut kalau meta akan menyelakai viola.


“Ceh, Lo harus mati sekarang juga Neta!!”


“Uhukk... Uhukkk... Uhukkk... Lepaskan Meta!!” teriak Neta menendang bagian perut Meta, sampai dia tersungkur ke belakang.


Neta mengerutkan alisnya dia masih tidak paham dengan Semua ini, tiba-tiba pupil mata meta berubah lagi tapi yang ini berbeda, sebelah kanan berwarna hitam dan sebelah kiri berwarna merah pekat.


“Ha... Ha... Ha... Neta kamu harus tau siapa aku, aku adalah BERLIANA kakanya meta, seharusnya aku yang berada di dunia ini bukan Meta si sialan ini, kenapa mereka ingin melenyapkan aku? Padahal aku juga anak mereka, tapi kenapa mereka tidak menginginkan aku malah si Meta ini, kenapa hah?!” ucapnya ingin menyentuh Neta, tapi Neta berhasil menahan tangan Meta. “Meta sadar kamu meta!!” teriak Neta.


PLAKKKK...


Neta melayangkan tangannya ke wajah Meta dengan sangat keras, sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah. “Neta.. hiks.. tolong aku Neta, aku tidak ingin seperti ini,” viola menutup mulutnya dengan air mata yang jatuh di pipinya.


“Hiks... Viola, Neta selamat aku,”

__ADS_1


Viola menangis dia tidak tau kalau meta kembali seperti dulu lagi, yaitu mempunyai dua kepribadian ganda. “Me...meta kamu, jangan-jangan?!” Meta mengangguk dalam Isak tangisnya. “Aku, aku harus bagaimana... Aku tidak sanggup dengan semua ini, aku bahkan tidak bisa yakin kapan dia kembali mengambil alih tubuhku ini, hiks..”


Di kamar meta sendiri kedua orang tuanya mencari Meta dengan sangat cemas. “Pah meta hilang,” ucap Sintia yang mencari keberadaan Meta. Alifin langsung mencari Meta. “Kita cari dia ke kamar Neta,” ujar Alifin dan mereka berdua langsung menuju kamar Neta.


Dan kebetulan mama viola dan Rika juga baru datang. “Kalian mau ke mana?” Tanya Rika kepada Sintia. “Mau ke kamar Neta, soalnya meta tidak ada di kamar, jadi kami pikir dia sekarang ini pasti berada di sana.” Jawab Sintia.


“Kalau begitu kita barengan,”


Semua keluarga langsung bersama-sama menuju kamar Neta.


“Sejak kapan?” tanya Neta, meta menggeleng kepalanya dia sendiri tidak tau kapan itu semua terjadi.


Neta menatap pupil mata meta yang berubah menjadi merah, saat itu perubahannya sangat jelas muncullah Berliana dia tersenyum menakutkan. Dia berdiri dan merenggangkan tulang di lehernya sampai kedengaran jelas Bunyi seperti tulang yang patah.


Dia menaikkan sebelah alisnya, viola yang sadar kalau itu bukan Meta melainkan Berliana langsung melindungi Neta, untuk mencegah Berliana menyakiti Neta. “Sebaiknya Lo minggir viola, atau Lo akan merasakan akibatnya!” ancam Berliana dengan mencengkram dagu Viola sangat keras.


Viola tersenyum dia tidak akan tinggal diam, dia mencekik leher Berliana dengan sangat keras. “Kalau gue tidak mau, Lo mau apa. Heh?” viola mempererat cengkramannya.


CEKLEKKK..


Semua keluarga terdiam dan terkejut melihat suasana seperti sekarang ini. Yang mereka kenal dengan persahabatan yang sangat erat, tidak pernah bertengkar tapi sekarang ini mereka malah ingin membunuh satu sama lain. “META?!” Teriak Sintia. Meta tidak menghiraukan panggilan Sintia. Sintia menutup mulutnya kakinya lemes tidak berdaya dan juga wajah yang pucat seperti orang meninggal.

__ADS_1


__ADS_2