KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
103. Pria Sejati


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, hari yang sudah ditunggu-tunggu Ray. Mengajak Viona dinner sekaligus malam mingguan. Dan saat ini dia sudah berada di Menssion Viona lebih awal dari jam yang ditentukan, benar-benar sangat disiplin. Dan Viona benar melakukan apa yang dikatakannya untuk membuat Ray menunggunya.


"Kenapa lama sekali Dek? Kasihan Ray menunggumu dari tadi!" ujar Raka setelah Viona turun.


"Ray yang datangnya kecepatan, ya sudah Kak, kami pergi dulu by by" balas Viona merasa tak bersalah.


"Brow jagain Adek gue! Jangan sampai lecet sedikitpun!" sela Rian yang baru keluar dari kamarnya.


"Tenang saja, gue akan menjaganya!" balas Ray sambil beranjak dari duduknya kemudian pamit dan mengajak Viona pergi.


"Huff, bakalan rumit" ucap Rian setelah keduanya tak terlihat.


Raka menatap Rian bingung, karena Rian terlihat menghela nafas berat. "Apanya yang rumit?" tanyanya.


"Cinta segitiga! Entah siapa dari mereka yang mendapat balasan cinta Viona" balas Rian sambil menggelengkan kepala.


Raka sudah paham apa maksud dari perkataan Rian. Dia juga sudah melihat itu dari jauh-jauh hari, pasti ada saatnya salah satu dari akan merasakan patah hati.


"Jadi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Kita harus bertindak sebelum itu terjadi."


"Terlambat Bang! Kedua lelaki itu sudah tidak bisa mundur. Cinta mereka sudah sangat dalam. Mereka harus bisa menerima Risikonya, jika Viona tidak membalasnya."


"Hm ya, kamu benar Ri. Tapi kita harus tetap bilang ke pada Viona untuk segera memilih, agar yang satunya tidak berharap lebih."


"Ya, nanti aku berbicara dengannya. Jika memang tidak memilih di antaranya jangan beri mereka harapan palsu."


"Kayaknya kamu sangat berpengalaman Ri?" tanya Raka.


"Ck, mana ada dia berpengalaman!" celutuk Tomi yang baru ikut bargabung.


"Apa maksudmu Tom?" tanya Rian balik dengan nada kesel tidak terima dengan ucapan Tomi.


"Heheh aku mengatakan yang sebenarnya brow. Kamu tidak punya pengalaman dalam berpacaran, kamu kan jomblo sejati" balasnya makin mengejek.


"Setidaknya banyak wanita yang naksir denganku, banyak yang kagum dengan pesonaku. Belum lagi wajahku yang tampan ini membuat wanita tidak bisa move on" balas Rian dengan narsis.


"Halaaa, itu semua belum bisa dikatakan jantan. Jika belum pernah merasakan yang namanya berpacaran!"


"Ck, kamu berkata seperti itu seakan-akan sudah pro dalam percintaan. Padahal kamu lebih parah dariku, ditolak sama cewek Hahaha" kali ini Rian yang mengejek Tomi.

__ADS_1


"Waahh, jangan mengungkit masa lalu. Tapi dianya saja yang tidak bersyukur dicintai oleh lelaki sejati sepertiku."


"Jadi, apa itu bisa dikatakan lelaki Jantan?" sela Raka bertanya yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar perdebatan itu.


"Yaapss, lelaki yang pernah merasakan patah hati adalah lelaki jantan yang sebenarnya" jawab Tomi bangga yang pernah merasakan sakit hati.


"Itu menurutmu Tom. Kerena setiap orang memiliki pikiran dan pendapat yang berbeda" balas Raka.


"Jadi Bang, menerutmu lelaki jantan itu kayak apa?"


"Emm ini menurutku ya, pria jantan sejatinya mampu menghargai wanita. Bukan hanya soal wajah atau ketampanan, namun sikap dan sifat akan menjadi tolak ukur bagi wanita untuk memilih kekasih, bahkan pasangan hidup. Pria jantan sering memuji wanita sesuai fakta, bukan rayuan gombal. Dan pria sejati harus memiliki prinsip hidup, mandiri, bertanggung jawab, tidak ingkar janji dan percaya diri" jawab Raka dengan bijak.


Prok prok prok.


Ray dan Tomi bertepuk tangan mendengar jawaban Raka yang sangat detail. "Bang kayaknya lu yang sudah pro bahkan melebihi masternya"


Begitulah obrolan ketiga pria jomblo sejati. Saling memberi nasehat, dan mendukung satu sama lain, agar kedepannya tidak salah pilih wanita yang akan menemaninya di masa tua.


...----------------...


"Leo! Kenapa kamu ajak Ibu makan di tempat mahal seperti ini? Kitakan bisa makan di warteg" tanya Bu Nur setelah beberapa makanan tersaji di hadapannya.


"Tidak apa kok Bu, kan cuman sekali-kali. Kalau setiap hari itu baru bahaya heheh. Aku juga kerja buat Ibu, jadi kita harus menikmati hasilnya sama-sama."


"Hm iya Bu, ya sudah kita makan dulu keburu makanannya dingin" balas Leo cepat sebelum Ibunya menceramainya lebih panjang lagi.


Ya, di malam minggu Leo juga mengajak Ibunya dinner di luar. Di salah satu Restoran yang terbilang mahal di kota itu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Dia mempunyai sedikit uang lebih, jadi apa salahnya jika dia mengajak Ibunya bersenang-senang dan bersantai.


Di sela makannya Bu Nur melihat seorang wanita yang dikenalnya, terlihat bersama pria tampan, sangat terlihat serasi.


"Leo, itu Nak Viona kan?" tanya Bu Nur ke pada Leo untuk memastikan.


Leo menoleh kebelakang, ya benar saja wanita itu adalah Viona bersama dengan Ray yang baru saja masuk ke dalam Restoran.


"Ibu panggila ya, biar gabung sama kita!" ujar Bu Nur yang hanya melihat Leo terdiam.


"Eh jangan Bu! Pasti mereka sudah memesan tempat di ruang private!" balas Leo cepat. Dia tidak ingin menjadi pengganggu.


Apa Leo cemburu? Tentu. Siapa yang tidak cemburu melihat wanita yang di cantainya jalan berduan dengan pria lain. Dia berusaha baik-baik saja dihadapan Ibunya. Menahan sakit di dadanya. Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus marah ke pada keduanya? Dia tidak punya hak untuk melakukan hal itu. Itu sudah salah satu risiko jika sudah jatuh cinta.

__ADS_1


"Oh gitu ya, jadi kalau orang yang banyak duit harus makan di ruangan seperti itu ya?"


"Tidak juga Bu, tergantung orangnya mau makan di mana. Tadi aku cuman nebak saja kok Bu, soalnya mereka jalan ke arah sana, di ruangan private itu" jelasnya.


"Hm, ya sudah lanjukan makanmu!" pintahnya sambil memakan semua pesanan yang ada.


Beberapa menit berlalu, keduanya sudah selesai makan, tinggal makanan penutup yang tersisa.


Di tempat Viona, mereka baru saja mulai makan. Tapi hanya terlihat ada tiga macam menu makanan di meja. Keduanya makan dalam diam, tidak terdengar obrolan sama sekali.


Ray sebenarnya ingin bertanya sesuatu yang sedikit pribadi, tapi takut Viona malah terganggu dan menghentikan makannya. Jadi Ray berusaha sabar sampai makanan itu habis..


"Vio! Boleh aku tanya sesuatu?" dia langsung bertanya setelah beberapa menit Viona mengabiskan makanannya.


"Hm tanyakanlah Ray! Kenapa kayak takut gitu?" heran Viona melihat wajah Ray yang gelisah.


"Hmm, maaf sebelumnya karena pertanyaanku sedikit pribadi. Apa kamu tidak ingin menjalani hubungan yang serius?"


Viona tidak terkejut sama sekali, karena dia sudah tau isi hati dan pikiran Ray. "Hubungan yang serius bagaimana maksudmu Ray? Pacaran atau menikah?"


Malah Ray yang terkejut mendengar pertanyaan Viona. "Jangan bahas masalah pernikahan Vio! Karena aku tau kamu belun siap untuk itu."


"Ah iya kamu benar Ray" balasnya "Astaga, kenapa juga aku bertanya seperti itu?" lanjutnya dalam hati.


"Hm apa aku boleh lebih dekat denganmu? Maksudku mengejarmu untuk mendapatkan hatimu, seperti PDKT gitu. Aku juga tidak tau sejak kapan perasaan ini tumbuh, yang aku tau sudah sejak lama."


Viona diam sejenak lalu berkata. "Ray! Aku tidak bisa melarangmu untuk melakukan semua itu! Jika kamu lebih dekat dan mengejarku silahkan. Tapi ada satu hal aku minta!"


"katakan!" jantung Ray berdebar makin cepat setelah Viona memberinya lampu hijau.


"Aku tidak bisa janji, apakah aku bisa membalas perasaanmu suatu hari nanti, jika memang perasaan itu juga tumbuh aku akan mengatakannya ke padamu. Tapi jika tidak, maka aku akan tetap mengatakannya."


"Dan kamu bisa mundur dari sekarang, karena aku juga tidak tau bagaimana kedepannya. Tapi aku berharap, apapun yang terjadi nanti kita akan selalu rukun seperti sekarang ini."


"Apa kamu menyukai pria lain?"


"Aku tidak pernah bilang tidak menyukainya, tapi aku juga mengatakan hal yang sama apa yang aku katakan barusan kepadamu."


"Aku tidak melarang dan menolak siapapun, seperti yang aku katakan tadi, silahkan jika ingin mengejarku! Tapi jangan marah atau sakit hati jika perasaan itu tidak terbalaskan. Atau bahkan aku mencintai orang lain yang tidak mengejarku."

__ADS_1


"Baik, aku paham maksudmu. Aku hanya minta satu kesempatan selama tiga bulan, jika tidak berhasil aku mundur"


Viona mengangguk, tentu dia punya alasan sendiri mengapa dia melakukan hal itu. Karena dia juga ingin membuktikan perasaanya sendiri, apa sekedar rasa nyaman, karena baru kali ini dia mendapat kasih sayang oleh banyak orang. Karena itu raga Viona tapi bukan jiwanya. Raga itulah yang baru merasakan kasih sayang yang berlimpah.


__ADS_2