KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
113. Kecewa


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, Viona sudah tiba di titik lokasi. Dia sudah melihat motor Leo terparkir dengan sempurna di tempat parkiran. Tapi dia belum melihat keberadaan Leo.


Viona segera turun setelah mobilnya juga terparkir. Dia berjalan sambil melihat stand minuman yang berjejer, tapi belum juga melihat batang hidung Leo.


Viona berjalan lebih dekat ke pinggir pantai, menoleh ke sana ke mari dan akhirnya dia bisa melihat warna jaket Leo yang sering dia pake saat bermotor.


Ya tebakan Viona benar, entah apa yang Leo pikirkan sampai tidak mendengar langkah seseorang menghampirinya padahal suaranya sangat jelas, karena masih banyak bebatuan kecil. Bukan Leo tidak mendengarnya, dia hanya mengira jika itu orang lain yang lalu lalang.


Jarak mereka tinggal semeter lagi. "Kak Leo!" karena angin cukup kencang dan juga suara deruhan ombak jadi dia memanggilnya dengan suara sedikit keras.


Merasa ada yang memanggil namanya, Leo berbalik. Dia sedikit terkejut melihat keberadaan Viona, dia segera beranjak dari duduknya. "Lilie kamu di sini?"


Viona menatap Leo dengan intens, dia sebenarnya merindukan sosok Leo yang dulu. Entah kenapa dia merasa kehilangan. "Hmm, aku mencari Kak Leo! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."


"Ya sudah kita duduk di sana?" tunjuknya di salah stand minuman.


Viona menggeleng, dia ingin berbicara empat mata, tidak ingin orang lain mendengarnya. "Di sana saja Kak!"


Leo tidak bisa memaksa, sebenarnya dia merasa sedikit gelisah saat Viona berkata ingin menanyakan sesuatu. "Hmm, baiklah. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?"


Viona menarik nafas lalu bertanya. "Apa aku punya salah sama Kak Leo?" dia melihat Leo yang tidak berani menatapnya.


"Kenapa Kak Leo menghindariku? Kenapa Kak Leo menjaga jarak? Kenapa Kak Leo tidak ingin makan bersama denganku?" tanya Viona beruntun sebelum Leo menjawab pertanyaannya yang pertama.


Leo tertegun, akhirnya pertanyaan itu dia dengar juga, karena dia yakin Viona akan bertanya mengenai sikapnya yang tiba-tiba berubah. Selama ini dia juga sudah memikirkan jawaban apa yang tempat untuk menjawabnya, tapi dia tidak menemukannya, karena tidak mungkin dia mejawab jika dirinya ingin Move on.


"Kamu tidak punya salah apa-apa kok Li! Dan aku juga tidak menjaga jarak, aku hanya seperti yang lainnya, menghormatimu sebagai atasan.


Viona mengelengkan kepalanya, "Apa Kak Leo sudah mempunyai teman yang baru jadi tidak ingin lagi berteman denganku?" Viona malah melontarkan pertanyaan lagi.


"Jikapun aku punya teman baru, tidak mungkin aku melupakanmu Li, kamu adalah teman pertamaku, dan akan menjadi temanku selamanya.


Viona merasakan sakit di hatinya, Lagi-lagi dia menghela nafas berat. "Hah, Jadi kenapa kamu menghindariku? Alasan Kak Leo sangat tidak masuk akal jika hanya ingin menghormatiku sebagai atasan!"

__ADS_1


Leo bingung ingin menjawab apalagi, hatinya juga merasakan hal yang sama. Sakit, sakit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Melihat Leo hanya terdiam, Viona bertanya lagi. "Kenapa Kak? Jawab aku! Jika aku ada salah sama Kak Leo aku minta maaf. Tapi, katakan di mana letak kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya."


Leo memberanikan diri menatap Viona, hatinya, tambah sakit saat melihat air mata Viona sudah menetes. Dia menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak punya salah, aku yang salah, aku yang minta maaf!" Hanya itu yang bisa Loe ucapkan.


"Ya, jika Kak Leo yang salah, coba katakan! Kesalahan apa yang sudah Kak Leo perbuat, kenapa sampai menghindar dariku?"


"Aku tidak bisa mengatakannya Li!" ucap Leo dalam hati.


Viona kecewa mendengarnya, apa susahnya untuk mengatakannya. Memang dia sudah tau untuk masalah perasaan Leo yang mencintainya, tapi dia tidak tau jika Leo ingin melupakan perasaannya itu.


"Hmm, baiklah Kak, jika Kak Leo tidak ingin mengatakannya. Aku kan hanya seorang teman, tidak ada hak untuk memaksa."


Leo tertegun, dia bingung melihat situasinya, yang jadi rumit tidak sesuai ekspektasinya. "Aku,, "


"Sudah Kak! Jangan dipaksakan" sahut Viona memotong ucapan Leo. "Aku balik dulu, terima kasih waktunya."


Viona berbalik dan pergi begitu saja, padahal Leo ingin memberitahunya. Dia pergi dengan perasaan kecewa. Dia mendengar Leo memanggilnya tapi dia pura-pura tuli.


"Liliiiiiiie tunggu!"


Leo memanggil Viona berulang tapi tidak ada respon, melihat Viona yang sudah jauh dia mengejarnya. Tapi dia sedikit terlambat Viona sudah melajukan mobilnya.


Viona melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tapi dalam kedaan tidak fokus, sampai banyak yang memberinya teguran melalui klakson.


Tepat di lampu merah, seharusnya Viona berhenti. Tapi dia tetap melajukan mobilnya. Dari arah samping juga terlihat mobil truk melakukan hal yang sama, tapi mobil truk itu jalannya sedikit tidak stabil dengan kecepatan di atas rata-rata.


Banyak pengendara yang berteriak agar Viona berhenti atau menghindar. Tapi dia tidak mendengarnya. Dia baru tersadar saat mobilnya tertabrak, berguling dan menabrak tiang listrik.


Braaakkk braaaak braaaakk.


"Aaaaaargh.. Ma,,maafkan aku, jika aku punya salah sama kalian semua" ucapnya terputus-putus sebelum tak sadarkan diri.

__ADS_1


...----------------...


Di Menssion, Rian yang baru saja mandi tiba-tiba merasakan sesuatu. Dia keluar dan turun ke bawah mencari Raka yang berada di ruang tengah.


"Bang, aku kenapa ya? Hatiku sangat gelisah, jantungku berdebar tak karuan" ucapnya berdiri di hadapan Raka.


Raka mendongak menatap Rian, "Aku juga merasakannya. Aku kira hanya kelelahan."


"Kalian berdua kenapa?" sela Tomi ikut bergabung yang terlihat juga baru habis mandi.


"Hatiku tiba-tiba gelisah Tom, dan anehnya Bang Raka juga sama. Tidak mungkin kan jika hanya kebetulan."


"Hemm, coba aku tanya. Siapa yang kalian pikirkan saat ini?" Tomi berharap apa yang dia pikirkan tidak benar.


"Viona!" jawab keduanya serempak.


Tomi tertegun, mereka saling tatap. Rian segera merogoh ponselnya dan menghubungi Viona, tapi diurungkannya karena ponsel Raka berdering menandakan panggilan masuk. Nama Leo terpampang dengan jelas.


"Halo!"


"(.....)"


Braaaakk. Ponsel Raka terjatuh ke lantai. Badannya melemas seperti tak bertulang. Tomi yang melihat Raka oleng segera memegangnya, dan menuntunya duduk kembali.


Rian memungut ponsel Rian, dia melihat panggilan Leo masih terhubung, dia segera bertanya apa yang terjadi.


"Halo! Leo ini aku, Rian. Apa yang terjadi denganmu?"


"(.....)"


"Apaaa? Kamu tidak bercandakan?" Leo mematung, matanya sudah berkaca-kaca. Dia juga mengalami apa yang dirasakan Raka.


"(....)"

__ADS_1


"Serlok! Aku dan yang lainnya akan ke sana sekarang. Dan tolong tetap di situ sampai kami tiba!"


Leo segera mematikan telponya, dan mengambil kunci mobil. Mereka bertiga pergi, dengan perasaan khawatir. Tomi yang mengemudi, dia tidak membiarkan di antara keduanya membawa mobil dalam kedaan seperti itu.


__ADS_2