
Seminggu berlalu Viona sudah mengetahui siapa Sadow sebenarnya, dia adalah saudaranya Mira yang memiliki status tertinggi setelah Tuan King di klen Mafia itu. Pantasan dia sering meminta bantuannya, karena mereka bersaudara.
Tapi Viona belum pernah melihat wajah yang mereka panggil Tuan King, sangat tersembunyi dan juga sangat misterius.
"Jika dia berbicara denganya, dia tidak penah menatapnya, dia akan selalu membelakanginya. Bagaimana aku bisa mengenalinya. Jika di perhatikan dia seumuran dengan Dady."
"Hah, mending aku pulang!" ujar Viona keluar dari ruangannya, karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Viona berjalan menghampiri Thea yang berada di kasir. "Thea aku balik dulu! Oh iya apa kamu melihat Kak Leo?"
"Iya nona, take care. Leo sudah balik, baru saja dia pamit lima menit yang lalu!"
"Oh gitu yah. Emm baik aku pergi, by" ucap Viona sembari melambaikan tangannya.
Di dalam mobil Viona memikirkan sikap Leo yang tidak seceria biasanya. "Kamu kenapa Kak? Sangat jelas kamu menghindariku! jika dengan yang lainnya kamu masih seperti biasanya."
Viona menjalankan mobilnya ke rumah Leo, dia ingin menanyakannya langsung. Dia juga tidak mendengar apa-apa dalam pikiran Leo.
Tak butuh waktu lama, Viona sudah tiba. seperti biasa dia akan meminta tolong ke pada penjaga untuk memarkirkan mobilnya. Viona berjalan menuju pintu masuk, tapi sedikit heran, karena dia tidak melihat motor Leo.
Mengetuk pintu sebanyak tiga kali, terdengar jawaban dari dalam untuk menunggu sebentar. Mungkin sang punya rumah sedang mengerjakan sesuatu.
Ceklek
Pintu terbuka lebar, Ibu Nur membuka pintu dengan tersenyum, "Eh Nak Vio, sini masuk Nak! Lama tidak datang ke mari" ucap Bu Nur masih seperti biasanya.
Viona masuk berjalan setelah di persilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. "Hmm iya nih Bu. Akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan. Jadi baru sempat berkunjung ke mari."
"Ah iya Leo juga berkata seperti itu, katanya lagi banyak pekerjaan. Jadi dia sering telat pulang. Lihatkan jam segini dia belum di rumah padahal sudah jamnya pulang."
"Telat pulang? Kemana Kak Leo pergi? Mau bagaimanapun banyaknya pekerjaan, aku tidak pernah menyuruhnya lembur" ucap Viona dalam hatinya.
"Tapi Kak Leo tadi sudah pulang Bu. Apa dia tidak memberi kabar mau mampir ke mana?"
"Oh sudah pulang ya? Tidak ada dia menghubungi Ibu Nak. Emm atau mungkin dia terjebak macet" balasnya "Astaga, Ibu sampai lupa membutkanmu minum, tunggu sebentar ya Ibu ke dapur dulu."
"Tidak usah Bu! Aku cuman mampir sebentar kok, mau nengokin Ibu" kilahnya.
"Heheh Ibu sehat-sehat kok Nak! Ya sudah kalau kamu mau sesuatu bilang sama Ibu ya?"
"Siap Bu, Oh iya aku mau nanya apa Kak Leo ada masalah Bu? Aku perhatiin akhir-akhir ini dia sedikit banyak diam?"
__ADS_1
"Maaf Nak Vio, bukannya Ibu tidak ingin cerita. Tapi takutnya Leo marah sama Ibu jika memberitahumu. Kalau Leo bukan Anak kandung Ibu! Biarkan dia memberitahu suatu saat nanti" balasnya tapi dalam hati.
Mau di balas dalam hatipun Viona masih bisa mendengarnya. Dia sedikit terkejut, ternyata dia tidak salah dengar waktu itu.
"Mungkin Nak, tapi Ibu juga tidak tau masalah apa yang di alaminya, dia tidak cerita apa-apa."
"Baiklah Bu aku akan menanyakannya nanti, aku pamit dulu" ujar Viona beranjak.
"Hmm, iya Nak. Kamu hati-hati di jalan" balasnya sambil mengantar Viona ke teras depan.
Beberapa setelah kepulangan Viona, suara deruhan motor Leo terdengar berhenti di depan rumah. Dia melihat Ibunya yang sedak duduk di teras.
"Tumben duduk di luar Bu?" tanya Leo setelah dia berada di hadapan Ibunya.
"Nggak apa-apa Nak, ayo kita masuk!" pintah Bu Nur mengajak Leo, dia tidak ingin memberi tahu jika Viona datang kerumahnya.
...----------------...
Di salah satu markas yang penuh dengan gambar serigala, bangunan yang kokoh menjulang tinggi. Terlihat di dalam sebuah ruangan, sedang berbincang masalah yang terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa Anak itu bisa berubah jadi kuat?" tanyanya, tapi dia membelakangi orang yang dia tanya.
"Saya tidak tau Tuan King. Setelah dia mengalami koma, di situlah awal semua perubahan terjadi, mulai dari sifat, sikap dan penampilannya
"Sadow! Beritahu ke pada yang lainnya Agar selalu berhati-hati. Saya yakin saat ini dia sedang merencanakan pembalasan, karena dia merasa dirinya telah di usik terlebih dahulu."
"Kami tidak pernah mengusiknya King!" sahutnya.
"Apa kau lupa? kau sudah mengerakkan mereka untuk melukainya!"
Sadow berpikir sejenak, karena dia benar-benar lupa kapan dia menyuruh anggotanya untuk bergerak. Semenit kemudian, dia sudah mengingatnya. Dia memang pernah menyuruh beberapa anggotanya untuk menyerang Viona karena Mira datang meminta bantuannya dengan memohon.
"Baik King, saya sudah mengingatnya. Terus bagaimana dengan si Bora?"
"Wanita itu sudah menangkapnya! Dia akan merasakan sakit kepala jika aku memutus koneksi chipnya."
"Apa Tuan King masih bisa mendengar apa yang dia katakan?"
"Ya, selama ini dia masih menurut atas perintahku. Dia begitu menyangi keluarganya sampai rela tersiksa seperti itu hahahaha."
Tawa jahat menggema di ruangan itu. Sadow dan Mira merinding di buatnya, "Apa akan terjadi pertumpahan darah?"
__ADS_1
...----------------...
"Ray! gua ada jadwal oprasi setelah makan siang! lu mau bawah gua ke mana?"
"Ck, Tian lo bisa diam nggak sih? Lo akan tau nanti, jadi diam saja!"
"Baiklah! Tapi awas lu yah? jika hanya buang-buang waktu gua yang penting ini!" gertaknya.
Ray datang tiba-tiba ke Rumah Sakit untuk menemui Tian, dia langsung meyeretnya, dan pergi begitu saja tanpa penjelasan. Makanya Tian mengoceh sepanjang jalan.
"Turun!" pintah Ray setelah memarkir mobilnya dengan sempurna.
Meskipun tak di suruh, dia akan tetap turun. Sia-sia dia ikut jika hanya berdiam di dalam mobil. "Ck, apa susahnya bilang sih? Kalau lu mau ngajak gua ngopi, tidak usah nyulik gua kayak gini."
Ray tidak mengubris, dia berjalan meninggalkan Tian. Dia masuk di kedai kopi milik Viona.
"Lo mau ngopi atau makan?" tanya Ray setelah tian menyusulnya dengan sedikit berlari.
Tian melihat arlojinya, jam menunjukkan pukul jam sebelas siang. "Makan sajalah entar lagi juga jam istirahat!"
Lagi-lagi Ray meninggalkannya menuju lantai dua, "Kenapa dia selalu meninggalkan gua? Huff, lo akan merasakannya nanti, betapa sakitnya jika ditinggalkan."
Setelah menggerutu, dia menyusul Ray yang sudah tiba di lantai atas. Dan menanyakan keberadaan di mana Ray berada. Yang ternyata ada di VIP 1.
Tian masuk tanpa mengetuk pintu. Dia sedikit terkejut melihat Ray yang sudah duduk bersama wanita cantik.
"Lalat akan masuk jika lo tidak menutup mulut" tegur Ray kesel melihat Tian yang tak berkedip sampai mulutnya terbuka melihat Viona.
Ya, wanita yang bersama Ray adalah Viona. Ray mengajak Tian karena waktu dia datang malam itu dia sudah janji dengan Viona untuk memperkanalkannya. Jadi di situlah mereka bertemu.
"Ray siapa?" bisik Tian setelah duduk di samping Ray.
"Kenapa lo nanya gua? Tanya saja langsung!"
Betul yang dikatakan Ray, lumayan bekenalan dengan wanita cantik pikirnya. "Hai kenalin nama gua Tian Alfariski!" sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Viona!" balasnya singkat tanpa menyebut namanya dengan lengkap.
"Aapaaa? lu Viona?" tanya Tian memastikan.
Viona hanya mengangguk, dia sedikit bingung melihat reaksi Tian yang sedikit berlebihan.
__ADS_1
"Astaga dia gadis yang tidak tertarik dengan Ray. Dia gadis yang sering menolak ajakan Ray, tapi dia yang pertama membuat hati Ray berdebar-debar!" ucapnya dalam hati.
Viona hanya tersenyum kecil mendengar pikiran Tian. Ternyata itu alasannya kenapa dia bereaksi berlebihan seperti itu.