KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*PERMAINAN*


__ADS_3

Neta, Jino dan Seno saling berhadapan satu sama lain. Dan duduk beralasan karpet dan di tengahnya meja, Mereka bertiga menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskan ya secara perlahan, Neta menatap Kakanya secara bergantian. Jino dan Seno langsung menganggukkan kepalanya, tanda mereka sudah siap bermain.


Mereka bertiga mengulurkan tangan kedepan, tanda mereka sudah siap lalu. "Batu, gunting, kertas, air!!" Ucap mereka barengan.


"It... Tunggu." Ucap Seno menghentikan suitenya.


"Ada apa?" Tanya Neta yang kebingungan, baru saja di mulai suite. Sudah di suruh berhenti.


"Gini yah, siapa pun yang memulai duluan permainannya. Dan yang lain menjawab, Maka yang menjawab hanya punya waktu satu Menit, untuk berfikir. Kalau tidak bisa menjawab berarti dia kalah, dan siap menanggung konsekuensinya, gimana?" Menaik turunkan kedua alisnya.


Neta dan Jino mengangguk, tanda mereka menerima usul Seno. Mereka terus memainkan, batu, gunting, kertas dan air. Dan hasilnya mereka selalu sama.


"Aish... Kenapa sama terus sih." Ngomel Neta kepada Jino dan Seno, Hampir 20 Menit mereka suite tapi tidak ada juga yang menang.


"Lah, mana kami tau. Lagian kita gak janjian Samaan kan?" Tanya Seno ke Jino, dan Jino malah melengkungkan bibirnya kebawah.


"Itu tandanya, kita sehati dek. Udah gini aja, di antara kita harus ada yang mengalah. Gimana?" Menatap Neta dan Seno bergantian, kalau tidak begitu tidak jadi mainnya.


"Baiklah, kalau begitu... Aku yang mulai duluan." Antusias Neta, yang kini mulai merapikan poninya. Tanda dia sudah siap memberikan pertanyaan.


"It... Enakan, gak lah. Aku yang harus mulai."


Seno tidak mau kalah sama Neta, karena Seno sudah punya pertanyaan. Dan dia sudah memikirkannya sedari tadi.


"Gak. Aku yang duluan, aku kan yang paling tua. Jadi kalian yang masih muda, mengalah sama yang lebih tua. Itu kan yang di ajarkan Ayah sama mama." Ucap Jino dengan senyuman penuh kemenangan.


"Ada untungnya juga, aku lahir duluan." Batin Jino yang terus tersenyum.


"Gak bisa kak, aku kan adek, dan juga anak terakhir dari keluarga ini. Jadi aku yang duluan, kalian sebagai Kaka harusnya ngalah sama adek. Baru itu contoh yang benar." Sahut Neta yang tak mau kalah sama kedua kakaknya.


JLEBBBB...


Langsung nusuk ke jantung Jino dan Seno. Emang benar juga apa kata Neta, tapi ini kan permainan. Jadi tidak ada kata mengalah.


"Gak bisa, aku anak pertengahan. Jadi aku yang harus duluan memulainya, lagian selalu aku yang mengalah terus. Sesekali kalian yang ngalah sama aku." Pura-pura bersedih.


"Mana ada, Aku yang mengalah terus, awalnya aku yang di sayang. Dan sejak ada kalian kasih sayang buat aku terbagi." Ketus Jino tak mau kalah.


"Oh... Jadi kamu nyesel punya adek?" Mendekatkan wajahnya ke Jino.


"Gak!! Dan lagian, kamu nyesel juga mengalah sama aku dan Neta?" Tanya balik Jino yang tak mau di pojokan saja.


"Gak lah, kapan aku bilang begitu." Mengalihkan pandangannya.


Neta hanya terdiam, melihat kelakuan kakanya ini. menurut Neta seperti bocah.

__ADS_1


"Bagiamana pun, aku yang harus mulai duluan, entar lupa lagi. Susah-susah menghapal dan mencari dari Mbah Google, kan gak asik. Kalau aku lupa." Batin Neta. Neta menatap kedua kakaknya yang masih berdebat tentang kasih sayang orang tua.


"Gini aja deh, kita suite secara bergantian gimana? Contoh aja nih. Aku suite sama kak Jino, nah kak Jino kalah, lalu kak Jino suite sama kak seno. Kalau kak Jino Masih kalah sama kak Seno, berarti kak Jino yang ketiga." Ucap Neta yang berhenti sejenak. Untuk menelan cemilan di hadapannya.


"Nah habis itu, kak Seno suite sama Aku. Kalau kak Seno kalah, berarti aku yang mulai duluan. Dan kak Seno yang ke-dua, gimana? Tanya Neta sama ke-dua Kakanya.


"Kalau mereka gak terima juga, aku bersumpah, mereka aku jadikan petis lalu di cocol sama tahu dan tempe. Pasti sedap." Tanpa Neta sadari air liurnya menetes.


"Apa yang kamu pikirkan Neta, sampai ileran gitu. Jorok banget," seno menunjukkan ekspresi jijiknya, dan segera mengasih tisu ke Neta.


"Eh... enakan, gak tuh." Neta segera menghapus air liurnya.


"Jadi gimana nih? Terima apa gak?" Seno dan Jino menyetujui usulan Neta. Dari pada gak main-main dari tadi, lebih baik menerima usulan Neta.


Setelah mereka suite secara bergantian, akhirnya Jino yang mulai duluan. "Udah aku bilang, kalau Kaka yang harusnya mulai duluan. Gak percaya banget sih." Tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Neta dan Seno wajahnya di tekuk karena kalah.


"Sial, aku kira aku yang akan mulai duluan, eh. Taunya Jino yang mulai duluan, nasib-nasib. Apa kabar dengan teka-teki gue yang ada di otak." Neta menundukkan kepalanya.


"Heleh... Gak akan mempan, sekarang aku mulai duluan, Jawab yang benar" Ucap Jino yang kini mode serius.


"Ish... cepetan Napa." Ketus Neta yang belum bisa menerima kekalahan.


"Tau lama amat." Sambung Seno yang juga kesal, dan tambah kesal lagi dia urutan ketiga.


Neta dan Seno memasang ekspresi serius dan menajamkan pendengarannya. Biar tidak salah dengar nanti.


"Kenapa burung terbang ke selatan saat musim dingin?" Tanya Jino.


Neta dan Seno berfikir keras, Neta mengangkat tangan. " Karena di selatan lagi musim kawin." Jawab Neta dan Jino menggeleng tanda jawaban Neta salah.


"Karena di Utara lagi musim kawin, sedangkan burung yang jomblo mereka tidak ada pasangannya. Makanya mereka ke lebih memilih terbang ke selatan, dari pada jadi obat nyamuk." Jawab Seno, para pelayan yang mendengar jawaban Seno. Saling menahan tawa.


"Salah, jawab yang benar jangan ngawur."


"AHA!! Kalau dia ke barat, nanti di kira Kera sakti mencari kitab suci lagi."


"Aish.. Salah." Ucap Jino yang tak kuasa menahan tawa.


"Kalau mereka ke selatan, mungkin jadi Frozen." Jawab asal Seno.


Neta yang mendengar jawaban Seno kaget, karena anime Frozen itu ada di zaman Neta.


" Ha... Ha... Ha... Salah, itu kan anime 20 tahun lalu, masih ingat aja kamu." Jino tak bisa menahan tawa lagi dia Tertawa terbahak-bahak.


"Ah!! Mungkin di Utara panas dan bulunya rontok plus ketombe, makanya mereka ke selatan buat tumbuhin bulunya." Jawab Neta yang mulai asal jawabnya.

__ADS_1


"Kenapa gak pakai shampo? Tanya Seno.


"Mungkin shampo di sana mahal." Jawab Neta ke Seno.


Orang-orang rumah yang memperhatikan 3 bersaudara itu, tak bisa menahan tawa. Karena jawaban mereka tidak masuk akal.


"Nyerah apa gak?" Tanya Jino, kepada adeknya, Neta dan Seno saling geleng kepala.


"Ya udah Jawab."


"Ehemmm... Karena jika berjalan terlalu jauh." Jawab Seno dan ternyata jawabannya Benar.


"Yes!! berarti Neta kena hukuman." Ucap Seno dan Jino barengan.


"Kok benar sih?" Protes Neta.


"Kan emang benar dek, Ngapain juga mereka berjalan capek-capek, kalau mereka ada sayap, bisa patah kaki mereka yang kecil. Belum lagi, banyak binatang buas." Ucap Jino, menjelaskan ke Neta agar dia paham.


Neta hanya bisa pasrah, dengan wajahnya di coret dengan lipstik.


"Sekarang giliran aku yang bertanya." Ucap Neta Sambil membetulkan rambutnya.


"Benda apa yang huruf depannya K belakangnya L, sedangkan. Bila di tarik keras, kalau di lepas lemas?"


"Uhukkk... Uhukkkk... Ngeres pikiran kamu Net." Seno yang baru minum langsung tersedak mendengar pertanyaan Neta.


"Apaan sih, udah jawab aja." Sahut Neta yang gak peduli.


"Itu... Anu..." Jawab Seno yang masih ragu.


"Anu apa?" Tanya Neta.


"Udah ah, gue nyerah." Seno langsung angkat tangan.


"Deh... Gaje kamu kak." Ketus Neta, yang kesal sama Seno.


Baru Neta ingin melanjutkan, tiba-tiba hp Neta berdering. "Aish... Nanti lanjutkan lagi, kalian masih punya hutang jawaban sama aku." Neta mengangkat panggilan telepon dan masuk ke dalam kamar.


"Jawab aja Napa." Teriak Jino yang pikirannya melayang.


"Iya.. KETAPEL, Puas." Teriak Neta kesal. Dengan kelakuan kakanya yang gak sabaran.


JINO EUGINUS BAREND


__ADS_1


__ADS_2