KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
87. Bekerja Sama


__ADS_3

"Jadi Dek, siapa yang mengantarmu keluar dari hutan?" tanya Raka.


"Setelah aku keluar dari gerbang belakang, kebetulan ada Paksutri lewat yang baru pulang dari mencari kayu bakar menggunakan gerobak mesin, Paksutri menawarkan bantuan, dan diantarlah kami keluar dari hutan. Dan mengantar kami sampai ke Rumah Sakit menggunakan angkot" itulah alasan yang Viona katakan.


"Hmm syukurlah, lain kali kita harus bertemu dan mengucapkan terima kasih kepadanya" kata Raka peduli.


"Mana bisa bertemu, mereka cuman ada dalam cerita!" sahut Viona dalam hati.


"Iya, Kak Raka tenang saja, aku pasti menemukan mereka dan membalas jasanya" biarlah dia berbohong, karena tidak mungkin dia menceritakan soal dimensinya.


Semuanya sudah mendengar penjelasan dari Viona, mereka semua salut atas perjuangan Viona untuk menyelamatkan Rian, dengan membahayakan nyawanya sendiri. Tapi, Viona belum menceritakan tentang hasil Lab.


"Vio, apa aku boleh minta tolong?" Tomi akhirnya buka suara.


"Hmm, katakanlah! Aku akan membantumu sebisa mungkin" balas Viona santai.


"Tolong jaga Rian sebentar saja! Aku ingin balik ke Apartemen untuk mengganti pakainku."


Viona melihat Tomi dari ujung kepala sampai ujung kaki, terlihat sangat berantakan dan kucel, tidak seperti Tomi waktu kali pertama jumpa yang terlihat menawan.


"Hmm pergilah, aku akan menunggumu di sini!" kasihan melihat Tomi.


"Ya kamu tenang saja, aku yang akan menemaninya untuk menjaga Rian di sini" sela Raka.


"Thanks brow, aku pergi sekarang dan balik secepatnya" ujarnya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan.


Akhirnya semua baik-baik saja, hampir saja mereka kehilangan seseorang yang sangat baik bagi mereka. Baitupun dengan Bi Yun, dia langsung bersujud setelah mendapat kabar dari Raka.


Orang tua Rian, berada di dalam pesawat yang masih terbang tinggi di udara, masih terlihat khawatir karena belum mendapat kabar, pesawat akan mendarat sekitar dua jam lagi.


...----------------...


Di sebuah ruangan yang penerangannya sangat minim, ruangan yang lumayan luas dan juga berisi banyak senjata. Terlihat seseorang sedang merakit senjata. Orang itu tak lain adalah Bora.


"Hahaha bagaimana nasib keponkanku itu? Apa dia sudah di alam baka? Ck ck, kasihan sekali nasibnya, belum sempat dia bertemu dengan adiknya."


"Dan wanita jal*ng itu, tidak mungkin bisa melepaskan bom itu Hahahah. Tapi jika dia berhasil dan mereka masih hidup, senjataku inilah yang akan mengirimnya ke neraka, hahahahah."


Berbicara sendiri di dalam persembunyiannya, dia tidak akan keluar untuk sementara waktu. Dia harus menyembuhkan luka di lehernya terlebih dahulu.


...----------------...


Tomi yang sudah selesai dengan urusannya, bersiap-siap kembali untuk ke Rumah Sakit, tak lupa membawa beberapa barang, karena dia yang akan menemani Rian di Rumah Sakit.


Dia mengambil ponselnya di atas nakas, mengaktifkannya yang baru saja mengisi dayanya. Dia baru melihat ponselnya saat perjalanan pulang dalam kondisi mati.


"Astaga! Banyak sekali pesan dari Tuan Jack dan juga Nyonya!" sahut Tomi terkejut melihat ada puluhan pesan yang masuk dari kemarin.


Tomi membuka pesan satu persatu dan membacanya, dia makin terkejut saat dia membaca pesan yang berisi kalau Tuan Jack dan Istrinya dalam perjalanan menuju negara A.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Tuan Jack sudah berangkat sejak pagi, yang seharusnya mereka sudah tiba! Tapi di mana mereka sekarang."


"Aku harus ke rumah sakit sekarang!" ucapnya dengan cemas dan keluar dari Apartemennya.


Tomi tidak membalas satupun pesan dari Tuan Jack, dia akan menjelaskannya nanti setelah mereka tiba dan bertemu.


Tidak butuh waktu lama, Tomi tiba di Rumah Sakit. Dan segera menuju ruang rawat Rian, mengetok pintu dan masuk begitu saja. Hanya ada Viona dan Rian di ruangan itu yang sedang tidur di brangkar masing-masing.


Mendengar seseorang masuk, Viona terbangun, dan melihat Tomi yang sedang memainkan ponselnya dengan raut wajah yang terlihat panik.


"Tom!" panggilnya.


"Ehh Vio, aku berisik ya? Maaf sudah mengganggu tidurmu!"


"Tidak kok, aku cuman sedang memejamkan mata saja, tidak sampai tidur" balas Viona jujur, karena memang dirinya tidak tidur.


"Emm, jadi yang lain ke mana? Sudah pulang?" tanya Raka tidak melihat Raka dan Leo.


"Mereka lagi cari makan di kantin! Oh iya kamu kenapa? Aku perhatiin, kamu lagi mikirin sesuatu" tebak Viona dan beranjak ke sofa.


Tomi duduk di hadapan Viona dan berkata. "Emm ya, tapi aku mau tanya, apa kamu sudah percaya jika Rian kakak kandungmu?"


Viona terdiam sejenak, lalu tersenyum "Ya, tapi aku sedang menunggu hasil tes DNA" bukannya tidak percaya dengan ucapan Dokter Gus, tapi hanya ingin membuktikannya sekali lagi, makanya Viona meminta untuk melakukan tes ulang.


Tomi memaklumi jika Viona masih ragu sampai melakukan tes DNA. "Ya itu lebih baik. Tapi apa kamu sudah siap untuk bertemu dengan orang tua kandungmu? Mereka sedang dalam perjalanan."


"Tom! Tanganya bergerak!" ujar Viona sambil berjalan mendekat yang di susul Tomi.


Viona langsung, menekan tombol yang tersedia. Agar Dokter segera datang melakukan pemeriksaan.


Lama kelamaan Rian membuka matanya perlahan, "A aairr," ucapnya pelan.


Tomi bergegas mengambil segelas air dia atas meja. Lalu membantu Rian untuk duduk bersandar setelah dia membuka mata dengan sempurna. Segalas air habis diminumnya.


Dokter masuk dan segera melakukan pemeriksaan, "Kondisinya sudah membaik, tapi masih harus banyak istirahat dalam masa pemulihan, hindari makanan yang dari luar dan minum obar teratur" terang Dokter.


Tomi dan Viona senang melihat Rian yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya, keduanya menghampiri setelah dokter pamit pergi.


"Rian! Apa kamu sudah baik-baik saja? Apa kamu ada merasakan sakit?" tanya Tomi.


"Cuman sedikit pusing!" jawab Rian singkat.


"Tom Biarkan dia beristirahat!" sela Viona yang masih berdiri di samping Tomi. Dia baru memperhatikan mata Rian jika terbuka seperti itu seakan dia melihat matanya sendiri.


Rian menatap Viona lekat, dia sebenarnya sudah melihat Viona sejak tadi, tapi dia malu untuk bertanya. Berbeda dengannya, melihat Viona seakan dia melihat Momy nya.


"Rian! dia Viona, apa kamu masih ingat seseorang wanita yang menolong kita saat penyerangan di malam itu? Dialah orangnya" jelas Tomi.


"Tapi kenapa dia sangat mirip dengan Momy?" gumam Rian pelan tapi masih kedengaran oleh keduanya.

__ADS_1


"Ya miriplah karena dia Adikmu yang kita cari selama ini! Rian Akhirnya kita menemukannya" girang Tomi. "tidak sia-sia kamu berjuang sampai terluka seperti ini!"


Deg, jantung Rian berdebar kencang, jika apa yang di katakan Tomi adalah kebenaran, rasanya dia ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan semua bebannya.


Rian dan Viona saling tatap, tidak ada yang berani menyapa terlebih dahulu, yang membuat suasana tiba-tiba jadi canggung.


"Apa kamu tidak sedang menghiburku Tom?" tanya Rian yang belum sepenuhnya percaya.


"Ck, Kakak sama Adik sama saja! Kenapa kalian berdua sangat susah untuk mempercayai omonganku? Apa kalian tidak sadar? Jika kalian berdua itu ada kemiripan. Percayalah."


"Ternyata Tomi juga bisa melihatnya," batin Rian dan Viona secara bersaamaan.


"Jangan terlalu di pikirkan, kamu beristirahat saja dulu. Nanti kita membahasnya jika kamu lebih baikan" sahut Viona yang masih merasa canggung.


"Ya, nanti aku menceritkannya bagaimana aku bisa bertemu dengan Viona Adikmu" sela Tomi.


"Viona?"


"Ya namanya Viona, cantikkan seperti orangnya?" puji Tomi agar suasan mencair sedikit.


Rian sudah berbaring kembali, karena memang merasakan badannya masih sangat lemas.


"Ya dia cantik kaya Momy!" kata Rian dalam hati. Sebenarnya dia sudah yakin jika Viona Adiknya, dia ingin memeluk, tapi badannya masih terasa sakit jika terlalu banyak bergerak.


Jantung Viona berdebar, apakah sudah saatnya dia bertemu dengan semua keluarga kandungnya. Dia gugup untuk menghadapi situasi itu.


Viona jalan mendekat dan duduk di samping Tomi, dan membisikkan sesuatu di telinga Rian. "Kamu harus segera sembuh! Jika ingin memelukku."


Rian terkejut, karena Viona tau apa yang ada di pikirannya, lalu tersenyum dan mengangguk.


"Ck, kenapa kalian main bisik-bisik, apa kalian takut jika aku mendengarnya?" kesel Tomi.


"Eh tapi Rian! Apa kamu tau siapa yang menculikmu? Tanya Tomi yang masih mangajak Rian berbicara.


"Paman Bora!" balasnya singkat.


"Brengsek, dasar tua bangka. Tapi kenapa aku tidak melihat pamanmu di rumah itu?"


Viona syok, mendengar kata paman, jadi orang itu adalah pamannya, banyak pertanyaan yang muncul di benak Viona, pasti ada masalah yang terjadi. Tapi dia tidak ingin menceritakannya jika dia sudah bertemu dengan Bora.


"Bagaimana dengan Dady? Apa dia sudah tau masalah ini?" tanya Rian.


"Astaga aku hampir melupakannya, Rian! mereka akan tiba di negara ini, karena hampir dua hari dia tidak bisa menghungi kita!"


"Huff sudah kuduga, tapi biarlah mereka datang. Tapi jangan beritahu mereka jika aku di culik oleh paman Bora!"


"Kamu tenang saja! Aku mengerti maksudmu" sahut Tomi yang sudah paham.


Rian dan Tomi menatap Viona, yang di tatapun langsung berkata, "Apa kalian berdua mengajakku bekerja sama?"

__ADS_1


__ADS_2