
Minggu berganti bulan, semua kehidupan tampak berjalan lancar. Begitupun dengan Leo yang masih terus menyesuaikan diri terhadap keluarga kandungnya dan juga kesehariannya yang sudah sedikit berbeda.
Di mana dia diberi kepercayaan untuk mengurus salah satu cabang Perusahaan yang ada di kota itu, sempat menolak, karena dia ingin memulai usahanya sendiri. Tapi Tuan Bas tetap memaksanya karena mau bagaimanapun Leo salah satu pewaris keluarga Duke.
Bukannya Tuan Bas pilih kasih, di mana dia memberi Ray kepercayaan untuk memimpin Kantor Pusat. Tapi karena Ray sudah memiliki banyak pengalaman dan juga ilmu di dunia bisnis.
Leo tidak keberatan atau iri, karena sepatutnya memang harus seperti itu. Meski demikian Leo akan tetap merintis usahanya sambil memimpin Perusahaan, dia ingin berjaya dan mandiri tanpa embel-embel keluarga Duke.
Jika ada yang bertanya bagaimana dengan perasaan Ray terhadap Viona? Yang namanya Move on tidak semudah memabalikkan telapak tangan. Yang mana Ray sudah sangat mengiklaskan Viona ke pada pria lain yang tak lain Adiknya sendiri. Meskipun perasaan itu belum hilang sepenuhnya..
Terlihat dia dan Momynya sedang bersantai sambil berbincang di halaman Menssion sambil menikmati suasana di sore hari. "Nak! Momy harap kamu tidak mengganggu hubungan Adikmu!"
Ray terdiam, tidak ada di dalam kamusnya menjadi perusak hubungan orang meskipun sebelumnya dia sangat mencintai Viona. "Mom untuk apa aku melakukannya? Ya, meskipun sakit, tapi tidak semua cinta harus memiliki. Melihatnya bahagia, aku juga sudah bahagia!"
Momy Lidya sangat kagum dengan pikiran Ray yang sangat dewasa, dia menetsekan air matanya, tak menyangka jika kedua Anak bujangnya mencintai wanita yang sama.
Ya, Momy Lidya sudah mengetahui penyebab Ray kembali dengan sikap dinginnya, dia yang sebagai orang tua langsung peka saat melihat tatapan Ray yang berbeda jika melihat Leo dan Viona yang sedang berdua.
Meskipun dia tersenyum bahagia, tapi pancaran matanya tidak bisa berbohong, jika rasa cinta itu masih ada di dalam hatinya.
Momy Lidya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mendoakan semua Anaknya baik-baik saja. "Ya Nak kamu benar, mungkin jodohmu masih berkelana di luar sana"
Ray sedikit terkekeh mendengarnya. "Mungkin masih kesasar!" membalas candaan Momynya.
Merekapun tertawa dan melanjutkan obrolan yang lainnya, tiba-tiba terlintas di pikirannya jika dia tidak ingin kembali mengenal yang namanya jatuh cinta.Tapi masalahnya, apakah cinta bisa dihindari?
...----------------...
Di Menssion Viona mereka sedang membahas persiapan pesta ulang tahun yang akan dirayakan seminggu lagi. Yang mana umur Viona sudah dua puluh satu tahun. Tapi mereka tidak memberitahu Viona rencana itu, karena ingin memberi sebuah kejutan.
__ADS_1
Karena Viona yang sedang tidur di kamar, makanya mereka melanjutkan obrolan yang sudah tertunda beberapa hari. "Dad kita rayakan di gedung saja!" sahut Rian.
Bukannya tidak sanggup atau tidak ingin mengeluarkan uang, tapi kalau dirayakan di rumah sendirikan pasti lebih bermakna. "Dimenssion lebih baik Nak, di mana suatu saat nanti Menssion ini memiliki banyak kenangan!"
"Momy setuju, kita rayakan di sini saja!" timpal Momy Jeny buka suara, yang tadinya juga bingung.
Rian mengangguk lalu berkata. "Emm baiklah Dad, tapi bagaimana kita melakukannya agar tidak ketahuan!"
Semuanya berpikir kembali, itu juga salah satu masalah besar jika dirayakan di menssion. Viona akan tau lebih awal rencana mereka sebelum kejetunnya diberikan.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan Leo!" ujar Raka memberi usul.
Semuanya tersenyum, akhirnya ada kunci dari masalah itu. "Hahah kamu benar Bang! Dia pasti sangat senang jika bersama dengan Leo!" balas Rian tertawa, yang mana dia tau jika Viona sangat betah berlama-lama jika sudah bersama dengan Leo.
Tomi yang sedari tadi diam pun bertanya. "Jadi apa rencananya? Tidak mungkin kan jika kita menyuruh Viona menginap di rumah Leo selama beberapa hari!"
...----------------...
Di rumah Leo juga sedang bersantai dengan Ibunya, hari minggu di mana waktunya family time meskipun hanya berdua. Dia sudah pulang beberapa hari yang lalu ke kediaman Duke, sengaja tidak mengambil hari minggu, karena dia ingin membicarkan sesuatu hal yang penting dengan Ibunya.
"Jika kamu sudah yakin dengan hatimu, Ibu hanya bisa mendukung keputusanmu dan mendoakan agar semua ke inginanmu bisa tercapai"
"Terima kasih Bu! Aku sudah sangat siap, aku ingin memiliki status yang jelas dengannya. Karena selama ini kami hanya menjalankannya begitu saja tanpa kejelasan."
"Baiklah Nak, kamu sudah melakukan hal yang benar, jadi apa kamu sudah memberitahu Momy dan Dadymu?" tanyannya.
Leo menggeleng sambil menatap Ibunya "Belum Bu, aku meminta pendapat Ibu terlebih dahulu."
Ibu Nur merasa terharu, karena Leo masih mengutamakannya. Padahal dia akan baik-baik saja jika memang Leo memberitahu keluarga kandungnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hah, kalau bagitu kita harus ke sana besok setelah kamu pulang kerja untuk membahasnya, karena ulang tahun Nak Viona sudah tidak lama lagi. Dan kamu menginginkan hari yang sama!"
"Ya Bu, aku ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya!" balas Leo tersenyum lebar.
Ibu Nur merasa tak percaya dengan waktu berjalan begitu cepat di mana Anaknya sudah sangat dewasa, "Ternyata kamu bisa romantis juga Nak!"
"Heheh tidak Bu! Itu hanya salah satu ke inginan Leo di akhir tahun" balasnya.
"Ya Nak, semoga semua diberi kelancaran!" ucapnya berharap semua diberi kemudahan atas impian Anaknya.
Di akhir tahun itu Leo ingin melakukan sesuatu hal yang akan menjadi kenangan yang paling indah di dalam hidupnya, dan berharap apa yang dia akan lakukan hanya terjadi sekali seumur hidupnya.
...----------------...
Ke esokan harinya Leo tiba-tiba mendapat pesan jika Tuan Jack dan Momy Jeny ingin bertemu saat jam istirahatnya di kantor. Leopun menerima dengan senang hati, tapi sedikit cemas. Karena tumben mereka ingin bertemu tapi tidak boleh ketahuan oleh Viona.
Jadi di ruang kerja Leo lah mereka sekarang berada, padahal Leo sudah mengajaknya untuk bertemu di luar saja, agar sekalian mereka bisa makan siang bersama.
Momy Jeny mengeluarkan bekal yang dia bawa. "Kamu tenang saja Nak! Momy bawa makanan, jadi tidak usah pesan makanan lagi!"
Leo merasa tidak enak hati, seharusnya dialah yang haru menjamu tamunya. Tapi ini malah sebaliknya. "Maaf sudah merepotkan!"
Setelah makanan tertata dengan rapi Momy Jeny pun berkata. "Tidak Nak, dan kami datang ke sini sebenarnya ingin meminta bantuan untuk melancarkan rencana kami. Tapi ceritanya sebentar saja, kita makan dulu!"
Melihat kebingungan dan kekhawatiran Leo Tuan Jack langsung menyela. "Bukan apa-apa Nak, kamu tidak usah khawatir! Tidak terjadi sesuatu kok."
Leo tersenyum kikuk, kerena Tuan Jack bisa mengetahui apa yang ada di benaknya. Di mana dia sempat khawatir dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.
Mereka akhirnya makan siang bersama, terlihat mereka menikmatinya. Tapi terdengar Tuan Jack sesekali bertanya dengan pekerjaan baru Leo sebagai pemimpin Perusahaan.
__ADS_1