
"Bagaimana rumahnya? Apa Paman betah tinggal di sini? Atau Paman mau cari Rumah yang lain?" tanya Viona.
Bora menatap Viona, keponakannya yang hidup dengan banyak perselisihan, dan perseturuan yang dibuat, dia tak menyangka jika Viona memaafkannya begitu saja. "Ini sudah sangat nyaman, terima kasih Nak, dan maaf sudah merepotkan.
Viona menggeleng lalu berkata, "Berhenti mengucapkan keduanya! Jika aku menghitungnya, mungkin sudah puluhan kali Paman mengatakannya.
"Karena Paman tidak tau harus berkata apalagi selain itu, maaf dan terima kasih. Ah baiklah kita bahas yang lain saja" ucapnya setelah melihat tatapan Viona yang horor. "Jadi bagaimana dengan orang tuamu? Apa kamu sudah memberitahunya?"
"Tidak, aku akan menceritakan ke pada mereka di waktu yang tepat. Oh iya, aku harap jangan terlalu sering keluar, karena Kak Rian masih mencari Paman. Takutnya dia langsung memberi Paman hadiah"
Wajah Bora seketika menjadi murung, "Hah, pasti mereka sangat sulit untuk memaafkanku" balasnya sambil menghela nafas berat.
"Aku yakin setelah mendengar semua alasan Paman, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk tidak memberi maaf."
"Ya, semoga saja mereka sepertimu, langsung memaafkan Paman setelah mendengar penjelasanku."
"Emm, jika alasannya tidak masuk akal, mungkin kepala Paman tidak akan berada di tempatnya lagi"
Bora bergedik ngeri, karena dia tiba-tiba mengingat salah satu Anak buahnya yang sudah menjadi kasim, bagaimana jika dirinya terpenggal?
Viona saat ini berada di salah satu rumah yang terlihat sangat minimalis, sangat cocok untuk tempat tinggal satu atau dua orang saja.
Dia sengaja membelikan Pamannya untuk tinggal di rumah itu sebelum dia menceritakan ke pada keluarganya.
"Baiklah Paman, aku harus ke Restoran lagi. Jam istirahat sudah habis, waktunya kembali bekerja."
Bora menganggukkan kepalanya, "Ya sudah Nak, pergilah! Jangan mencontoh Pamanmu yang malas ini, bisanya hanya memberi perintah saja."
Viona hanya tersenyum mendengar ucapan Pamannya, dia pamit sekali lagi dan segera meninggalkan rumah itu. Tak lupa dia berpesan untuk berhati-hati karena Anak buah Lucas berkeliaran di luar sana mengintai keluarganya.
...----------------...
Dua minggu berlalu, sampai hari itu Leo juga belum mendapatkan maaf dari Viona, walaupun Viona sering mengatakan jika dirinya tidak bersalah, tapi dia tetap berusaha.
Sudah banyak cara yang dia lakukan, tapi hasilnya masih sama, senyum di wajah Viona belum kembali, masih terlihat wajah datar dan dinginnya.
__ADS_1
"Bu aku pamit kerja!" ucapnya ke pada sang Ibu yang masih sibuk membuat sarapan.
Bu Nur berbalik, dan melihat Leo yang sudah rapi "Sarapan dulu Nak, ini juga masih terlalu pagi,"
"Aku sarapan di Restoran Bu, aku ada banyak pekerjaan!" balasnya yang hanya menghabiskan segelas susu hangat.
Bu Nur sangat heran melihat sikap Leo yang sudah beberapa hari sangat berbeda menurutnya, lebih banyak diam, dan sudah tidak pernah lagi pulang makan, atau sarapan bersamanya.
"Nak kamu kenapa? Ibu lihat kamu sedikit pucat, dan kamu juga banyak diam. Apa karena Nak Viona belum memaafkanmu?"
Melihat Leo yang hanya diam, Ibu Nur melanjutkan ucapannya. "Ibu tau, kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi kamu jangan mengabaikan kesehatanmu!"
"Aku baik-baik saja Bu. Ya sudah aku berangkat, nanti kesiangan"balas Leo sambil mencium tangan Ibunya.
Ibu Nur hanya menghela nafas melihat kepergian Leo. Meskipun dia kecewa dan marah atas sikap Leo ke pada Viona, dia tetap peduli dan selalu mengingatkan Leo untuk selalu bersabar.
...----------------...
Di Perusahaan V. L Company, di ruang kerja Raka. Terlihat Viona sedang melamun, dia tidak ke Restoran hari itu, tapi malah ke kantor.
"Dek! Tumben datang jam segini?" tanya Raka sambil beranjak dari duduknya lalu mendekat ke Viona yang berada di sofa.
"Pekerjaan untuk hari sudah beres, tinggal tunggu waktu pulang" balas Raka sambil melihat arlojinya yang masih menunjukkan pukul tiga sore, yang berarti sida dua jam lagi.
"Hmm, jadi aku tinggal santai kalau gitu!" ucap Viona lagi sambil meminum kopi late yang sudah dipesan Raka untuknya.
Raka menatap Viona, akhir-akhir ini dia juga merasa sikap Viona sedikit berbeda. "Dek aku mau nanya sesuatu, tapi kamu harus jawab jujur!"
"Lah apa aku pernah berbohong kak?" tanya Viona balik.
Raka menggelengkan kepalanya lalu bertanta "Apa kamu dan Leo ada masalah? Kakak perhatiin dari dulu kamu selalu murung jika membahas tentang Leo."
Viona sudah tau akan hal itu, jika Raka mengetahuinya, cuman tidak ingin ikut campur. "Hmm begitulah Kak!"
"Sebenarnya aku tidak ingin tau terlalu banyak Dek, cuman aku tidak suka melihat wajahmu yang selalu terlihat sedih dan juga murung, tidak ceria lagi. Jadi apa masalah kalian?"
__ADS_1
"Hah, dia tiba-tiba menjauhuiku Kak! Entah apa alasanya" balas Viona sambil menyenderkan bokongnya di sandaran sofa.
"Tapi sebelumnya kamu tau kan Dek, jika Leo menyukaimu? Maksudku dia memiliki perasaan yang lebih dari rasa suka!"
Viona mengangguk, sudah lama dia mengetahui hal itu, "Tapi dia tidak pernah mengatakannya langsung Kak!"
"Apa kamu tau alasannya dia tidak ingin mengatakan langsung?"
Lagi-lagi Viona mengangguk, karena dia juga mengatahuinya, di mana Leo saat itu mengungkapkan persaannya, tapi tidak berani megatakannya karena takut Viona kecewa, dan yang paling utama karena beda status.
"Tapi kamu tidak tau apa alasanya dia menjauhuimu?"
Kali ini Viona menggeleng, "Tidak Kak, atau mungkin dia sudah bosan berteman denganku."
Medengar jawaban Vioan, Raka menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir kenapa Viona bisa berpikiran seperti itu. "Dek! ternyata kamu memang tidak berpengalaman soal percintaan. Tapi, jika soal bertarung atau membunuh kamu juaranya."
"Heheh itu sudah takdir Kak. Emang Kak Raka tau alasannya?" balas Viona cengengesan lalu bartanya balik.
"Emm ini menurut pandangan mata Kakak Ya, kalau tidak percaya kamu bisa tanyakan langsung ke Leo. Dia menjauhuimu karena ingin melupakan persaannya ke padamu Dek, atau dia ingin Move on."
Viona terkejut, dia kembali duduk dengan tegak. "Apa! Melupakan? Tapi dia belum berjuang untukku Kak! seperti apa yang dilakukan Ray."
"Dek! Kamu tidak boleh menyamakan keduanya! Leo tentu punya alasan, apalagi kalau bukan masalah ekonomi, itu pasti yang ada di pikirannya saat ini, karena aku pernah mengalaminya. Dan untuk Ray, dia memiliki segalanya, apalagi yang harus dia pikirkan?"
Viona terdiam, dia benar-benar tidak berpikir sampai ke situ. Ternyata itu alasan yang sebenarnya. "Jadi aku harus apa Kak? Sudah dua minggu ini aku juga menjahuinya, bahkan aku bersikap dingin."
"Kalian harus berbicara dan saling memaafkan, permasalahan kalian cuman salah paham. Tapi bagaimana sebenarnya dengan hatimu Dek? Apa kamu belum bisa memilih diantara keduanya?"
"Jika kamu memlih Ray, maka biarkan Leo melupakan perasaannya! Tapi jika sebaliknya, kamu harus segera mengatakan ke pada Leo dan beritahu Ray untuk berhenti mengejarmu!"
Viona masih terdiam, Tiba-tiba dia beranjak lalu berkata "Kak aku harus pergi sekarang, aku akan menyelesaikan semuanya" pamit Viona.
Raka tersenyum "Hm hati-hati Dek! Aku mendukungmu!" balas Raka sambil membari Viona semangat menggunakan dua jempolnya.
Viona balas tersenyum, lalu pergi meninggalkan ruangan Raka dengan berlari kecil, dia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. "sebentar lagi jam pulang."
__ADS_1
#Maaf baru up. outhor juga butuh refresing.😂 😂
#Selamat tahun baru