KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
skors


__ADS_3

happy reading ..


Setalah itu Neta masuk ke kelas dalam perasaan kacau, ada senangnya dia bisa membalas perbuatan para bocah itu, dan sebal dan sedihnya mereka langsung ko. Sekali serangan.


"Maaf dengan kak Neta yah?" Tanya seorang gadis cantik dengan berhati-hati dia bertanya. Takut menyinggung Neta, apa lagi citra Neta sudah berubah, yang dulunya cupu sekarang amazing.


"Iya, kenapa?" Jawab Meta yang didik di sebelah Neta.


"Ih, soblak bukan Lo, tapi Neta!!" Menuyur kepala meta sangat keras, hampir saja Meta terjengkang ke belakang.


"Lah kan dia nanya, terus gue jawab, apa salahnya," Bantah meta tak mau disalahkan.


Neta yang awalnya tengkurap, langsung bangkit dari kursinya tanpa memperdulikan sahabatnya yang sedang berdebat.


"Lah net kamu mau kemana?" Tanya meta berdiri Mengikuti Neta yang siap beranjak dari tempat duduknya.


"Gue di panggil ke ruangan guru kan?" tanya Neta kepada gadis tadi, Gadis itu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya kak," Jawabanya yang sudah keringat dingin.


"Ya udah makasih yah," Tersenyum menunjukkan senyum Pepsodent.


"Sama-sama kak." Keluar dari kelas, dengan buru-buru karena dia sudah tidak tahan lagi berdiri di hadapan Neta sekarang.


"Kita temenin yah," Ucap viola sedikit khawatir, takut dia di tengah jalan di apa-apain sama geng Amanda. "Gak usah, gue bisa sendiri, lebih baik kalian di dalam kelas saja, dan salinkan catatan nanti," Menolak dengan cara halus, meskipun dia tau cara ini tidak akan mempan.


"Gak, kita tetap ikut titik!" Kekeh Viola, Neta hanya bisa memutarkan bola matanya karena malas berdebat, percuma juga mereka gak akan mendengarkan apa kata Neta. "Terserah," berlalu meninggalkan kedua sahabatnya.


"Anak pintar!!" Mengelus kepala Neta dengan lembut. "Aku gak di elus juga? Aku kan juga mau, apa lagi sama viola tersayang," Ucap meta mendekatkan diri dan berekspresi lucu. "Edihhhh... Ogah gue, pala Lo korengan," ucap Viola sambil menunjukkan ekspresi jijik terhadap meta.

__ADS_1


"Sialan Lo Mak lampir, ngatain gue korengan, di kita kepala gue kutuan apa," Melungus Meta berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang tertawa.


"Somplak pada," Neta terus tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


Entah kenapa dia merasa bersyukur, dia di beri kesempatan dalam Kehidupan ke dua ini. Bisa memiliki sahabat dan keluarga yang benar-benar sayang sama dia. Neta bertekad akan menjaga ke utuhan keluarga dan sahabat, apa pun yang terjadi.


Tok.. tok..tok...


"Masuk," Ucap Aditya dengan nada dingin.


Neta langsung masuk dan duduk berhadapan sedangkan kedua sahabatnya di luar setelah berdebat panjang akhirnya mereka mendengarkan apa kata Neta.


Aditya merasa seseorang duduk di depannya langsung menghentikan kegiatannya. "Gak ada sopan santun banget nih bocah," Batin Aditya, menatap Neta yang juga menatapnya.


Tanpa basa-basi Aditya langsung mengeluarkan amplop dan menyerahkan ke Neta.


"Oh, terlalu malas untuk mengecek apa yang ada di dalam surat ini," berlalu dan ingin meninggalkan ruangan, Sebelum Neta benar-benar keluar. Aditya melanjutkan kalimat yang tidak ingin di dengar anak murid mana pun. "Surat yang satunya akan saya kirim kerumah mu," Ucap Aditya berharap mendapatkan reaksi Neta. "Terserah," ketus Neta keluar dari ruangan, Tanpa berbalik ke belakang untuk memberi hormat. "Set dah toh anak gak ada manis-manisnya, kaya pare aja, pait." Gumamnya dan melanjutkan kegiatannya yang baru saja tertunda.


"Gimana net Lo gak di keluarin kan?" Tanya Meta khawatir, dari tadi dia ingin masuk kedalam tapi selalu di tahan oleh viola. "Gak tenang aja, emang mereka berani ngeluarin gue," Jawab Neta dengan senyum manis dan menyombongkan dirinya.


"Sempat-sempatnya Lo bercanda dalam keadaan begini,"


"Terus itu apa?" Tanya Viola menunjuk ke arah amplop. "Ini?" dengan memperlihatkannya dan viola mengangguk. " surat CINTA " kata Neta lagi dengan tertawa..


"NETA!!" teriak berengan, mereka gak habis pikir sempat-sempatnya mereka di permainkan.


"Apa?" Tanya Neta pura-pura ****, "Seriusan itu surat apa?" tanya lagi viola dengan nada di tekan. "Kan udah aku bilang surat cinta, kenapa sih, gak percaya amat deh," Senyum-senyum bagi Neta mengerjainya sangat lucu, apa lagi liat reaksi viola pas lagi marah, sangat menggemaskan.


"Hallo pah ada apa?" Tanya Aditya menjawab telpon dari pak Dimas, papahnya sendiri.

__ADS_1


"Gimana Dit, menyenangkan disana?" tanya papa Dimas di seberang sana sambil cekikikan.


"Owh, sangat menyenangkan pah, disini ada hiburan. Baru masuk sudah ada masalah" Ucap Aditya dengan nada kesel, lebih baik mengurus kantor pikir Adit dari pada jadi guru, sangat melelahkan.


"Ha... ha... ha... Bagus dong Dit, berarti kamu menjadi wali kelas yang berhasil," ucap papa Dimas dengan tawanya dan itu sungguh membuat Aditya kesel.


"Berhasil di mananya? yang ada gagal, astaga papah heran dengan pemikirannya," Batin Aditya, dengan terus geleng-geleng kepala.


"Iya sangat berhasil, sudah lah pah aku sibuk, urusan kantor aja aku belum selesai sekarang urusan baru, heleh," Ucap Aditya yang kini fokus dengan pekerjaan kantornya, di satu sisi dia harus mengurus sekolah di satu sisinya dia harus mengurus kantor. Meskipun pekerja kantor bisa di serahkan, tapi lebih enak kalau Aditya sendiri yang mengerjakannya.


"Iya sudah, kerja yang benar kalau mau di ngajih," kata pak Dimas lagi. "Iya, assalamualaikum," langsung memutuskan panggilan dengan kesel.


"Apa sih rencana papah sama mama sampai aku harus mengajar disini, Jangan bilang kayak di film-film gitu?" Bergumam.


"Sudahlah, gak usah di pikirkan, sekarang kamu fokus kerja dulu urusan yang lain ntar di urus," katanya lagi sambil memijat Pelipis hidungnya.


Di rumah SANJAYA.


"Gimana pah mereka udah ketemu belum?" tanya mama Gina ke pak damar, Gina sangat penasaran hari pertama anaknya mengajar.


"Kayanya udah bun kan dia wali kelasnya," jawab pak Dimas sambil meminum kopi.


"Semoga aja lancar yah Pah, bunda gak sabar," Ucap bunda Gina tersenyum bahagia dia tidak sabar ingin bertemu seseorang yang di tunggunya selama ini.


"Amin Bun semoga aja, makanya bunda banyak-banyak berdo'a, semoga niat baik kita di mudahkan," Ujar papah Dimas dengan senyuman bahagia, entah sampai kapan dia harus bersabar juga.


"Tapi lah siapa orangnya, bunda penasaran nih," Bunda Gina pura-pura ngambek, tapi papah Dimas malah tersenyum saja, membuat bunda Gina semakin kesal.


"Papah ih, gitu, main rahasia-rahasian," bunda Gina menjauh dari papah Dimas karena kesal di buatnya.

__ADS_1


__ADS_2