KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
125. Penolong


__ADS_3

"Eh ada tamu!" ucap Ibu Nur yang baru keluar dari dapur, dia sedikit penasaran karena mendengar suara wanita yang berbeda. "Ibu kedalam lagi ambil minum" lanjutnya dan ingin kembali ke dapur.


"Ibu Nur!" sapanya.


Mendengar namanya disebut, Ibu Nur tidak jadi melangkah. Dia heran, karena dia belum memperkanalkan diri.


"Bu, kenalin! Ini Momy sama Dady saya. Emm dia datang buat jenguk Kak Leo" jelas Viona, karena baru pertama kalinya mereka saling bertemu.


Ibu Nur sedikit terkejut, "Ah Nyonya, Tuan! Selamat datang di tempat kami, maaf jika sedikit kurang nyaman."


Momy Jeny menatap Ibu Nur, "Dady apa kamu memikirkan hal yang sama?" bisiknya.


Tuan Jack hanya mengangguk, lalu berkata. "Jangan terlalu formal Bu! Hmm, rumah Ibu ini sangat nyaman, sampai-sampai Anak saya sering datang makan dan tidur di sini"


"Ya itu benar!"sela Momy Jeny. "Tapi, apa Ibu Nur tidak mengingatku lagi?" tanyanya.


Semua orang jadi bingung, terutama Ibu Nur. Karena dia merasa tidak pernah bertemu sebelumnya. "Maaf Nyonya, gimana maksudnya? Bukankah kita baru bertemu?"


Momy Jeny menggeleng. "Tidak, aku yakin kamu sudah melupakannya. Kita pernah bertemu sekitar dua puluh tahun yang lalu" jawabnya.


"Ya, kamu adalah penolong kami. Ibu Nur, apa kamu sudah lupa? Jika kamu pernah menolong Suami Istri yang dikejar penjahat sampai di hutan?" Tuan Jack menyela.


Ibu Nur berusaha mengingat, beberapa menit kemudian dia sudah mengingatnya, lalu menatap Momy Jeny dan Tuan Jack. "Aku sudah mengingatnya, maaf jika aku tidak mengenali Tuan dan Nyonya."


Momy Jeny tersenyum lalu menggeleng. "Jangan minta maaf! Itu hal yang wajar, karena itu terjadi sudah puluhan tahun."


"Momy apa yang terjadi?" sela Viona bertanya, dia sangat penasaran. Lagi-lagi mereka saling kenal.


~Flasback On


Dua puluh tahun yang lalu, setelah melahirkan Viona, dan menitipkannya ke pada seorang wanita, mereka segera meninggalkan Rumah Sakit, padahal Mony Jeny masih perlu dirawat.


Tiba dirumah, mereka langsung beres-beres. Mereka akan meninggalkan negara A menuju negara X.


"Mom, kita tidak bisa pergi sekarang! kamu harus istirahat dulu" Ucap Tuan Jack, dia sangat kasihan melihat sang istri yang baru beberapa hari melahirkan harus berjalan kesana ke mari.


"Tidak Dad, kita harus pergi sekarang. Sebelum Kakakku makin berulah. Jangan lupa bawa berkasnya! Kita harus bertemu dengan Bastian terlebih dahulu."


Tuan Jack menghela nasaf berat. Dia hanya bisa menurut. "Baiklah Mom, bawa barang seperlunya saja!"

__ADS_1


Setelah semuanya siap, mereka bergegas menuju rumah sahabatnya. Tapi mereka terkejut saat melihat ke belakang, mobil anak buah Bora mengikutinya.


"Kita tidak bisa ke rumah Bastian jika mereka terus mengikuti kita" ucap Tuan Jack.


"Ya Dad, kita tidak boleh bawa-bawa mereka dalam masalah ini. Jika Bora tahu kita ke sana, keluarga mereka akan dalam bahaya."


Tuan Jack mengambil jalan lain. Dia ingin mengoceh Anak buah Bora. Tapi mereka tidak bisa, karena ternyata Anak buah Bora sudah menyebar di beberapa titik.


Tuan Jack mengambil jalan menuju hutan, dia berhasil menjauh, tapi sayangnya, mobil mereka kehabisan bensin.


"Astaga, kenapa mesti habis sekarang? Padahal mereka sudah tidak terlihat lagi!" gerutu Tuan Jack.


"Kita jalan kaki saja, daripada mereka menemukan kita di ini!" sahut Momy Jeny lalu keluar dari mobil.


Tuan Jack ikut turun "Momy, kamu tidak akan kuat berjalan, sini biar aku gendong di pundak."


"Aku masih bisa Dad, lagian kita bawa masing-masing tas. Itu akan bertambah berat!" balasnya sambil berjalan, menyusuri pinggiran hutan.


Tuan Jack, membawa semua tas, membiarkan sang istri berjalan perlahan. Setiap ada mobil dari jauh keduanya akan bersembunyi di balik pohon atau semak-semak.


"Sekarang sudah jam lima sore, sebentar lagi gelap" gumam Tuan Jack melihat arlojinya.


Tuan Jack menuntun sang Istri, agar mendekat ke wanita itu. Dia ingin bertanya jalan pintas keluar dari hutan menuju kota.


"Permisi Bu, maaf mengganggu, Apa boleh saya bertanya?"


Memberhentikan gerobaknya, dia melihat dua orang di hadapannya yang sangat kelelahan. "Iya Tuan, silahkan!"


"Apa Ibu tau jalan pintas keluar dari sini? Yang tidak melewati jalan utama? Tolong kami Bu! Kami di kejar-kejar penjahat. Dan kami tersesat di hutan."


Mendengar kata penjahat membuatnya takut, dia tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi dia berpikir, bagaimana jika dirinya berada di posisi itu?


"Dad, itu mereka!" ucap Momy Jeny menunjuk Anak buah Bora yang sudah berhenti di samping mobilnya.


"Cepat kalian sembunyi di dalam gerobak! kayunya cuman sedikit, tinggal digeser, lalu aku akan menutupnya dengan dos bekas dan juga kain" pintanya.


Tuan Jack langsung mengangkat sang Istri naik ke atas gerobak, dan juga dirinya setelah melihat anggukan wanita itu. Dia segera menimpah dengan dos-dos bekas dan juga kain panjang.


Ya, wanita itu tak lain adalah Ibu Nur dengan Anaknya Leo yanh masih berumur lima tahun, setelah memulung mereka lanjut ke hutan mencari kayu bakar. Leo hanya diam melihat.

__ADS_1


"Permisi, apa Ibu melihat pemilik mobil itu?" Anak buah bora sudah berada di depan Ibu Nur dan bertanya sambil menunjuk.


Ibu Nur menoleh melihat mobil, "Oh Suami Istri itu ya?"


"Ya, apa Ibu melihatnya mereka perginya ke mana?" tanyanya lagi dengan cepat.


"Tadi saya melihatnya mereka menahan mobil pick up. Dan mobil itu menuju jalan ke gunung." balasnya sambil menunjuk arah.


"Apa Ibu yakin mereka ke arah sana?" tanya Anak buah yang lain.


"Ya, aku melihat mereka seperti sedang ke takutan. Apa kalian penjahat dan ingin menangkap mereka?"


"Tidak usah ikut campur! Jangan sampai kami membuatmu terluka!" gertaknya.


"Ma maafkan saya Tuan, jangan apa-apain saya. Saya cuman pencari kayu bakar."


"Kalian kenapa malah ngobrol, cepat kita kejar mereka. Jangan membuat Bos marah!" ujar yang satunya lagi.


Mereka semua menaiki mobil masing-masing. Dan ternyata mereka percaya ucapan Ibu Nur, mereka menuju jalan ke gunung.


Setelah mobil mereka tidak terlihat, barulah Ibu Nur membuka penutup gerobaknya, agar keduanya bisa bernafas legah.


"Tuan, mereka sudah pergi" ucap Ibu Nur.


Tuan bastian turun secara perlahan, dan melihat sekeliling, takutnya Anak buah Bora masih ada yang tersisa di sekitar situ.


"Bu apa boleh saya minta tolong sekali lagi? Biarkan Istri saya di situ, saya yang akan mendorongnya. Kasihan dia, baru beberapa hari yang dia habis melahirkan."


Ibu Nur merasa kasihan, dia memang meliahat jika Momy Jeny tidak baik-baik saja. "Silahkan Tuan! Ikuti saya, kita akan keluar dari sini. Tapi kita hanya akan tembus di pinggiran kota."


"Terima kasih Bu, tidak apa-apa yang penting kita pergi dari sini dulu, ini sudah mulai gelap"


Ibu Nur mengangguk, dia berjalan terlebih dahulu bersama Leo. Dia membawa mereka sampai ke rumahnya yang berada di pinggir kota.


~Flasback Off


"Begitulah Nak, ceritanya. Ibu Nur menawarkan untuk tidur di rumahnya hari itu, membiarkan Momy dan Dadymu beristirhat!" Momy Jeny mengakhiri ceritanya.


Tidak ingin larut dalam kesedihan, Viona ijin ke dapur untuk memanaskan Baksonya yang sudah dingin.

__ADS_1


#KemarintidakUpouthorkurangsehat


__ADS_2