Kidung Petaka

Kidung Petaka
100. Gara-Gara Wafel


__ADS_3

Rex melangkah perlahan sambil terus menggenggam telapak tangan dokter Aksara. Rex tahu jika gadis itu merasa tak nyaman. Namun gadis itu nampak tak bisa berbuat apa-apa karena tak ingin Faisal berbalik mengejarnya jika ia melepaskan genggaman tangan Rex.


Saat tiba di samping golden blue, moge kesayangannya, Rex pun melepaskan genggaman tangannya pada jemari dokter Aksara hingga membuat gadis itu menghela nafas lega.


" Kebetulan Saya lagi di luar waktu Kamu menelepon tadi. Jadi Saya ga bawa mobil dan Saya naik motor ke sini. Gimana dok, Kamu mau ikut Saya naik motor ini atau Saya panggilin Taxi...?" tanya Rex memberi penawaran.


" Saya ikut Kamu aja Kapten...," sahut dokter Aksara gusar namun justru membuat Rex tersenyum.


" Ok, pake helm dulu ya...," kata Rex sambil menyodorkan sebuah helm yang diambilnya dari bagasi motor.


" Makasih...," sahut dokter Aksara lirih sambil mencoba mengenakan helm itu.


Karena gugup dan berkali-kali melihat ke belakang membuat dokter Aksara kesulitan memakai helm itu. Rex tergerak membantu dokter Aksara dengan cara memakaikan helm ke kepala gadis itu.


Jarak keduanya sangat dekat dan itu membuat dokter Aksara gugup sedangkan Rex tetap terlihat santai.


Di kejauhan Faisal tampak memukul pohon untuk melampiaskan kemarahannya saat menyaksikan kedekatan Rex dan dokter Aksara.


Tak lama kemudian dokter Aksara pun duduk di belakang Rex sambil memegang ujung jaket Rex dengan erat.


Perlahan Rex melajukan motornya meninggalkan Faisal yang menggeram marah di parkiran Rumah Sakit itu.


Selama di perjalanan Rex dan dokter Aksara tak saling bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Rex sibuk mensyukuri kondisinya yang bisa berdekatan dengan dokter Aksara. Hal berbeda justru terjadi pada gadis itu. Dokter Aksara nampak gelisah membayangkan reaksi kedua orangtuanya saat melihat Rex mengantarnya pulang nanti.


Ketika tiba di persimpangan jalan Rex memperlambat laju motornya. Ia melirik kaca spion dan melihat wajah dokter Aksara yang tampak gelisah itu. Rex ingat jika gadis itu suka kopi. Rex merasa dengan minum segelas kopi mungkin akan membuat mood gadis itu membaik.


" Apa Kamu mau ngopi dulu supaya sedikit relaks dok...?" tanya Rex sambil menoleh ke belakang.


" Mmm..., Saya mau tapi khawatir ngerepotin. Apa Kamu juga mau ngopi Kapten...?" tanya dokter Aksara hingga membuat Rex tersenyum.


" Iya. Saya mau ngopi di kafe depan sana. Gimana, Kamu keberatan ga kalo Kita mampir ke sana sebentar...?" tanya Rex.


" Ok ga masalah...!" sahut dokter Aksara antusias hingga membuat Rex tertawa kecil.

__ADS_1


Kemudian Rex melajukan motornya sedikit lebih cepat menuju kafe yang dimaksud. Rex pun mengarahkan motornya ke parkiran kafe. Lalu dengan santai Rex turun sambil membuka helm dan bersiap masuk ke dalam kafe. Namun saat menoleh kearah dokter Aksara ia tak kuasa menahan tawa. Ia melihat dokter Aksara kesulitan membuka helm yang ia kenakan dan itu terlihat lucu di matanya.


" Jangan ketawa aja Kapten. Bantuin dong...!" kata dokter Aksara kesal.


" Ok...," sahut Rex sambil mengulurkan tangannya menyentuh pengait helm.


Saat itu lagi-lagi jarak keduanya terkikis. Rex dengan santai membuka pengait helm sambil menatap wajah dokter Aksara. Sikap Rex justru membuat dokter Aksara gugup lalu mendorong tubuh pria itu agar menjauh.


" Ga usah modus Kamu ya...!" kata dokter Aksara sambil melotot galak.


" Siapa yang modus sih. Saya kan bantuin Kamu ngelepasin pengait helm itu dok...," sahut Rex.


" Kamu sengaja menguncinya supaya Saya ga bisa lepasin sendiri, iya kan...?" tanya dokter Aksara sambil menatap Rex dengan tatapan curiga.


" Saya ga kaya gitu dokter Aksara. Kalo Saya mau, lebih baik Saya ngunci Kamu biar ga bisa kemana-mana. Itu lebih masuk akal dan bermanfaat daripada helm kecil ini...," sahut Rex sambil tersenyum penuh makna.


Ucapan Rex membuat wajah dokter Aksara merona. Ia paham maksud dari ucapan pria di hadapannya itu. Karena tak ingin larut dalam rayuan maut Kapten Rex, dokter Lilian pun bergegas masuk ke dalam kafe setelah helm di kepalanya berhasil di lepas.


Rex menggelengkan kepala melihat sikap absurd dokter cantik itu. Ia meletakkan helm kemudian menyusul sang dokter masuk ke dalam kafe.


" Udah dong. Kopi hitam dua dan wafel cream satu...," sahut dokter Aksara.


" Kok wafelnya cuma satu...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Saya kan ga tau kesukaan Kamu Kapten. Daripada salah dan mubazir, lebih baik ga Saya pesenin...," sahut dokter Aksara santai.


" Oh gitu. Saya pikir Kamu sengaja pesen satu karena mau makan sepiring berdua kaya pasangan romantis lainnya...," kata Rex dengan mimik wajah lucu.


" Ish, apa sih Kamu. Ga usah ngarep ya...," kata dokter Aksara sambil melengos hingga membuat Rex kembali tertawa.


Tak lama kemudian seorang pelayan kafe datang mengantarkan pesanan dokter Aksara. Sebelum pelayan berlalu, dokter Aksara memesan satu wafel cream untuk Rex.


" Tolong satu wafel cream lagi ya Mbak...," pinta dokter Aksara.

__ADS_1


" Ga usah dok. Saya ga terlalu suka wafel cream...," sela Rex cepat.


" Oh gitu. Maaf ga jadi pesen ya Mbak. Gapapa kan...?" tanya dokter Aksara tak enak hati.


" Gapapa Bu. Silakan dinikmati, permisi...," kata pelayan kafe itu dengan santun.


" Baik, makasih...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.


Rex mengamati interaksi dokter Aksara dengan pelayan kafe itu sambil menghirup aroma kopinya. Kemudian Rex meneguk kopinya perlahan. Di depannya dokter Aksara juga melakukan hal yang sama sambil sesekali mengunyah wafel.


" Apa itu enak...?" tanya Rex sambil menatap potongan wafel di piring kecil yang ada di depannya.


" Enak. Apa Kapten mau coba...?" tanya dokter Aksara sambil mengunyah.


" Ga usah. Saya pernah makan wafel dan rasanya ga enak. Makanya Saya bingung ngeliat Kamu makan wafel dengan lahap...," sahut Rex hingga membuat kedua mata dokter Aksara membulat.


" Masa sih ?. Saya baru kali ini denger ada wafel yang ga enak. Setau Saya wafel itu makanan ringan yang enak lho...," kata dokter Aksara.


" Selera orang kan berbeda. Ga semua yang menurut Kamu enak itu bakal enak juga di lidah Saya...," sahut Rex hingga membuat dokter Aksara menggelengkan kepala.


" Kalo gitu Kamu harus coba ini Kapten...," kata dokter Aksara sambil memasukkan potongan wafel ke mulut Rex dengan garpu yang ia gunakan tadi.


Rex tak bisa berkelit dan terpaksa mengunyah wafel pemberian dokter Aksara sambil menatap gadis itu lekat.


" Gimana, enak kan...?" tanya dokter Aksara.


" Iya, enak...," sahut Rex hingga membuat dokter Aksara tertawa.


" Kalo gitu makan lagi ya...," kata dokter Aksara sambil memasukkan sepotong wafel lagi ke mulut Rex.


Rex tersenyum melihat dokter Aksara yang tak menyadari jika mereka menggunakan garpu yang sama untuk makan wafel.


" Kita memang mirip pasangan yang sebenarnya kan dok...," kata Rex tersenyum sambil melirik piring wafel yang telah kosong itu.

__ADS_1


Dokter Aksara terkejut lalu ikut menatap piring wafel kosong beserta garpu di atasnya itu. Sesaat kemudian wajah dokter Aksara kembali merona dan itu membuat Rex tersenyum puas.


\=\=\=\=\=


__ADS_2