
Gama dan Rex sedang berbincang di teras rumah saat Lilian pulang. Wajah kusut Lilian membuat Rex dan Gama saling menatap bingung.
" Assalamualaikum..., " sapa Lilian.
" Wa alaikumsalam...," sahut Rex dan Gama bersamaan.
" Kenapa Kak, kayanya kesel banget...," kata Rex.
" Gimana Ga kesel. Pagi ini kejadian lagi pelecehan pasien di toilet Rumah Sakit Rex. Aku ga ngerti orang macam apa yang tega memperk*sa perempuan yang lagi sakit...," sahut Lilian sambil duduk di hadapan Rex dan Gama.
Ucapan Lilian mengejutkan Rex dan Gama. Keduanya saling menatap sejenak lalu kembali menatap Lilian.
" Apa ini bukan pasien halu lagi Kak. Kan pasien pertama yang dilecehkan dianggap berhalusinasi saat melapor kalo dirinya dilecehkan..?" tanya Rex.
" Ga Rex. Sekarang korbannya adalah pasien waras yang baru aja menjalani operasi usus buntu. Kebayang ga gimana edannya orang itu. Bisa-bisanya menikmati persetubu**n dengan perempuan yang masih menanggung sakit gara-gara luka bekas operasi...," kata Lilian sewot.
" Dasar psycho...," gumam Gama namun masih bisa didengar oleh Rex dan Lilian.
" Tapi kali ini harusnya pasien dan keluarganya ga nolak untuk lapor Polisi kan Kak...?" tanya Rex.
" Iya Rex. Banyak Polisi yang datang ke Rumah Sakit tadi. Mereka keliatan bingung saat mau nginterogasi korban pelecehan itu karena perempuan itu terus menjerit dan mengamuk. Aku aja ga tega ngeliat pasien perempuan yang jadi korban pelecehan itu Rex. Dia keliatan depresi berat...," sahut Lilian dengan wajah sendu.
" Biasanya Polisi bakal hati-hati saat menginterogasi korban pelecehan Kak. Mereka juga pasti mengerahkan polwan handal untuk melakukan pendekatan pada pasien. Karena udah ditangani Polisi itu artinya suasana Rumah Sakit bisa tetap kondusif untuk melayani pasien kan Kak...," kata Rex.
" Kamu bener sih Rex. Mudah-mudahan penjahatnya segera ketangkep deh...," kata Lilian penuh harap sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
" Aamiin...," sahut Rex dan Gama bersamaan.
Kemudian Rex dan Gama kembali melanjutkan perbincangan mereka yang terhenti tadi.
" Jadi Lo lagi cari lokasi buat buka bengkel di Jakarta Gam...?" tanya Rex.
" Iya Rex. Gue udah nanya sama Om Ramon dan katanya dia punya temen yang punya lapak kosong. Insya Allah Om Ramon bakal ngajak Gue ketemuan sama temennya itu secepatnya...," sahut Gama.
" Oh gitu. Relasi Ayah tuh emang luas banget, jadi Lo ga perlu khawatir soal lokasi yang bagus buat bisnis Lo itu Gam...," kata Rex yang diangguki Gama.
__ADS_1
" Iya Rex. Ngomong-ngomong tadi Kak Lian bilang pelecehan lagi. Apa sebelumnya pernah ada kejadian yang sama di Rumah Sakit itu Rex...?" tanya Gama.
" Iya Gam, kalo ga salah dua atau tiga minggu yang lalu. Kejadian pelecehan di toilet Rumah Sakit itu bikin gue was-was dan harus luangin waktu khusus buat jemput Kak Lian tiap hari...," sahut Rex cepat.
" Apa ada hal aneh yang Lo temuin di sekitar Rumah Sakit Rex...?" tanya Gama penasaran.
" Gue ga paham maksud Lo, lagian itu juga bukan urusan Gue kan Gam. Gue ke sana buat jemput Kak Lian bukan untuk jadi detektif...," sahut Rex sambil mengalihkan tatapannya kearah lain.
" Ayo lah Rex. Gue tau kalo Lo bohong. Diam-diam Lo pasti nyelidikin kasus ini sendirian. Iya kan...?" tanya Gama setengah memaksa.
" Ck, iya iya. Lo emang paling tau Gue deh...," sahut Rex sambil berdecak sebal.
Jawaban Rex membuat Gama tertawa puas. Ia memang mengenal Rex dengan sangat baik. Rex ibarat cermin buat Gama karena memiliki sifat dan karakter yang mirip dengannya walau tidak seratus persen.
" Sekarang Lo ga sendirian lagi karena Gue bakal ikut nyelidikin kasus ini Rex...," kata Gama sambil menepuk punggung Rex.
" Bagus deh kalo gitu. Lo bisa mulai besok kalo mau. Kebetulan besok Kak Lian kerja shift malam. Lo bisa anterin Kak Lian gantiin Gue karena Gue kebagian piket di markas...," kata Rex.
" Setuju...," sahut Gama sambil tersenyum.
Gama tersentak kaget lalu bergegas pergi ke rumahnya tanpa pamit. Rex nampak menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Gama. Sesaat kemudian Rex berdiri dari duduknya lalu bergegas menyusul Gama.
Saat tiba di depan rumahnya Gama nampak mematung sejenak. Ia tak menyangka jika apa yang dikatakan Rex terbukti.
Saat itu Gama melihat para tukang yang dibayar mahal oleh ayahnya sedang duduk santai sambil bersenda gurau. Gama pun tersenyum seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.
Para tukang terlihat panik melihat kehadiran Gama. Mereka nampak gugup saat Gama datang menyapa.
" Assalamualaikum, wah lagi ngaso rupanya...," sapa Gama sambil tersenyum.
" Wa alaikumsalam Mas Gama...," sahut mandor dan para tukang bersamaan.
" Gimana Pak, ada kendala ga...?" tanya Gama basa-basi.
" Ada sedikit kendala Mas, cuma sedikit kok...," sahut sang mandor.
__ADS_1
" Oh ya, kendala apa Pak...?" tanya Gama.
" List plafond yang dibeli Pak Gondo beberapa ada yang ga sesuai, makanya Kita perlu beli lagi Mas...," sahut sang mandor berbohong.
" Sayang banget ya, padahal Papa Saya belinya jauh lho Pak. Harus custom dulu. Harganya juga lumayan mahal. Kalo harus beli lagi pasti butuh waktu lumayan lama, apalagi kalo cuma beli sedikit...," kata Gama sambil memijit keningnya.
" Kalo Mas Gama mau Saya bisa bantu cariin...," kata sang mandor mencoba mencari peluang.
" Ga perlu Pak, biar Saya hubungin Papa Saya aja dulu. Saya minta maaf karena pekerjaan ini harus tertunda gara-gara barangnya ga lengkap...," kata Gama.
" Gapapa Mas...," sahut sang mandor salah tingkah.
" Karena barangnya belum lengkap, terpaksa pekerjaan renovasi rumah Saya hentikan dulu ya Pak. Saya akan genapi gaji para tukang yang bekerja supaya Saya ga punya hutang...," kata Gama santai namun mengejutkan mandor dan para tukang.
" Maksudnya gimana ya Mas...?" tanya sang mandor.
" Maksud Saya pekerjaan Pak Mandor dan para tukang Saya hentikan sekarang. Saya bakal cari tukang lain yang bisa bekerja secara profesional dan ga makan gaji buta...," sahut Gama tegas.
" Lho ga bisa gitu dong Mas...!" protes mandor dan tukangnya.
" Kenapa ga bisa Pak. Ini rumah Saya, Papa Saya udah bayar mahal untuk pekerjaan renovasi ini. Tapi Kalian menyalahi kontrak kerja sama dengan mengulur waktu pengerjaan dan membuat alasan seolah bahan bangunan yang diperlukan ga tersedia. Karena itu Saya ga punya alasan buat mempertahankan Kalian. Saya bakal bayar gaji Kalian sesuai pekerjaan yang Kalian lakukan. Jika Kalian keberatan, Kalian bisa adukan Saya ke Polisi. Kita liat siapa yang bakal masuk ke sel duluan...," tantang Gama.
Ucapan Gama membuat nyali sang mandor dan para tukang menciut. Tanpa membuang waktu mereka membereskan perkakas yang mereka miliki, lalu bergegas pergi dari rumah Gama setelah menerima pembayaran yang sesuai dengan jerih payah mereka.
Gama nampak melepas kepergian mandor dan para tukang itu dengan tatapan kecewa. Di sampingnya Rex nampak berdiri tegak untuk memberi dukungan.
" Gapapa Gam. Ini bukan salah Lo. Kita bisa cari tukang lain buat beresin kekacauan ini. Iya kan...?" tanya Rex.
" Iya, makasih Rex. Gue cuma ngerasa ga enak sama orangtua Lo. Karena gara-gara renovasi yang ngaret, bikin Gue bakal lebih lama tinggal di rumah Lo...," sahut Gama tak enak hati.
" Santai aja Gam. Orangtua Gue pasti ngerti kok...," kata Rex sambil tersenyum.
Gama pun mengangguk mengiyakan ucapan Rex tadi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1