
Rex berpikir keras untuk mencari cara membantu arwah Fandi. Ia tak mungkin mendatangi keluarga almarhum Fandi karena ia tak mau terlalu jauh terlibat dengan keluarga mereka.
Akhirnya Rex mendapatkan solusi. Ia menulis surat yang ia tujukan kepada pengurus lingkungan tempat Fandi tinggal.
Sebelumnya Rex telah berusaha meminta alamat rumah Fandi pada pihak Rumah Sakit tapi gagal. Ternyata Fandi menggunakan alamat palsu saat berobat dan itu menyulitkan pihak Rumah Sakit untuk mengurus jenazahnya.
" Apa sudah meminta bantuan Polisi Sus...?" tanya Rex.
" Sudah. Tapi tugas Polisi kan banyak Mas, jadi Kami harus bersabar juga...," sahut sang perawat sambil tersenyum kecut.
Rex menoleh saat melihat arwah Fandi berdiri tepat di sampingnya.
" Apa yang Kamu lakukan...?" tanya arwah Fandi.
" Kebetulan Kamu datang. Saya mau kirim surat ke Ketua RT di tempatmu tinggal. Saya mau minta bantuan sama beliau untuk membantu keluargamu mengurus jasadmu di sini. Jujur Saya ga mungkin terlibat jauh dalam urusan keluargamu. Saya khawatir dicurigai sebagai orang yang menyebabkan Kamu meninggal. Dan yang lebih parah Saya malah dituduh mengincar hartamu...," sahut Rex.
Penjelasan Rex membuat arwah Fandi mengerti lalu memberi alamat yang dimaksud.
Setelahnya Rex menggunakan jasa ojeg on line untuk mengirim paket berisi pesan itu.
Pesan diterima oleh sang ketua RT yang terkejut dengan berita kematian Fandi. Sebelum mengabari keluarga Fandi, sang ketua RT mendatangi Rumah Sakit untuk mengkonfirmasi berita itu.
Setelah memastikan jenasah yang terbujur kaku di ruang jenasah itu adalah Fandi yang merupakan salah satu warganya, sang ketua RT pun langsung mengabari keluarga Fandi.
Tak lama berselang keluarga Fandi datang ke Rumah Sakit untuk menjemput jasad saudara kandung mereka.
Dari tempatnya berdiri Fandi bisa melihat keempat saudaranya itu menangisi kematiannya. Kesedihan mereka tampak nyata dan tulus.
" Apa Kamu sudah puas melihat mereka menangis Fandi...?" tanya Rex sinis.
" Aku ga nyangka kalo mereka menyayangi Aku dan sedih kehilangan Aku...," sahut arwah Fandi dengan suara tercekat.
" Memangnya apa sih yang ada di kepalamu tentang mereka Fandi...?" tanya Rex penasaran.
" Aku pikir kebaikan mereka karena mereka membutuhkan uangku. Mereka bergantung sama hartaku hampir di semua lini kehidupan mereka. Semuanya. Aku yakin mereka akan meninggalakan Aku andai melihat Aku jatuh bangkrut dan miskin...," sahut arwah Fandi lirih namun mengejutkan Rex.
" Mereka jelas berbeda dari mantan Istrimu yang mata duitan itu Fandi !. Aku malah merasa Kamu yang jahat. Harta telah membuatmu buta. Kamu tega memusuhi saudaramu sendiri dan berprasangka buruk ke mereka. Padahal harta yang Kamu banggakan itu ga Kamu bawa mati dan ga bermanfaat untukmu sekarang. Justru hartamu bermanfaat saat Kamu membaginya dengan saudaramu yang membutuhkan itu...," kata Rex kesal.
__ADS_1
" Aku tau dan Aku menyesal sekarang...," sahut arwah Fandi hingga membuat Rex iba.
" Sekarang Kamu bisa pergi dengan tenang Fandi. Keempat saudaramu akan mendapatkan haknya. Harta warisan yang Kamu tinggalkan itu akan dibagi sesuai aturan agama. Anakmu juga akan mendapat bagian meski pun Kamu dan Istrimu telah lama bercerai...," kata Rex.
" Makasih Rex. Aku bisa pergi sekarang. Ternyata doa tulus saudaraku telah meringankan langkahku...," kata arwah Fandi sambil tersenyum bahagia.
Rex ikut tersenyum sambil mengamati cahaya terang yang datang menjemput arwah Fandi. Sesaat kemudian arwah Fandi melayang ke atas lalu hilang begitu saja.
" Ajaibnya sebuah doa. Ternyata doa tulus dari mereka yang memiliki hubungan darah dengan Fandi bisa membuat Fandi lepas dari belenggu yang selama ini mengikatnya...," gumam Rex sambil menatap kagum kearah keempat saudara Fandi yang duduk menunggu jasad Fandi keluar dari Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Setelah membantu arwah Fandi lepas dari belenggu yang mengikatnya, kini Rex pun tengah mengawal ayahnya untuk mendatangi rumah Arini.
Tiba di rumah Arini, mereka disambut oleh asisten rumah tangga Arini.
" Apa Ibu Arini ada di rumah Mbak...?" tanya Ramon.
" Bu Arini lagi keluar Pak...," sahut sang asisten rumah tangga bernama Yami itu dengan santun.
Ramon sengaja melakukan sambungan video call agar Yami percaya. Arini pun meminta Yami membuka pintu dan membuatkan suguhan untuk tamunya itu.
Yami mengangguk lalu membuka pintu untuk Ramon dan Rex.
" Silakan ditunggu sebentar ya Pak. Saya bikinin teh manis hangat dulu...," kata Yami.
" Iya Mbak, makasih...," kata Ramon yang diangguki Yami.
Sambil duduk menunggu di sofa, Rex mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dan pandangan Rex membentur deretan foto yang terpajang di dinding di ruang tengah.
Entah mengapa Rex tertarik dengan salah satu foto keluarga itu dan bangkit untuk mendekatinya. Ramon sedikit terkejut melihat tingkah Rex yang tak biasa itu.
" Mau kemana Rex ?. Ingat, ini bukan di rumah Kita lho. Udah dewasa tapi hal kecil kaya gini aja masih harus diingetin...," kata Ramon setengah berbisik.
" Maaf Yah. Aku penasaran sama foto itu...," sahut Rex.
" Ayah tau. Tapi bisa kan Kita tunggu Bu Arini datang sebentar lagi...," kata Ramon dengan mimik wajah tak suka.
__ADS_1
" Ok Yah...," sahut Rex pasrah dan kembali duduk di sofa bersama sang ayah.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman Rumah Arini. Ramon dan Rex tersenyum saat melihat Arini bergegas masuk menemui mereka.
" Assalamualaikum..., " sapa Arini.
" Wa alaikumsalam Bu Arini...," sahut Ramon dan Rex bersamaan.
" Maaf harus menunggu lama. Ada sedikit masalah tadi makanya Saya pulang terlambat...," kata Arini sambil menjabat tangan Ramon dan Rex bergantian.
" Gapapa Bu, santai aja. Kami juga ga buru-buru kok...," sahut Ramon sambil tersenyum.
Arini pun ikut tersenyum lalu masuk ke bagian dalam rumah. Arini kembali ke ruang tamu sambil membawa setumpuk album foto. Rex dan Ramon saling menatap kemudian tersenyum simpul karena merasa senang.
" Saya yakin Kalian penasaran kan sama penampilan Zada terakhir kali. Di sini ada foto-foto Zada saat remaja hingga dewasa. Kebetulan keluarga Kami memang senang mengabadikan moment kebersamaan Kami dengan berfoto. Jadi ga heran kalo Kami punya koleksi foto Zada lumayan banyak...," kata Arini sambil tersenyum.
" Boleh Saya liat Bu...?" tanya Rex tak sabar.
" Tentu Mas Rex...," sahut Arini.
Rex dan Ramon mulai melihat-lihat isi album foto itu. Hingga tak lama kemudian Yami datang sambil membawa suguhan untuk Arini dan kedua tamunya itu. Yami sempat menatap Ramon dan Rex bergantian namun sayangnya Ramon dan Rex tak menyadarinya.
" Silakan diminum Pak Ramon, Mas Rex...," kata Arini mempersilakan.
" Makasih Bu...," sahut Ramon dan Rex bersamaan.
Kemudian Arini menunjuk sebuah foto saat Zada remaja.
" Ini foto pertama Zada saat masuk ke rumah ini. Lucu ya, dia keliatan tegang banget saat itu...," kata Arini dengan mata berkaca-kaca.
Ramon dan Rex ikut mengamati foto pertama Zada itu. Di sana terlihat Zada yang nampak ketakutan dan tak nyaman dengan lingkungan barunya. Rambutnya yang tergerai lepas nampak sedikit kusut. Posisi Zada saat itu berdiri menyamping.
" Jadi ngomong-ngomong apa kegiatan Zada selama tinggal bersama Ibu dan keluarga di sini...?" tanya Ramon hati-hati.
Arini nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ramon.
\=\=\=\=\=
__ADS_1