Kidung Petaka

Kidung Petaka
206. Pria Seperti Ramon


__ADS_3

Kemudian Rex merasa tubuhnya seperti ditarik mundur dengan paksa. Terasa sakit dan membuat tak nyaman, namun Rex tak bisa menolak selain hanya mengikuti alurnya.


Saat itu Rex kembali dihadapkan pada sebuah adegan yang melibatkan Luna, Ramon dan Lanni. Rupanya mereka bertiga bersahabat.


Luna adalah kerabat jauh Lanni. Kedua orangtua Luna dan Lanni memiliki hubungan yang sangat dekat layaknya saudara. Saking dekatnya Luna dan Lanni dikira saudara kandung.


Bukan tanpa alasan jika orang memanggil demikian. Paras wajah Luna dan Lanni memang mirip, dengan rambut sebahu dan perawakan tubuh yang serupa membuat banyak orang salah mengenali Luna sebagai Lanni atau sebaliknya.


Selain persamaan lahiriah, tentu saja mereka memiliki perbedaan meski pun itu hanya bisa dikenali oleh orang terdekat. Salah satunya adalah lesung pipi. Lanni memiliki satu lesung pipi yang akan terlihat saat dia tertawa.


Perbedaan lainnya adalah sifat dan karakter keduanya yang bagaikan langit dan bumi. Jika Luna memiliki sifat pendiam dan cenderung tertutup, Lanni justru orang yang terbuka dan periang. Ia selalu senang berkumpul dengan teman-temannya yang humoris. Salah satu kelemahan Lanni adalah ia tak suka berpikir berat. Ia akan langsung pergi jika teman-temannya mulai membicarakan hal serius.


Dan diantara sekian banyak perbedaan, Luna dan Lanni tetap menjadi gadis yang disukai dimana pun mereka berada. Bahkan tanpa sepengetahuan Luna dan Lanni, beberapa lamaran telah datang untuk mereka. Namun orangtua Luna dan Lanni sengaja menolak lamaran itu secara halus dengan berbagai alasan.


Luna dan Lanni pun tumbuh seperti gadis pada umumnya yang juga memiliki kekasih. Dan saat pertama kali Lanni memperkenalkan Ramon di acara keluarga, semua orang menyambut kehadirannya dengan antusias termasuk Luna dan kedua orangtuanya.


Saat itu ayah Luna nampak tertarik dengan Ramon yang tampan dan santun itu. Ia tak lepas mengamati Ramon dari kejauhan.


" Kenapa Lanni bisa mengenal laki-laki sebaik Ramon sedang Kamu ga bisa Luna. Bukan kah Kalian kuliah di kampus yang sama...?" tanya sang ayah ketus.


" Iya Pak. Tapi Lanni memang lebih mudah bergaul dibandingkan Aku...," sahut Luna.


" Justru itu Kamu harus belajar dari Lanni bagaimana caranya mengenal laki-laki yang baik dan mapan seperti Ramon...!" kata sang ayah kesal sambil menjambak rambutnya.


" I... iya Pak...," sahut Luna gugup sambil berusaha melepaskan tangan sang ayah dari rambutnya.


" Dasar anak bod*h. Percuma saja kubiayai sekolah kalo cuma jadi pajangan ga berguna di rumah. Semua keluarga punya kebanggaan saat memiliki anak. Rasanya hanya Aku yang ga punya kebanggan karena Anakku cuma benalu bod*h yang cuma bisa makan minum dan menghabiskan uangku. Dasar anak tak berguna...," maki ayah Luna sambil berlalu.


Ucapan sang ayah membuat Luna sakit hati. Ia menggigit bibirnya untuk menahan air matanya agar tak jatuh berderai di depan para kerabat. Lanni yang tak sengaja melihatnya pun datang menghampiri.


" Kamu kenapa Lun...?" tanya Lanni.

__ADS_1


" Gapapa Lan, cuma kelilipan kok...," sahut Luna berbohong.


" Aku ga percaya. Pasti karena Bapakmu lagi, iya kan...?" tanya Lanni setengah memaksa.


Luna tahu tak mungkin berbohong pada Lanni. Karena terus didesak akhirnya Luna mengangguk.


" Ck, apalagi yang jadi masalahnya sekarang...?" tanya Lanni.


" Bang Ramon...," sahut Luna lirih namun mengejutkan Lanni.


" Ramon ?, ada apa sama dia ?. Jangan-jangan Kalian pernah punya hubungan sebelum ini...?" tanya Lanni beruntun.


" Ga Lan, Kamu salah paham. Aku sama Bang Ramon ga pernah kenal sebelum ini. Jadi gimana bisa punya hubungan...," sahut Luna cepat.


" Terus apa dong...?" tanya Lanni tak sabar.


Sikap Lanni muda membuat Rex tersenyum. Ia senang bisa melihat langsung sikap sang ibu yang selalu 'energik' itu.


" Bapak marahin Aku karena ga bisa punya pacar seperti Bang Ramon...," sahut Luna.


" Kalo soal itu Aku ga bisa bantu ya Lun. Maaf...," kata Lanni tak enak hati.


" Gapapa Lanni Sayang. Ngeliat Kamu bahagia aja Aku udah seneng kok...," kata Luna sambil memeluk Lanni erat.


Lanni pun balas memeluk Luna sambil tersenyum. Diam-diam Luna menatap Ramon yang sedang berbincang dengan keluarga besar Lanni. Dari tatap matanya Rex tahu jika Luna juga menyukai ayahnya.


Kemudian Rex dibawa kembali ke suatu tempat yang ramai. Nampaknya itu sebuah tempat wisata karena banyak arena permainan anak dan pedagang makanan.


Rex mengedarkan pandangannya karena merasa asing dengan tempat itu. Beberapa saat kemudian Rex berhasil menjumpai Ramon dan Lanni yang sedang bergandengan tangan sambil menonton seorang penyanyi yang menyanyikan lagu favorit mereka di atas panggung. Terlihat jelas jika Ramon dan Lanni ikut menyanyi sambil bertepuk tangan bahagia.


" Ayah sama Ibu nih keren banget sih. Ngedatenya aja nonton penampilan grup musik ternama di masanya...," gumam Rex sambil tersenyum kagum.

__ADS_1


Rex pun tertawa saat melihat Lanni melompat ke pelukan Rex karena saking bahagianya. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ramon dengan mencium sang kekasih.


Saat itu terjadi mau tak mau Rex terpaksa ikut menyaksikan bagaimana cara sang ayah mencium ibunya diantara padatnya penonton yang berdesakan.


" Ayah paling bisa ngambil kesempatan. Good luck Ayah...!" kata Rex sambil menepuk bahu sang ayah.


Ramon pun menghentikan ciumannya saat merasa seseorang menepuk bahunya. Sedangkan Lanni nampak membuang pandangannya kearah lain dengan wajah merona karena baru saja mendapatkan ciuman pertama dari Ramon.


Di sisi lain Rex melihat Luna tengah menemani salah satu sepupunya naik wahana permainan. Gadis itu terlihat bahagia. Namun saat ia turun dari wahana, tampak sang ayah berdiri menyambut.


Luna yang ketakutan pun bergegas menghampiri sang ayah yang mengajaknya ke suatu tempat.


" Kamu ini benar-benar menjengkelkan Luna. Bukannya cari cara menggaet laki-laki kok malah mainan sama anak kecil. Kamu tau kan ini tempat apa...?!" tanya sang ayah sambil menatap Luna dengan tatapan bengis.


" Maaf Pak, Aku cuma nemenin Noni aja tadi...," sahut Luna.


" Bapak ga mau denger alesan lagi !. Sekarang ajak Lanni dan Ramon ke kedai itu. Bapak tunggu di sana. Bilang aja Bapak mau bicara penting sama mereka...," kata ayah Luna sambil berlalu.


Luna mengangguk lalu segera mendekati Lanni dan Ramon. Tanpa curiga sepasang kekasih itu menuruti ajakan Luna.


" Nah duduk lah Nak. Kita ngobrol sambil minum es dulu ya...," kata ayah Luna dengan ramah.


" Makasih Paman. Kebetulan Aku juga haus daritadi nyanyi terus...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Iya lah. Melihat cara Kamu menyanyi Paman jadi bingung. Sebenernya yang mana penyanyinya, Kamu atau yang di panggung...?" gurau ayah Luna sambil menyodorkan gelas berisi air perasan jeruk kearah Ramon dan Lanni.


Ucapan ayah Luna membuat Ramon, Lanni dan Luna tertawa. Dan saat itu tak sengaja Luna menyenggol gelas yang ada di hadapan Ramon hingga gelas terguling dan isinya berhamburan keluar membasahi blouse Lanni.


" Kamu gapapa Sayang, lengket ga...?" tanya Ramon cemas.


" Gapapa kok. Cuma es jeruk, dibasuh pake air juga hilang. Karena es Kamu tumpah, Kamu minum es Aku aja ya...," kata Lanni sambil tersenyum.

__ADS_1


Ramon pun ikut tersenyum lalu menerima gelas yang disodorkan Lanni dan meneguk isinya. Sedangkan ayah Luna nampak kesal melihat upayanya memikat Ramon gagal akibat kelalaian sang anak.


\=\=\=\=\=


__ADS_2