
Rex sedang duduk di taman Rumah Sakit setelah menunaikan sholat Isya berjamaah di masjid yang terletak di samping Rumah Sakit. Rex sengaja memisahkan diri dari keluarganya untuk mengejar wanita yang tadi dilihatnya melintas di depan Taxi yang ia tumpangi.
Rex duduk bersandar di kursi taman sambil mengamati keadaan di sekelilingnya. Saat itu Rex kembali melihat siluet wanita yang ditunggunya melintas menyusuri koridor Rumah Sakit.
Rex pun bangkit lalu mengikuti wanita itu. Sadar jika dirinya diikuti, wanita itu berhenti lalu menoleh kearah Rex yang juga menghentikan langkahnya. Dari jarak sepuluh meter Rex dan wanita itu saling menatap tanpa suara. Rex mengerutkan keningnya karena merasa tatapan wanita itu sangat familiar untuknya. Rex merasa pernah melihat sorot mata seperti itu, sorot mata penuh kesedihan dan rasa takut yang bercampur menjadi satu.
Setelah saling menatap beberapa saat, wanita itu membalikkan tubuhnya lalu kembali melangkah. Rex pun kembali mengekori wanita itu, sayangnya ia kehilangan jejak. Wanita itu menghilang saat berbelok di tikungan.
Rex menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan wanita itu hingga dikejutkan dengan sebuah suara yang menegurnya.
" Cari apa Mas...?" tanya seorang pria berpakaian seragam Rumah Sakit dengan ramah.
" Oh, ga cari apa-apa Pak. Cuma lagi liat-liat aja kok...," sahut Rex berbohong.
" Saran Saya, ga usah diikutin rasa penasarannya Mas. Percuma. Ntar yang ada Mas malah ketakutan lho...," kata pria bernama Taufik itu sambil tersenyum penuh makna.
" Maksudnya gimana ya Pak...?" tanya Rex tak mengerti.
" Bukan cuma Mas yang diganggu sama arwah-arwah penghuni kamar jenasah di sana Mas. Banyak juga yang diganggu bahkan ada yang sampe depresi lho Mas...," sahut Taufik.
" Jadi ruangan di sana itu kamar jenasah Pak...?" tanya Rex.
" Iya Mas. Beberapa ada yang usil dan suka mengganggu pasien atau pengunjung Rumah Sakit ini. Belakangan malah lagi rame cerita orang yang diganggu sama arwah Fandi, pasien yang meninggal setelah operasi pencangkokan ginjal. Anehnya mereka diganggu justru saat Fandi masih dalam keadaan koma. Itu aneh banget kan Mas. Saya aja sampe merinding dengernya...," kata Taufik sambil bergidik.
Ucapan Taufik membuat Rex tertegun sejenak. Kemudian Rex tersenyum lalu berbalik dan bersiap melangkah meninggalkan tempat itu.
Namun Rex membulatkan matanya saat melihat pria yang mirip Taufik tengah melangkah kearahnya. Rex menoleh kearah Taufik yang mengajaknya bicara tadi tapi tak ada siapa pun di sana dan itu membuat bulu kuduk Rex meremang seketika.
Taufik yang melihat Rex tengah kebingungan pun tersenyum maklum.
" Mas juga ngeliat orang yang mirip sama Saya ya Mas...?" tanya Taufik to the point sambil mendorong brankar yang berisi jenasah.
" Iya Pak...," sahut Rex sambil tersenyum kecut.
" Jangan diambil hati ya Mas. Maklumin aja, namanya juga jenasah ga dikenal. Mungkin kesal karena ga ada yang jemput, jadi penasaran gangguin orang...," kata Taufik.
__ADS_1
" Iya Pak...," sahut Rex sambil bergegas menjauh dari tempat itu.
Rex kembali menoleh untuk memastikan jika Taufik yang memintanya memaklumi sikap para arwah penasaran itu adalah manusia sama seperti dirinya. Rex menghela nafas lega saat melihat Taufik masih melangkah pelan menuju kamar jenasah.
\=\=\=\=\=
Rex kembali melangkah menuju ke kamar rawat inap sang nenek karena gagal mendapat petunjuk tentang jati diri wanita yang dilihatnya tadi. Wanita yang ia yakini sebagai sosok yang selalu memberinya 'tanda' sebelum terjadi bencana di sekitarnya.
" Satu orang tapi punya beberapa penampilan yang berbeda. Menarik...," gumam Rex sambil menggelengkan kepala.
Rex membuka pintu kamar rawat inap sang nenek dan berpapasan dengan Ramon. Saat itu Ramon tengah bersama seorang wanita yang tak dikenal.
" Nah kebetulan Kamu datang Nak. Kenalin ini Bu Arini, beliau pensiunan polisi lho Nak...," kata Ramon sambil menoleh kearah Arini.
" Assalamualaikum Bu, salam kenal. Saya Rex...," kata Rex dengan santun sambil mencium punggung tangan Arini.
Sikap Rex membuat Arini membulatkan mata karena takjub.
" Wa alaikumsalam. Wah, ini Kapten Rex yang terkenal itu kan Pak Ramon...!" kata Arini.
" Ayah mau kemana...?" tanya Rex mengalihkan pembicaraan.
" Mau nganter Bu Arini ke depan cari Taxi Nak...," sahut Ramon.
" Kalo gitu Aku ikut nemenin deh...," kata Rex hingga membuat Ramon dan Arini tersenyum senang.
Kemudian Rex dan Ramon mengantar Arini ke luar Rumah Sakit. Arini bercerita tentang awal pertemuannya dengan Ramon. Dan itu membuat Rex tertarik. Apalagi Arini juga menyebut nama Zada, gadis belia yang memang sedang ia cari.
" Kasus Zada yang bikin Kami kenal dan berteman. Apa Kamu ingat Pak Ramon...?" tanya Arini.
" Tentu. Terus gimana kabar Zada sekarang Bu...?" tanya Ramon.
Arini menghentikan langkahnya. Ia nampak sedih lalu menghela nafas panjang.
" Zada... sempat hilang Pak Ramon...," kata Arini dengan wajah sendu.
__ADS_1
" Sempat hilang, artinya sekarang udah ditemuin kan ?. Kok bisa hilang Bu, apa yang terjadi sebenarnya...? " tanya Ramon gusar.
" Zada diculik orang tak dikenal Pak...," sahut Arini cepat.
" Terus gimana kondisinya sekarang...?!" tanya Ramon tak sabar.
" Sekarang Zada udah ga ada Pak. Zada meninggal saat dia berumur dua puluh satu tahun...," sahut Arini sedih.
" Meninggal ?, kok bisa Bu...?" tanya Ramon tak percaya.
Entah mengapa mengetahui Zada meninggal dunia membuat Ramon dan Rex bersedih. Rex terlihat sangat terpukul dan hanya bisa mengepalkan tangannya supaya tak menangis.
" Ceritanya panjang Pak Ramon. Kalo Pak Ramon ingin tahu ceritanya, silakan datang ke rumah Saya. Sekarang Saya harus pulang karena Suami Saya membutuhkan Saya...," kata Arini.
" Baik lah. Alamat Ibu masih sama kaya yang dulu kan...?" tanya Ramon.
" Iya Pak. Kabarin ya kalo mau ke rumah, Saya khawatir Pak Ramon malah ga bisa ketemu Saya kalo ga ngabarin dulu...," pinta Arini.
" Insya Allah Saya telephon dulu sebelum berkunjung ke rumah Bu Arini nanti...," sahut Ramon.
Arini mengangguk lalu masuk ke dalam Taxi. Kemudian Arini melambaikan tangan saat Taxi mulai melaju meninggalkan Rumah Sakit.
" Aku ngerasa ada yang aneh sama kematian Zada Yah...," kata Rex sambil melepas kepergian Arini.
" Iya Nak. Ayah juga ga bisa percaya kalo Zada meninggal gitu aja. Seingat Ayah, Zada itu tangguh dan kuat karena dia bisa bertahan menghadapi siksaan Ayah tirinya dulu. Jadi mustahil dia meninggal tanpa sebab. Ini bukan karena Ayah ga percaya sama qodo dan qodarnya Allah ya Nak, tapi ini terlalu aneh buat Ayah...," kata Ramon gusar.
" Iya Yah, Aku paham kok. Bukannya Bu Arini itu pensiunan Polisi ya Yah. Harusnya dia tau apa yang terjadi. Aku yakin Bu Arini pasti menyimpan sesuatu, mungkin dia juga tau siapa orang yang telah menyebabkan Zada meninggal. Jangan-jangan orang itu adalah orang yang dekat sama dia atau justru malah keluarganya...," tebak Rex.
" Kita ga bisa nebak tanpa arah kaya gini Nak. Kita datangi aja rumahnya besok, gimana menurut Kamu...?" tanya Ramon.
" Setuju Yah. Aku juga mau tau apa penyebab kematian Zada...," sahut Rex cepat.
Setelah menyusun rencana untuk mendatangi rumah Arini, Ramon dan Rex pun memutuskan kembali ke kamar rawat inap Rusminah.
bersambung
__ADS_1