Kidung Petaka

Kidung Petaka
143. Pembicaraan Konyol


__ADS_3

Ternyata pengorbanan Ramzi tak berarti apa-apa untuk sang istri. Saat ia terpuruk, jatuh bangkrut karena persaingan bisnis yang ketat, sang istri justru meninggalkannya seorang diri. Bahkan sang istri juga membawa pergi anak mereka. Ramzi tak pernah melihat anak-anaknya lagi hingga detik ini.


Ramon tahu hal itu dari kerabat yang kebetulan bertemu Ramzi tengah terlunta-lunta di jalanan. Ramon bergegas menyusul Ramzi dan berniat membawa sang adik pulang ke rumah orangtua mereka. Namun sayangnya Ramzi marah dan menolak bantuan sang kakak.


" Kamu pasti mau menertawakan Aku kan Mas ?. Ternyata Kamu benar !. Wanita pilihanku cuma wanita breng**k, matre dan ga tau terima kasih. Aku yang mengangkat derajatnya dari orang miskin menjadi orang yang layak diperhitungkan di lingkungannya, tapi dia malah meninggalkan Aku. Bahkan dengan sombongnya dia bilang kalo dia ga bisa hidup susah. Padahal dulu Aku memungutnya dari tempat sampah...!" kata Ramzi lantang sambil berurai air mata.


" Jangan banyak ngomong Ramzi !. Aku ga punya banyak waktu untuk mendengar keluh kesahmu. Sekarang Kamu mau ikut Aku pulang atau ga ?. Kalo mau, cepetan berkemas. Kalo ga mau, jangan harap Aku bakal datang lagi untuk menjemputmu walau pun Abah marah dan menggantungku di atas pohon...!" kata Ramon ketus.


Ucapan Ramon kala itu memang terdengar tak bersahabat. Padahal sesungguhnya Ramon sedang berusaha mengendalikan perasaannya melihat kondisi Ramzi yang mengenaskan.


Ramzi adalah adik kesayangan yang selalu ia utamakan dalam segala hal. Namun saat Ramzi mengenal cinta, semua berubah. Ramzi menjadi sosok pembangkang dan sulit diatur. Bahkan ia memilih menikahi wanita itu meski pun tanpa restu kedua orangtua mereka.


Ramon merasa hancur saat melihat Ramzi pergi. Hatinya terluka dan saat itu juga kasih sayangnya untuk Ramzi menguap entah kemana tanpa sisa.


Tapi saat Ramon melihat kondisi Ramzi yang mengenaskan membuat rasa sayangnya kembali tumbuh tanpa ia sadari. Mungkin itu lah ikatan sejati antara dua saudara yang berasal dari rahim yang sama.


" Apa Aku salah Mas...?" tanya Ramzi mengusik lamunan Ramon.


" Kamu nanya apa Zi...?" tanya Ramon.


" Aku tanya, apa Aku salah telah memilih istri dan anakku daripada kedua orangtua Kita...," sahut Ramzi dengan suara bergetar.


" Di sini bukan tentang salah atau ga. Tapi tentang bagaimana Kamu membagi dengan adil kasih sayangmu pada semua orang yang penting di hidupmu. Orangtua Kita adalah orang terpenting karena melalui mereka lah Kita ada di dunia ini. Meski pun Kamu menikah dan memiliki keluarga baru, bukan berarti Kamu mengabaikan orangtua dan keluargamu tempat dimana Kamu tumbuh dan besar selama ini...," kata Ramon gusar.


" Atau jangan-jangan ini hukuman dari Allah karena Aku meninggalkan orangtua Kita Mas. Allah membalasnya melalui anak istriku untuk mengingatkan Aku betapa sakitnya Mamak dan Abah saat Aku pergi dulu...," kata Ramzi lirih.

__ADS_1


" Masuk akal. Bagaimana pun hukuman Allah kepada orang yang menyakiti orangtuanya langsung dibayar cash di dunia, tunai tanpa jeda. Beda dengan dosa lainnya yang harus menunggu hari hisab untuk mendapatkan balasannya...," kata Ramon hingga membuat Ramzi sedih.


" Aku ingin menebus semua kesalahan di masa lalu ku Mas. Aku hanya ingin Mamak mengampuni Aku...," kata Ramzi sambil mengusap matanya yang basah.


" Bagus. Mulai lah dengan mengambil hati Mamak. Ga akan sulit karena Kamu selalu dengan mudah memenangkan hati Mamak dulu...," kata Ramon sambil tersenyum tipis.


Ramzi ikut tersenyum mendengar ucapan sang kakak. Ia yakin bisa mendapatkan hati sang ibu seperti dulu.


\=\=\=\=\=


Meski baru memperoleh informasi setengah dari yang dia inginkan, Rex terpaksa pulang lebih dulu ke Jakarta karena tuntutan tugas.


Rex meninggalkan ruangan rawat inap Ramzi setelah berpamitan pada ayah dan Omnya itu.


" Apa Kamu udah pamit sama Ibu dan Nenek...?" tanya Ramon saat mengantar sang anak ke loby Rumah Sakit.


" Kenapa Kamu keliatan ga tenang gitu, ada apa Nak...?" tanya Ramon.


" Aku belum dapat petunjuk soal Zada Yah. Padahal Aku pengen banget bantuin Zada mengungkap kematiannya. Eh, bukannya dapat info malah tambah bingung...," sahut Rex.


" Kok tambah bingung, emangnya kenapa...?" tanya Ramon.


" Soalnya Aku malah ngeliat peristiwa yang bikin Aku bingung. Tapi terakhir Aku sempet ngeliat Zada dalam wujud yang lain. Waktu Aku tanyain malah dia pergi dengan meninggalkan teka-teki..., " sahut Rex kesal.


Melihat sikap sang anak membuat Ramon iba. Ia menepuk pundak Rex untuk memberi dukungan. Ramon tahu jika sang anak cukup repot mengolah informasi yang diberikan oleh teman tak kasat matanya itu.

__ADS_1


" Sabar Nak. Ga usah buru-buru mengejar karena Kamu yang bakal repot sendiri nanti. Buktinya saat Kamu fokus sama masalah Zada justru Kamu abai sama kesehatanmu sendiri. Kamu jadi lupa makan dan istirahat. Untung Kamu ga lupa sholat. Kalo sampe Kamu lupa semuanya kayanya Ayah mau bawa Kamu ke psikolog deh...," gurau Ramon hingga membuat Rex tertawa.


" Iya Yah. Aku juga baru ngeh kalo Aku sampe begadang dan melewatkan makan malam beberapa hari ini cuma karena ngejar arwahnya Zada...," sahut Rex di sela tawanya.


" Saran Ayah ga usah ngoyo. Mereka punya cara untuk menyampaikan sesuatu sama Kamu. Jadi Kamu harus sabar. Daripada Kamu maksa nyebrang dimensi tapi ga bisa balik kan malah gawat tuh...," kata Ramon sungguh-sungguh.


" Iya, makasih Yah. Aku janji ga bakal kaya gitu lagi...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Bagus. Daripada Kamu fokus sama teman tak kasat matamu itu, kenapa Kamu ga cari teman yang nyata untuk pendamping hidupmu Nak...?" goda Ramon.


" Maksud Ayah pacar atau Istri...?" tanya Rex.


" Iya lah. Kenapa kaget gitu sih. Kamu normal kan...?" tanya Ramon penuh selidik sambil menatap Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Astaghfirullah aladziim. Ayah meragukan kemampuanku...?!" tanya Rex sambil menutupi area pribadinya dengan kedua telapak tangannya.


" Ga juga. Cuma khawatir aja. Soalnya jaman sekarang kan banyak cowok macho tapi menyimpang...," sahut Ramon cuek.


" Maksud Ayah apa nih...?" tanya Rex mulai tak enak hati.


" Ayah ga sembarangan ngomong kok, ini semua berdasarkan fakta yang Ayah liat dengan mata kepala Ayah sendiri. Selama beberapa hari mondar-mandir di sini ga sekali pun Ayah ngeliat Kamu berinteraksi sama perempuan. Padahal banyak juga yang terang-terangan memperlihatkan ketertarikan mereka sama Kamu. Misalnya perawat dan keluarga pasien lain yang keliatan curi-curi pandang sama Kamu. Tapi kok Kamu keliatan cuek aja, padahal mereka cantik-cantik lho. Ayah jadi mikir, jangan-jangan Kamu punya kelainan karena ga tertarik sama lawan jenis...," sahut Ramon sambil melirik kesal kearah sang anak.


" Ayah !. Aku normal Yah...!" kata Rex gusar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena khawatir pembicaraan konyol itu didengar orang lain.


" Masa ?. Buktiin dong, jangan cuma ngomong doang...," kata Ramon sambil membalikkan tubuhnya kearah lain dan meninggalkan Rex begitu saja.

__ADS_1


Rex menatap kepergian ayahnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya jika ayahnya meragukan kemampuannya untuk mendekati lawan jenis.


\=\=\=\=\=


__ADS_2