
Setelah bicara empat mata dengan Lilian akhirnya Shezi memutuskan menerima lamaran Rex.
" Tapi Kita ga langsung nikah ya Kapten. Bisa kan kalo Kita tunangan dulu...?" tanya Shezi hati-hati.
" Ga masalah Zi, Aku setuju. Selain itu ngurus dokumen pernikahan juga butuh waktu yang ga sebentar. Jadi sambil ngurus semua dokumen yang diperlukan, Kita bisa belajar mengenal satu sama lain. Begitu kan maksud Kamu Zi...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut Shezi malu-malu.
" Ok. Makasih udah nerima lamaran Aku ya Zi. Maaf kalo terkesan memaksa. Tapi lambat laun Kamu akan mengerti dan bisa melihat keseriusanku menjalani pernikahan ini...," kata Rex sambil tersenyum hingga membuat Shezi ikut tersenyum.
" Ehmmm..., ayo Rex, udah malam nih. Ga enak kelamaan bertamu di kost-an putri...," kata Gama mengingatkan.
" Ok, kalo gitu Aku pamit ya. Assalamualaikum calon Istri...," kata Rex sambil mengusap pipi Shezi dengan lembut.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Shezi dengan wajah merona.
Rex pun masuk ke dalam mobil dengan wajah berbinar. Kebahagiaan Rex membawa aura positif hingga membuat keluarganya ikut tersenyum bahagia.
\=\=\=\=\=
Di hari-hari berikutnya Rex dan Shezi pun bertambah sibuk. Selain sibuk bekerja, mereka juga sibuk mempersiapkan dokumen pernikahan mereka.
Hubungan Rex dan Shezi yang tak harmonis itu pun perlahan mulai membaik. Meski tak ada kata romantis seperti pasangan pada umumnya, namun keduanya tampak nyaman saja menjalaninya.
" Kapten Rex datang tuh Zii...!" panggil Tia dari ambang pintu.
" Iya, makasih Ti...!" sahut Shezi sambil tersenyum.
Namun senyum Shezi memudar saat melihat Rex tak sendiri. Saat itu Rex datang bersama seorang wanita cantik yang dikenali Shezi sebagai mantan kekasih Rex.
Rex menoleh dan tersenyum saat melihat Shezi keluar dari apotik dan mendekat kearahnya.
" Assalamualaikum Zii...," sapa Rex sambil tersenyum.
" Wa alaikumsalam Kapten...," sahut Shezi balas tersenyum.
" Apa kabar Zi...?" sapa Aksara sambil mengulurkan tangannya.
" Alhamdulillah baik, apa kabar dokter...?" tanya Shezi sambil menyambut ukuran tangan Aksara.
" Aku lagi sibuk Zi. Mau buka klinik sendiri...," sahut Aksara.
" Lho, bukannya dokter masih praktek di Rumah Sakit besar itu?. Apa masih bisa bagi waktu, kan dokter sibuk...?" tanya Shezi.
" Aku udah resign Zi. Ada masalah yang ga bisa Aku jelasin sama Kamu yang bikin Aku resign dari sana...," sahut Aksara sambil tersenyum kecut.
" Oh gitu...," kata Shezi sambil melirik kearah Rex.
" Punya tempat praktek sendiri kan lebih enak Zi, bebas ga diatur orang, terserah Aku mau buka jam berapa aja karena tempat itu Aku yang punya...," lanjut Aksara hingga membuat Shezi tersenyum.
__ADS_1
" Wah selamat ya dok, semoga sukses...," kata Shezi antusias.
" Makasih Zi...," sahut Aksara sambil tersenyum lebar.
" Terus rencana buat jadiin apotik ini rekan kerja Kamu gimana Sa...?" tanya Rex.
" Oh iya, untung diingetin. Aku udah ketemu sama pemilik apotik ini dan beliau setuju nyediain beberapa jenis obat yang Aku perlukan nanti. Sebenernya bisa aja Aku langsung ke produsennya, tapi Aku lebih nyaman begini. Bisa nambah teman dan bisa berbagi rezeqi juga...," sahut Aksara.
Shezi pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Tak lama kemudian Aksara pamit karena harus pergi ke tempat lain.
" Ayo Rex, Kita harus cepet sebelum mereka tutup...," ajak Aksara sambil melangkah lebih dulu menuju mobil miliknya yang terparkir di depan apotik.
" Ok. Aku pergi dulu ya Zi. Aku udah janji bakal bantu Aksara nyiapin pembukaan kliniknya. Gapapa kan...?" tanya Rex.
" Kenapa harus tanya pendapat Aku. Itu hidup Kamu, jadi terserah Kamu bagaimana mau mengisinya Kapten...," sahut Shezi cuek.
" Duh manisnya calon Istriku. Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum...," pamit Rex sambil mengusap kepala Shezi dengan lembut.
" Wa alaikumsalam...," sahut Shezi sambil menepis tangan Rex hingga membuat Rex tertawa.
Setelahnya Rex masuk ke dalam mobil dimana Aksara menunggunya. Shezi melepas kepergian Rex dan Aksara sambil menghela nafas panjang.
" Kok Lo biarin mereka pergi berdua sih Zi. Lo ga khawatir mereka CLBK...?" tanya Tia saat Shezi kembali ke dalam apotik.
" Kapten Rex belum jadi Suami Gue Ti, Gue belum punya hak untuk ngelarang dia...," sahut Shezi.
" Ga perlu Ti. Lagipula rencana pernikahan Gue sama Kapten Rex kan bisa aja batal kalo ga diijinkan sama Allah. Jadi ya nyantai aja lah. Kalo emang berjodoh, Kami pasti menikah. Kalo ga jodoh, ya berharap dikirim pengganti yang lebih baik aja nanti...," sahut Shezi sambil berlalu.
\=\=\=\=\=
Aksara tampil cantik di acara pembukaan klinik miliknya. Dengan gaun selutut berwarna merah terang membuat gadis itu terlihat mencolok diantara kerumunan orang yang ada di dalam klinik.
Azam dan Itje nampak berdiri mendampingi sang putri menyambut para tamu. Dan diantara para tamu terlihat keluarga Rex. Sedangkan Rex tak terlihat karena masih di perjalanan.
" Selamat untuk pembukaan kliniknya ya Sa. Ini bagus banget...," kata Lilian yang didampingi Gama.
" Makasih Kak...," sahut Aksara.
" Tante salut sama Kamu Sa. Bisa bikin klinik kaya gini butuh keberanian dan tekad yang kuat lho Sa...," kata Lanni.
" Yang pasti modal yang ga sedikit Bu Lanni...," sela Itje sambil tersenyum.
" Iya Bu, itu mah ga usah diomongin lagi. Ngeliat wujud klinik ini Saya yakin Aksara pasti ngeluarin uang yang sangat banyak untuk membangunnya...," sahut Lanni sambil tersenyum.
" Nah itu Rex datang...," kata Gama sambil menunjuk ke parkiran di depan klinik.
Kedua mata Aksara nampak berbinar saat melihat kehadiran Rex. Apalagi saat itu Rex mengenakan out fit berupa hem batik berwarna biru dengan celana panjang hitam yang membuatnya terlihat makin gagah.
Aksara bergegas menghampiri Rex dan menyambutnya secara khusus. Itu membuat Lanni dan Lilian saling menatap sambil tersenyum penuh makna.
__ADS_1
" Kita mulai sekarang ya Sa...," kata Itje.
" Iya Ma. Kita ke sebelah sana yuk Rex...," ajak Aksara sambil menggamit lengan Rex.
" Aku di sini aja Sa...," tolak Rex sambil menepis lembut tangan Aksara.
" Oh gitu. Tapi jangan jauh-jauh ya...," pinta Aksara yang diangguki Rex.
Kemudian Aksara naik ke podium mini untuk menyampaikan kata sambutan. Di sana ia menyebutkan nama beberapa orang istimewa yang telah membantunya, salah satu diantaranya adalah Rex.
" Kenapa Kamu ga ngajak Shezi, Rex...?" tanya Lilian.
" Shezi lagi banyak kerjaan Kak. Dia ga enak sama temen-temennya karena harus bolak balik minta ijin lagi...," sahut Rex.
" Tapi Kamu datang sendiri gini bisa bikin Aksara salah paham lho Rex...," kata Lilian.
" Kakak tenang aja. Aku tau kok apa yang harus Aku lakukan...," sahut Rex sambil tersenyum.
Tak lama kemudian para tamu diarahkan pada acara inti berupa aksi pengguntingan pita sebagai simbol pembukaan klinik. Tepuk tangan pun membahana mengiringi senyum Aksara yang menggunting pita bersama kedua orangtuanya.
Setelahnya para tamu bergantian mengucapkan selamat pada Aksara dan kedua orangtuanya itu. Hingga tiba lah giliran untuk Rex dan keluarganya memberi ucapan selamat.
" Selamat ya Aksara, semoga kliniknya rame dan Kamu sukses terus..., " kata Lanni mewakili keluarganya.
" Makasih Tante...," sahut Aksara sambil tersenyum.
" Setelah ini Kita bisa melanjutkan rencana Kita yang tertunda ya Bu Lanni...," kata Itje tiba-tiba.
Ucapan Itje membuat keluarga Rex terdiam dan saling menatap bingung. Ramon pun menatap Rex dengan tatapan tajam karena paham arah pembicaraan Itje.
" Maaf, maksud Bu Itje rencana yang mana ya...?" tanya Lanni hati-hati.
" Rencana pernikahan Rex dan Aksara dong Bu, apalagi emangnya...," sahut Itje sambil tertawa kecil.
Ucapan Itje lagi-lagi membuat keluarga Rex terdiam. Sedangkan Aksara nampak menundukkan wajahnya karena malu.
" Rex...," panggil Lanni seolah meminta Rex menyelesaikan semuanya.
Rex mengangguk lalu maju mendekati Itje. Mengira jika Rex akan meminang anaknya, Itje pun nampak tersenyum lebar.
" Maaf Tante. Tapi hubungan Saya dan Aksara udah lama berakhir. Saya dan keluarga Saya hadir sebagai bentuk penghargaan atas pertemanan Kami...," kata Rex hati-hati.
" Iya Rex, Tante tau itu. Tapi moment kali ini juga pas untuk memperbaiki hubungan Kalian lho. Kalo Kamu mau, Tante juga bisa ngijinin Kamu untuk nikahin Aksara sekarang juga...," kata Itje cepat.
" Tapi Saya udah punya calon Istri Tante. Kebetulan Saya juga bawa undangan pernikahan Kami untuk Tante dan keluarga...," sahut Rex sambil menyerahkan dua kartu undangan berwarna hijau lumut dengan motif keemasan itu kepada Itje.
Itje dan Aksara nampak membeku di tempat. Mereka tak percaya jika Rex memberi kejutan tak terduga di hari bahagia mereka.
bersambung
__ADS_1