Kidung Petaka

Kidung Petaka
123. Ditangkap


__ADS_3

Malam itu juga suster Tami disidang di dalam ruangan. Dokter Farhan yang menjadi hakim dan meminta penjelasan kepada suster Tami.


Wanita itu nampak kesulitan bicara karena Rex memiliki bukti dan saksi. Rupanya Rex tahu niat jahat suster Tami dan mempersiapkan segalanya lebih awal.


Elvira dan dokter Lita tampak tak percaya sekaligus malu dengan sikap suster Tami. Mereka tak menyangka jika suster Tami berani melakukan aksi tak bermoral itu.


" Saya mencintai Kapten Rex...," kata suster Tami sambil menundukkan wajahnya.


" Saya ga yakin Kamu mencintai Kapten Rex. Karena bukan seperti ini cara mencintai seseorang Suster. Ini lebih mirip obsesi daripada cinta...!" kata dokter Farhan sambil menggebrak meja.


Semua orang terdiam dan saling menatap. Sedangkan Rex hanya duduk menunggu sidang selesai tanpa mau bicara sepatah kata pun.


" Saya minta maaf dok...," kata suster Tami sambil mengangkat wajahnya yang berurai air mata itu.


" Jangan minta maaf sama Saya. Kamu udah bikin malu team kesehatan tau ga ?. Apa kata mereka kalo tau salah satu relawan yang mereka banggakan memiliki kelakuan minus kaya Kamu !. Memalukan...!" kata dokter Farhan ketus.


" Sa... Saya bakal mengundurkan diri dan pulang ke Indonesia secepatnya dok...," kata suster Tami dengan suara bergetar.


" Ok, itu jauh lebih baik. Kapten Rex berbaik hati membiarkan Kamu tinggal dan bergabung dengan team lain. Tapi karena Kamu terlalu liar dan sulit dikendalikan, Saya setuju jika Kamu pulang ke Indonesia Suster Tami...," kata dokter Farhan sambil melengos.


Suster Tami pun menunduk dalam-dalam. Ia merasa tak punya muka lagi untuk tetap berada di sana. Dengan langkah gontai suster Tami berjalan meninggalkan 'ruang sidang'. Saat melintas di samping Rex, wanita itu berhenti dan menatap Rex.


" Maafkan Saya Kapten. Saya juga ga ngerti kenapa Saya jadi seperti ini. Sekali lagi maaf...," kata suster Tami sungguh-sungguh.


" Lupakan Suster Tami. Bersiap lah. Sebentar lagi akan ada orang yang datang menjemput Kamu. Saya sudah minta tolong pihak kedutaan untuk mengirim Kamu pulang ke Indonesia secepatnya...," kata Rex tanpa menatap lawan bicaranya.


Ucapan Rex mengejutkan suster Tami. Ia tak menyangka jika Rex bertindak selangkah lebih maju. Ternyata sebelum ia mengajukan diri untuk pulang, Kapten Rex telah lebih dulu mengurus kepulangannya. Di titik ini suster Tami sadar jika Rex bukan lah orang sembarangan yang bisa ia permainkan.


Sambil menangis suster Tami masuk ke dalam kamarnya dan berkemas. Sedangkan dokter Farhan mendekat kearah Rex dengan wajah yang tak terbaca.


" Atas nama team kesehatan Saya minta maaf Kapten...," kata dokter Farhan yang diangguki dokter Lita dan perawat lain.


" Santai aja dok. Saya tau Kalian ga terlibat sama sekali dalam masalah ini. Saya juga minta maaf karena terpaksa mengirim Suster Tami pulang lebih awal...," sahut Rex sambil tersenyum kecut.


" Gapapa Kapten. Jika ini yang terbaik buat Kita, Saya ga keberatan kok...," kata dokter Farhan sambil tersenyum hingga membuat Rex menghela nafas lega.

__ADS_1


" Apa Kapten benar-benar sudah menghubungi kedutaan dan mengurus kepulangan Suster Tami...?" tanya dokter Lita hati-hati.


" Iya. Kenapa dok, apa Anda ga percaya sama kinerja Saya...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Oh bukan. Saya kira Kapten hanya bercanda tadi...," sahut dokter Lita salah tingkah.


" Masalah yang dibuat Suster Tami bukan candaan, jadi Saya juga menyikapinya dengan serius. Bukan kah harusnya begitu dokter...?" tanya Rex sambil tersenyum penuh makna.


" Iya iya. Terserah Kamu Kapten...," sahut dokter Lita sambil berlalu diikuti Elvira.


Rex dan dokter Farhan nampak tertawa kecil melihat tingkah dokter Lita.


\=\=\=\=\=


Sejam Setelah kepergian suster Tami bersama utusan dari kedutaan besar Indonesia, Taufan menghubungi Rex.


" Sorry lagi rapat tadi. Makanya ponsel ga Gue aktifin. Ada apa Rex...?" tanya Taufan.


" Gue mau kasih info penting tentang mayat pria tak dikenal itu Fan...," sahut Rex cepat.


Kemudian Rex menceritakan mimpinya tentang Herdin.


Mungkin untuk sebagian orang terdengar aneh saat mimpi dijadikan petunjuk mengungkap kasus kejahatan. Tapi bagi Taufan yang telah mengenal Rex cukup lama, hal itu menjadi wajar dan bisa diterima akal sehat. Karena sebelumnya Taufan pernah mendapat bantuan dari Rex melalui petunjuk dalam mimpi untuk mengungkap kasus kejahatan yang menjadi tanggung jawabnya.


" Nama securitynya siapa Rex...?" tanya Taufan.


" Gue ga tau Fan...," sahut Rex.


" Ciri-cirinya deh...," pinta Taufan setengah memaksa.


" Orangnya sedikit gemuk, berkulit gelap...," sahut Rex.


" Lebih spesifik lagi Rex...," kata Taufan tak sabar.


" Oh iya. Ada tanda lahir berwarna coklat di pelipis kirinya...," sahut Rex.

__ADS_1


" Siiipp, Gue tau siapa orangnya. Sejak awal Gue udah curiga sama dia. Thanks ya Rex, Gue jadi yakin buat nangkap orang itu setelah Lo kasih info penting ini...," kata Taufan antusias.


" Sama-sama Fan, makasih juga karena udah bantu bebasin Gama dari tuduhan ga berdasar itu...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Iya Rex. Kalo gitu Gue koordinasi sama anak buah Gue dulu biar penjahatnya ga keburu kabur ya Rex...," kata Taufan.


" Ok, hati-hati Fan. Assalamualaikum...!" kata Rex mengakhiri percakapannya dengan Taufan.


\=\=\=\=\=


Dalam waktu singkat Taufan bersama jajaran polisi berhasil menangkap para penjahat yang terlibat dalam kematian Herdin.


Meski pun tak menjadi berita utama di media massa, namun penangkapan Kusmanto cs tetap membuat gempar warga yang tinggal di sekitar taman tempat mayat Herdin ditemukan.


Saat ditangkap Kusmanto cs sedang menikmati uang haramnya itu di sebuah lokalisasi. Kusmanto tak berkutik saat digelandang ke kantor polisi.


Dan ketika diinterogasi polisi Kusmanto mengakui telah menjebak beberapa temannya termasuk Herdin lalu membunuh dan mengambil organ tubuh mereka. Kusmanto cs juga menjual organ tubuh korbannya pada orang yang membutuhkan.


" Siapa penghubung Kamu dengan para pemesan...?" tanya polisi.


" Kami ga punya penghubung Pak...," sahut Kusmanto.


" Terus darimana Kalian tau kalo ada orang yang membutuhkan organ dalam...? " tanya polisi.


" Kami mencari informasi di Rumah Sakit Pak. Biasanya Kami menyebar informan untuk mendapatkan info pasien mana yang sedang menunggu organ dalam untuk dicangkokkan di tubuh mereka...," sahut Kusmanto.


Jawaban Kusmanto sempat membuat para polisi geleng-geleng kepala saking herannya.


" Terus berapa orang yang sudah Kamu tipu dan Kamu bunuh...?" tanya polisi.


" Bukan Saya yang membunuh mereka Pak. Tugas Saya hanya mencari orang sehat untuk diambil organ dalamnya...," sahut Kusmanto cepat.


" Iya Saya tau. Justru itu Saya tanya Kamu. Kan Kamu yang menjemput dan membawa mereka ke Jakarta. Jangan bilang kalo Kamu lupa sama teman-temanmu sendiri. Padahal mereka ikut Kamu dengan harapan besar bakal merubah nasib. Tapi kenapa Kamu tega ngelakuin itu Kusmanto...," kata polisi tak percaya.


Kusmanto terdiam. Ia menundukkan wajahnya sambil mengingat wajah kedelapan temannya yang telah meregang nyawa itu. Kusmanto ingat bagaimana ekspresi kedelapan temannya saat mereka diikat di tiang sebelum dihabisi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2