
Beberapa saat kemudian sepasang suami istri jelmaan siluman biawak itu menoleh kearah Rex dan ustadz Akbar. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Rex untuk bertanya.
" Apa Kau masih ingin melanjutkan pertempuran Kita...?" tanya Rex sambil memasang sikap siaga.
" Tidak. Aku dan Istriku menyerah kalah...," sahut pria jelmaan siluman biawak sambil menggelengkan kepala.
" Bagus. Sekarang pergi lah. Jalani kehidupan Kalian seperti seharusnya. Jangan coba mencampuri sesuatu yang bukan ranahmu. Aku hanya ingin Kalian fokus membesarkan anak-anak Kalian dan jadikan mereka anak-anak yang baik...," kata ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Terima kasih karena tak membunuh satu pun Anakku. Aku janji akan membuat keluargaku bahagia dengan caraku dan tak mencampuri urusan Kalian lagi. Kami pergi sekarang...," kata pria jelmaan siluman biawak itu dengan takzim.
" Silakan dan hati-hati...," kata ustadz Akbar.
Sepasang suami istri jelmaan siluman biawak itu nampak menundukkan kepala sejenak lalu berbalik.
Rex dan ustadz Akbar melepas kepergian keluarga siluman biawak itu sambil tersenyum. Mereka melihat kedua siluman biawak itu tampak asyik bicara dengan anak-anak mereka yang jumlahnya belasan itu. Tubuh anak-anak biawak yang seukuran cicak dewasa itu nampak melekat erat di tubuh kedua orangtuanya. Sesekali tawa terdengar dari kedua siluman biawak itu pertanda mereka tengah bahagia.
Tiba-tiba langkah kedua siluman biawak itu terhenti. Keduanya menoleh kearah Rex dan ustadz Akbar. Mereka tersenyum sambil melambaikan tangan. Rex membalas lambaian tangan mereka sambil tersenyum. Dan sesaat kemudian keluarga siluman biawak itu lenyap tanpa bekas.
" Alhamdulillah..., " kata Rex dan ustadz Akbar bersamaan.
Kemudian keduanya melangkah perlahan menuju halaman depan.
" Masih ada satu tugas lagi yang menunggu Kita Mas Rex...," kata ustadz Akbar hingga membuat Rex mengerutkan keningnya.
" Satu tugas lagi, tugas apa Ustadz...?" tanya Rex tak mengerti.
" Cowok yang mengganggu mimpi Elvira masih mengintainya. Dan nampaknya akan sulit lepas. Dan itu akan berpengaruh buruk untuk masa depan Elvira...," sahut ustadz Akbar sendu.
Rex nampak iba mendengar ucapan sang ustadz. Ia mengusap punggung sang ustadz untuk sekedar memberi suport. Ustadz Akbar pun tersenyum saat menyadari dirinya yang sedikit cengeng karena memikirkan Elvira.
" Maaf Mas Rex, Saya jadi melow ya...," kata ustadz Akbar tak enak hati.
" Gapapa Ustadz, Saya maklum kok. Wajar Ustadz prihatin sama masa depan Bu Elvira karena Ustadz menyayangi dia...," sahut Rex bijak.
__ADS_1
" Mas Rex betul. Saya begini karena kasian sama Elvira. Dia sendirian menanggung semuanya karena dua orangtuanya sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Saya sempat menegur adik Saya yang notabene adalah Ayah Elvira. Tapi keliatannya dia udah patah arang untuk menemui Elvira. Dia bilang hanya menunggu moment yang tepat untuk bertemu Elvira...," kata ustadz Akbar.
" Apa Ustadz juga udah bilang sama mereka apa yang dialami Bu Elvira sekarang...?" tanya Rex.
" Saya hanya bicara sama Ashar karena dia Adik kandung Saya Mas. Saya ga mungkin menemui Ibunya Elvira. Selain khawatir fitnah, Saya malas berdebat dengan ibunya Elvira yang keras kepala dan egois itu. Buktinya dia tega menjodohkan Vira dengan pria yang seusia dengannya tanpa memikirkan perasaan Vira...," sahut ustadz Akbar.
Pembicaraan keduanya terhenti saat mereka tiba di depan rumah. Elvira nampak mendekat dengan wajah cemas.
" Gimana Pakde, apa mereka berhasil diusir...?" tanya Elvira.
" Alhamdulillah mereka udah pergi Nak...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Alhamdulillah. Apa itu artinya Kami bebas Pakde...?" tanya Elvira.
" Insya Allah mereka aman tapi Kamu masih harus berjuang Nak...," sahut ustadz Akbar jujur.
" Maksud Pakde berjuang untuk apa...?" tanya Elvira was-was.
" Cowok yang ada di mimpimu itu masih berkeliaran dan akan terus mengejarmu sampe keinginannya terwujud...," sahut ustadz Akbar lirih.
" Keinginan untuk menikahimu dan menjadikanmu miliknya...," sahut ustadz Akbar hingga mengejutkan Elvira dan Rex.
" Me... menikah...?" tanya Elvira gugup.
" Iya Nak...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Tapi itu mustahil Pakde. Dunia Kita sama dia kan berbeda. Aku manusia sedangkan dia siluman...," kata Elvira gusar.
" Ga ada yang ga mungkin Nak. Sudah banyak kejadian manusia menikah dengan siluman. Apalagi mereka punya kemampuan lebih di atas manusia dan itu lah yang mereka manfaatkan untuk mewujudkan keinginannya. Tapi Kamu jangan takut. Manusia dianugerahi akal pikiran oleh Allah. Itu jauh lebih baik dan cukup untuk menghadapi mereka...," kata ustadz Akbar.
" Jadi Aku harus gimana Pakde ?. Aku ga mau nikah sama siluman itu Pakde, Aku ga mau...," rengek Elvira sambil mengguncang lengan sang ustadz.
Melihat Elvira yang rapuh membuat sisi hati Rex sedikit tergelitik. Ia tak menyangka jika Elvira juga memiliki sisi lemah di balik ketangguhan yang ia perlihatkan selama ini.
__ADS_1
" Sabar Nak. Insya Allah Pakde akan membantumu mencari jalan keluar. Tapi Pakde minta maaf karena ga bisa membantumu sekarang. Energi Pakde sudah terkuras habis hari ini. Karena sebelum ke sini Pakde juga sudah membantu meruqyah orang lain. Pakde ga menerima telephonmu tadi karena sedang meruqyah orang. Tapi waktu Mas Rex bilang terjadi sesuatu yang buruk di sini, Pakde langsung ke sini walau pun Pakde lelah. Jadi tolong beri Pakde waktu untuk menyiapkan amunisi ya...," bujuk ustadz Akbar.
" Berapa lama Pakde...?" tanya Elvira.
" Seminggu...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Apa ga bisa lebih cepat Pakde. Aku ga nyaman sama kehadirannya. Sekarang dia bahkan berani menampakkan diri di kamar dan menunggui Aku tidur...," kata Elvira panik.
" Menunggui Kamu tidur ?. Itu bahaya Vira. Bisa-bisa dia melecehkanmu saat Kamu tidur. Ya Allah, kenapa baru bilang sekarang Vir. Ini bahaya Vira, tau ga sih Kamu...?!" tanya ustadz Akbar panik.
" Aku ga tau Pakde. Aku pikir masalah Adik-adik lebih penting. Makanya Aku ngalah dan berniat menceritakan ini nanti. Tapi pas Pakde bilang cowok itu berniat menikahiku, Aku jadi takut...," sahut Elvira gusar.
Ustadz Akbar menelan saliva nya dengan sulit karena bingung. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Elvira tapi ia juga tak sanggup membantu saat ini.
Untuk sesaat suasana hening menyelimuti tempat itu. Ustadz Akbar dan Elvira terlihat tegang dan itu membuat Rex tak nyaman.
" Ehm, maaf Ustadz. Kalo Ustadz percaya, ijinkan Saya membantu...," kata Rex tiba-tiba.
Ustadz Akbar dan Elvira menoleh kearah Rex. Entah mengapa ucapan Rex bagai oase di padang pasir untuk ustadz Akbar. Ia tersenyum lalu merengkuh bahu Rex.
" Insya Allah Saya percaya Kamu Mas Rex. Saya senang karena Kamu mau membantu. Terima kasih...," kata ustadz Akbar dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama. Selagi bukan sesuatu yang aneh, insya Allah akan Saya usahakan untuk membantu Ustadz...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Sebentar Kapten. Sesuatu yang aneh tuh maksudnya gimana ya Kapten...?" tanya Elvira dengan mimik wajah tegang.
" Sesuatu yang aneh itu seperti menikah misalnya...," sahut Rex.
" Menikah...?!" tanya Elvira tak percaya.
" Iya. Ada beberapa kejadian mistis yang mengharuskan korbannya menikah dengan orang lain untuk menyelamatkannya dari jerat siluman. Karena katanya siluman atau makhluk halus itu hanya mengganggu orang yang single alias ga punya pasangan. Dan saat orang yang diganggu itu menikah, maka gangguan itu lenyap dengan sendirinya..., " sahut Rex menjelaskan.
Penjelasan Rex membuat Elvira terdiam sambil mengerjapkan kedua matanya dengan bingung. Sedangkan ustadz Akbar tampak mengamati interaksi Rex dan Elvira dalam diam.
__ADS_1
bersambung