Kidung Petaka

Kidung Petaka
108. Saahh...!


__ADS_3

Gama menyambut kedatangan Lilian dengan senyum mengembang. Ia mengulurkan tangannya kearah Lilian yang disambut antusias oleh sang mempelai wanita.


Setelah Gama dan Lilian duduk berdampingan, prosesi ijab kabul pun dimulai. Ketegangan nampak menyelimuti sepasang pengantin itu. Hingga tiba di acara inti dimana Ramon dan Gama saling berjabat tangan sambil mengucapkan kalimat sakral itu.


" Ananda Gama Pramudia bin Gondo, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung Saya Lilian Adinifara binti Ramon dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas dan rumah type 70/100 dibayar tunai...!" kata Ramon dengan mata berkaca-kaca.


" Saya terima nikah dan kawinnya Lilian Adinifara binti Ramon dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai...!" sahut Gama lantang.


" Bagaimana saksi...?" tanya penghulu.


" Sah ! saahhh...!" sahut saksi dan para tamu.


Suasana yang semula hening pun menjadi gaduh dengan ucapan Ipung, Edi dan Riki yang berteriak lantang menyaingi suara saksi yang duduk di samping pengantin.


Semua orang tertawa begitu pun Gama dan Lilian. Ketegangan yang sempat menyelimuti sirna seketika. Apalagi saat doa dilantunkan oleh sang penghulu, air mata pun tak luput ikut serta mewarnai.


Setelah menandatangani dokumen pernikahan, Gama dan Lilian diminta saling berhadapan. Gama menyerahkan mahar pernikahan berupa rumah yang telah dibelinya itu kepada Lilian.


" Karena ga mungkin menyerahkan rumah secara langsung, makanya dilakukan secara simbolis aja ya Pak Bu. Kasian pengantinnya kalo harus membopong rumah segede itu ke sini...," gurau sang penghulu hingga membuat semua orang tertawa.


" Iya, Kami mengerti Pak...," sahut Ramon di sela tawanya.


" Nah, silakan Mas Gama. Serahkan anak kunci dan sertifikat rumah yang Kamu jadikan mahar pernikahan tadi kepada Istrimu. Mulai hari ini, rumah itu jadi milik Istrimu dan dia berhak sepenuhnya atas rumah itu. Apa Kamu tau kalo Kamu ga lagi berhak atas rumah itu ?. Jadi segala sesuatu yang akan Kalian lakukan atas rumah itu harus sepengetahuan Mbak Lilian. Mengerti...?" tanya sang penghulu.


" Siap Pak, Saya mengerti...," sahut Gama mantap.


" Bagus. Dan Mbak Lilian, rumah itu memang menjadi milikmu. Tapi ada baiknya Kamu mendiskusikan apa pun yang hendak Kamu lakukan pada rumah itu dengan Suamimu ini. Bagaimana pun, mulai hari ini Mas Gama lah yang akan bertanggung jawab pada kehidupan dunia dan akhiratmu kelak. Mengerti...?" tanya sang penghulu.


" Iya Pak, Saya mengerti...," sahut Lilian dengan suara bergetar.

__ADS_1


" Bagus. Sekarang ikuti Saya ya Mas Gama...," kata sang penghulu.


Gama pun mengikuti kalimat yang diucapkan sang penghulu saat menyerahkan mahar kepada Lilian. Setelahnya Lilian mencium punggung tangan Gama dengan takzim hingga membuat Gama tersentuh. Ia pun mengecup kening Lilian untuk beberapa saat hingga suara tepuk tangan para tamu menyadarkannya.


Di tempatnya masing-masing empat orangtua kedua mempelai nampak duduk sambil menahan tangis melihat anak-anak mereka menikah.


Acara selanjutnya yang menguras air mata adalah acara sungkeman. Semua orang terharu melihat sepasang pengantin memohon restu kepada orangtua dan mertuanya itu. Diantara mereka terlihat Rex yang juga mengenakan seragam keluarga tampak tak kuasa menahan haru. Kedua matanya pun berkaca-kaca menyaksikan dua orang yang ia sayangi menikah.


" Titip Kak Lian ya Gam. Tolong sayangi dia, lindungi dia, dan bimbing dia...," kata Rex saat Gama menjabat tangannya.


" Iya Rex, insya Allah Gue bakal lakuin semua tanpa diminta karena Lian adalah Istri Gue dan jadi tanggung jawab Gue mulai sekarang...," sahut Gama lalu memeluk Rex dengan erat.


" Kalo Lo ga suka atau bosan sama dia, kembalian dengan cara baik-baik. Ga usah pake ribut. Lo tinggal bilang sama Gue, biar Gue yang jemput Kak Lian nanti...," kata Rex saat Gama memeluknya erat.


Gama terkejut sesaat namun ia mengerti dan meyakinkan sahabat sekaligus adik iparnya itu.


" Insya Allah itu ga akan terjadi Rex. Perjuangan Gue untuk sampe di titik ini sulit, Lo tau itu. Mana mungkin Gue menyia-nyiakan semuanya begitu aja. Selama ini Gue cukup tangguh menghadapi sikap Lilian. Gue yakin saat jadi Suaminya, Gue bakal punya cara jitu untuk menaklukkannya...," sahut Gama sambil tersenyum penuh makna.


\=\=\=\=\=


Rex sedang duduk di luar sambil menyaksikan langit malam yang dihiasi bulan dan taburan bintang. Rex nampak tersenyum bahagia karena telah menyerahkan tanggung jawabnya menjaga Lilian kepada Gama.


Rex menoleh ke dalam saat terdengar tawa menggema di aula gedung tempat resepsi pernikahan Gama dan Lilian digelar.


" Tempat indah dan rame gini kenapa terasa sepi ya...," gumam Rex sambil tersenyum kecut.


" Itu karena hatimu yang gundah. Makanya yang semua terpampang indah dan menarik di hadapanmu tak berarti apa-apa untukmu...," kata ustadz Akbar dari belakang Rex.


Rex menoleh dan tersenyum lalu bergegas mencium punggung tangan sang ustadz dengan takzim.

__ADS_1


" Pak Ustadz sama siapa ke sini...?" tanya Rex.


" Diantar keponakan tadi. Tapi dia langsung pergi karena ada pekerjaan yang menanti...," sahut ustadz Akbar.


" Kalo gitu, biar Saya yang antar Pak Ustadz pulang nanti. Boleh kan...?" tanya Rex menawarkan diri.


" Ga perlu. Saya bisa naik Taxi nanti. Kamu kan anggota keluarga inti, pasti masih banyak yang harus diurus...," tolak ustadz Akbar.


" Tapi Pak Ustadz...," ucapan Rex langsung dipotong cepat oleh sang ustadz.


" Lain kali aja. Saya ga mau Kamu malah kena masalah karena mengantar Saya pulang...," kata ustadz Akbar sambil tersenyum.


" Baik lah Pak Ustadz...," sahut Rex pasrah.


" Jadi mempelai wanita adalah Kakak kandung Kamu Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar.


" Iya Ustadz. Yang cowok sahabat Saya, yang wanita Kakak kandung Saya...," sahut Rex bangga.


" Masya Allah, pernikahan yang unik ya. Terus Kamu kapan menyusul...? " tanya ustadz Akbar.


" Saya masih belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini Pak Ustadz. Tapi andai Allah tetapkan Saya menikah dalam jangka waktu dekat, Saya ga bisa bilang apa-apa karena itu di luar kendali Saya. Saat ini Saya lagi fokus sama karir Saya. Apalagi sebentar lagi Saya mau berangkat ke Afrika dalam misi kemanusiaan, jadi ga adil rasanya memberi harapan pada anak gadis orang. Buat Saya hubungan LDR itu sulit. Daripada selalu diselimuti prasangka, lebih baik ga usah ada hubungan dengan wanita mana pun untuk saat ini...," sahut Rex panjang lebar.


" Begitu ya. Kok Saya jadi kepikiran sama keponakan Saya yang tadi nganterin Saya ke sini ya...," kata ustadz Akbar.


" Hah..., maksudnya gimana Pak Ustadz...?!" tanya Rex panik hingga membuat sang ustadz tertawa geli.


" Keponakan Saya itu perempuan Mas Rex. Karakternya sebelas dua belas lah sama Mas Rex. Makanya Saya langsung inget dia waktu Mas Rex ngomong tadi...," kata ustadz Akbar di sela tawanya.


" Ooohh... gitu. Saya Kirain cowok. Bisa adu pedang dong Saya sama dia...," sahut Rex sambil nyengir hingga membuat sang ustadz kembali tertawa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2