
Kini Lilian dan Bobi telah duduk berhadapan. Lilian nampak gugup dan berkali-kali membuang tatapannya kearah lain karena tak sanggup membalas tatapan Bobi.
" Akhirnya Kita bisa ketemu juga ya Li. Lumayan lama lho Aku nunggu moment kaya gini...," kata Bobi membuka percakapan hingga membuat Lilian tersenyum.
" Mmm..., iya Bob. Eh, bukannya Kamu bilang ada yang mau diomongin ya tadi. Kamu mau ngomong apaan Bob...?" tanya Lilian.
" Oh itu. Minum dulu deh Li, biar lebih santai...," kata Bobi sambil meraih cangkir berisi kopi di hadapannya.
Lilian mengangguk lalu mengikuti jejak Bobi. Setelah meneguk es lemon tea beberapa teguk, Lilian kembali menatap Bobi. Kali ini Lilian tak bisa menghindar karena Bobi juga sedang menatapnya dengan intens sambil mulai mengucapkan kalimat yang mengejutkan Lilian.
" Aku cuma mau minta maaf sama Kamu Lian. Maaf karena udah bikin Kamu ga nyaman atas sikapku. Aku mau jujur kalo Aku memang menyukai Kamu Lian. Aku juga udah minta ijin sama Rex untuk ngedeketin Kamu. Sayangnya perasaanku bertepuk sebelah tangan, jadi Aku memutuskan untuk mundur...," kata Bobi sambil tersenyum kecut.
Ucapan Bobi mengejutkan Lilian. Ia tak menyangka jika upayanya menghindari Bobi selama ini justru telah membuat Bobi patah hati. Lilian merasa jika rasa yang dimilikinya untuk Bobi ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Bagaimana tidak ?. Di saat ia siap memupuk rasa yang mulai tumbuh itu, Bobi justru berhenti mengharap cintanya.
Lilian kecewa karena usaha Bobi tak segigih yang ia inginkan. Namun Lilian tak ingin memaksa Bobi mempertahankan cintanya karena ia pun tak tahu bagaimana perasaannya terhadap Bobi.
" Aku juga minta maaf karena udah bikin Kamu kecewa dengan sikapku. Aku ga bermaksud mempermainkan Kamu Bob...," kata Lilian dengan suara lirih.
" Gapapa Li, Aku paham kok. Cinta kan ga bisa dipaksa. Apalagi awal pertemuan Kita terjadi dalam situasi yang kurang menyenangkan. Tapi Aku mau tegaskan sekali lagi kalo selama ini Kamu salah paham sama Aku Li...," kata Bobi.
" Maksud Kamu salah paham gimana Bob...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Aku bukan orang yang kasar dan gemar main tangan Li. Aku memang pernah memukul Oki saat dia melakukan kesalahan besar. Dan itu terjadi dua kali, hanya dua kali. Pertama saat Bapakku meninggal dunia. Aku memukulnya karena dia ngamuk dan itu mengganggu proses pemakaman Bapak. Kedua saat Oki melukai Ibuku dengan kakinya. Setelahnya Aku menyesal dan berjanji dalam hati untuk ga memukulnya lagi kecuali dalam keadaan darurat. Aku sadar kalo Oki dan Oliv perlu perhatian karena mereka kehilangan figur Bapak saat remaja. Sekarang Aku berusaha menjadikan diriku sebagai kakak sekaligus ayah untuk kedua adikku itu...," kata Bobi dengan suara bergetar.
" Aku tau Bob. Rex udah pernah cerita tentang itu. Aku minta maaf karena udah salah sangka sama Kamu...," sahut Lilian tak enak hati.
" Gapapa Li. Mulai sekarang bisa kan kalo Kita berteman Li...?" tanya Bobi.
" Tentu, Aku ga keberatan kok...," sahut Lilian sambil tersenyum.
" Makasih...," kata Bobi sambil menghela nafas lega.
" Sama-sama..., " sahut Lilian.
" Sekarang Aku lega karena bisa berangkat tanpa beban...," kata Bobi.
" Berangkat, berangkat kemana Bob...?" tanya Lilian.
" Tugas ke perbatasan Indonesia - Malaysia Li. Aku juga bakal ngajak Ibu dan kedua adikku pindah ke sana. Kayanya Kami perlu suasana baru. Aku harap Oki dan Oliv bisa beradaptasi dengan cepat di sana...," sahut Bobi cepat.
__ADS_1
" Mungkin ini yang terbaik. Kamu bisa menjalankan tugas sekaligus mengawasi kedua Adikmu itu...," kata Lilian sendu.
" Betul Li...," kata Bobi sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Baik lah. Selamat jalan Bobi...," kata Lilian sambil mengulurkan tangannya.
Bobi tersenyum lalu menyambut uluran tangan Lilian dan menggenggamnya dengan erat. Bobi nampak berusaha menahan debaran jantungnya yang mengg*la karena bisa menyentuh tangan Lilian.
" Aku pergi ya Li. Jaga dirimu baik-baik dan semoga bahagia...," kata Bobi dengan tulus.
" Iya Bob, makasih. Semoga Kamu juga bisa menemukan wanita yang lebih baik dari Aku dan bahagia bersamanya...," sahut Lilian dengan kedua mata berkaca-kaca.
Bobi mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
" Mau Aku antar Li...?" tanya Bobi basa basi.
" Ga usah Bob, Aku naik Taxi aja. Kan Taxi yang tadi masih nunggu di depan...," sahut Lilian.
Bobi kembali mengangguk lalu mengantar Lilian ke parkiran kafe. Setelah Taxi yang ditumpangi Lilian menjauh, Bobi pun melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Lilian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Kemudian ia berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata. Lilian pun kembali teringat pembicaraannya dengan Bobi tadi.
Tanpa Lilian sadari air mata pun jatuh menitik di wajahnya. Lilian tak mengerti mengapa ia menangis. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri, harus sedih atau bahagia dengan kepergian Bobi.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan Lilian bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
" Kak Lian...!" panggil Rex sambil terus mengetuk pintu.
" Iya Rex, sebentar...!" sahut Lilian sambil meraih handuk lalu bergegas membuka pintu kamar.
Rex pun menatap Lilian yang sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk.
" Ada apa Rex...?" tanya Lilian.
" Bobi pergi Kak..." sahut Rex cepat.
" Aku tau. Dia udah bilang tadi...," kata Lilian sambil duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
" Kakak ga mencegah kepergiannya...?" tanya Rex.
" Untuk apa...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Bukannya Kakak juga suka ya sama Bobi.Jangan bilang Kakak ga tau kalo Bobi itu cinta mati sama Kakak...," kata Rex gusar.
" Aku tau, tapi untuk apa Aku nahan Bobi supaya ga pergi. Cewek itu butuh tempat sandaran yang kuat Rex termasuk Aku. Bukan cowok yang ga punya prinsip dan gampang nyerah model Bobi. Kalo dia ga mau berjuang untuk mempertahankan, Kakak juga ga mau berjuang sendiri...," sahut Lilian ketus.
Rex terkejut mendengar ucapan sang kakak. Rex merasa jika kakaknya menyimpan kecewa untuk Bobi.
" Gapapa Rex, Kakak baik-baik aja kok. Kami memutuskan untuk berteman aja. Dan apa yang bakal terjadi ke depannya, biar waktu yang bicara. Kalo Kami ditakdirkan bersama, segigih apa pun menolak pasti akan bersatu juga. Iya ga...?" tanya Lilian santai.
" Iya Kak...," sahut Rex.
" Lagipula Bobi masih harus fokus mendidik kedua adiknya. Dia butuh waktu yang ga sedikit untuk meluluhkan mereka. Semoga di tempat yang baru dia dan keluarganya bisa hidup lebih baik...," kata Lilian dengan tulus.
" Aamiin...," sahut Rex sambil tersenyum.
Dalam hati Rex bangga dengan sikap sang kakak. Ternyata Lilian masih mau memikirkan kebahagiaan kedua adik Bobi daripada mengedepankan rasa kecewanya akan sikap dan keputusan Bobi tentang hubungan mereka.
" Aku yakin suatu saat nanti Kakak bakal menemukan pria yang jauh lebih baik daripada Bobi. Pria yang tangguh dan kuat seperti yang Kakak mau...," gumam Rex sambil menatap Lilian.
\=\=\=\=\=
Setelah Rex mendengar suara senandung aneh di parkiran Rumah Sakit, sebuah peristiwa aneh pun terjadi.
Lilian bercerita jika telah terjadi pelecehan se*ual pada seorang pasien di toilet Rumah Sakit. Anehnya sang pasien mengatakan jika semua terjadi tanpa ia sadari.
" Kok bisa dia ga ngeh waktu dilecehkan. Emang kejadiannya kapan...?" tanya Rex penasaran.
" Iya Rex. Kejadiannya si malam hari. Makanya pihak Rumah Sakit ragu-ragu mau laporin kasus ini ke Polisi. Apalagi keluarga pasien juga minta kasus ini ditutup dan ga usah dilaporin ke Polisi. Mereka malu kalo kabar buruk ini tersiar di kalangan keluarga dan kerabat...," sahut Lilian.
" Jadi mereka sengaja membiarkan pelakunya bebas...?" tanya Rex tak percaya.
" Iya...," sahut Lilian cepat.
" Apa mereka ga khawatir kalo pelakunya bakal mengulangi perbuatannya itu sama dia atau wanita lain. Kan bahaya tuh Kak...," kata Rex gusar.
" Mudah-mudahan sih ga terjadi lagi ya Rex...," sahut Lilian sama gusarnya.
__ADS_1
Rex menganggukkan kepalanya lalu mengalihkan tatapannya ke buku yang sedang dibacanya. Walau tampak fokus dengan buku di hadapannya, Lilian tahu jika sang adik penasaran dengan ceritanya tadi. Bahkan Lilian yakin jika Rex akan mulai menyelidiki kasus itu secara diam-diam.
\=\=\=\=\=