Kidung Petaka

Kidung Petaka
110. Hari Pertama


__ADS_3

Saat tiba di salah satu negara miskin di benua Afrika, Rex dan rekan-rekannya terpaku. Mereka tak menyangka jika kondisi di sana sangat memprihatinkan.


Suasana kota yang mereka datangi lebih mirip kota mati. Karena sepi dan hanya sedikit orang yang terlihat. Tak ada aktifitas yang mencolok karena pergerakan ekonomi di sana seolah tak terlihat sama sekali.


Tak ada orang berjual beli di pasar, anak-anak berlarian di sekolah atau orang yang berlalu lalang di kantor. Yang ada hanya hamparan jalan lengang dengan rumah kumuh yang hampir semua pintunya tertutup.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Apa Kita bakal tinggal di sini Kapten...?" tanya salah seorang rekan Rex.


" Iya. Rombongan dipecah jadi beberapa regu. Dan regu Kita dikirim ke sini. Kenapa...?" tanya Rex sambil menatap rekannya.


" Gapapa, cumaa...," ucapan rekan Rex terputus karena Rex memotong cepat.


" Setidaknya Kita lebih beruntung daripada mereka. Dan sudah seharusnya Kita bersyukur karena negara Kita ga semiskin ini. Yah, walau ada juga masyarakat yang tinggal di tempat kumuh, tapi kan hanya sebagian kecil aja. Selebihnya negara Kita bisa dibilang makmur dan layak untuk menjadi rumah untuk tempat kembali...," kata Rex dengan suara tercekat.


" Betul Kapten. Kita memang harus lebih bersyukur dengan apa yang sudah Kita miliki. Tempat ini justru mirip kawasan bencana karena terlalu sepi. Padahal begini lah kehidupan mereka sehari-hari. Terasing dan terlunta-lunta...," sahut rekan Rex lainnya sambil menatap hamparan negeri yang sangat memprihatinkan itu.


Rex dan rekan lainnya mengangguk. Mereka terdiam di dalam truk sambil mengamati sepanjang jalan dan rumah-rumah yang mereka lewati.


Truk pembawa rombongan TNI dan relawan kemanusiaan itu mulai mendekati sebuah bangunan yang mirip aula besar di tepi tanah lapang. Truk berhenti dan Rex turun lebih dulu lalu disusul pasukannya.


Mereka disambut oleh dua orang pria berkulit hitam yang merupakan salah satu karyawan pemerintahan di sana.


Rex menyapa dan menjabat tangan keduanya sambil tersenyum. Ketiganya terlibat pembicaraan serius dalam bahasa Inggris. Rex tampak mendengarkan ucapan mereka yang beberapa kali menunjuk ke bangunan besar di belakang mereka itu.


Setelah pembicaraan yang panjang, Rex pun mengangguk. Kemudian ia menoleh kearah pasukannya sambil tersenyum. Tak lama kemudian Rex berjalan menghampiri pasukannya yang sudah dalam posisi berbaris itu.


" Sekarang bersiap-siap untuk menggulung lengan baju, karena tugas sudah menanti Kita. Apa semua siap...?!" tanya Rex lantang.


" Siap Kapten...!" sahut pasukan lantang.


" Bagus. Letakkan barang Kalian di dalam sana dan kembali ke sini secepatnya...!" perintah Rex.


" Siap Kapten...!" sahut pasukan yang kemudian bergegas berlari ke satu-satunya bangunan yang ada di tanah lapang itu.

__ADS_1


Rex mengamati pasukannya sambil tersenyum tipis. Tiba-tiba Rex dikejutkan dengan suara lantang seorang wanita yang menanyakan nasib mereka.


" Lalu Kami gimana Kapten ?. Apa Kami ga disediakan tempat...?!" tanya seorang wanita berjaket denim sambil menatap Rex penuh harap.


Rex menoleh dan melihat ada tiga wanita dan dua pria di sana yang berdiri dalam kondisi bingung. Rex menepuk dahinya karena sempat melupakan anggota regu yang datang bersamanya tadi. Mereka adalah dua dokter, dua perawat dan satu guru.


" Maaf, Saya lupa. Untuk sementara Kalian bisa meletakkan barang Kalian di dalam truk dulu. Kami akan membuat sekat agar ruangan para wanita ga bercampur dengan ruangan tentara dan pria lainnya. Kami juga akan membangun tenda untuk tempat masak dan tempat kesehatan nanti...," kata Rex sambil menatap wanita yang bicara itu dengan lekat.


" Ok. Kalo gitu Kami bisa bantu menyiapkan makanan dan minuman untuk semuanya. Jadi saat tugas para tentara selesai Kita bisa langsung makan. Gimana Kapten...?" tanya wanita bernama Elvira itu.


" Ide bagus. Silakan Kalian atur tempatnya dan Kita bisa mulai sekarang...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Baik Kapten, makasih...," sahut Elvira sambil balas tersenyum.


Kemudian wanita berjaket denim itu mengajak empat orang yang bersamanya untuk mulai menyiapkan makanan. Namun lagi-lagi mereka menghadapi kendala.


" Ga ada air untuk masak...," keluh seorang wanita yang tak lain adalah dokter bernama Lita.


" Di bagian belakang biasanya kan ada sumur atau sumber air...," kata seorang pria yang juga rekan dokter bernama Farhan.


Dokter Farhan pun bergegas menghampiri Rex dan menceritakan apa yang terjadi.


" Di sini memang ga ada air. Kita harus nunggu kiriman air bersih. Sekarang mobil mereka lagi di jalan dok, sebentar lagi datang...," kata Rex berusaha menenangkan sang dokter.


" Oh gitu. Maaf Kapten, Saya ga bermaksud rusuh. Saya hanya menyampaikan keluhan para ibu aja. Mereka bingung, mau masak tapi ga ada air...," kata dokter Farhan tak enak hati.


" Gapapa dok, Saya paham kok. Saya yakin Kita semua yang ada di sini sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Bukan begitu dok...?" tanya Rex dengan santai.


" Betul Kapten...," sahut dokter Farhan cepat.


" Nah, yang Kita omongin udah datang tuh...," kata Rex sambil menunjuk mobil pengangkut air bersih yang baru saja tiba.


Dokter Farhan menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


" Alhamdulillah..., " gumam dokter Farhan.


Rex menghampiri supir truk tanki dan bicara beberapa kalimat sambil menunjuk ke samping gedung. Supir truk nampak mengangguk lalu melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud.


Truk tanki pembawa air bersih itu berhenti di bagian belakang gedung sesuai arahan Rex. Karena di sana lah rencananya semua kegiatan yang berkaitan dengan air akan dibangun.


" Apa truk Tanki hanya mengangkut air segini Kapten...?" tanya dokter Lita.


" Untuk hari ini rencananya dia bakal balik lagi ke sini dok. Tapi besok dan selanjutnya dia hanya akan datang sekali sehari...," sahut Rex.


" Lho kenapa...?" tanya dokter Lita tak mengerti.


" Hari ini pengecualian karena mereka menganggap Kita tamu. Selain itu Kita memang memerlukan banyak air untuk mandi dan semuanya. Tapi selanjutnya Kita harus menghemat air karena mereka juga harus mengirim air ke wilayah lain. Dokter tau kan kalo di sini musim panas dan banyak warga yang kekurangan air...," sahut Rex.


" Saya tau. Apa itu cukup Kapten ?. Jumlah Kita lumayan banyak lho...?" kata dokter Lita mengingatkan.


" Insya Allah cukup dok. Kita akan buat sumur sendiri nanti biar ga usah nunggu kiriman air lagi. Gimana dok...?" tanya Rex sambil menatap dokter Lita.


" Kita ?. Maksud Kapten...?" tanya dokter Lita.


" Bapak-bapak tentara ini sudah terlatih dan handal di lapangan dokter Lita. Jangan ragukan kemampuan mereka dengan pertanyaanmu itu. Yang penting Kamu duduk manis dan lakukan tugasmu dengan baik. Urusan yang lain biar diurus sama Kapten Rex dan pasukannya. Ngerti kan...?" tanya dokter Farhan menengahi.


Ucapan dokter Farhan membuat wajah dokter Lita bersemu merah karena malu. Ia mengangguk lalu bergegas menjauh dari Rex.


" Maafkan rekan Saya itu Kapten...," kata Farhan.


" Gapapa dok. Saya udah biasa ngadepin yang kaya gitu...," sahut Rex dengan santai.


" Masa sih. Jangan-jangan pacar dokter Rex juga cerewet kaya dokter Lita ya...?" tanya dokter Farhan sambil tersenyum usil.


" Bukan pacar tapi Kakak kandung Saya dok. Omongannya lebih pedes dan suaranya lebih nyaring dari dokter Lita atau perempuan mana pun yang pernah Saya temui...," sahut Rex sambil tertawa.


Dokter Farhan pun ikut tertawa mendengar penjelasan Rex.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2