Kidung Petaka

Kidung Petaka
167. Segede Buaya


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rex menemui kedua orangtuanya di ruang tengah.


" Udah sholat Isya Nak...?" tanya Lanni sambil meletakkan makanan ringan di atas meja.


" Udah di jalan tadi Bu...," sahut Rex sambil mengusak rambutnya yang basah.


" Terus gimana ceritanya Rex...?" tanya Ramon tak sabar.


" Jadi dugaan Kita kalo Zada meninggal ga wajar itu benar Yah. Ternyata Zada memang meninggal karena ditabrak...," sahut Rex.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Terus yang nabrak ketangkep ga...?" tanya Ramon.


" Ketangkep dong. Dan Ayah tau siapa tersangka utamanya...?" tanya Rex.


" Siapa ?, anaknya Bu Arini atau justru Bu Arini yang nabrak Zada...?" tanya Ramon sedikit kesal.


" Ayah salah. Yang nabrak tuh pacarnya Andra alias calon menantunya Bu Arini...," sahut Rex cepat hingga mengejutkan Ramon dan Lanni.


Kemudian Rex menceritakan semuanya termasuk tentang meninggalnya Karsih.


" Ya Allah, sehari semalam Kamu di sana pulang-pulang malah bawa cerita banyak ya Nak...," kata Lanni terharu.


" Iya Bu...," sahut Rex.


" Apa itu artinya Zada memaafkan Karsih Nak...?" tanya Ramon penasaran.


" Kok cara bertanya dan isi pertanyaan Ayah sama banget sama Nenek. Salut deh ngeliat Ayah kompak sama Nenek...," kata Rex sambil tersenyum.


" Kan Ayah anaknya Nek Rusminah, jadi wajar kalo Kami kompak dan sehati...," sahut Ramon bangga.


" Jadi Zada maafin Karsih ga...?" tanya Lanni penasaran.


" Iya Bu, Zada maafin Bu Karsih...," sahut Rex hingga membuat Ramon dan Lanni tersenyum.


" Ceritanya dilanjut nanti lagi ya, Ayah lapar nih. Kita makan dulu yuk...," ajak Ramon sambil bangkit menuju ruang makan.


" Iya Yah...," sahut Lanni dan Rex bersamaan lalu mengekori Ramon.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya Rex datang berkunjung ke rumah ustadz Akbar. Beruntung saat itu ustadz Akbar sedang berada di rumah.


Setelah saling bertanya kabar, Rex pun mulai menceritakan maksud kedatangannya. Ustadz Akbar menyimak cerita Rex dengan seksama.


" Jadi begitu Ustadz. Kira-kira Ustad berkenan membantu ga...?" tanya Rex hati-hati.

__ADS_1


" Insya Allah Saya siap membantu Mas Rex. Kebetulan Saya juga penasaran sama teman Mas Rex itu...," sahut ustadz Akbar.


" Maksudnya gimana Ustadz...?" tanya Rex tak mengerti.


" Gapapa. Jadi kapan Kita ke sana Mas...?" tanya ustadz Akbar mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Insya Allah lusa ya Ustadz, setelah Saya turun piket. Saya jemput sekitar jam sepuluh pagi...," sahut Rex.


" Sebaiknya bada Dzuhur aja Mas Rex. Jadi Mas Rex masih sempet Istirahat. Kan katanya Mas baru turun piket, biasanya kan kurang tidur tuh. Kalo berangkat bada Dzuhur kan Mas Rex bisa tidur dulu sebentar. Jadi pas berangkat ke sana kondisi Mas Rex lebih fit...," kata ustadz Akbar mengingatkan.


Ucapan ustadz Akbar membuat Rex terharu. Ia pun mengangguk setuju dengan saran sang ustadz.


" Iya Ustadz, Saya setuju...," sahut Rex sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Elvira baru saja keluar dari area sekolah dan sedang berjalan menuju halte yang ada di depan SMP swasta itu.


Elvira merupakan guru yang ramah dan disayangi murid-muridnya. Elvira juga dikenal sebagai guru silat yang handal. Sekolah mereka beberapa kali menjuarai lomba pencak silat berkat bimbingan Elvira.


Hari itu sekitar jam dua siang, Elvira pulang lebih awal setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Elvira berjalan pelan menyusuri trotoar di pinggir jalan. Tak sengaja tatapan Elvira membentur sosok hewan melata yang bertengger di atas kursi halte yang memang sedang sepi itu.


Kemudian Elvira mengurungkan niatnya ke halte dan berbalik arah. Ia memilih menumpang ojeg motor yang mangkal di dekat gerbang sekolah.


Elvira bernafas lega saat berhasil lepas dari biawak itu. Namun itu hanya sesaat. Karena saat tiba di depan panti asuhan, Elvira kembali melihat biawak itu tengah menunggu di gerbang panti dan itu membuat Elvira panik.


Saat itu lah Elvira sadar jika biawak yang dilihatnya bukan lah biawak biasa. Karena mustahil rasanya biawak itu bisa berlari secepat kilat dan tiba lebih dulu di depan panti. Apalagi jalan yang ditempuh dari sekolah ke panti bukan jalan yang mudah.


Menyadari penumpangnya terdiam di jok belakang, tukang ojeg motor itu pun menoleh.


" Maaf, udah sampe Bu...," kata tukang ojeg.


" Oh, Iya Pak. Mmm..., sebentar ya Pak...," sahut Elvira gugup sambil tetap duduk di atas motor.


" Kenapa Bu, ga bawa uang ya...?" tanya sang tukang ojeg hati-hati karena tak ingin menyinggung Elvira.


" Bawa Pak, ini uangnya. Saya cuma takut sama binatang itu Pak...," sahut Elvira sambil menunjuk kearah biawak di gerbang panti.


Sang pengemudi ojeg motor itu melihat kearah yang ditunjuk Elvira dan terkejut melihat sosok biawak besar tengah menatap kearah mereka. Di penglihatan si tukang ojeg biawak itu berukuran cukup besar dan mirip buaya.


" Itu bukan biawak Bu, tapi buaya. Kalo biawak ga segede itu. Kok bisa ada buaya di sini, gimana nasib Anak-anak panti kalo diserang buaya segede itu Bu...!" kata sang tukang ojeg ikut panik.


Ucapan sang tukang ojeg mengejutkan Elvira karena akhirnya ada orang lain yang juga melihat penampakan biawak itu. Selama ini Elvira merasa jika hanya dirinya yang diganggu dengan penampakan hewan itu.

__ADS_1


Tiba-tiba biawak itu bergerak. Nampaknya hewan reptil itu melangkah kearah Elvira. Karena panik, tukang ojeg kembali menstarter motornya lalu melajukan motornya perlahan untuk menghindari kejaran biawak itu.


Di saat bersamaan Rex dan Ustadz Akbar tiba di depan panti dan ikut menyaksikan penampakan biawak itu.


" Bu Elvira...!" panggil Rex sambil menghentikan motornya.


Elvira menoleh dan tersenyum lega saat melihat kehadiran Rex di sana. Apalagi saat itu Rex tengah bersama seorang pria bersorban yang diyakini Elvira sebagai ustadz yang akan membantu menolongnya.


" Tolong berhenti Pak...," pinta Elvira sambil menepuk bahu sang tukang ojeg.


Tukang ojeg berhenti dan Elvira bergegas turun. Tukang ojeg itu pergi setelah menerima pembayaran dari Elvira dan yakin Elvira tak sendiri menghadapi biawak itu.


Elvira menoleh saat motor Rex berhenti tepat di sampingnya. Ustadz Akbar turun lalu menyapanya.


" Elvira, ternyata Kamu disini Nak...?" tanya ustadz Akbar sambil membuka helm yang dipakainya.


" Pakde Akbar...?!" kata Elvira senang lalu menghambur ke pelukan sang ustadz.


Sang ustadz pun tertawa lalu balas memeluk Elvira sambil menepuk punggung gadis itu dengan lembut. Rex tersenyum menyaksikan kedekatan dua orang di hadapannya itu.


" Jadi Bu Elvira ini keponakan Ustadz...?" tanya Rex saat Elvira dan ustadz Akbar mengurai pelukan mereka.


" Iya Mas Rex. Papinya Elvira ini Adik Saya...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.


" Nanti aja ngobrolnya Pakde. Sekarang tolong Aku ngusir biawak itu dulu ya...," pinta Elvira sambil menunjuk kearah biawak yang berada tak jauh dari mereka.


Seolah tersadar dengan kehadiran biawak berukuran besar itu, Rex dan ustadz Akbar pun menoleh.


" Abaikan aja. Dia ga bakal berani menyentuhmu Vira...," kata ustadz Akbar sambil menatap lekat biawak itu.


" Maksudnya gimana Pakde...?" tanya Elvira tak mengerti.


" Pakde jelasin nanti. Sekarang sebaiknya Kita pergi dari sini...," sahut ustadz Akbar.


" Kita masuk ke dalam panti aja Bu Elvira...," saran Rex.


" Tapi gimana caranya Kapten. Biawak itu...," ucapan Elvira terputus karena ustadz Akbar memotong cepat.


" Biar Pakde duluan dan Kamu jalan di belakang Pakde...," kata ustadz Akbar sambil menggandeng tangan Elvira.


Saat ustadz Akbar dan Elvira melintas di depannya, biawak besar itu nampak mengamati dengan tatapan tajam seolah tak suka. Kemudian setelah Rex melintas dengan motornya, biawak itu lenyap begitu saja.


Rex tersenyum kecut saat tak melihat keberadaan biawak itu lagi di tempat semula. Sedangkan Elvira nampak menghela nafas lega saat berhasil lolos dari kejaran biawak itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2