
Mobil yang Rex tumpangi memasuki Jakarta saat sore hari. Seperti biasa, jalan raya lumayan padat saat sore hari karena bersamaan dengan jam pulang kerja.
" Duh macet lagi...," keluh beberapa penumpang sambil melihat keluar jendela dengan gusar.
" Sabar ya Pak, Bu. Maklum udah masuk Jakarta yang memang terkenal sebagai kota macet...," kata supir mobil travel dari balik kemudi.
" Iya Pak, gapapa kok. Pelan-pelan aja, ga usah ngebut yang penting selamat...," sahut seorang penumpang wanita yang diangguki sebagian besar penumpang termasuk Rex.
" Emang ga ada jalan lain ya Pak...?" tanya salah seorang penumpang tak sabar.
" Kalo pun ada jalan lain Kita tetap ga bisa ke sana Pak. Kan jalanan macet, jadi mobil hanya bisa ngikutin arus kendaraan. Kalo mau ke sana otomatis motong arus, ntar malah tambah semrawut dan dimarahin sama supir yang lain Pak...," sahut supir mobil travel sambil tersenyum kecut.
Sang penumpang terdiam kemudian kembali bersandar pada sandaran mobil. Suasana di dalam mobil pun kembali tenang. Suara musik yang sengaja distel oleh pengemudi mobil travel itu cukup menghibur dan mengalihkan rasa bosan yang timbul akibat macet di luar sana.
Tiba-tiba terdengar jeritan tertahan dari salah satu penumpang wanita. Rex yang semula hampir terpejam pun terkejut dan ikut menatap arah yang ditunjuk oleh wanita itu.
" Ya Allah kasian banget tuh cewek...!" kata wanita itu sambil menunjuk keluar jendela.
Di luar sana terlihat seorang wanita tengah berkelahi melawan dua pria berbadan besar yang diyakini sebagai preman. Rupanya wanita itu sedang berusaha merebut tas miliknya yang dijambret oleh kedua preman itu. Rambutnya yang semula digelung rapi terlihat acak-acakan karena harus berjibaku mengejar dua preman itu.
Rex tergerak membantu karena melihat posisi wanita itu sedikit terdesak. Rex pun membuka jendela mobil lebar-lebar lalu melompat keluar.
Kedatangan Rex tepat waktu. Di saat Rex tiba di lokasi perkelahian itu, sang wanita hampir terjengkang ke belakang karena tak seimbang saat mendarat di tanah usai melompat menghindari serangan lawannya. Apalagi wanita itu memang menggunakan high heels saat itu.
Rex menahan tubuh wanita itu lalu menendang kedua preman itu dengan cepat hingga kedua pria itu terhuyung ke belakang sambil memegangi perut masing-masing. Gerakan Rex yang cepat dan tepat sasaran mendapat aplause dari para penumpang mobil.
" Apa Kamu gapapa Mbak...?" tanya Rex sambil menoleh kearah wanita itu.
" Saya ga..., Kapten Rex...?!" panggil wanita itu dengan lantang hingga membuat Rex terkejut lalu mengerjapkan matanya bingung.
" Bu guru Elvira...?!" kata Rex tak percaya.
" Iya. Eh, tapi sebentar. Tas Saya Kapten...!" sahut Elvira sambil menunjuk kedua preman yang lari sambil membawa tas miliknya.
__ADS_1
Rex pun menoleh lalu bergegas mengejar kedua preman diikuti Elvira di belakangnya. Aksi kejar-kejaran pun terjadi di atas trotoar jalan. Kedua preman berbadan besar itu nampak kelelahan setelah lari beberapa saat. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Elvira. Ia berhenti lalu melepas sepatunya dan melemparkannya kearah kedua preman itu.
Pletakk !!
" Aduuuhhh...!" jerit salah satu preman sambil memegangi belakang kepalanya.
" Yesss...!" kata Elvira lantang.
Menyadari lemparannya tepat mengenai sasaran, Elvira pun bersorak gembira. Hal itu sempat membuat Rex tersenyum. Kemudian dengan sigap Rex lanjut mengejar preman lain yang berlari sambil membawa tas milik Elvira.
Kemudian Elvira bergegas menghampiri preman yang berhenti berlari karena terkena lemparannya tadi.
" Balikin tas Gue...!" kata Elvira lantang sambil menarik kerah baju preman itu.
Preman itu meringis lalu menunjuk temannya yang sedang dikejar oleh Rex.
" Tas Lo sama dia, bukan sama Gue...," kata preman itu.
Elvira menatap kearah yang ditunjuk sang preman dan tersenyum saat melihat Rex berhasil meringkus teman preman itu lalu membawanya ke hadapannya.
" Iya iya Bang...!" sahut preman itu sambil mengembalikan tas milik Elvira.
Elvira meraih cepat tas yang disodorkan kearahnya. Setelah menyerahkan tas milik Elvira, kedua preman itu pun bergegas lari meninggalkan Elvira dan Rex.
Melihat Rex dan Elvira berhasil mengalahkan kedua preman itu, para penumpang di dalam mobil yang berderet panjang itu pun bersorak gembira. Mau tak mau Rex dan Elvira pun tersenyum kearah para pengguna jalan raya yang mensuport mereka.
Kemudian Elvira mulai mengecek isi tasnya. Rex nampak sabar menunggu sambil terus mengamati situasi di sekitar mereka.
" Gimana, ada yang ilang ga...?" tanya Rex.
" Alhamdulillah semua aman Kapten. Makasih ya...," sahut Elvira sambil tersenyum.
" Sama-sama. Kok, Kamu bisa kecopetan sih...?" tanya Rex sambil mengamati Elvira dari atas kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
Saat itu Elvira terlihat kacau. Sebagian blousenya nampak keluar dari pinggang celana panjangnya. Gelungan rambutnya terlepas. Jangan lupa sepatunya yang tinggal sebelah itu. Karena model heels sepatu Elvira lumayan tinggi, jadi saat Elvira tak memakai salah satunya membuat posisi berdirinya terlihat lucu. Rex berusaha menahan tawa melihat kondisi wanita tangguh di hadapannya itu.
" Lagi apes aja Kapten, biasanya juga gapapa kok. Saya kan sering lewat sini tapi baru kali ini dijambret...," sahut Elvira santai hingga membuat Rex menggelengkan kepala.
Tak lama kemudian arus kendaraan kembali normal. Deretan mobil yang mengular pun perlahan terurai dan jalan menjadi lancar. Mobil travel yang ditumpangi Rex pun tampak mendekat sambil membunyikan klakson.
" Mau ikut Kami atau mau naik Taxi Mas tentara...?" tanya sang supir dengan ramah.
" Saya naik Taxi aja Pak. Makasih ya...," sahut Rex.
" Iya sama-sama Mas. Lebih baik nganterin pacarnya dulu daripada pulang ke rumah tapi pikiran ga tenang...," kata sang supir sambil melirik Elvira.
Elvira terkejut mendengar ucapan supir travel itu hingga membuat sang supir dan semua penumpang mobil travel tertawa. Kemudian mobil travel pun melaju dengan semua penumpang yang melambaikan tangan kearah Rex dan Elvira.
Rex membalas lambaian tangan mereka sambil tertawa-tawa.
" Kenapa ketawa sih Kapten...?" tanya Elvira tak mengerti.
" Gapapa, lagi pengen ketawa aja...," sahut Rex asal.
Mendengar jawaban Rex membuat Elvira menggedikkan bahunya karena tak paham dengan maksud ucapan sang Kapten.
" Sekarang Kamu mau jalan kaki dengan sepatu sebelah atau mau ikut Saya naik Taxi...?" tanya Rex sambil melirik kearah kaki Elvira.
Seolah baru tersadar jika saat itu hanya memakai satu sepatu, Elvira pun bergegas menghampiri sepatunya yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Yaaah..., patah...," gumam Elvira dengan nada kecewa.
Rex pun tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Elvira. Tak terima ditertawai membuat Elvira kesal. Ia melempar sepatunya yang patah itu kearah onggokan sampah yang terdapat di dekat trotoar.
" Ish, nyebelin...," kata Elvira sambil mengerucutkan bibirnya.
" Ga usah pake gengsi segala. Ayo naik...," ajak Rex tiba-tiba sambil membuka pintu belakang Taxi yang berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
Sambil tersenyum malu-malu Elvira mengangguk lalu masuk ke dalam Taxi. Tak lama Taxi pun melaju cepat membawa sepasang penumpang yang kembali dipertemukan dengan cara yang unik itu.
\=\=\=\=\=