
Setelah berada jauh dari rumah kosong dimana Fadlan cs pernah melakukan permainan jailangkung, ustadz Mahdi pun berhenti. Semua ikut berhenti dan menatap sang Ustadz dengan tatapan penuh tanya.
" Ada apa Ustadz...?" tanya Gama.
" Udah malam, ga enak kalo Kita bawa Anak-anak ini ke masjid. Khawatir malah jadi pusat perhatian dan bikin mereka ga nyaman...," sahut ustadz Mahdi.
" Tapi Kita masih harus melakukan pembersihan supaya pengaruh buruk arwah yeng mengikuti mereka benar-benar hilang...," sela ustadz Akbar.
" Kita bawa ke rumahku aja...," sahut ustadz Mahdi.
" Apa ga ngerepotin Pak Ustadz. Jumlah Kita banyak lho...," kata Komar mengingatkan.
Saat itu Komar juga menggendong Fadlan di belakang tubuhnya. Itu dilakukan karena Fadlan berkali-kali jatuh tersandung saat berjalan tadi.
" Ga masalah...," sahut ustadz Mahdi cepat.
" Ok kalo gitu. Kita ke rumah Ustadz Mahdi sekarang...," kata ustadz Akbar yang diangguki semua orang.
Kemudian mereka berjalan santai sambil terus berdzikir karena begitu lah perintah ustadz Akbar.
Saat tiba di rumah ustadz Mahdi mereka disambut oleh Aisyah. Gadis itu nampak terkejut melihat kedatangan banyak orang.
" Assalamualaikum..., " sapa ustadz Mahdi dan semuanya bersamaan.
" Wa alaikumsalam, ada apa Abi. Kenapa Abi diantar banyak orang, apa Abi sakit ?. Terus kenapa mereka dipapah dan digendong segala...?" tanya Aisyah cemas.
" Duh, Abi jadi bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu. Abis pertanyaan Kamu banyak banget sih...," kata ustadz Mahdi.
" Maaf Abi, Aku kan panik...," sahut Aisyah.
" Nanti Abi jelasin. Sekarang tolong siapin suguhan untuk tamu Kita ya Nak...," pinta ustadz Mahdi.
" Iya Bi...," sahut Aisyah sambil membuka pintu lebar-lebar lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Kemudian ustadz Mahdi mempersilakan semua tamunya masuk ke dalam rumah. Ustadz Akbar nampak berjalan ke samping rumah untuk berwudhu, setelahnya ia masuk ke dalam rumah dan meminta semua orang berwudhu.
" Sekarang semuanya berwudhu ya, Kita lakukan sholat sunah berjamaah di sini. Sekalian Kita doakan dua arwah yang mengganggu Kalian itu supaya tenang di sisi Allah...," kata ustadz Akbar.
" Baik Ustadz...!" sahut Fadlan cs.
Kemudian Fadlan dan teman-temannya bergantian berwudhu. Rex dan Gama pun ikut berwudhu setelah semuanya selesai berwudhu.
Saat kembali ke dalam rumah tampak hamparan karpet terbentang di ruang tamu. Rupanya ustadz Mahdi telah menyiapkan tempat untuk mereka melaksanakan sholat sunah berjamaah.
__ADS_1
Kemudian ustadz Akbar meminta ustadz Mahdi mengimami sholat namun sang tuan rumah menolak.
" Kamu yang mulai jadi Kamu juga yang harus menyelesaikan Bar...," kata ustadz Mahdi sambil tersenyum simpul.
" Kok mirip lagu dangdut ya Pak Ustadz. Yang liriknya Kau yang mulai Kau yang mengakhiri..., Kau yang berjanji Kau yang mengingkari...," sela Rex sambil bernyanyi hingga membuat semua orang tertawa.
" Kok Lo hapal lagu itu sih Rex...?" tanya Gama di sela tawanya.
" Kan di pengungsian kemaren banyak yang nyanyi sambil main gitar buat menghibur diri Gam. Salah satunya ya lagu itu. Saking seringnya denger lagu itu sampe hapal Gue...," sahut Rex sambil tertawa.
Ucapan Rex membuat dua ustadz itu ikut tertawa. Setelahnya ustadz Mahdi menyudahi guyonan mereka dan kembali bicara serius.
" Udah cukup ketawanya. Kita lanjutin ketawanya nanti ya. Sekarang Kita fokus buat sholat sunah berjamaah. Silakan Ustadz Akbar...," kata ustadz Mahdi mempersilakan.
" Baik Ustadz...," sahut ustadz Akbar dengan takzim.
Kemudian sholat sunah berjamaah pun dilakukan. Ustadz Akbar yang mengimami sholat sekaligus memimpin doa untuk mengantar arwah yang mengganggu Fadlan cs ke haribaan Allah.
Setelah selesai berdoa Fadlan cs pun mencium punggung tangan semua orang dengan takzim. Bahkan Fadlan dan Emir memeluk Rex saat bersalaman dengannya.
" Makasih ya Bang...," kata Fadlan sambil memeluk Rex dengan erat.
" Sama-sama. Janji jangan main jailangkung atau sejenisnya lagi ya...," kata Rex sambil menepuk punggung Fadlan dengan lembut.
Emir pun melakukan hal yang sama dan Rex membisikkan sesuatu ke telinga Emir hingga membuat wajah remaja itu bersemu merah.
" Abang yakin bakal sulit buat Kamu lepas dari kenikmatan semu yang pernah dikasih sama makhluk halus itu. Tapi insya Allah dengan puasa dan mengaji Kamu bakal bisa mengendalikan semuanya. Kalo ga tahan juga lebih baik Kamu menikah. Gapapa nikah muda, itu lebih baik daripada Kamu jajan atau menggauli anak orang tanpa ikatan halal...," kata Rex.
" Iya Bang, makasih udah ngingetin Aku...," sahut Emir dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama..., " kata Rex sambil tersenyum.
Setelah prosesi salam-salaman berakhir, Aisyah pun masuk sambil membawa nampan besar berisi minuman hangat. Melihatnya yang sedikit kerepotan Rex dan Gama pun turun tangan membantu.
" Masih ada lagi ga yang harus dibawa keluar Syah...?" tanya Gama.
" Ga ada Mas...," sahut Aisyah sambil menyerahkan dua toples makanan ringan kepada Gama.
" Ok, makasih ya...," kata Gama sambil tersenyum.
" Sama-sama Mas...," sahut Aisyah balas tersenyum.
Melihat interaksi Gama dengan putrinya, ustadz Mahdi pun tersenyum bahagia. Sedangkan Rex nampak menatap Gama dengan tatapan penuh curiga.
__ADS_1
" Cantik ya Gam...," kata Rex sambil meraih gelas berisi kopi dari atas meja.
" Siapa...?" tanya Gama tak mengerti.
" Aisyah lah, masa Lo...," sahut Rex cepat.
" Oh Aisyah. Iya lah cantik. Makanya banyak yang suka, iya ga...?" tanya Gama santai.
" Termasuk Lo, makanya Lo modusin dia daritadi...," kata Rex cepat.
" Oh itu minus Gue Rex...," sahut Gama.
" Kok bisa. Bukannya Lo selalu ada di barisan pertama dalam urusan memikat cewek...?" tanya Rex tak percaya.
" Itu dulu, tapi sekarang mah beda...," sahut Gama cepat.
" Oh ya, kenapa emangnya ?. Jangan-jangan Lo udah punya gebetan baru nih...," tebak Rex.
" Betul. Dia istimewa dan beda dari yang lain. Gue berharap banyak sama dia, kalo bisa malah nikah sama dia dan punya anak yang banyak biar hidup Gue rame dan berwarna...," sahut Gama sambil tersenyum penuh makna.
Jawaban Gama membuat Rex menoleh lalu menatap wajah sang sahabat dengan seksama.
" Lo serius Gam...?" tanya Rex.
" Banget...!" sahut Gama mantap.
" Kok Gue jadi ngeri ya...," kata Rex sambil membuang pandangannya kearah lain.
" Ga usah dipikirin Rex, ntar Lo malah pengen. Lebih baik Lo cepetan cari calon pendamping buat diri Lo sendiri. Jangan calon pacar ya, udah ga cocok sama cowok seumuran Kita. Cari istri itu lebih tepat...," kata Gama dengan mimik wajah serius.
" Ngomong aja Lo. Emangnya Lo udah punya calon...?" tanya Rex.
" Lah Gue kan udah bilang iya, gimana sih Lo. Ga nyimak ya...?!" tanya Gama mulai meninggi.
" Gue kirain ga serius Lo...," sahut Rex sambil menggaruk tengkuknya.
" Serius lah...," sahut Gama lalu meneguk kopinya dengan cepat.
Rex menatap Gama dengan tatapan tak percaya karena merasa dia melewatkan sesuatu. Bukan kah selama ini mereka saling terbuka. Tapi mengapa ia tak tahu apa pun tentang calon pendamping yang dimaksud Gama tadi ?.
Pikiran Rex masih terus berputar untuk menebak siapa wanita yang tengah dekat dengan Gama saat ini, sedangkan Gama justru tampak asyik berbincang dengan Emir.
\=\=\=\=\=
__ADS_1