
Rex sedang mengamati sekitarnya tepat saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Bersamanya ada dua orang prajurit TNI berpakaian loreng yang juga tengah mengamati situasi yaitu Andi dan Satria.
" Aman Kapten...," bisik salah seorang diantaranya.
" Jelas aman lah Ndi. Ini kan markaz TNI. Manusia waras pasti ga berani bikin ulah kecuali orang stress...," sahut Satria.
" Maksud Gue juga gitu. Terus kenapa Kapten ngeliatin ke sekeliling kaya nyari sesuatu...?" tanya Andi setengah berbisik.
Satria pun menoleh kearah sang kapten dan ikut bingung melihat Rex sedang mengamati sekitarnya dengan serius. Dan melihat sikap sang Kapten seperti itu membuat Satria merasa was-was.
" Emang ada apaan ya...?" tanya Satria.
" Mana Gue tau. Coba aja Lo tanya sendiri sana...," kata Andi.
" Ga usah nanya, Saya udah selesai. Ayo Kita pergi dari sini...," ajak Rex tiba-tiba.
" Siap Kapten..., " sahut Andi dan Satria bersamaan.
Kemudian Rex, Satria dan Andi melangkah beriringan.
" Sekarang Kalian keliling ke barak dan bangunan samping, Saya ngecek gudang dan belakang...," perintah Rex.
" Siap Kapten...," sahut Satria dan Andi.
" Sendiri atau berdua Kapten...?" tanya Andi.
" Terserah. Kita ketemu di Pos sejam lagi...," sahut Rex sambil berlalu.
" Siap Kapten...!" sahut Andi dengan lantang.
Kemudian Andi dan Satria melangkah bersama untuk mengecek barak sesuai perintah Kapten Rex tadi.
" Lo ngerasa ga kalo sikapnya Kapten agak beda hari ini...? " tanya Andi.
" Iya. Ada apaan ya, ga biasanya kaya gitu...," sahut Satria.
" Pasti ada masalah berat yang dipikirin...," kata Andi.
" Eh monyong. Kalo soal itu ga usah disebut, namanya orang hidup ya pasti punya masalah...," kata Satria kesal.
" Iya sih...," sahut Andi sambil nyengir.
__ADS_1
" Terus Kita harus gimana...?" tanya Satria.
" Ga gimana-gimana. Ga usah sok tau dan ikut campur itu jalan terbaik. Kecuali kalo Kapten minta pendapat Kita, itu lain cerita. Tapi selama Kapten ga ngomong apa-apa, ya Kita diem aja. Daripada didamprat plus dihukum kaya di Madura dulu, kalo Gue sih milih diem dan nunggu aja...," sahut Andi sambil menggedikkan bahunya hingga membuat Satria tertawa keras.
" Oh, yang Lo pura-pura pingsan gara-gara kecapean lari keliling lapangan ya...?" tanya Satria di sela tawanya.
" Iya...," sahut Andi sambil tersenyum kecut.
" Itu kan salah Lo sendiri yang udah ngatain Kapten Rex. Yang bikin Gue sama temen-temen ketawa tuh karena Lo pake pura-pura pingsan segala, padahal semenit sebelumnya tuh Kapten udah bilang kalo lari Kita selesai saat sampe gawang biru...," kata Satria masih dengan tertawa.
" Masa sih, kok Lo baru bilang sekarang...?" tanya Andi.
" Emangnya Lo baru tau...?" tanya Satria.
" Iya. Kalo Gue tau bakal udahan ngapain Gue pake pura-pura pingsan. Gue ga denger perintah itu sumpah !. Sampe Gue malu sama Istri yang dulu masih tunangan Gue. Karena Kapten langsung hubungin dia dan minta dia berpikir ulang kalo mau nikah sama cowok lemah kaya Gue. Bukan itu aja. Kapten Rex juga bilang kalo Gue main mata sama team medis di sana. Yah, udah tau kan endingnya ?. Gue sampe ribut gara-gara dia mau batalin pertunangan. Sialnya lagi Kapten ga mau tanggung jawab meluruskan masalah itu...!" sahut Andi kesal hingga membuat Satria kembali tertawa.
" Muka Lo waktu itu lucu banget Ndi. Gue aja sampe ngakak kalo inget Lo ngerengek sama Kapten Rex...," kata Satria di sela tawanya.
" Ngapain ketawa sih Sat ?. Ketawa Lo tuh serem banget tau ga ?. Mirip banget sama Tante Kun yang rumahnya di atas pohon...," kata Andi sambil membekap mulut Satria.
Satria nampak meronta dan akhirnya berhasil lepas dari bekapan Andi.
" Sia*an !. Masa ketawa Gue Lo samain sama kuntilanak sih Ndi. Gue kan cowok...!" protes Satria.
Satria menghela nafas panjang sambil menatap punggung Andi yang menjauh. Setelahnya ia melanjutkan langkahnya menyusul Andi saat menyadari dirinya ada di bagian samping barak yang gelap dan sepi itu.
Di saat yang sama Rex nampak sedang melangkah seorang diri sambil mengecek gudang. Setelah memastikan gudang terkunci dengan baik, Rex pun membalikkan tubuhnya.
Dan saat itu lah ia mendengar suara wanita sedang bersenandung lirih. Rex memutar kepalanya mencoba mencari sumber suara. Dan tatapan matanya tertuju kearah depan, tepat di bawah pohon jambu mete yang ada di depan gudang.
Rex pun berjalan menghampiri wanita itu. Namun tiap kali Rex melangkah, maka wanita itu makin menjauh. Akhirnya Rex menghentikan langkahnya karena tak ingin kehilangan sosok wanita yang tak lain adalah Nyai Hadini itu.
" Apalagi sekarang Nyai...?" tanya Rex.
" Kenapa Kamu belum membantu menyelesaikan masalah Luna. Kasian dia...," sahut Nyai Hadini.
" Insya Allah Aku memang berniat membantunya nanti Nyai...," kata Rex.
" Lalu apalagi yang Kau tunggu...?" tanya Nyai Hadini.
" Ga ada. Aku hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang menurutku berbeda dari yang sebelumnya...," sahut Rex cepat.
__ADS_1
Jawaban Rex membuat Nyai Hadini tersenyum. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Rex, sesuatu yang tak pernah ia lakukan kecuali saat ia bertemu Rex dan membawanya melintas waktu dulu.
" Jangan tunda lagi...," kata Nyai Hadini yang diangguki Rex.
Setelah mengatakan kalimat itu, Nyai Hadini lenyap begitu saja dari hadapan Rex.
Rex menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya. Ia merasa sikap sang Nyai sedikit berbeda kali ini.
" Insya Allah Aku urus segera...," gumam Rex lalu berjalan perlahan meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan tugasnya.
\=\=\=\=\=
Shezi tersenyum saat melihat pesan yang dikirim Kapten Rex.
" Akhirnya...," gumam Shezi sambil mengetik kalimat balasan untuk pesan yang dikirim Rex tadi.
Setelah mengetik pesan, Shezi kembali memasukkan ponselnya ke saku baju. Shezi pun melanjutkan pekerjaannya dengan gelisah karena terus dibayangi penampakan arwah Luna yang terus mengamatinya di kejauhan.
" Zi...!" panggil salah seorang rekan Shezi bernama Dina.
" Astaghfirullah aladziim..., ngapain manggilnya ngagetin gitu sih Na...?!" protes Shezi hingga tak sengaja menjatuhkan plastik obat di tangannya.
Rekan Shezi nampak mengerutkan keningnya karena terkejut melihat reaksi Shezi. Apalagi ia juga melihat Shezi berkali-kali menoleh kearah pintu apotik seolah sedang melihat sesuatu yang menyeramkan.
" Lo liat apa sih Zi...?" tanya Dina sambil ikut mengamati pintu apotik.
" Ga liat apa-apa...," sahut Shezi sambil pura-pura sibuk.
" Atau lagi nunggu seseorang yaa...," kata Dina sambil tersenyum penuh makna.
" Iya, eh ga kok...," sahut Shezi cepat namun justru terdengar lucu hingga membuat Dina tertawa.
" Gapapa kalo emang lagi nunggu seseorang. Udah waktunya juga Lo move on dan cari cowok lain yang lebih baik daripada mantan Lo yang rese itu...," kata Dina sambil menepuk bahu Shezi.
" Lo salah paham Na. Gue emang lagi nunggu orang. Tapi bukan buat jadi pengganti mantan Gue yang rese itu. Orang ini mau bantuin Gue buat ngeruqyah temen Gue yang ketakutan gara-gara diikutin hantu...," sahut Shezi sambil menepis tangan Dina dengan lembut.
" Diikutin hantu...?!" tanya Dina.
" Sssttt..., ga usah jerit gitu bisa ga sih. Ini rahasia tau...," kata Shezi sambil mendelik kesal.
" Ups, sorry. Tapi hantunya ga ngikutin Lo kan Zi...?" tanya Dina sambil merapat kearah Shezi.
__ADS_1
Shezi hanya menggedikkan bahunya hingga membuat Dina kesal.
\=\=\=\=\=