Kidung Petaka

Kidung Petaka
116. Tak Pernah Ada


__ADS_3

Setelah popobawa berhasil disingkirkan, kehidupan warga pun kembali normal demikian pula suster Tami.


Beberapa hari setelah kejadian terror popobawa, tetua adat yang bernama Jacquel datang berkunjung ke pemukiman warga yang juga merupakan tempat tinggalnya dulu.


Kemudian Banga mengajak Jacquel berkunjung ke kamp untuk menemui Rex dan rekan-rekan relawan lainnya.


Saat pertama kali bertemu dengan Rex, Jacquel merasa senang karena aura positif yang menyertai Rex membuatnya nyaman.


" Ini ketua suku Kami atau tetua adat Kami. Namanya Pak Jacquel...," kata Banga memperkenalkan Jacquel kepada Rex.


" Senang bertemu dengan Anda Pak Jacquel...," sapa Rex dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


" Saya juga senang bertemu dengan Anda Pak Rex. Anak muda berjiwa pemimpin yang hangat, sopan dan tangguh. Saya yakin semua akan baik-baik saja selama Anda ada bersama mereka...," sahut Jacquel sambil menjabat erat tangan Rex.


" Jangan terlalu memuji Pak. Saya masih harus banyak belajar...," kata Rex merendah.


" Tak perlu merendah. Saya tau apa yang telah Kamu lakukan untuk menolong warga Kami yang baru saja diterror oleh siluman popobawa itu...," kata Jacquel sambil menggelengkan kepala dan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


Rex dan Banga tertawa melihatnya. Jacquel juga dibawa berkeliling oleh Rex untuk diperkenalkan dengan semua relawan yang ada di kamp itu. Setelahnya mereka bertiga duduk berhadapan di teras rumah sambil bicara banyak hal.


Dalam kesempatan itu Jacquel mengatakan jika popobawa tak akan kembali ke tempat yang sama dimana makhluk sejenisnya pernah membuat kekacauan.


" Dengan kata lain wilayah ini aman dari terror popobawa karena popobawa sebelumnya telah memberi tanda di daerah ini untuk membuktikan teritorial kekuasaannya...," kata Jacquel.


" Lalu bagaimana dengan nasib para korbannya Pak...?" tanya Rex penasaran.


" Mereka akan baik-baik saja. Apalagi pelecehan itu hanya terjadi satu kali...," sahut Jacquel optimis.


" Maksudnya gimana ya Pak tetua...?" tanya Rex tak mengerti.

__ADS_1


" Popobawa memang melecehkan mangsanya secara se**al. Otomatis itu akan membuat mental para korbannya jatuh. Jangankan dilecehkan oleh siluman, dilecehkan sesama manusia saja pasti menimbulkan trauma tersendiri. Bukan begitu Pak Rex...?" tanya Jacquel.


" Betul Pak...," sahut Rex cepat.


" Nah, itu lah yang diserang oleh popobawa. Menjatuhkan mental korbannya hingga titik terendah. Meneror mereka setiap hari hingga para korbannya ketakutan dan merasa lebih baik mati daripada tersiksa karena terus menerus diterror popobawa. Hal ini dilakukan karena popobawa itu suka popularitas. Dia suka saat dirinya dikenali dan disebut banyak orang. Bukan kah saat korbannya menjerit histeris pasti juga menyebut namanya ?. Ia tak peduli jika disebut dalam berbagai julukan yang jelek. Baginya menjadi terkenal dengan cara biadab adalah sebuah prestasi..., " kata Jacquel.


" Dasar makhluk psikopat aneh...," gumam Rex sambil melengos kesal.


" Begitu lah makhluk jadi-jadian di negara Kami ini Pak Rex...," kata Banga sambil tersenyum kecut.


" Dan saat korbannya mati, popobawa akan pergi dengan sendirinya. Tapi tak jarang dia juga mengincar keluarga korban. Mungkin saat korban menjerit histeris dan menyebut namanya, saat itu lah keluarga korban akan datang dan mengatakan banyak hal. Nah popobawa akan menyerang siapa saja yang mengumpat dan memakinya...," kata Jacquel.


" Jelas saja dimaki, kan perbuatannya udah melebihi batas kewajaran. Kok bisa-bisanya melampiaskan hasrat kepada manusia dengan berbagai gender. Emangnya dia ga bisa melampiaskan hasratnya itu ke makhluk sejenisnya...?!" tanya Rex gusar.


" Kalo itu sudah di luar kemampuan Saya Pak Rex. Saya ga tau menau soal itu...," sahut Jacquel sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke atas.


Rex dan Banga saling menatap sejenak lalu menghela nafas panjang.


" Iya. Tapi akan sulit buat mereka mencari pasangan apalagi kalo korbannya adalah wanita seperti Suster Tami...," sahut Rex sambil memijit keningnya.


" Kenapa sulit...?" tanya Jacquel.


" Kan mereka sudah mengalami pelecehan se**al, otomatis selaput da*a mereka rusak. Bagaimana cara mereka mengakui dirinya pernah dilecehkan makhluk ghaib, dan mungkin kah pasangannya percaya ?. Sedangkan virgin tidaknya seorang wanita di negara Kami masih menjadi hal penting dalam sebuah pernikahan...," sahut Rex sambil menatap kejauhan dengan tatapan gusar.


Ucapan Rex membuat suasana hening sesaat namun terusik dengan tawa Jacquel. Melihat reaksi Jacquel yang seolah meremehkan suster Tami yang menjadi korban pelecehan se**al itu membuat Rex tersinggung.


" Maafkan Saya...," kata Jacquel sambil meraih tangan Rex saat dilihatnya Rex bangkit dari duduknya.


" Saya menghormati Anda sebagai tetua adat atau tetua suku di sini Pak Jacquel. Tapi itu bukan berarti Anda bebas menertawai musibah yang menimpa rekan Kami. Saya ga terima itu...!" kata Rex sambil menatap Jacquel dengan tatapan tak bersahabat.

__ADS_1


" Iya iya. Sekali lagi Saya minta maaf. Tolong dengarkan Saya sekali lagi. Saya belum selesai bicara Pak Rex...," pinta Jacquel.


" Bicara saja di sana, biar Saya tetap di sini...!" sahut Rex dengan enggan.


" Baik lah. Begini Pak Rex. Korban pelecehan popobawa memang sakit secara mental tapi sehat secara ragawi. Gadis itu, siapa pun namanya. Dia akan tetap 'utuh' seolah persetub**an itu tak pernah ada. Apalagi popobawa baru sekali melakukan itu. Akan berbeda hasilnya jika terjadi pada korban yang telah mengalami pelecehan popobawa berkali-kali...," kata Jacquel dengan mimik wajah serius.


Ucapan Jacquel mengejutkan Rex dan Banga. Ternyata Banga pun baru mendengar pernyataan itu kali ini.


" Alhamdulillah..., apa itu artinya suster Tami tetap virgin Pak Jacquel...?" tanya Rex setengah berbisik.


" Virgin atau tidaknya Saya ga tau pasti Pak Rex...," sahut Jacquel juga berbisik hingga membuat Rex mengerutkan keningnya.


" Jangan berbelit-belit Pak Jacquel...! " kata Rex setengah kesal.


" Saya bicara jujur Pak Rex. Jika saat terjadi pelecehan itu Suster Tami masih virgin, maka dia akan kembali seperti itu nanti. Tapi jika saat pelecehan terjadi Suster Tami pernah melakukan itu dengan pria lain sebelumnya, artinya dia sudah ga suci lagi kan. Jadi ga mungkin kesuciannya kembali lagi dong. Tapi Saya jamin kondisi alat reproduksi Suster Tami akan baik-baik saja karena hanya sekali mengalami pelecehan...," sahut Jacquel sambil tersenyum penuh makna.


Rex mematung sejenak kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Setelahnya Jacquel dan Banga pamit untuk kembali ke rumah Ebes. Rencananya mereka akan melakukan sebuah ritual lagi. Kali ini sebagai ungkapan rasa syukur karena telah berhasil lolos dari terror siluman kelelawar berjuluk popobawa itu.


" Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih karena telah membantu warga Kami. Jika berkenan, Anda dan para relawan bisa hadir menyaksikan ritual Kami nanti...," kata Jacquel.


" Maafkan Saya Pak Jacquel. Bukan bermaksud tak sopan, tapi ritual yang Anda dan warga lakukan bertentangan dengan agama Kami. Jadi mohon maaf jika Kami ga bisa hadir...," kata Rex sambil menangkupkan kedua telapak tangannya hingga membuat Jacquel tersenyum lebar.


" Tak apa anak muda, Kami paham itu. Saya justru bangga dengan prinsip hidupmu itu. Kalo gitu Kami pamit, sampaikan salamku untuk semua relawan di sini...," kata Jacquel sambil menepuk punggung Rex dengan lembut.


" Siap. Insya Allah akan Saya sampaikan nanti...," sahut Rex sambil menjabat tangan Jacquel dengan hangat.


Rex pun melepas kepergian Banga dan Jacquel sambil tersenyum lebar. Ia bersyukur dalam hati karena musibah yang dialami suster Tami tak akan berimbas pada kehidupan pribadi wanita itu kelak.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2