Kidung Petaka

Kidung Petaka
239. Kamu Bahagia...


__ADS_3

Pernikahan Rex dan Shezi pun digelar di hari yang telah ditentukan.


Akad nikah dilaksanakan lebih dulu yaitu siang hari usai sholat Jum'at. Rex tiba lebih dulu di gedung tempat acara digelar bersama rombongan. Saat itu Rex juga telah mengenakan setelan baju Koko dan celana panjang warna putih dengan bordiran putih di ujung lengan dan sekitar kerah bajunya.


Rex nampak gugup dan itu membuat Gama tertawa.


" Kenapa Rex, tegang ya...?" tanya Gama.


" Iya nih...," sahut Rex sambil mengusap wajahnya.


" Udah ga usah tegang. Tuh calon istri Lo udah dateng...," kata Gama sambil menunjuk rombongan pengantin wanita yang memasuki aula dari pintu utama.


Wajah Rex berbinar saat melihat penampilan Shezi yang mengenakan setelan kebaya warna putih dan jarik batik itu. Make up natural dan sanggul berhiaskan bunga melati di kepalanya membuat Shezi terlihat cantik dan anggun. Penampilan ini jauh berbeda dengan keseharian Shezi yang sedikit cuek.


Setelah duduk dan memastikan kelengkapan dokumen pernikahan, proses ijab Kabul pun dilakukan.


" Ananda Rex Aldan bin Ramon, Saya nikahkan dan kawinkan Kamu dengan Ananda Shezi Aleeya binti Siswana yang berwali hakim kepada Saya, dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan tabungan sebesar lima puluh juta rupiah dibayar tunai...," kata sang penghulu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Shezi Aleeya binti Siswana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai...!" sahut Rex lantang.


" Sah...! saaahhh...!" teriak para saksi dan sebagian tamu undangan tak kalah lantang.


" Alhamdulillah...!" sahut penghulu dan kedua pengantin bersamaan.


Doa pun menggema di ruangan itu. Shezi nampak menitikkan air mata saat menyadari statusnya kini adalah istri dari seorang pria bernama Rex Aldan yang merupakan tentara berpangkat perwira itu.


Saat penyematan cincin di jarinya Shezi nampak tak kuasa lagi menahan tangis. Lanni pun maju memeluknya untuk menenangkan menantu cantiknya itu. Sedangkan Rex hanya bisa menatap iba kearah Shezi yang menangis di pelukan Ibunya.


" Jangan menangis lagi Sayang. Ini kan hari bahagiamu...," bisik Lanni dengan mata berkaca-kaca.


" Aku ingat Ayah dan Mama, Bu...," sahut Shezi di sela tangisnya.


" Mereka pasti bahagia melihat Kamu bahagia. Sekarang Ibu tanya, Kamu bahagia ga jadi istrinya Rex...?" tanya Lanni sambil menatap wajah cantik Shezi lekat.


" Iya Bu...," sahut Shezi mantap hingga membuat Lanni tersenyum.


" Sekarang Ibu kembaliin Kamu sama Rex. Karena dia yang berhak memeluk dan membahagiakan Kamu...," bisik Lanni sambil menyerahkan Shezi kepada Rex yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan Sayang.


" Makasih Bu...," kata Rex lirih yang diangguki Lanni.


Suasana yang sempat diwarnai keharuan pun berubah saat memasuki acara resepsi.


Resepsi pernikahan Rex dan Shezi digelar dengan megah di gedung yang sama sore harinya. Acara pedang pora merupakan salah satu acara yang dinanti karena memiliki daya tarik tersendiri bagi semua tamu undangan.

__ADS_1


Saat itu Rex dan Shezi telah berganti kostum. Rex mengenakan seragam PDL lengkap dengan atributnya, sedangkan Shezi nampak mengenakan kebaya hijau lumut dan jarik batik berwarna keemasan. Bunga mawar merah ditambah untaian melati menghiasi sanggul di kepala Shezi membuat penampilannya terlihat fresh. Tak tampak wajah sembab Shezi meski pun beberapa waktu lalu ia tak henti menangis.


" Apa Kamu bahagia Zi...?" tanya Rex saat mereka telah berada di panggung pelaminan.


" Iya, makasih Kapten...," sahut Shezi sambil tersenyum manis.


" Apa itu artinya Kamu menerima Aku seutuhnya Zi...?" tanya Rex.


" Kenapa Kamu nanya begitu Kapten ?. Apa kesediaanku menikah denganmu ga cukup jadi jawaban...?" tanya Shezi gusar.


" Mmm..., Aku hanya merasa Kamu masih menjaga jarak denganku Zi...," sahut Rex.


" Terus Aku harus gimana Kapten...?" tanya Shezi tak mengerti.


" Buktikan...," sahut Rex.


" Buktikan apa ?. Lompat ke pelukanmu sambil mencium Kamu dengan penuh hasrat, gitu kan maksudmu ?. Jangan mimpi ya, Aku ga bakal lakuin itu...!" kata Shezi ketus.


Ucapan Shezi membuat Rex tertawa keras hingga membuat semua orang menatap kearah mereka. Wajah Shezi pun merona saat Rex mengecup bibirnya dengan cepat di hadapan semua orang.


Sorai sorai pun terdengar membahana di ruangan itu saat semua hadirin melihat apa yang Rex lakukan. Bahkan mereka meminta Rex mengulangi aksinya tadi.


" Cium... cium. Lagi... lagi...!" kata semua orang sambil bertepuk tangan.


" Tapi itu kan gara-gara Kamu juga...," sahut Shezi kesal.


" Iya sih. Jadi gimana, boleh kan...," pinta Rex sambil menarik pinggang Shezi agar lebih dekat.


Shezi pun mengangguk sambil tersenyum malu-malu karena tak mungkin menolak permintaan aneh para tamu undangan itu.


Rex pun mendaratkan ciuman singkat di bibir sang istri karena ia yakin Shezi tak nyaman dengan aksinya itu.


Tepuk tangan pun kembali membahana dan membuat Shezi malu bukan kepalang. Bahkan Shezi menyembunyikan wajahnya di pelukan Rex beberapa saat kemudian. Rex tampak tertawa bahagia sambil memeluk Shezi erat karena berhasil mengerjai istri cantiknya itu.


Diantara suara tepuk tangan dan sorak sorai para tamu undangan, ada sepasang mata yang menatap sedih kearah Rex dan Shezi. Dia adalah dokter Aksara, yang datang seorang diri karena ingin memberi doa dan ucapan selamat.


Namun saat menyaksikan kebahagiaan Rex di atas panggung pelaminan itu membuat Aksara mengurungkan niatnya. Perlahan Aksara melangkah mundur dan pergi meninggalkan gedung itu tanpa mau menoleh lagi.


" Ternyata Kamu bahagia Rex. Kamu benar-benar bahagia tanpa Aku !. Salahku karena tak menghargai dan mempertahankan cinta Kita dulu...," gumam Aksara sambil menangis.


Aksara pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena Aksara mengendarai mobil sambil menangis, pandangannya pun kabur dan ia kehilangan keseimbangan. Akhirnya mobil yang dikendarai Aksara pun mengalami kecelakaan dan Aksara dilarikan ke Rumah Sakit dalam kondisi koma.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Di sebuah kamar bernuansa hijau dan gold. Rex tampak duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil mengamati wanita cantik yang tengah mondar-mandir di hadapannya. Wanita itu adalah Shezi yang kini telah sah menjadi istrinya.


" Kamu ga capek mondar-mandir terus Zi...," tegur Rex akhirnya.


" Ga kok, kan Aku lagi ngelemesin kaki. Seharian berdiri nyambut tamu di atas pelaminan tadi kan lumayan melelahkan lho Kapten...," sahut Shezi tanpa menatap kearah suaminya.


" Aku percaya. Tapi kalo Aku minta Kamu duduk sekarang apa Kamu mau nurut Zi...?" tanya Rex.


" Ok, Aku duduk...," sahut Shezi sambil duduk di kursi dekat meja rias.


Rex nampak menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.


" Tapi Aku mau Kamu duduk di sini Zi...," kata Rex sambil menepuk tempat di sampingnya.


" Kamu mau Aku duduk di sana, jangan-jangan Kamu...," ucapan Shezi terputus karena Rex memotong cepat.


" Aku ga minta hakku sekarang. Aku cuma mau Kita istirahat dan tidur. Kita sama-sama capek dan butuh istirahat supaya bisa bangun pagi dalam kondisi fresh...," kata Rex sambil menatap Shezi lekat.


" Kamu serius...?" tanya Shezi.


" Iya. Jangan bilang Kamu lebih milih tidur di lantai daripada tidur sama Aku karena Kamu takut sama Aku ya Zi...," kata Rex.


" Aku ga takut kok...," sahut Shezi cepat.


" Kalo gitu buktikan, duduk di sini sekarang...," kata Rex sambil kembali menepuk kasur di sampingnya.


Shezi tersenyum lalu melangkah ke tempat tidur. Perlahan Shezi menarik selimut lalu ikut duduk bersandar seperti yang Rex lakukan.


Melihat sikap istrinya membuat Rex gemas lalu menarik Shezi ke dalam pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman hingga Shezi kewalahan.


" Lepasin Kapten !. Kamu bilang ga bakal minta hak Kamu sekarang...," kata Shezi sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Rex.


" Tapi Aku ga bilang kalo Aku ga bakal kiss Kamu kan Zi...," sahut Rex sambil tersenyum puas.


Shezi nampak mendengus kesal lalu berbaring membelakangi Rex yang langsung memeluknya dengan erat.


" Makasih ya, selamat malam Istriku...," bisik Rex sambil mengecup kepala Shezi dengan sayang.


Shezi tak menjawab karena sibuk menetralisir debar jantungnya yang berpacu cepat. Namun Shezi mengusap lembut lengan Rex yang melingkari perutnya sebagai jawaban hingga membuat Rex kembali tersenyum bahagia.


Sesaat kemudian Rex dan Shezi pun terlelap dalam posisi saling memeluk.


Namun beberapa jam kemudian Rex dan Shezi sama-sama terbangun karena mendengar suara senandung yang menggema lembut di kamar mereka.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2