Kidung Petaka

Kidung Petaka
25. Datang


__ADS_3

Rex bergegas keluar dari markas TNI di bilangan Jakarta Timur saat jam menunjukkan pukul tiga sore. Rex berniat menjemput sang kakak. Entah mengapa setelah mendengar cerita Lilian kemarin, Rex terus dihantui rasa cemas. Ia khawatir sang kakak mengalami nasib serupa dengan pasien yang dilecehkan di dalam toilet itu.


Rex memacu motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di Rumah Sakit. Rex pun melangkah cepat menuju ruangan khusus perawat untuk memastikan Lilian baik-baik saja.


" Kak Fani...!" panggil Rex lantang.


" Eh, Kamu Rex. Tumben udah di sini, mau jemput Lian ya...?" tanya Fani ramah.


" Iya Kak. Apa Kak Lian ada...?" tanya Rex.


" Shiftnya udah selesai, mungkin dia lagi ke toilet...," sahut Fani saat tak mendapati Lilian di ruangan.


" Toilet yang mana Kak...?" tanya Rex.


" Toilet khusus perawat dong. Kenapa sih Rex, kok cemas banget keliatannya...?" tanya Fani sambil mengamati Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Bukan gitu Kak. Aku denger ada pelecehan terhadap pasien di toilet. Jadi Aku...," ucapan Rex dipotong cepat oleh Fani.


" Oh, itu. Kasus itu cuma salah paham Rex. Kayanya pasien berhalusinasi. Mungkin akibat pengaruh obat yang diminumnya jadi dia sulit membedakan mimpi sama kenyataan...," kata Fani berusaha menenangkan Rex.


" Maksud Kak Fani...?" tanya Rex tak mengerti.


" Pasien yang mengaku dilecehkan itu adalah pasien lama. Dia dirawat di sini karena mengalami komplikasi ginjal. Sebelum sakit dan dirawat di Rumah Sakit ini dia juga beberapa kali mengalami upaya pelecehan dari beberapa rekannya. Dan Kayanya dia trauma berat gara-gara kejadian itu...," kata Fani.


" Oh gitu. Apa semua orang percaya Kak...?" tanya Rex.


" Aku dan Lian sih ga percaya, tapi semua orang terlanjur percaya. Awalnya dia menjerit di dalam toilet dan bilang baru aja diperk*sa sama pria tak dikenal, semua orang kaget. Bahkan pihak Rumah Sakit berniat melaporkan kasus ini ke Polisi. Tapi keluarganya datang dan bilang kalo cewek itu emang sering kaya gitu. Mereka juga nolak saat Rumah Sakit berniat mengadakan visum padahal cewek itu jelas keliatan kesakitan. Mereka malah memohon agar pihak Rumah Sakit ga melaporkan kasus ini ke Polisi karena malu. Akhirnya pihak Rumah Sakit mundur karena keluarga korban menolak dibantu...," sahut Fani dengan wajah kecewa.


Tiba-tiba Lilian datang dan menyapa Rex dengan lantang hingga membuat Rex dan Fani terkejut.


" Ngapain Kamu di sini Rex ?. Lagi tebar pesona sama temen-temenku yaa...?! tanya Lilian hingga membuat Rex dan Fani menoleh.


" Ck, suudzon aja nih Kakak. Aku ga perlu tebar pesona karena Aku kan udah keren...," sahut Rex dengan wajah kesal.


Melihat perubahan wajah Rex membuat Fani dan Lilian tertawa. Rex pun tersenyum saat tahu dirinya dikerjai oleh Lilian.


" Rex datang karena mau jemput Lo. Katanya dia khawatir sama Lo gara-gara kasus pasien yang dilecehkan di toilet itu Li. So sweet banget ga sih adik Lo ini Li. Kalo ga mandang Lo, rasanya pengen Gue pacarin aja nih si Rex...," kata Fani dengan mimik wajah lucu.

__ADS_1


" Ga boleh !. Awas ya kalo berani macam-macam sama adik Gue...!" kata Lilian sambil memeluk Rex dengan erat.


Rex pun tertawa, sedangkan Fani nampak mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Lilian.


" Dikit doang Li...," kata Fani dengan wajah memelas.


" Sembarangan !. Adik Gue bukan makanan yang bisa dicuil seenaknya ya...?!" kata Lilian galak lalu membawa Rex menjauh dari ruangan itu.


" Dasar pelit...!" kata Fani lantang.


" Biarin...!" sahut Lilian tak kalah lantang.


" Duluan ya Kak...!" kata Rex sambil melambaikan tangan.


Fani pun membalas lambaian tangan Rex sambil tersenyum genit hingga membuat Lilian bertambah kesal.


" Lain kali kalo jemput Kamu tunggu di loby aja Rex. Kakak ga suka ngeliat Kamu digodain kaya tadi. Kaya ga ada wibawanya sama sekali sih Kamu...," kata Lilian hingga membuat Rex tertawa.


" Ini kan di luar jam kerja Kak. Lagipula Aku ga pake seragam kan sekarang. Kalo saat bertugas mah beda lagi, situasinya menuntut untuk serius makanya Aku jadi terkesan berwibawa. Manusiawi lah kalo Kita bercanda Kak...," sahut Rex di sela tawanya.


Lilian pun mengangguk sambil tersenyum. Sejak dulu Lilian memang tak suka jika ada teman wanita yang naksir adiknya. Dan itu tetap berlaku hingga hari ini.


" Iya iya Kakakku tersayang...," sahut Rex sambil merengkuh bahu sang kakak dengan gemas.


Kemudian Rex dan Lilian pun melangkah menuju tempat parkir. Lagi-lagi Rex mendengar suara senandung sama persis seperti yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lalu. Rex pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari sumber suara, namun nihil.


" Cari apaan sih Rex...?" tanya Lilian sambil ikut menatap ke semua penjuru.


" Kakak denger sesuatu ga...?" tanya Rex ragu.


" Sesuatu apa...?" tanya Lilian tak mengerti.


Beruntung saat itu langit masih terang karena sore hari. Jadi Lilian tak terlalu khawatir atau takut mendengar pertanyaan sang adik.


" Semacam suara musik atau nyanyian yang sedih gitu...," kata Rex asal.


" Oh itu. Aku denger lah, itu kan berasal dari pengeras suara di loket parkiran sana Rex...," sahut Lilian sambil menunjuk kearah deretan loket parkir.

__ADS_1


Rex menghela nafas panjang karena sadar jika yang diucapkannya tadi sia-sia. Ia nampak menggelengkan kepala karena tak mendapat jawaban yang sesuai dengan keinginannya.


" Mudah-mudahan suara aneh itu bukan pertanda buruk...," gumam Rex sambil melajukan motornya meninggalkan Rumah Sakit.


\=\=\=\=\=


Rex memarkirkan motornya tepat di samping mobil sang ayah. Namun sesaat kemudian Rex dan Lilian pun saling menatap saat mendengar suara tawa di dalam rumah.


" Tumben rame banget. Ada apaan ya Rex...?" tanya Lilian sambil membuka helm.


" Kayanya ada tamu Kak...," sahut Rex.


" Siapa sih tamunya sampe bisa bikin rumah segaduh ini...?" tanya Lilian lagi.


" Daripada penasaran Kita masuk aja Kak...," sahut Rex sambil menggamit tangan Lilian.


Lilian mengangguk lalu mengikuti langkah Rex yang membawanya masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum...," sapa Rex dan Lilian bersamaan.


" Wa alaikumsalam...," sahut semua orang di dalam rumah.


" Nah itu mereka pulang...!" kata Lanni antusias.


Ketiga tamu yang duduk membelakangi pintu pun menoleh dan tersenyum kearah Rex dan Lilian.


" Hai T-Rex...!" sapa seorang pria dengan ramah sambil berdiri dan melambaikan tangannya kearah Rex.


Rex membulatkan matanya saat mengenali pria yang menyapanya itu. Rex bergegas menghampiri pria yang tak lain adalah Gama lalu memeluknya erat. Gama nampak membalas pelukan Rex sambil tertawa.


Semua orang pun ikut tertawa melihat Rex dan Gama saling memeluk erat.


" Udah Rex, ntar dikirain orang Gue gay gara-gara pelukan sama Lo...!" kata Gama lantang sambil mendorong Rex agar menjauh darinya.


Rex pun tertawa lalu mengusak rambut Gama dengan gemas hingga membuat semua orang kembali tertawa.


Suasana di rumah Ramon sore itu terlihat lebih ramai dari biasanya karena kedatangan Gama dan kedua orangtuanya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2