Kidung Petaka

Kidung Petaka
53. Gamaa...!!


__ADS_3

Setelah menghela nafas panjang Gama pun bangkit dan berjalan mengikuti Lilian. Ia melihat Lilian yang bersandar di pintu mobil sambil bersedekap. Entah mengapa melihat aksi Lilian membuat kepala Gama pusing seketika.


Gama kembali harus bersabar mendengar ocehan Lilian saat ia berjalan mendekati gadis itu. Entah kalimat apa yang diucapkan Lilian, Gama tak tahu pasti karena ia memang tak menyimak omelan Lilian itu. Beruntung saat itu suasana parkiran Rumah Sakit sedang sepi. Jika tidak, mungkin Gama harus siap menanggung malu.


Lilian masih bicara banyak hal dan itu membuat Gama gemas. Dengan sigap Gama meraih Lilian ke dalam pelukannya lalu mendaratkan ciuman di bibir Lilian hingga gadis itu terkejut.


Untuk beberapa saat Lilian terdiam sambil menatap tak percaya kearah Gama yang masih asyik menikmati bibirnya. Gama tersentak kaget saat Lilian mendorong tubuhnya lalu menampar wajahnya.


Plaakk !!


" Gamaa...!" panggil Lilian lantang.


Gama pun mundur ke belakang sambil memegangi pipi yang ditampar Lilian tadi. Sesaat kemudian Gama tersadar lalu mengusak rambutnya kasar.


" Astaghfirullah aladziim.... Sorry Kak, Gue ga sengaja. Gue khilaf...," kata Gama dengan suara bergetar sambil berusaha menjangkau Lilian.


Lilian menghindar dari jangkauan Gama. Ia membuang tatapannya kearah lain sambil berusaha menahan air mata yang hendak jatuh. Lilian ingin lari, tapi ia tahu di luar sana bukan tempat yang aman untuknya saat itu. Lilian ingat jika dia bertahan menunggu Gama karena ia takut pulang sendiri saat malam hari.


" Kak Lian...," panggil Gama putus asa.


" Gue mau pulang sekarang...," kata Lilian lirih.


" Iya. Gue anter ya...," sahut Gama sambil membuka pintu mobil tepat di samping supir.


Lilian mengabaikan Gama dan memilih melangkah ke pintu belakang mobil. Kemudian Lilian membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang. Gama nampak menghela nafas panjang karena tahu mustahil rasanya memaksa Lilian duduk di sampingnya.


Tak lama kemudian Gama melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Rumah Sakit. Suasana di dalam mobil terasa hening karena tak ada satu pun yang bicara. Diam-diam Gama mengamati Lilian dari pantulan kaca spion dan melihat gadis itu berulang kali mengusap ujung matanya yang basah. Gama mengeratkan genggamannya pada kemudi karena sadar telah melukai Lilian.


Lilian turun dari mobil saat mobil menepi di depan rumah. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih kepada Gama seperti biasanya. Gama pun mengejar Lilian dan mencekal pergelangan tangan gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


" Kak Lian, dengerin Gue dulu sebentar. Gue...," ucapan Gama terputus saat Lilian menarik tangannya.


" Udah malam, lebih baik Lo pulang Gam. Gue udah maafin Lo kok...," kata Lilian sambil berbalik lalu melangkah cepat ke dalam rumah.


Gama berdiri sambil menatap Lilian dengan tatapan gusar. Ada penyesalan dalam dirinya namun harus diakui jika ia sangat menikmati 'ciuman sepihak'nya tadi.


Gama menelan salivanya dengan sulit lalu masuk ke dalam mobil. Ia bertahan beberapa saat di sana berharap Lilian akan kembali dan melemparnya dengan sesuatu seperti yang biasa Lilian lakukan saat marah. Namun setelah lelah menunggu, Lilian tak juga kembali. Akhirnya Gama melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ramon.


\=\=\=\=\=


Malam itu menjadi malam yang sulit untuk Lilian. Ia terus teringat saat Gama mencium bibirnya tadi. Lilian memang bukan kali pertama berciuman, tapi saat Gama melakukannya Lilian tak percaya. Apalagi Gama tampak sangat menikmati apa yang dia lakukan tadi.


" Dasar breng**k. Kenapa Gue malah inget terus sih...," gerutu Lilian sambil membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


Sesaat kemudian Lilian mengangkat kepalanya lalu bangkit dari tidurnya. Ia melirik cermin dan bergegas mendekat untuk melihat bagaimana wajahnya saat itu.


" Apaan nih, kok merah gini sih...!" pekik Lilian sambil mengamati pantulan wajahnya dengan seksama.


" Kamu kenapa Kak...?!" tanya Lanni dari balik pintu.


" Aku gapapa kok Bu...!" sahut Lilian cepat.


" Tapi barusan Kamu teriak, ada apa sih...?" tanya Lanni penasaran.


" Ada kecoa Bu, tapi udah terbang keluar lewat ventilasi jendela tadi...," sahut Lilian berbohong.


" Oh gitu...," sahut Lanni sambil menjauh dari pintu kamar Lilian.


Lilian pun kembali mengalihkan tatapannya kearah cermin lalu meraih jaketnya untuk menutup cermin itu. Rupanya Lilian kesal melihat pantulan wajahnya tadi.

__ADS_1


Kemudian Lilian membaringkan tubuhnya dan berusaha tidur. Namun bayangan saat Gama menciumnya terus menari di kepalanya dan membuatnya bertambah kesal.


Di saat yang sama di rumah Gama. Pria itu nampak mondar mandir ke dapur dan ruang tengah. Ia pun menggeram kesal karena lelah.


Sebelumnya Gama berniat menonton siaran langsung pertandingan sepak bola team kebanggaannya sambil menikmati makanan dan minuman ringan. Sayangnya Gama harus bolak balik karena melupakan sesuatu. Itu karena dia terus terbayang-bayang dengan aksinya mencium Lilian tadi.


" Sia*an !. Gara-gara ciuman tadi Gue malah jadi ga fokus nyiapin semuanya..., " gerutu Gama sambil membanting tubuhnya di sofa karena lelah.


Tanpa sadar Gama meraba bibirnya dan tersenyum penuh makna. Ia tak menyangka telah berani mencium Lilian, si singa betina dari gang Kelor itu.


Di lingkungan tempat tinggal mereka Lilian memang terkenal sebagai gadis yang cantik, ramah sekaligus galak. Banyak pria yang menaruh hati padanya harus gigit jari karena tak sanggup menghadapi sikap keras Lilian. Meski pun begitu Lilian tetap menyapa mereka saat bertemu dan itu membuat mereka memaafkan sikap Lilian.


Saat kembali bertemu dengan Lilian setelah beberapa tahun berpisah, Gama terkejut dan langsung jatuh hati pada pesona Lilian. Bukan sebagai adik seperti yang selama ini didengungkan oleh keluarga mereka, tapi sebagai pria dewasa yang tertarik pada lawan jenisnya.


Gama selalu berusaha berada di sekitar Lilian hanya untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Sejujurnya Gama juga cemburu saat ada pria lain yang berusaha mendekati Lilian. Diantaranya Bobi dan Taufan. Gama marah saat mengetahui Rex memberi ijin begitu saja pada pria lain untuk mendekati Lilian. Beruntung mereka tak berhasil mendekati Lilian dengan berbagai alasan hingga membuat Gama bisa bernafas lega.


Sadar jika perasaannya salah, Gama pun menyimpan rapat-rapat perasaannya untuk Lilian. Gama cukup tahu diri dengan tak memperlihatkan ketertarikannya itu. Gama tak ingin hubungan baik keluarganya dengan keluarga Rex hancur karena perasaannya yang tak lazim.


Namun saat melihat Lilian marah tanpa kendali tadi justru membuat Gama hilang kendali. Gama bingung bagaimana cara menghentikan omelan Lilian yang seperti petasan itu.


Semula Gama hanya ingin memeluk Lilian untuk meredakan kemarahannya. Tapi yang terjadi justru Gama malah mencium bibir Lilian. Walau terjadi di luar rencana tapi Gama menyukainya.


" Setelah ini pasti bakal susah buat ngedeketin dia. Pasti bakal banyak alasan yang dia pake supaya Gue ga perlu antar jemput lagi...," batin Gama gusar.


Gama pun menyandarkan tubuhnya sambil kembali menyentuh bibirnya sendiri. Ia tersenyum saat ingat bagaimana reaksi Lilian saat ia menciumnya tadi.


" Imut banget sih...," gumam Gama sambil tersenyum lalu menggelengkan kepala.


Gama pun tetap menonton pertandingan bola di televisi hingga dini hari. Meski matanya menatap layar televisi namun pikiran Gama melayang entah kemana. Dan itu semua karena Lilian, kakak perempuan sahabatnya yang telah berhasil mengobrak-abrik hatinya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2