Kidung Petaka

Kidung Petaka
88. Tower Crane


__ADS_3

Rex dan Gama terus mengamati sekeliling mereka saat mobil melaju perlahan.


" Gimana nih Rex, kok belum ada tanda apa-apa ya. Padahal ini udah hampir lima menit lho...," kata Gama gusar.


" Sabar Gam. Jalan aja dulu pelan-pelan, siapa tau Kita nemuin sesuatu nanti...," sahut Rex sambil memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu yang mungkin berbahaya untuk mereka dan orang lain.


Tiba-tiba tatapan Rex membentur tower crane yang ada di tengah proyek. Meski malam hari, tower crane itu tetap beroperasi dan Rex melihat ada kejanggalan pada alat berat itu.


" Kita ke sana Gam, sekarang...!" kata Rex lantang hingga mengejutkan Gama.


" Iya iya, santai aja dong Rex. Bikin kaget aja Lo...," sahut Gama lalu melajukan mobilnya lebih cepat menuju tower crane yang ditunjuk Rex.


" Lebih cepat Gam...!" pinta Rex sambil melongokkan kepalanya keluar melalui kaca jendela mobil yang terbuka.


" Ok...!" sahut Gama.


Mobil Gama pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi tower crane berada. Rupanya sedang ada pemindahan bahan baku dari lapangan ke lantai delapan mall yang sedang dibangun itu.


Rex melihat jika pengait katrol pada tower crane itu mulai terbuka karena keberatan beban. Sedangkan di bagian bawah terlihat para pekerja sedang sibuk menyusun bahan baku supaya mudah diangkat dengan alat berat itu.


Melihat hal itu Rex makin panik. Lokasi dimana tower crane itu berada sangat tak bersahabat jika dilalui oleh mobil Gama. Karenanya ia meminta Gama memutar arah menuju masjid. Meski tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya, Gama menuruti permintaan Rex karena yakin jika sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


" Ya Allah tolong jangan sekarang...," doa Rex dan Gama bersamaan.


Gama memarkirkan mobilnya secara acak lalu menyusul Rex yang telah keluar lebih dulu. Rupanya Rex menghampiri pengurus masjid dan minta ijin menggunakan alat pengeras suara.


Melihat penampilan Rex dan seragam yang dikenakan saat itu, pengurus masjid pun mengiyakan permintaan Rex. Ia yakin jika berita yang akan disiarkan oleh Rex melalui pengeras suara akan bermanfaat untuk orang banyak.


Rex bergegas meraih mik yang biasa digunakan para muadzin untuk mengumandangkan adzan lalu mulai mengatakan sesuatu.


" Peringatan penting !. Buat semua pekerja yang berada di dekat tower crane, menyingkir sekarang !. Tower crane akan jatuh...!" kata Rex lantang hingga mengejutkan semua orang termasuk para pekerja yang ada di lokasi yang dimaksud.

__ADS_1


Rex mengumumkan hal yang sama dua kali berturut-turut dan berharap semua orang waspada dan mematuhi anjurannya.


Peringatan yang disampaikan Rex membuat kekacauan. Tidak hanya para pekerja di sekitar tower crane yang berlari menjauh, tapi semua orang termasuk pedagang keliling dan security proyek.


Dua menit setelah peringatan kedua Rex, terdengar suara berderak dari atas tower crane disusul jatuhnya benda-benda yang merupakan bahan baku yang tengah dipindahkan oleh alat berat itu.


Semua orang menjerit sambil menatap nanar kearah tower crane yang patah itu. Suara berdebum keras disertai debu beterbangan memenuhi lahan pembangunan mall itu.


Sesaat kemudian terdengar sorak sorai para pekerja yang selamat. Mereka nampak saling memeluk satu sama lain sebagai ungkapan kebahagiaan karena baru saja lolos dari bahaya. Dari tempatnya berdiri Rex nampak tersenyum lega lalu mengucap hamdalah.


" Alhamdulillah..., makasih ya Allah...," kata Rex dengan suara bergetar.


" Alhamdulillah, Lo berhasil Rex...!" kata Gama sambil merangkul pundak Rex dengan erat.


" Kita Gam, bukan Gue aja...," sahut Rex meralat ucapan sang sahabat.


Gama mengangguk sambil tersenyum. Lalu mereka menoleh saat pengurus masjid dan dua orang security datang mendekat. Di belakang mereka tampak dua orang lainnya datang menyusul.


" Makasih Pak, untung Bapak mengingatkan mereka lebih awal jadi ga ada korban jiwa yang jatuh...," kata pengurus masjid sambil menjabat tangan Rex dan Gama bergantian.


" Saya juga sangat berterima kasih Pak Tentara...!" kata seorang pria tambun yang baru saja tiba.


Semua orang menoleh kearahnya dan tersenyum. Rupanya dia adalah Manager Proyek pembangunan perumahan itu. Dia terlihat ramah hingga sangat disukai banyak orang.


" Bukan hanya Saya yang berjasa Pak. Sahabat Saya dan Bapak pengurus masjid ini juga ikut andil menyelamatkan para pekerja. Tanpa dukungan beliau berdua Saya ga akan bisa mengingatkan mereka...," kata Rex sambil tersenyum.


" Kok bisa begitu Pak...?" tanya Manager Proyek bernama Bahar itu.


" Pertama karena Sahabat Saya ini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi layaknya pembalap hingga Kami bisa tiba di masjid lebih cepat. Awalnya Kami akan menuju lokasi tower crane, tapi jalanan sangat terjal dan ga bersahabat. Jadi Kami memutuskan pergi ke masjid ini untuk meminjam pengeras suara...," kata Rex panjang lebar.


" Oh begitu...," sahut Bahar sambil menatap kagum kearah Rex dan Gama bergantian.

__ADS_1


" Dan Bapak ini, beliau langsung memberi ijin tanpa bertanya banyak hal jadi Saya bisa mengingatkan semuanya tepat waktu...," kata Rex sambil menepuk pundak sang pengurus masjid.


" Itu karena Saya yakin berita yang akan Bapak sampaikan sangat penting dan bermanfaat buat orang banyak Pak...," sahut sang pengurus masjid malu-malu.


" Masya Allah, benar-benar kerja sama yang baik...," kata Bahar sambil bertepuk tangan.


Sikap Bahar membuat semua orang tertawa dan ikut bertepuk tangan.


" Kenapa Pak Tentara memilih ke masjid. Padahal Saya liat mobil Anda sudah mendekati lokasi tadi...?" tanya Bahar tak mengerti.


Rupanya Bahar juga ada di lokasi dimana tower crane itu berada dan melihat mobil Gama yang memutar arah tadi.


" Lokasi di sana sangat bising Pak. Saya yakin suara Saya ga bakal terdengar karena kalah dengan suara para pekerja dan juga tower crane itu. Makanya Kami pergi ke masjid karena ingat jika suara adzan dari masjid ini sangat kencang dan terdengar hingga ke segala penjuru lahan proyek ini...," sahut Rex memberi alasan hingga membuat Bahar mengangguk paham.


" Jadi gimana kelanjutannya Pak Bahar...?" tanya salah seorang mandor.


" Malam ini Kita hentikan dulu Pak. Saya yakin kejadian tadi bikin semua orang shock. Daripada melanjutkan pekerjaan tapi ga fokus karena pikiran kemana-mana, lebih baik Kita istirahat saja...," sahut Bahar cepat.


" Baik Pak. Kalo gitu Saya pamit dulu, mau ngasih tau para pekerja supaya istirahat. Oh iya, makasih ya Mas Tentara. Semoga Allah membalas kebaikan Mas berdua juga Pak Rohim dengan pahala yang banyak...," kata sang mandor sambil menjabat tangan Rex, Gama dan pengurus masjid bergantian.


" Aamiin...," sahut semua orang bersamaan.


Setelah itu sang mandor bergegas pergi untuk mengingatkan para pekerjanya. Kemudian Bahar mengajak semua orang yang ada bersamanya saat itu untuk makan malam.


" Kalo gitu Saya traktir Kalian makan malam ya. Jangan nolak dan ga boleh nolak...!" kata Bahar tegas.


" Baik lah, kebetulan Kami juga lapar...," sahut Gama sambil mengusap perutnya hingga membuat semua orang tertawa.


" Tapi sebaiknya setelah sholat Isya aja ya Pak, nanggung sepuluh menit lagi kan waktu Isya udah masuk...," kata Rex mengingatkan.


" Setuju...!" sahut Bahar, Gama dan semua orang bersamaan.

__ADS_1


Kemudian mereka berjalan kearah ruang wudhu untuk berwudhu. Lalu mereka duduk di dalam masjid sambil menunggu waktu sholat Isya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2