Kidung Petaka

Kidung Petaka
63. Mantan Lilian


__ADS_3

Sejak mengetahui Lilian memiliki teman pria, hari-hari Gama menjadi tak tenang. Ia kerap melamun dan marah tanpa alasan. Beruntung tiga karyawannya adalah orang yang handal dan tahan banting. Mereka tampak tak terusik dengan ucapan Gama yang kadang 'nyelekit' itu.


Seperti hari ini. Lagi-lagi Gama marah hanya karena hal sepele. Itu karena Edi lupa menyingkirkan kaleng kosong bekas oli dari tengah ruangan. Akibatnya Gama tergelincir dan hampir jatuh.


" Siapa sih naro kaleng di tengah jalan...?!" tanya Gama lantang hingga mengejutkan ketiga karyawannya itu.


" Gue Bos, sorry ga sengaja...," sahut Edi santai lalu bergegas menyingkirkan kaleng kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah.


" Lain kali yang tertib dong Ed. Di sini bengkel, tempat kerja, punya aturan yang harus dipatuhi. Di sini bukan pinggir jalan dimana Lo bebas berbuat seenaknya...!" kata Gama ketus.


" Iya Bos...," sahut Edi cepat.


" Ini berlaku juga buat Lo dan Lo...!" kata Gama sambil menunjuk Ipung dan Riki bergantian.


" Siap Bos. Kita ngerti kok...," sahut Ipung yang diangguki Riki.


" Jangan ngerti-ngerti aja Lo. Tapi nyatanya masih aja ngulangin kesalahan yang sama. Heran deh Gue, kenapa bisa punya karyawan koplak kaya Lo bertiga...," gerutu Gama sambil menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Edi, Ipung dan Riki nampak saling menatap kemudian tertawa tanpa suara setelah Gama berlalu. Mereka menganggap apa yang Gama ucapkan adalah seuatu yang lucu dan menghibur.


" Kenapa tuh si Bos, sensi amat kaya Nenek-nenek lagi PMS...," kata Riki sambil mengerucutkan bibirnya.


" Dasar sableng. Mana ada Nenek-nenek menstruasi...!" kata Edi sambil melempar botol bekas air mineral hingga membuat Riki dan Ipung tertawa.


" Lagi ribut kali sama ceweknya...," sahut Ipung sambil merapikan peralatan di kotak perkakas.


" Cewek yang mana ?. Setau Gue Bos mah jomblo...," kata Edi.


" Emangnya Lo siapa sampe Bos harus laporan sama Lo soal ceweknya. Rahasia lah, yang pasti Bos punya pasangan ga kaya Kita...," kata Riki.


" Iya juga sih. Mustahil orang keren kaya Bos ga punya cewek. Gue aja kalo jadi cewek pasti kesengsem berat sama si Bos. Udah ganteng, supel, baik, sholeh lagi...," kata Ipung penuh damba.


" Kalo Gue, seandainya Gue punya sodara cewek atau anak cewek pasti langsung Gue nikahin aja sama si Bos. Gapapa deh jadi istri ke sembilan, yang penting nikahnya sama Bos Gama...," kata Riki menambahkan.

__ADS_1


Ucapan Riki membuat Ipung dan Edi tertawa geli.


" Itu mah kesannya Lo maksa Rik. Padahal orang nikah maksimal empat, masa Lo jadiin anak perempuan Lo itu istri ke sembilannya Bos Gama. Dasar Bapak sableng...!" kata Edi di sela tawanya.


" Kan Gue bilang seandainya. Itu ungkapan hati Gue yang terdalam lho. Saking sayangnya Gue sama Bos Gama, sampe anak atau sodara pun rela Gue kasih ke dia...," sahut Riki sambil memeluk tubuhnya sendiri hingga tawa Ipung dan Edi kembali meledak.


Di lantai atas Gama nampak tersenyum sambil menggelengkan kepala. Rupanya ia mendengar obrolan ketiga karyawannya tadi.


Gama menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pikirannya melayang entah kemana. Saat ingatannya kembali pada Lilian, Gama pun langsung mengusap wajahnya kasar.


" Kenapa Gue jadi senewen kaya gini sih. Jangan-jangan Gue emang ga punya kesempatan buat memiliki dia...," gumam Gama sambil memejamkan mata.


Sesaat kemudian Gama berdiri lalu menatap keluar jendela. Ia melihat kepadatan jalan raya malam itu. Ia juga melihat beberapa pasangan yang sedang berpelukan sambil berboncengan di atas motor. Melihat itu membuatnya lagi-lagi teringat akan Lilian.


" Ya Allah, kalo Lilian memang bukan jodohku, tolong jauhkan lah. Tapi seandainya dia memang jodohku, tolong dekatkan Kami dan satukan Kami dalam ikatan suci...," doa Gama tulus lalu mengusap wajahnya.


\=\=\=\=\=


Entah doa Gama yang terjawab atau memang Lilian yang setengah hati menjalani hubungannya dengan Rangga. Perlahan hubungan keduanya pun merenggang.


Jawaban itu tentu saja membuat Rex senang sekaligus sedih.


Rex senang karena dalam hati kecilnya ia yakin Rangga bukan yang terbaik untuk Lilian. Namun di sisi lainnya Rex merasa iba karena Lilian sulit membuka hati untuk pria lain setelah hubungannya dengan mantan kekasihnya berakhir.


Saat itu Lilian kelas dua SMA. Kekasihnya adalah kakak kelas yang menyatakan cinta tepat di saat kelulusan. Nama pria itu Bayu, seorang pria blasteran Indonesia Belanda.


Bayu sudah lama tertarik dengan Lilian. Ia selalu mengamati gadis itu diam-diam. Hingga saat kelulusan ia memberanikan diri menyatakan perasaannya.


Lilian yang juga tertarik dan memendam rasa untuk Bayu pun menerima pria itu untuk jadi kekasihnya. Hingga kemudian keduanya menjalin cinta jarak jauh karena Bayu harus melanjutkan kuliah di negara asal sang ayah yaitu Belanda.


Saat menjelang kelulusan Lilian, Bayu datang dan mengajaknya kuliah di tempat yang sama. Lilian yang masih punya akal sehat pun menolak karena yakin jika ia mengikuti sang kekasih ke Belanda, maka hidupnya tak akan sama.


" Kamu takut apa Lian, ada Aku di sana yang bakal jagain Kamu. Kita bisa hidup seatap jika perlu...," kata Bayu kala itu.

__ADS_1


" Seatap, maksud Kamu kump*l kebo...?" tanya Lilian tak percaya.


" Jangan bilang begitu Sayang. Biaya hidup di sana untuk perantau seperti Kita lumayan tinggi. Dan untuk mensiasatinya Kami biasa tinggal bersama dengan beberapa teman untuk menghemat pengeluaran...," kata Bayu.


" Teman berbeda gender...?" tanya Lilian.


" Iya. Eit, tapi Kamu jangan khawatir. Kami bebas menjalani kehidupan Kami masing-masing tanpa ada yang boleh ikut campur...," kata Bayu.


" Termasuk free s**...," sindir Lilian.


" Kalo itu Aku ga bisa koment. Soalnya yang kaya begitu udah lazim di sana...," kata Bayu sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Apa Kamu juga melakukan itu dengan temanmu...?" tanya Lilian.


" Ga lah. Aku masih punya iman. Lagian untuk apa melakukan itu, Aku kan punya pacar yang cantik jadi Aku ga tertarik sama mereka...," sahut Bayu sambil merengkuh Lilian ke dalam pelukannya.


Lilian tersenyum sesaat. Kemudian keduanya hanyut dalam kemesraan pasangan muda mudi yang saling jatuh cinta. Namun Lilian merasa jika cara Bayu menciumnya sedikit berlebihan dan membuatnya takut. Karenanya Lilian mendorong tubuh Bayu untuk menghindari aksi Bayu selanjutnya.


Bayu yang nampaknya sudah dikuasai hasrat itu marah lalu menarik Lilian dan berniat memperk*sanya. Lilian menjerit marah dan mengambil benda apa pun yang berada di dekatnya untuk memukul Bayu.


Bayu jatuh tersungkur sambil memegangi kepalanya.


" Lian !. Kenapa Kamu pukul Aku...?!" tanya Bayu sambil menatap Lilian dengan tatapan marah.


" Ka... Kamu yang nyakitin Aku Bayu...!" kata Lian lantang.


" Aku ga nyakitin Kamu Lian. Aku justru mau nunjukin sesuatu sama Kamu...," sahut Bayu.


" Nunjukin apa...?" tanya Lilian sambil mengamati sekelilingnya untuk mencari jalan keluar.


" Sesuatu yang bakal bikin Kamu ketag*han...," sahut Bayu sambil tersenyum penuh makna lalu mencekal tangan Lilian.


Lilian meronta lalu bergeser menjauh dan hampir mencapai pintu. Saat itu lah dering ponsel Bayu terdengar memekakkan telinga. Dengan kesal Bayu meraih ponselnya dari saku kemejanya dan bersiap melempar benda itu. Namun ia urungkan saat melihat nama si penelephon di layar ponselnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2