Kidung Petaka

Kidung Petaka
46. Mengintai


__ADS_3

Rex berdiri lalu berjalan kearah pintu dan menarik tangan Gama agar tak menghalangi pintu.


" Sakit Rex !. Kasar banget sih Lo...!" kata Gama sambil mendelik kesal.


" Bakal lebih sakit lagi kalo Ibu yang narik Lo nanti. Gue cuma melindungi Lo dari omelan Ibu ya Gam, ga tau terima kasih banget sih Lo. Lagian datang ke rumah orang bukannya ngucap salam malah berdiri di pintu kaya hantu...!" omel Rex hingga membuat Lilian tersenyum.


Gama pun paham lalu ikut tersenyum karena ingat bagaimana marahnya Lanni saat melihatnya berdiri di ambang pintu. Itu karena Gama menghalangi langkahnya yang sedang membawa banyak belanjaan. Kesalahan Gama lainnya adalah berdiri di ambang pintu dan tak mau membantu Lanni yang kerepotan membawa barang.


" Ups, sorry. Emangnya Ibu lagi kemana...?" tanya Gama.


" Ngedate...!" sahut Rex dan Lilian bersamaan hingga membuat Gama tertawa.


Kemudian Gama melangkah ke depan kamar Rex dan melihat tas loreng milik Rex teronggok di sudut kamar.


" Berangkat jam berapa Rex...?" tanya Gama.


" Insya Allah jam sembilan malam...," sahut Rex.


" Kok malam sih. Kenapa ga pagi atau siang aja Rex...?" tanya Gama.


" Gue mau ngejar begal bukannya piknik Gam. Lagian itu udah perintah atasan, mana bisa Gue nawar...," sahut Rex kesal namun membuat Gama nyengir.


Gama sengaja meluangkan waktu untuk ikut mengantar Rex. Namun sayangnya Rex menolak diantar dengan alasan tak ingin melihat air mata saat keberangkatannya di bandara nanti. Padahal hampir semua anggota pasukan diantar oleh keluarganya atau bahkan kekasihnya. Apalagi tugas kali ini terbilang berat. Selain lokasinya jauh dari Jakarta, mereka juga akan berhadapan dengan segerombolan orang nekad yang tak takut mati.


" Gue ga bakal nangis Rex, Kak Lian tuh yang cengeng...," kata Gama sambil melirik Lilian.


" Sia*an Lo...," sahut Lilian sambil menatap tajam kearah Gama.


Nampaknya kali ini Lilian sedang malas ribut hingga hanya mengomentari ucapan Gama dengan kalimat singkat. Melihat Gama yang siap membalas ucapan sang kakak, Rex pun segera bicara untuk melerai pertengkaran yang siap meledak itu.


" Pokoknya ga usah nganter Gue ke bandara. Di depan rumah aja kaya biasanya udah cukup...!" kata Rex tegas.


" Emang kenapa Rex...?" tanya Gama pura-pura tak tahu.

__ADS_1


" Gapapa. Gue merasa lebih tenang aja...," sahut Rex cepat.


" Ok, siaaapp...!" sahut Gama lantang sambil menunjukkan sikap sempurna ala tentara.


Melihat tingkah Gama membuat Rex dan Lilian tertawa geli.


\=\=\=\=\=


Malam itu Rex berangkat menuju pulau Madura bersama pasukan TNI dari dua angkatan lainnya. Rencananya mereka akan disebar ke beberapa titik rawan kejahatan di sana.


Sebelumnya Pangdam Jaya memberi pengarahan kepada pasukannya melalui briefing singkat. Yel yel penuh semangat pun disuarakan untuk memberi semangat.


Di dalam pesawat terlihat para pasukan duduk sambil saling bersenda gurau. Rex nampak duduk bersandar sambil memejamkan mata dan berdzikir dalam hati. Meski mendengar beberapa rekannya bicara, Rex memilih tetap diam sambil memejamkan mata.


Rekan-rekan Rex yang mengenal Rex pun terlihat santai dan tak mau mengusik 'ritual' yang biasa Rex lakukan itu. Mereka paham jika Rex punya kebiasaan khusus yang kerap ia lakukan saat perjalanan menuju tempat tugas.


\=\=\=\=\=


Setelah beberapa hari bertugas di salah satu kota di Madura, Rex dan rekan-rekannya mulai terbiasa dengan kondisi dan situasi di pulau garam tersebut.


Kali ini mereka bertugas mengawasi jalan penghubung yang terkenal rawan tindak kejahatan. Warga setempat dan polisi dibuat kewalahan dengan tindakan para begal yang terkenal sadis itu.


Saat itu jam menunjukkan pukul dua dini hari. Tiga regu ditugaskan menyebar di sepanjang jalan sedangkan dua regu lagi stay di tempat.


Rex sedang berdiri di depan pos sambil mengamati sekelilingnya saat Sersan Dua Andi datang menghadap.


" Selamat malam Pak. Sersan Dua Andi melapor...!" kata sersan Andi.


" Selamat malam. Ada apa Sersan...?" tanya Rex sambil membalikkan tubuhnya.


" Sepanjang pengamatan regu Kami, jalanan aman. Hanya Kami mencurigai sebuah pergerakan di pinggir hutan dekat perbatasan rumah penduduk Pak...," sahut sersan Andi.


Rex mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Andi.

__ADS_1


" Bicara yang santai dan ga usah berbelit-belit Ndi...," pinta Rex sambil menatap Andi lekat.


" Siap !. Begini Pak, salah satu anggota melihat dua orang pria berjalan kearah hutan. Mereka mengenakan sarung seperti warga umumnya. Hanya saja mereka terlihat menyembunyikan sesuatu di balik sarungnya itu Pak. Dan saat diamati lebih jelas, ternyata mereka membawa senjata tajam. Setau Kami hutan itu bukan hutan terlarang yang jarang dikunjungi warga. Hutan itu merupakan jalan pintas yang biasa ditempuh warga dari dan menuju salah satu tempat wisata terkenal di daerah sini. Jadi jika mereka beralasan membawa senjata tajam ke hutan karena hendak menghindari hewan buas, rasanya tak masuk akal Pak...," kata sersan Andi panjang lebar.


" Kamu betul. Hutan yang sering dilintasi manusia membuat hewan asli penghuni hutan akan menyingkir secara perlahan. Mereka ga akan menyerang manusia jika koloninya ga diganggu. Berarti ada kemungkinan dua pria itu hendak melakukan sesuatu dengan membawa sajam. Bukan begitu Sersan...?" tanya Rex.


" Siap, betul Pak...!" sahut sersan Andi lantang.


" Sekarang waktunya Kita bertindak. Dimana Danru Ahmad dan Satria...?" tanya Rex.


" Masih memimpin mengawasi situasi jalan dan pergerakan mereka Pak...!" sahut sersan Andi.


" Kalo gitu tolong panggil Danru Tofiq dan Reza kemari. Kita bicara di sini sekarang...," kata Rex.


" Siap Pak...!" sahut sersan Andi lalu bergegas memanggil kedua rekannya itu.


Setelah membeberkan rencana penyergapan pada ketiga Komandan Regu, Rex pun bersiap meluncur ke lokasi didampingi sersan Andi.


Rex dan Andi berboncengan dengan motor menuju lokasi. Tiba di sana mereka di sambut Ahmad dan Satria yang rupanya paham dengan maksud kedatangan Rex ke sana.


" Jangan gegabah dan tetap waspada. Kamu dan pasukanmu tetap mengawasi jalan. Sedangkan Kalian berdua beserta pasukan ikut Saya...!" kata Rex tegas.


" Siap Pak...!" sahut Andi, Satria dan Ahmad bersamaan.


Ahmad kembali ke jalan untuk mengawasi situasi sedangkan Satria dan Andi beserta pasukan masing-masing mengikuti Rex.


Berjalan dalam gelap dan tanpa suara adalah salah satu keahlian anggota TNI. Mereka dengan mudah tiba di lokasi penyergapan meski pun tanpa penerangan dan hanya mengandalkan cahaya bulan.


Rex pun memberi aba-aba berhenti pada pasukannya saat melihat cahaya berpendar di kejauhan. Rupanya ada rumah yang lumayan besar berdiri kokoh di tengah hutan. Penerangan di rumah itu cukup baik karena rumah dan halaman di sekitarnya terlihat terang benderang.


" Itu mereka Pak...," bisik sersan Andi sambil menunjuk kearah dua pria yang baru saja keluar dari rumah.


Rex mengangguk dan ikut mengamati gerak-gerik kedua pria itu. Seperti dugaan Andi, kedua pria itu menyembunyikan senjata tajam di balik pakaiannya. Dan senjata tajam berbentuk parang dan celurit itu kini ada dalam genggaman mereka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2