
Taufan dan beberapa anak buahnya tiba di sebuah rumah besar bergaya modern minimalis di bilangan Jakarta Utara. Rumah itu adalah milik Romli, bos mie ayam, dengan istri keduanya.
Seorang asisten rumah tangga keluar untuk menanyakan tujuan kedatangan Taufan dan anak buahnya itu.
" Pak Romli ada Bi...?" tanya Taufan dengan santun.
" Bapak baru aja pulang, lagi istirahat di kamar. Kalo boleh tau Bapak-bapak ini siapa dan ada perlu apa mencari Bapak...?" tanya sang asisten rumah tangga Romli.
" Kami Polisi, ada hal penting yang harus Kami bicarakan dengan Pak Romli. Bisa tolong panggilkan Bi...?" tanya Taufan.
" Ba... baik Pak. Tunggu sebentar...," sahut sang asisten rumah tangga itu dengan gugup.
Taufan tersenyum tipis menyaksikan tingkah asisten rumah tangga Romli itu.
Di dalam rumah, sang asisten rumah tangga nampak mengetuk pintu sebuah kamar.
" Ada apa Bi...?" tanya seorang wanita yang merupakan istri Romli.
Sang asisten rumah tangga bernama Mar itu nampak menundukkan kepala dengan hormat saat berhadapan dengan seorang wanita berambut kusut.
" Maaf Bu, ada tamu cari Bapak...," sahut bi Mar.
" Tamu, siapa ?. Ini udah malam, udah bukan jam bertamu lho Bi...," kata istri Romli mengingatkan sambil merapikan rambutnya.
" Polisi Bu...," sahut bi Mar hati-hati tapi tetap membuat wanita itu terkejut.
" Polisi...?!" tanya istri Romli dengan nada suara lebih tinggi.
" Ada apa sih Ma, lama banget...?" tanya Romli tak sabar.
" Kata Bi Mar ada Polisi di depan cari Papa...," sahut istri Romli panik.
Mendengar ucapan istrinya Romli pun bergegas merapikan penampilannya lalu menemui para polisi itu. Istri Romli pun mengikuti dari belakang dengan cemas.
" Selamat malam Pak Romli...," sapa Taufan sambil tersenyum.
__ADS_1
" Selamat malam Pak. Mari silakan masuk...," kata Romli.
" Makasih Pak, tapi maaf Kita harus segera ke kantor sskarang...," sahut Taufan dengan tenang.
" Kita ?. Maksud Bapak Saya ditangkap...?" tanya Romli tak percaya.
" Bukan ditangkap. Kami hanya ingin menanyai beberapa hal penting di kantor berkaitan dengan ledakan di kios tempo hari...," sahut Taufan.
" Apa ga bisa di rumah aja Pak...?" sela istri Romli gusar.
" Maaf ga bisa Bu. Ini sudah prosedur dan semua harus patuh...," sahut Taufan sambil menggelengkan kepala.
" Udah gapapa Ma...," kata Romli berusaha menenangkan istrinya.
" Tapi Pa...," ucapan istri Romli terputus karena Romli nampak tak menggubris ucapannya.
" Ok, Saya siap Pak...," kata Romli sambil mengulurkan kedua tangannya seolah siap diborgol.
Melihat sikap Romli membuat kedua mata istri Romli berkaca-kaca. Taufan pun tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
" Ga perlu Pak. Kami percaya Pak Romli orang yang kooperatif dan bisa dipercaya. Silakan...," kata Taufan sambil menunjuk ke mobil yang pintunya telah dibuka oleh salah satu anak buah Taufan.
\=\=\=\=\=
Setelah menjawab beberapa pertanyaan, tiba lah saatnya Romli dipertemukan dengan Hamidah. Keduanya sama-sama terkejut dan terpaku di tempat. Sesaat kemudian Romli nampak membuang tatapannya kearah lain dengan tatapan kesal.
" Kenapa Saya harus dipertemukan dengan dia Pak Polisi...?" tanya Romli.
" Kenapa Bang, apa Kamu ga mau ngeliat Aku lagi. Apa salahku sampe Kamu sebenci ini sama Aku Bang...?" tanya Hamidah dengan nada kecewa.
" Ga usah pura-pura ga tau Midah !. Kamu kan dalang dari ledakan di kios itu...?!" tanya Romli marah sambil menatap nanar kearah Hamidah.
" Kata siapa Bang, Aku ga tau menau soal itu. Aku...," ucapan Hamidah terputus saat Romli memotong cepat.
" Ga usah berkelit lagi Midah. Aku tau semuanya...!" kata Romli gusar.
__ADS_1
Hamidah tertawa usai mendengar ucapan Romli. Para polisi yang ada di ruangan itu pun hanya membisu menyaksikan perdebatan Romli dan Hamidah.
" Kamu ga tanya alasan apa yang bikin Aku nekad melakukannya Bang...?" tanya Hamidah saat tawanya mereda.
" Pasti karena Kamu cemburu. Sejak dulu Aku memang ga nyaman sama sikap cemburumu yang berlebihan itu Midah...," sahut Romli dengan enggan.
" Jadi karena itu Kamu ninggalin Aku ?. Hanya karena itu Kamu mengingkari janjimu Bang ?. Kenapa Kamu menikahi wanita lain dan bukan Aku. Kenapa Bang...?!" tanya Hamidah marah.
" Bukan hanya itu Midah. Tapi ada hal lain yang bikin Aku meralat semua janjiku...," sahut Romli.
" Apa Bang...?!" tanya Hamidah tak sabar.
" Kamu selingkuh dengan laki-laki lain Midah. Aku pernah bilang kalo Aku ga bakal mau menyentuh wanita yang juga disentuh laki-laki lain. Kamu ingat itu Midah...?" tanya Romli sambil melirik tajam kearah Hamidah.
Ucapan Romli mengejutkan Hamidah. Ia tak menyangka jika Romli mengetahui hubungannya dengan Codot, si mantan napi yang kini kembali meringkuk di sel tahanan.
" Kamu salah paham Bang. Aku sama dia...," ucapan Hamidah lagi-lagi terputus.
" Sudah Midah, Aku ga butuh penjelasanmu. Anggap Kita tak berjodoh dan jangan ganggu hidupku lagi. Lebih baik Kamu lanjutkan hidupmu bersama laki-laki pilihanmu itu. Jalani saja hukuman akibat perbuatanmu itu dan jangan seret orang lain atau Aku ke dalamnya karena semua terjadi di luar pengetahuanku. Kamu yang merencanakannya, maka Kamu juga yang harus menanggung resikonya...," kata Romli lirih.
Mendengar ucapan Romli membuat Hamidah menangis. Ia menyesal karena telah membiarkan Codot masuk dalam hidupnya.
Hamidah ingat bagaimana Codot terus merayunya dengan berbagai cara dan memberinya kepuasan saat Romli tak datang mengunjunginya. Hamidah terlena dan tak sadar jika ia telah mengkhianati Romli. Padahal tinggal selangkah lagi ia akan menjadi nyonya Romli.
" Bisa kah Kita perbaiki semuanya Bang ?. Aku sangat mencintaimu dan tak bisa hidup tanpamu...," kata Hamidah menghiba.
" Maaf ga bisa Midah. Aku telah menikah dengan wanita pilihan Istriku. Andai Kamu mau bersabar sedikit lagi, saat ini Kita pasti sudah bersama Midah...," sahut Romli sambil melengos.
" Kamu terus minta Aku sabar dan sabar. Tapi sampe kapan Bang ?. Usiaku ga lagi muda, Aku juga butuh status...!" kata Hamidah di sela isak tangisnya.
" Aku sudah berhasil memperjuangkan Kamu Midah. Istriku telah memberi restu untuk Kita. Tapi saat Aku datang ke rumah Kita untuk memberitahu kabar gembira itu, Aku justru melihatmu sedang tidur dengan laki-laki lain...!" kata Romli lantang hingga membuat Hamidah terkejut lalu jatuh terduduk di lantai.
Dua orang polisi maju untuk membantu Hamidah bangun dan duduk di atas kursi.
" Aku malu dan tak bisa berbuat apa-apa karena orang yang Aku perjuangkan susah payah justru mengkhianati Aku. Aku malu karena saat itu Istriku juga menyaksikan perbuatanmu Midah !. Dia datang bersamaku karena ingin bertemu dengan wanita yang akan menjadi Ibu dari Anakku. Tapi sayangnya Kamu ga lebih dari seorang pela**r murahan yang rela tubuhnya dinikmati oleh banyak laki-laki. Dan karena ulahmu itu Istriku mencabut restunya dan memilih wanita lain untuk Kunikahi...," kata Romli lirih.
__ADS_1
Hamidah makin keras menangis. Ia sadar kesalahan terletak pada dirinya. Dia yang tak setia dan karenanya Romli meninggalkannya.
\=\=\=\=\=