
Setelah menyelesaikan sarapan, Rex dan dokter Aksara pun bergegas pamit karena khawatir terlambat. Azam dan Itje pun mau tak mau melepas kepergian dua sejoli itu karena memang tak mungkin menahan mereka.
" Hati-hati, ga usah ngebut ya...," pesan Itje.
" Iya Tante. Kami pergi dulu ya, Assalamualaikum..., " pamit Rex lalu melajukan motornya perlahan.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Azam dan Itje bersamaan.
Setelah melepas kepergian Rex dan dokter Aksara, Azam dan Itje pun masuk ke dalam rumah.
" Apa Papa setuju kalo Sara sama Rex...?" tanya Itje.
" Daripada Faisal, Papa sih lebih suka sama Rex. Dari penampilan luarnya aja Kita bisa tau gimana kepribadiannya...," sahut Azam.
" Iya sih. Tapi gimana sama Pak Melvin Pa...?" tanya Itje.
" Lho kenapa sama Pak Melvin...? " tanya Azam sambil menoleh kearah sang istri.
" Keliatannya Pak Melvin itu tertarik sama Sara...," sahut Itje.
" Kan baru keliatannya. Papa sendiri bingung sama niat Pak Melvin datang ke sini. Malam-malam, rombongan pula, ga lazim banget. Apalagi dia bertamu lumayan lama lho Ma. Padahal kan Kita ga kenal sama dia dan dia juga bukan saudara atau kerabat Kita...," sahut Azam sambil melengos.
" Atau jangan-jangan Pak Melvin mau menjodohkan Sara sama anak lelakinya Pa...," kata Itje.
" Anak lelaki yang mana ?. Jangan sok tau deh Mama. Lagian ga usah ngejodohin si Sara sama laki-laki mana pun lagi Ma. Papa kapok. Biar aja Sara menentukan sendiri siapa pendampingnya kelak. Dia udah dewasa dan tau bagaimana memilih yang baik dan sesuai untuk dia. Sara pasti tau resiko dari pilihannya karena dia yang bakal ngejalanin hidupnya bukan Kita. Asal Sara bahagia, Papa juga merasa senang...," sahut Azam bijak.
Itje pun termangu sejenak. Dia memang ingin Aksara bahagia, tapi dia juga tak ingin hidup serba kekurangan.
" Baik lah. Saat ini Aku cuma bisa mengiyakan keinginan Sara. Tapi kalo Rex ga bisa memenuhi standart yang Aku kasih, jangan salahin Aku kalo bakal menjegal mereka...," gumam Itje sambil tersenyum sinis.
" Kamu ngomong apa Ma...?" tanya Azam.
" Ga ngomong apa-apa kok...," sahut Itje sambil berlalu.
" Jangan macem-macem ya Ma. Simpan aja niat busukmu itu. Kalo Kamu sampe berani mengganggu Sara, Aku ga bakal segan untuk bertindak. Dan Kamu pasti akan menyesal nanti...," kata Azam setengah mengancam.
Itje menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan suaminya. Ia menoleh dan melihat kedua mata Azam tengah menyorot tajam kearahnya. Entah mengapa saat itu juga Itje merasa nyalinya menciut.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Rex dan dokter Aksara pun tiba di depan Rumah Sakit. Rex sengaja hanya mengantar hingga gerbang Rumah Sakit karena masih harus melanjutkan perjalanan.
" Insya Allah nanti sore Aku ke sini lagi...," kata Rex sambil menerima helm yang disodorkan dokter Aksara.
" Tapi Aku pulang malam Sayang...," sahut dokter Aksara.
" Iya Aku tau. Aku kan pernah bilang kalo Aku janji sama Ustadz Akbar untuk membantu Bu Elvira. Gapapa kan...?" tanya Rex hati-hati.
" Gapapa. Asal Kamu tepati janji Kamu ya...," sahut dokter Aksara.
" Ok Sayang. Makasih yaa...," kata Rex sambil mengusap pipi sang kekasih dengan lembut.
" Sama-sama...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum manis.
Setelahnya kedua sejoli itu berpisah. Rex melajukan motornya membelah jalan raya sedangkan dokter Aksara bergegas masuk ke area Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Sore itu Elvira diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, dokter Aksara pun mengiyakan keinginan Elvira untuk pulang.
" Makasih dok...," kata ustadz Akbar setelah mendengar penjelasan dokter Aksara.
" Sama-sama Pak...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.
" Gimana Ustadz, apa Bu Elvira bisa pulang sore ini...?" tanya Rex.
" Iya Mas Rex. Kata dokter, Elvira bisa pulang sekarang...," sahut ustadz Akbar sambil membuka pintu lebar-lebar.
" Oh Kamu di sini juga...," sapa Rex saat melihat sang kekasih di kamar Elvira.
" Iya, baru aja selesai ngecek kesehatan Bu Elvira. Ternyata semua Ok, makanya Bu Elvira bisa pulang sekarang..., " sahut dokter Aksara.
" Aku anterin Bu Elvira dulu ya. Insya Allah Aku jemput Kamu nanti...," kata Rex sambil mendekat kearah sang dokter.
" Ga perlu. Kamu bantu Ustadz Akbar dan Bu Elvira aja dulu sampe selesai. Kita kan ga tau berapa lama Kamu di sana nanti...," sahut dokter Aksara.
" Aku usahakan selesai lebih cepat nanti...," kata Rex.
" Kalo udah selesai lebih baik Kamu langsung pulang ke rumah. Aku ga mau Kamu kecapean karena bolak balik ke Rumah Sakit. Lagian Aku kan bawa mobil...," kata dokter Aksara menenangkan Rex sambil menepuk lengan sang kekasih dengan lembut.
__ADS_1
" Ok deh, Aku nurut apa kata Kamu...," kata Rex sambil tersenyum hingga membuat wajah dokter Aksara berbinar bahagia.
Elvira dan ustadz Akbar nampak saling menatap kemudian tersenyum melihat interaksi Rex dan dokter Aksara. Tanpa perlu dijelaskan pun mereka tahu bagaimana bentuk hubungan Rex dan sang dokter.
Setelah membantu mengurus administrasi Elvira selama dirawat, dokter Aksara pun ikut mengantar Elvira hingga ke parkiran Rumah Sakit. Ia menyaksikan sang kekasih mengawal ustadz Akbar dan Elvira dengan motornya.
Dokter Aksara tersenyum melepas kepergian Rex, ustadz Akbar dan Elvira.
" Aku bangga melihat Kamu berusaha menjaga hatimu untukku. Semoga Kita bisa bertahan menghadapi semuanya ya...," gumam dokter Aksara.
Setelahnya sang dokter nampak membalikkan tubuhnya lalu melangkah masuk ke loby Rumah Sakit dengan senyum bahagia menghias wajahnya.
Di waktu yang sama di tempat yang lain terlihat Rex tengah memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia nampak bahagia mengetahui sang kekasih bukan lah sosok wanita pencemburu yang akan membatasi langkahnya. Justru gadis itu mendukung niat baiknya untuk membantu Elvira.
" Ternyata dia pengertian banget. Bikin tambah sayang aja...," gumam Rex sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian Rex menghentikan motornya di depan sebuah rumah. Ternyata ustadz Akbar membawa Elvira ke rumahnya dan bukan ke panti asuhan Pelita Ibu.
" Kalo di sini Kita bisa lebih fokus membantu Kamu tanpa harus menarik perhatian orang lain. Pakde ga mau bikin Adik-adikmu khawatir. Karena itu bisa berimbas buruk sama perkembangan mental mereka nanti...," kata ustadz Akbar.
" Iya Pakde, Aku ngerti kok...," sahut Elvira.
" Ayo masuk...," ajak ustadz Akbar.
" Kok sepi, Bude sama Mbak Aira mana Pakde...?" tanya Elvira.
" Vira Vira. Segitu ga pedulinya Kamu sama keluarga sampe Pakde pun Kamu bawa-bawa..., " kata ustadz Akbar sambil menggelengkan kepalanya.
" Maaf, tapi maksud Pakde gimana ya...?" tanya Elvira tak mengerti.
" Bude Kamu kan udah meninggal Vira. Kalo Mbakmu sudah menikah dan ikut sama Suaminya yang tinggal di Surabaya. Sekarang Pakde tinggal sama Pak Usup aja di sini. Sesekali anaknya datang buat bantu-bantu bersihin rumah...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Maaf Pakde, Aku ga tau sama sekali...," kata Elvira tak enak hati.
" Iya gapapa. Udah yuk Kita masuk sekarang. Ayo Mas Rex...!" ajak ustadz Akbar sambil menoleh kearah Rex.
" Iya Ustadz...," sahut Rex sambil memarkirkan motornya tepat di bawah pohon mangga.
Kemudian Rex menyusul ustadz Akbar dan Elvira yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Namun saat langkah Rex mencapai teras rumah, ia mendengar suara senandung di kejauhan. Lirih dan nyaris tak terdengar karena tersamar dengan suara gemerisik daun pohon mangga yang tertiup angin.
\=\=\=\=\=