
Saat tiba di pos security, tampak ketiga preman tadi tengah diinterogasi oleh polisi yang juga hadir untuk mengamankan acara.
" Jadi siapa yang nyuruh Kalian dan apa motifnya...?" tanya salah seorang polisi.
" Ga ada yang nyuruh Pak. Itu ide Kami kok...," sahut preman berambut gimbal.
" Diantara Kalian siapa pimpinannya...?" tanya polisi.
" Dia Pak...," kata preman berambut gimbal dan preman berkaca mata sambil menunjuk kearah pria kurus yang tengah semaput itu.
Jawaban kedua preman itu mengejutkan polisi karena tak menyangka justru pria kurus itu adalah pimpinan mereka. Rex yang berdiri di ambang pintu hanya tersenyum karena sejak awal dia sudah menduga jika pria itu adalah pimpinan mereka.
Setelah diinterogasi, ketiga preman itu digelandang ke kantor polisi terdekat. Mereka terancam penjara karena telah mengganggu ketertiban dan keamanan warga.
\=\=\=\=\=
Sore harinya ketiga kelompok team dokter telah kembali berkumpul di kantor kecamatan. Sebelum kembali ke Jakarta mereka dijamu oleh Camat di aula kantor kecamatan. Saat itu lah Rex kembali melihat dokter Aksara yang tengah berbincang dengan rekan-rekannya dan para perawat.
Rupanya mereka sedang berbagi cerita tentang pengalaman mereka masuk ke kawasan rawan kejahatan itu.
" Tapi dari semua cerita yang Kita denger, cuma cerita dokter Aksara yang paling dramatis...," kata dokter Safa.
" Betul. Nyuntik preman pake obat yang dikenal orang awam sebagai obat tidur itu emang jempolan banget deh. Top banget...," kata dokter Ahmad sambil tertawa.
" Abis Gue kan refleks tadi. Ngeliat tuh preman udah bikin kacau di luar dan berkali-kali ngeliat ke dalam, feeling Gue mereka juga bakal masuk ke dalam. Ternyata beneran masuk. Untung Gue udah siapin obatnya dan tinggal tusukin aja ke lengannya. Sempet khawatir kalo ga masuk, karena badannya kan kurus banget tuh. Tapi Alhamdulillah bisa, walau pun harus nyerempet tulangnya juga tadi...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.
" Tapi dokter Aksara emang beruntung banget karena tadi juga ditolongin sama Kapten Tentara yang di sana itu...," kata seorang perawat setengah berbisik sambil menunjuk kearah Rex.
Semua tenaga medis yang tengah berbincang itu pun menoleh dan menatap Rex yang tengah duduk sambil berbincang dengan Camat dan stafnya beserta beberapa rekannya dan juga polisi.
Merasa diamati, Rex menoleh kearah team kesehatan itu lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Hal itu membuat dokter Aksara dan rekan-rekannya pun balas tersenyum.
" Ck, udah ganteng ramah pula. Kaya gini nih yang bikin klepek-klepek...," kata salah seorang perawat sambil menggelengkan kepala.
" Hush..., inget Suami sama Anak di rumah. Yang ini jatahnya yang jomblo bukan Lo...," kata seorang perawat mengingatkan.
" Jangan bawa-bawa Suami sama Anak dong. Ga seru Lo...," sahut sang perawat sambil melengos hingga membuat semua orang tertawa.
Tak lama kemudian semua bersiap kembali ke Jakarta.
__ADS_1
" Karena sudah malam, Kita bisa langsung ke tujuan masing-masing ya. Tolong dikoordinasi siapa saja yang pulangnya searah biar supir ga perlu memutar arah...," kata Rex menengahi.
Semua pun mulai bergabung dengan regu masing-masing yang punya tujuan yang searah. Ternyata Rex dan dokter Aksara berada dalam regu yang sama beserta dua orang lainnya.
Setelahnya mobil pun bergerak meninggalkan kantor kecamatan. Saat itu Rex mengendarai mobil dinas, bertukar tempat dengan rekannya yang lain.
" Jadi Kita antar siapa dulu nih...?" tanya Rex mencoba mencairkan suasana.
" Terserah Kapten aja...," sahut dua orang perawat bersamaan.
" Sebaiknya ikuti jalurnya aja. Kalo Kapten Rex ambil jalan ke kanan, artinya Suster Kiki yang sampe lebih dulu. Kalo Kapten Rex ambil jalur kiri, artinya Suster Dian yang turun duluan...," sela dokter Aksara menengahi.
" Oh gitu. Karena dokter Aksara yang paling jauh rumahnya, jadi dokter Aksara harus ngalah dong...," kata Rex.
" Gapapa kok. Saya bisa sabar asal bisa menyaksikan mereka pulang dengan selamat...," gurau dokter Aksara sambil tersenyum disambut tawa tiga orang lainnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya. Sesuai prediksi dokter Aksara, Rex menurunkan suster Kiki lebih dulu dilanjut suster Dian kemudian.
" Sekarang tinggal nganter dokter Aksara deh...," kata Rex saat suster Dian turun dari mobil.
" Iya. Maaf ya merepotkan. Dan makasih juga karena udah nolongin Saya dari gangguan preman itu tadi...," kata dokter Aksara dengan tulus.
" Sama-sama...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Apa ini...?" tanya dokter Aksara.
" Boleh minta nomor ponselnya kan dok...?" tanya Rex sambil menatap dokter Aksara lekat.
Dokter Aksara nampak termangu sesaat seolah menimbang-nimbang namun sedetik kemudian dia pun mengangguk lalu meraih ponsel Rex. Kemudian dokter Aksara mengetik nomor ponselnya dengan cepat lalu mengembalikan ponsel Rex sambil tersenyum.
" Makasih ya dok...," kata Rex setelah memastikan nomor yang diberikan sang dokter memang asli.
" Sama-sama. Eh, Kita mau kemana nih...?" tanya dokter Aksara saat mobil dinas tentara itu berbelok.
" Mau ke SPBU dok, liat kan tankinya hampir kosong...," sahut Rex.
" Oh gitu...," gumam dokter Aksara dengan wajah merona karena malu telah suudzon kepada Kapten Rex.
Rex tersenyum melihat sang dokter cantik yang terlihat gugup itu. Dalam hati ia kagum dengan sikap sang dokter yang tetap waspada dengan lawan jenis meski pun mereka telah saling mengenal.
__ADS_1
Ternyata antrian di SPBU lumayan panjang dan itu membuat Rex gelisah.
" Kenapa Kapten...?" tanya dokter Aksara tak enak hati.
" Antrian panjang kaya gini biasanya agak lama dok. Dan andai waktu yang dihabiskan untuk menunggu ini diisi dengan minum kopi pasti seru...," sahut Rex sambil menggaruk kepalanya.
Ucapan Rex membuat dokter Aksara tak kuasa menahan tawa. Saat itu dokter Aksara merasa jika Rex sengaja memutar kalimat hanya untuk mengatakan bahwa dirinya butuh kopi.
" Jadi Kapten mau ngopi ?. Biar Saya turun buat beli kopi ya, nah Kapten tetap stay di dalam mobil supaya antriannya ga diisi orang lain. Gimana Kapten...?" tanya dokter Aksara dengan mimik wajah lucu.
" Ide bagus. Saya setuju, terima kasih dokter Aksara...," sahut Rex juga dengan mimik wajah lucu hingga membuat dokter Aksara kembali tertawa.
Kemudian dokter Aksara turun dari mobil dan bergegas membeli kopi di gerai minuman yang ada di SPBU itu.
" Tambah cantik kalo lagi ketawa...," gumam Rex sambil tersenyum mengamati dokter Aksara.
Sepuluh menit kemudian dokter Aksara kembali dengan membawa dua gelas kopi. Saat itu Rex sudah selesai mengisi bahan bakar dan menunggu di depan SPBU.
" Ini kopinya Kapten...," kata dokter Aksara sambil menyodorkan segelas kopi kearah Rex.
" Satu aja dok, kalo dua kebanyakan...," sahut Rex.
" Oh yang ini buat Saya kok, Kapten jangan geer ya...," gurau dokter Aksara namun membuat Rex terkejut.
" Kamu ngopi juga...?" tanya Rex yang refleks merubah panggilan dari Anda menjadi Kamu hingga membuat hati dokter Aksara menghangat.
" Iya, kenapa emangnya...?" tanya dokter Aksara.
" Gapapa sih. Biasanya kan cewek ga suka minum kopi termasuk Kakak Saya. Dia paling marah kalo tau Saya ngopi di jam selarut ini. Dia malah nyuruh Saya minum susu lho dok. Yah walau alasannya itu tepat, tapi kan ga banget kalo begadang nonton bola ditemenin segelas susu. Kaya anak kecil aja...," sahut Rex sambil mencibir lalu meneguk kopinya perlahan.
Ucapan Rex membuat dokter Aksara tertawa lepas dan Rex tersenyum melihatnya.
" Saya senang bisa ngeliat Kamu tertawa lepas gini dok...," kata Rex sungguh-sungguh.
" Saya juga senang karena udah lama ga bisa ketawa lepas kaya gini...," sahut dokter Aksara.
" Itu artinya Kamu nyaman berada di samping Saya...," kata Rex sambil tersenyum penuh makna.
" Ga usah ngegombal, ga mempan. Jalan sekarang yuk...," ajak dokter Aksara.
__ADS_1
" Siap Bu...!" sahut Rex hingga membuat dokter Aksara kembali tersenyum manis.
\=\=\=\=\=