
Bayu tersenyum lalu bergeser menjauh untuk menerima panggilan telephon dari seseorang yang diyakini Lilian sebagai teman spesialnya. Lilian menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Namun sebelum keluar ia sempat menoleh dan melihat Bayu sedang melakukan video call dengan wanita berpakaian se** bahkan cenderung telanj**ng hingga membuatnya muak.
Dari jarak beberapa meter Lilian bisa mendengar pembicaraan Bayu dengan wanita itu. Meski pun menggunakan bahasa asing, tapi Lilian tahu jika wanita itu sedang menggoda Bayu dengan cara memperlihatkan tubuhnya melalui sambungan video call itu.
Saat itu Lilian sadar jika Bayu bukan lagi Bayu yang sama seperti setahun lalu saat Lilian menerima cintanya. Bayu yang sekarang ada di hadapannya hanya sosok pria mesum yang menghalalkan segala cara agar hasratnya bisa segera terpenuhi.
Lilian tiba di pekarangan rumah Bayu dan langsung berlari keluar menuju jalan raya. Ia tak peduli panggilan Bayu yang terus mengejarnya. Beruntung sebuah Taxi berhenti di hadapan Lilian. Sang supir Taxi membukakan pintu untuk gadis itu dan berteriak memanggil Lilian.
" Masuk Neng...!" panggil supir Taxi dengan suara lantang.
Lilian pun mengangguk lalu masuk ke dalam Taxi. Setelahnya sang supir melajukan Taxinya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Bayu yang berteriak marah karena buruannya lepas.
Di dalam Taxi Lilian menangis keras hingga membuat supir Taxi yang berusia sepuh itu iba.
" Alhamdulillah dia ga ngejar. Yang sabar ya Neng. Nangis deh biar takutnya berkurang...," kata supir Taxi itu sambil menyodorkan kotak tissu kearah Lilian.
" Makasih Pak...," sahut Lilian sambil meraih beberapa lembar tissu untuk menghapus air matanya.
" Sama-sama..., " sahut supir Taxi sambil tersenyum.
Kemudian Lilian menyebutkan alamat rumahnya dan sang supir Taxi mengangguk mengiyakan. Setengah jam kemudian mereka tiba di depan rumah dan Lilian pun langsung menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepada sang supir.
" Ini kebanyakan Neng...," kata supir Taxi.
" Gapapa Pak, ambil aja buat Bapak. Saya ga bisa membalas kebaikan Bapak karena udah membantu Saya lepas dari orang breng**k itu...," sahut Lilian.
" Saya melakukannya ikhlas karena Allah Neng. Simpan aja buat Neng, buat jajan...," kata supir Taxi sambil meletakkan selembar uang ratusan ribu di telapak tangan Lilian.
" Tapi Pak...," ucapan Lilian terputus karena dipotong cepat oleh sang supir.
" Saya cuma mau Neng janji satu hal. Ke depannya Neng harus hati-hati dan ga gampang percaya sama mulut manis laki-laki, sedekat apa pun hubungan Kalian...," kata supir Taxi itu dengan mimik wajah serius.
Ucapan sang supir Taxi membuat Lilian terharu. Ia pun mengangguk lalu mengatakan sesuatu yang membuat sang supir Taxi menghela nafas lega lalu tersenyum.
" Iya Pak. Saya janji bakal hati-hati..., " sahut Lilian dengan suara tercekat.
__ADS_1
" Bagus. Saya pamit ya, Assalamualaikum..., " kata supir Taxi lalu melajukan Taxi nya meninggalkan Lilian.
Lilian bergegas masuk saat pintu terbuka. Kedatangan Lilian disambut oleh Rex yang nampak berdiri di balik pintu sambil menatapnya curiga.
" Kakak kenapa, mana Bang Bayu ?. Bukannya tadi Kakak pergi sama dia...?" tanya Rex.
Bukannya menjawab pertanyaan sang adik, Lilian pun menangis lalu berlari masuk ke kamar. Rex menatap sang kakak dengan tatapan bingung. Namun sedetik kemudian Rex menggeleng maklum.
" Ck, orang pacaran tuh drama banget sih. Jauh kangen, kalo ketemu ribut. Dasar aneh...," gerutu Rex sambil berlalu.
Namun sejak hari itu Rex tak pernah lagi melihat Bayu datang berkunjung ke rumah. Beberapa kali Rex menciba bertanya namun selalu mendapat respon yang tak menyenangkan. Selain melarang Rex untuk membahas Bayu, Lilian juga mewanti-wanti Rex agar tak membuka pintu untuk Bayu jika dia datang bertamu kelak.
" Aku harus tau alasannya kenapa ga boleh bukain pintu buat dia. Itu kan ga sopan Kak...!" protes Rex gusar.
" Tapi Kakak takut ketemu dia Rex...," kata Lilian lirih hingga membuat Rex terkejut.
" Takut kenapa ?. Bang Bayu kasar sama Kakak ?. Dia mukul Kakak ?. Sebelah mana Kak, biar Aku yang balas nanti...!" kata Rex marah sambil menaikkan lengan bajunya.
" Tapi janji jangan cerita sama Ayah sama Ibu ya Rex, please...," pinta Lilian.
Kemudian Lilian menceritakan apa yang dia alami. Mendengar cerita Lilian, Rex pun marah besar. Ia berjanji akan membuat Bayu menyesal jika berani datang dan mengusik sang kakak.
" Kakak tenang aja. Ini rahasia Kita berdua. Aku ga bakalan biarin bajing*n itu deketin Kakak lagi walau hanya seujung kuku...," kata Rex sambil memeluk Lilian erat.
" Makasih ya Rex. Kali ini Kakak benar-benar berharap Kamu bisa bertindak tegas sama dia...," kata Lilian.
" Insya Allah siap Kak...," sahut Rex mantap hingga membuat Lilian tersenyum.
Sejak saat itu Lilian membiarkan sang adik menjadi body guard gratis untuknya. Mengetahui Lilian selalu dikawal oleh Rex membuat Bayu tak berani mendekati Lilian. Salah satu alasannya karena Bayu tahu jika Rex mendalami ilmu bela diri. Selain itu Bayu juga pernah melihat cara Rex menyingkirkan orang-orang yang mengganggu kakak cantiknya itu.
Meski pun selalu terlihat santai di permukaan, sesungguhnya Lilian takut untuk jatuh cinta lagi. Ia menutup pintu hatinya dengan sangat rapat karena ia sulit mempercayai ketulusan pria yang datang padanya. Bobi, Taufan dan Rangga hanya sedikit pria yang sempat dekat dengannya. Selebihnya Lilian selalu menjaga jarak.
Selain dengan sang adik, Lilian hanya merasa nyaman dan aman saat berdekatan dengan Gama. Namun sayangnya sejak insiden ciuman malam itu Lilian nampak membangun dinding tinggi untuk melindunginya dari jangkauan Gama.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam itu hujan mengguyur Jakarta dengan lebatnya. Hujan yang turun sejak sore itu membuat udara terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang.
Gama nampak merapatkan jaketnya karena tak kuasa menahan dingin. Ia berdiri di dekat jendela lantai atas sambil mengamati jalan raya yang macet karena genangan air yang memenuhi badan jalan. Para pengendara harus ekstra sabar saat melintas jika tak ingin terperosok ke dalam lubang yang tersamar oleh air.
Saat sedang mengamati jalan, Gama melihat sebuah motor didorong masuk ke dalam bengkelnya oleh dua orang yang nampak basah kuyup.
" Kenapa motornya Mas...?" sapa Ipung dengan ramah sambil menbantu mendorong motor ke dalam bengkel.
" Ga tau Mas. Mendadak mogok di tengah jalan sana...," sahut pria itu sambil membuka helmnya.
" Duduk dulu deh Mas. Biar Kami cek sebentar...," kata Ipung.
" Ok, makasih Mas. Lian sini, ngapain di luar aja...!" panggil pria itu dengan suara lantang.
Mendengar nama Lilian disebut, ketiga karyawan Gama menoleh lalu tersenyum kearah Lilian.
" Mbak Lilian toh, kirain siapa...!" sapa Riki mewakili kedua temannya.
" Iya, apa kabar Kalian...?" tanya Lilian basa basi sambil tersenyum.
" Alhamdulillah baik Mbak...," sahut Ipung, Edi dan Riki bersamaan.
Lilian mengedarkan pandangannya dan tatapannya berhenti pada sosok Gama yang saat itu tengah menuruni anak tangga.
Dengan tenang Gama menghampiri Lilian lalu menyapa gadis itu dan pria yang datang bersamanya.
" Ga nyangka Kamu kenal sama pemilik bengkel dan karyawannya Li...," bisik pria itu sinis.
" Mereka teman adikku. Wajar kan kalo Aku kenal sama mereka...," sahut Lilian dengan enggan.
Gama nampak tak terusik dengan jawaban Lilian. Ia justru sibuk mengamati pakaian Lilian yang basah itu. Kemudian Gama membuka jaketnya lalu menyampirkannya di bahu Lilian.
" Pake ini biar ga masuk angin...," kata Gama sambil berlalu.
Lilian nampak gugup sedangkan pria yang bersamanya nampak menatap tak suka kearah Gama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=