
Setelah menunggu sekian lama akhirnya Rex dan Gama pun tiba di hadapan Lilian. Keduanya datang di waktu yang berbeda, hanya selisih beberapa menit saja.
" Dimana Rex...?" tanya Lilian saat melihat Gama datang seorang diri.
" Mungkin masih di jalan. Aku kan dari rumah tadi...," sahut Gama.
" Apa itu Rex adik Kamu Suster Lian...?" tanya dokter Siska tiba-tiba sambil menunjuk ke parkiran dimana Rex baru saja memarkirkan motornya.
" Betul dok...," sahut Lilian sambil tersenyum.
Lilian, Gama dan dokter Siska menoleh kearah Rex yang sedang berjalan cepat menghampiri mereka. Kehadiran Rex cukup menyita perhatian karena wujud ragawinya yang nyaris sempurna. Apalagi saat itu Rex tampil gagah dalam balutan seragam loreng hijau khas TNI AD.
" Assalamualaikum, maaf telat...," sapa Rex.
" Wa alaikumsalam...," sahut Lilian, Gama dan dokter Siska bersamaan.
" Ga telat kok, santai aja...," kata Lilian sambil tersenyum.
" Jadi gimana Kak, apa ada info baru...?" tanya Rex to the point.
" Ada. Ini dia...," sahut dokter Siska sambil menyodorkan hasil lab yang sejak tadi ada di pangkuannya.
Rex dan Gama nampak saling menatap sejenak lalu mengangguk. Rex pun membuka map lalu bersama dengan Gama membaca data yang tercetak jelas di atas kertas.
" Ini...," ucapan Rex terputus saat Lilian memotong cepat.
" Aku sama dokter Siska sengaja ngirim sample darah Aura dan cairan pelaku ke lab lain Rex. Alasannya udah jelas karena Kami ingin bukti yang akurat. Tapi ngeliat hasilnya malah bikin dokter Siska takut, yah walau Aku sendiri belum liat apa isi map itu. Tapi ngeliat reaksi dokter Siska, Aku yakin kalo ini pasti sesuatu yang besar...," kata Lilian.
" Betul. Dan Saya pikir Saya perlu seseorang untuk menjamin keselamatan Saya...," sela dokter Siska.
" Ehm, kalo boleh tau siapa orang ini. Apa dia punya posisi penting di Rumah Sakit Sentosa...?" tanya Rex sambil menatap dokter Siska lekat.
Dokter Siska nampak gugup. Berkali-kali ia menghela nafas panjang sebelun akhirnya menjawab pertanyaan Rex. Sedangkan Lilian dan Gama nampak tak sabar menanti jawaban dokter Siska.
Beberapa saat kemudian mengalir lah cerita dari mulut dokter Siska tentang pria yang diduga pelaku utama pelecehan se**al terhadap pasien bernama Aura.
" Apa dia juga yang telah melecehkan dua wanita sebelumnya...?" tanya Lilian.
" Kita ga bisa menyimpulkan begitu karena dua korban sebelumnya menolak divisum...," sahut dokter Siska.
" Jadi Kita hanya bisa menunggu dia mengakui perbuatannya aja dong...?" tanya Lilian kesal.
__ADS_1
" Mungkin begitu. Karena bisa jadi bukan dia pelaku pelecehan pada dua wanita sebelumnya...," sahut Rex.
" Kok gitu sih...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Karena semua kandidat berpeluang melakukan itu Kak...," sahut Gama menjelaskan.
Lilian pun mengangguk tanda mengerti.
" Saya harap keadilan bisa ditegakkan meski pun pelakunya adalah orang penting di Rumah Sakit Sentosa...," kata dokter Siska penuh harap.
" Aamiin...," sahut Rex, Gama dan Lilian bersamaan.
" Jadi gimana Rex, Kamu yang bakal ngambil alih kasus ini kan...?" tanya Lilian mewakili dokter Siska.
" Insya Allah siap Kak. Gama juga bakal bantu ngawal dokter Siska, dan Aku yakin dia ga bakal keberatan. Iya kan Gam...?" tanya Rex sambil melirik Gama dan tersenyum penuh makna.
" Iya...," sahut Gama cepat sambil menatap kearah lain.
Rex dan Lilian tampak tersenyum mendengar jawaban Gama. Sedangkan dokter Siska berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Rex dan Gama.
\=\=\=\=\=
Taufan terkejut saat melihat kedatangan Rex dan Gama.
" Bukannya Kalian bilang menyerahkan semuanya ke tangan Polisi. Terus kenapa Kalian datang ke sini ?. Jangan bilang Kalian ke sini karena mau mengintervensi keputusan Kami...?" gurau Taufan.
" Kami bukan mau ikut campur Pak Taufan. Kami ke sini membawa bukti baru tentang pelaku pelecehan. Kami hanya ga mau Anda dan team malu karena terlanjur salah tangkap...," kata Rex sambil meletakkan map berisi laporan hasil lab di hadapan Taufan.
Taufan langsung meraih map dan membaca isinya. Dahinya berkerut dan mulutnya menggumamkan sesuatu. Sesaat kemudian Taufan menegakkan kepalanya lalu tersenyum.
" Terima kasih. Saat ini Saya dan pasukan memang akan berangkat ke Rumah Sakit untuk meringkus tersangka. Beruntung Kalian datang tepat waktu dan memberi bukti ini. Karena sejujurnya Saya juga ragu dengan kesimpulan yang Saya buat kemarin...," kata Taufan dengan wajah berbinar.
" Jadi tersangka berubah kan Pak...?" tanya Gama.
" Tentu !. Dan sekarang Kami harus berangkat untuk mengamankan pelaku...!" sahut Taufan lantang.
" Semoga berhasil...!" kata Gama memberi semangat.
" Terima kasih. Jika mau, Kalian bisa mengikuti Kami dari belakang. Tetap jaga jarak aman supaya Kami bisa fokus bekerja...!" kata Taufan sebelum masuk ke dalam mobil.
" Gimana Rex, Kita ikut yuk. Gue penasaran pengen liat wajah si pelaku...," kata Gama.
__ADS_1
" Ayo, siapa takut...," sahut Rex cepat hingga membuat Gama tertawa lepas.
Beberapa saat kemudian terlihat iring-iringan mobil polisi melintas di jalan raya. Dua orang polisi mengenakan moge nampak sigap membuka jalan hingga pasukan polisi pimpinan Taufan tiba lebih cepat dari waktu seharusnya.
Para anggota polisi langsung meyebar saat tiba di parkiran Rumah Sakit. Taufan memimpin di depan sambil memberi aba-aba pada pasukannya. Sedangkan Rex dan Gama mengikuti dari belakang dan bergerak sesuai perintah Taufan.
Polisi bergerak dengan hati-hati dan tak terlalu mencolok hingga tak mengganggu proses pelayanan Rumah Sakit kepada para pasien. Bahkan kehadiran puluhan anggota polisi di waktu bersamaan pun tak disadari oleh semua orang.
Lima belas menit kemudian dua orang polisi tampak berjalan keluar sambil menggelandang seorang pria bertubuh gempal berkulit putih menuju mobil patroli polisi. Para tenaga medis yang melihat pria tersebut dikawal polisi berseragam lengkap pun saling menatap dengan tatapan bingung.
Berbagai dugaan pun mencuat mengiringi perjalanan pria gempal tersebut menuju mobil polisi di parkiran Rumah Sakit.
" Kenapa Mas Dipo dibawa Polisi. Apa dia melakukan kejahatan...?" tanya salah seorang perawat.
" Ga tau. Andai dia melakukan kesalahan pun emangnya bisa dihukum...?" tanya perawat lain.
" Kenapa ga bisa. Asal Polisi bisa membuktikan kesalahannya, pasti bisa dihukum...," sahut yang lain.
" Tapi ngomong-ngomong apa ya kesalahannya Mas Dipo...?" tanya salah seorang bidan.
" Jangan-jangan dia terlibat kasus penggelapan uang. Tapi uang mana yang mau digelapin. Kan Rumah Sakit ini emang punya Bapaknya...," kata seorang dokter.
" Atau jangan-jangan dia terlibat dengan kasus pelecehan yang terjadi di toilet belum lama ini...," tebak dokter yang lain.
" Ah mana mungkin. Semua orang kan tau kalo dia punya kelainan. Tapi kalo ada laporan penganiayaan dan Dipo jadi tersangkanya, nah itu Saya percaya...," sahut seorang dokter disambut tawa teman-temannya.
Rex dan Gama yang berdiri tak jauh dari para dokter itu pun mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Keduanya saling menatap karena paham dengan apa yang dimaksud sang dokter.
Dari kejauhan terlihat Lilian melangkah cepat kearah Rex dan Gama. Rupanya ia baru saja selesai membantu dokter mengecek pasien.
" Jadi siapa yang ditangkap...?" tanya Lilian.
" Dipo...," sahut Rex dan Gama bersamaan.
" Syukur lah. Itu artinya Pak Kunto bebas, iya kan...?" tanya Lilian yabg diangguki Rex dan Gama.
" Iya. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa motif pelaku melakukan pelecehan itu di toilet...," kata Gama.
Ucapan Gama membuat Rex dan Lilian saling menatap bingung.
bersambung
__ADS_1